Sabtu, 11 Juni 2016

Il Tiramisu



“Karena hati memiliki peraturan yang berbeda dengan logika.” (Hal. 132)

Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Dila Maretihaqsari
Perancang dan ilustrasi sampul: Nocturvis
Ilustrasi isi: Dy Lunaly
Pemeriksa aksara: Pritameani
Penata aksara: Anik Nurcahyani
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, April 2016
Jumlah hal.: vi + 334 halaman
ISBN: 978-602-291-174-6

Gytha terpaksa menerima tawaran kerja sebagai host chef di salah satu acara televisi. Ia memenuhi utang budi kepada teman lama meski sebenarnya tidak yakin bisa melakukannya. Ditambah lagi Gytha tidak sendiri, Executive Chef di Olive Garden itu akan menjadi host bersama Wisnu, seorang penyanyi yang sedang naik daun.

Meski rupawan dan mutlak digandrungi para wanita, pria itu memberi kesan pertama yang buruk kepada Gytha. Wisnu Kanigara, tidak lebih dari seorang selebritas yang angkuh dan menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi karena mereka harus sering bersama dan terlihat akrab.

Sejak itu, kehidupan Gytha tidak lagi tenang. Ia menjadi incaran media gosip Tanah Air yang haus berita akan kedekatannya dengan Wisnu. Media terus berusaha mengorek apa pun tentangnya. Sampai-sampai hal yang paling dirahasiakan Gytha, tentang masa lalunya kelamnya, berhasil diungkap media. Gytha sungguh menyesali keputusannya mengambil pekerjaan ini. Ia menyesal mengenal Wisnu. Ia juga menyesal telah terjebak dalam rasa yang tak seharusnya ia simpan untuk pria itu.

***
“.... Kangen sama kayak cinta, kan, Ne? Nggak butuh alasan. Pokoknya kamu kangen. Pokoknya kamu cinta. Udah.” (Hal. 2)
Kehidupan akan selalu memaksa manusia untuk membuat pilihan-pilihan hidup. Hidup yang dijalani hari ini adalah akumulasi dari pilihan-pilihan yang telah diputuskan sebelumnya. Ini pula yang dialami Gytha.

Gytha memutuskan untuk membantu teman lamanya, Diandra Dwi Wijaya, demi melunasi hutang masa lalu. Ia menerima tawaran menjadi host chef dalam acara televisi yang ditangani oleh temannya tersebut. Karena tidak mengganggu aktivitasnya sebagai Executive Chef di Olive Garden, serta karena berbagai pertimbangan lainnya, akhirnya Gytha menerima tawaran itu. Namun ada beberapa hal yang meleset dari pertimbangannya: Pertama, ia tidak akan memandu acara tersebut sendirian melainkan bersama seorang penyanyi papan atas yang sedang digandrungi, Wisnu Kanigara; Kedua, ia akan kehilangan privasi dan kelak ini akan membuat semua rahasia yang selama ini ia tutup rapat-rapat terkuak ke publik.

Oiya, terakhir yang gagal ia antisipasi tumbuhnya perasaan khusus pada Wisnu. Perkenalan pertama mereka sangat menyebalkan. Namun seiring waktu dan terkuaknya banyak rahasia Wisnu, Gytha ternyata merasa nyaman bersamanya. Meski terkadang tetap saja dirinya dihinggapi kebingungan dan keraguan. Tapi Gytha selalu berusaha untuk percaya bahwa hubungan mereka memang memiliki masa depan.

Tapi benarkah hubungan mereka memiliki masa depan? Sanggupkah Gytha melindungi semua yang ia cintai jika banyak rahasia yang harus dia jaga demi kebahagian orang yang paling berharga baginya? Ataukah sebenarnya ia dan Wisnu memang hiduup di dunia yang berbeda? Tidak akan pernah bisa saling mengerti seutuhnya?

“Buat seorang ibu tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaan anaknya. Sekalipun itu berarti meninggalkan sumber kebahagiaannya sendiri, kan?” (Hal. 3)
***
“Saat ini waktu adalah musuh terbesar Wisnu. Musuh yang berat karena waktu tidak pernah ingin mengalah kepada siapa pun.” (Hal. 8)
Novel Il Tiramisu adalah salah novel dalam seri YummyLit terbitana Bentang Pustaka. Seri ini adalah seri baru yang keluar tahun 2016 ini. Selain Il Tiramisu, ada pula Deesert dan Strawberry Cheesecake. Seri ini menghadirkan filosofi cinta dalam sebuah makanan.

Il Tiramisu adalah novel baru karya Dy Lunaly. Sama dengan novel terakhirnya, My Wedding Dress, sasaran pembacanya sudah berbeda dengan novel-novel karyanya sebelumnya. Il Tiramisu kembali menyasar pembaca dewasa. Dan ini tidak hanya terasa di adegannya saja melainkan dalam konfliknya.

Adegan dewasa? He..he.. jangan membayangkan adegan “kipas-kipas” yang ada di novel dewasa. Memang ada adegan kissing, dan sejujurnya ini pertama kalinya saya membaca novel karya Dy Lunaly yang mengandung adegan ini, antartokoh utamanya. Tapi cara Dy Lunaly menggambarkannya tidak vulgar sama sekali dan tidak mendetail. *emang kamu ngarepin apa, Tria?*

Selain itu, yang cukup berbeda dari karya Dy Lunaly kali ini adalah konflik yang memang cukup dewasa. Kehadiran Nakhla, anak yang sangat disayangi oleh Gytha menjadikan konflik ini memang lebih kompleks. Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah kan? Apalagi jika itu melibatkan usia yang masih muda, percintaan yang tidak biasa, serta cita dan impian.

Dalam hal penokohan, semua tokoh di dalam novel ini cukup konsisten. Setiap tindakan punya alasan. Meski ada satu kejadian yang rasanya masih kurang memiliki alasan yang kuat. Kejadian itu adalah saat Gytha sakit dan Wisnu datang ke rumahnya untuk merawat Gytha. Saat ini chemistry mereka belum benar-benar terbangun. Sikap Wisnu terkesan cukup absurd. Tapi setelah dipertimbangkan lagi, bahkan di dunia nyata pun, cinta kadang membuat orang bertindak absurd kan?

Kekurangan yang paling terasa dari novel ini adalah chemistry antara tokoh Wisnu dan Gytha yang terkesan dibangun terburu-buru. Perubahannya terlalu mendadak. Kurang smooth meski kehadiran sosok Jendra bisa menjadi pemicu, namun tetap saja rasanya terlalu mudah. Padahal pertemuan pertama mereka berlangsung sangat buruk dan meninggalkan kesan yang juga buruk terutama bagi Gytha.

Namun, di luar semua kekurangan itu, harus diakui bahwa Dy Lunaly termasuk salah satu yang piawai membangun suasan romantis antartokohnya. Ia pandai menciptakan adegan romantis yang tidak terkesan berlebihan. Juga menciptakan tempat-tempat yang indah melalui deskripsinya.

Selain itu, selipin email antara Gytha dan Ernest memberi warna tersendiri bagi cerita. Email-emailan mereka menjadi pendukung untuk memahami Gytha lebih jauh sekaligus menimbulkan dugaan baru tentang siapa tokoh Ernest. Terlebih saat tokoh ini mewujud secara nyata dan ikut hadir di tengah hubungan Wisnu dan Gytha.

Secara keseluruhan, novel ini manis untuk "disantap" apalagi kalau sambil menikmati menu tiramisu :D
“... tidak pernah ada yang benar-benar sederhana di dunia ini. Sesuatu yang terlihat sederhana pada awal pastinya menyimpan kerumitan setelahnya.” (Hal. 28)
***
Tokoh Favorit

Dari semua tokoh yang ada di dalam novel ini, yang jadi kesayanganku adalah Ernest. Ernest seperti obat penenang bagi Gytha. Ia tahu apa yang harus didengar oleh Gytha meskipun juga tahu apa yang ingin di dengar oleh perempuan mandiri itu.
Ernest terasa sebagai laki-laki yang mampu bersikap santai dalam menghadapi hidup namun tidak menggampang sebuah masalah. Tapi satu catatan penting! Ernest tidak akan pernah masuk dalam daftar karakter yang akan kujadikan pasangan. Kenapa? Hm.. sepertinya ia tipe laki-laki yang akan bersikap manis pada semua perempuan. Ha..ha..
***
Quote Favorit
“Masa lalu memang tidak bisa mendefinisikan siapa kamu. Tapi, masa lalu itu nggak pernah bisa dibuang. Daripada kamu menghabiskan tenaga untuk membuangnya, kenapa tenaga itu nggak kamu pakai untuk menerimanya?” (Hal. 242)
Quote ini termasuk quote favortiku. Mengingatkan kita bahwa masa lalu tidak akan pernah bisa diabaikan. Tidak bisa dibuang. Ia harus dihadapi dan diterima. Jangan menjadikan kita takut menghadapi masa depan. Namun menjadikan kita lebih kuat menghadapi apa yang akan datang.
***
Kumpulan Quote dari Il Tiramisu
“... kopi adalah minuman yang unik. Setiap biji kopi memiliki tekstur dan rasa yang berbeda.” (Hal. 37)
“..., lo selalu bilang kalau manusia itu yang dipegang janjinya.” (Hal. 67)
“Hidup kalau nggak ada tantangannya nggak bakalan berkembang.” (Hal. 92)
“Kamu bisa aja ngerencanain hidup kamu lurus tanpa hambatan. Tapi, percaya sama Ayah. Nggak ada hidup yang mulus dan gampang karena perjuangan itu satu-satunya bukti bahwa kita hidup.” (Hal. 95)
“Baginya, kopi itu serupa wine. Rasa setiap biji kopi sangat bergantung pada tempat kopi tumbuh, temperatur udara, dan kadar airnya. Kopi juga selalu berhasil membangun mood dan membuatnya bersemangat.” (Hal. 105)
“ Nggak semua orang pernah merasa tersesat dan capek dengan hidupnya karena udah berusaha sekuat tenaga, tapi belum dapat apa yang dia mau. Rasanya cuma muter-muter di tempat yang sama dan itu melelahkan.” (Hal. 131)
“Hidup itu kaya labirin kaca, .... Kita kayaknya merdeka, tapi sebenarnya terikat sama benang yang nggak kelihatan: takdir. Konyolnya takdir itu sering kali bikin kita muter di tempat.” (Hal. 132)
“Kenangan adalah campuran dari berkah dan kutukan, tidak ada yang tahu apa yang kamu dapatkan ketika mengingatnya.” (Hal. 144)
“Sadar atau enggak, kita semua pakai topeng.” (Hal. 150)
“Nggak peduli semanis apa pun kisah cinta kita, pasti ada bagian pahitnya. Gitu juga sebaliknya. Mau sepahit apa pun cinta kita, mau sebanyak apa pun cobaannya, kalau kita nggak pernah nyerah, kita pasti bakal nemuin manisnya.” (Hal. 220)
“Nggak ada hubungan yang mudah, Jen. Nggak ada. Tapi, hubungan kita ini layak untuk diperjuangin.” (Hal. 224)
“..., sesuatu itu terlihat menarik dan dibicarakan terus menerus karena mereka nggak tahu kenyataan sebenarnya. Tapi, ketika mereka tahu, seketika itu menjadi membosankan.” (Hal. 243)
“... siapa pun orang tua saya dan apa pun yang mereka lakukan ke saya, mereka tetap orang tua saya. Saya ingin menghormati mereka dengan mengakui keberadaan mereka.” (Hal. 248)
“Masa lalu saya memang tidak akan pernah bisa berubah. Tapi, saya sendiri yang akan menentukan masa depan saya.” (Hal. 248)
“Nggak masalah berapa tahun yang kamu butuhkan, Gyth, karena pemahaman selalu hadir pada saat yang tepat. Ketika kamu sudah siap.” (Hal. 254)
“Selama dirinya dikelilingi orang-orang yang menyayanginya dengan tulus, dia yakin bahwa dia mampu menghadapi apa pun.” (Hal. 256)
“Anak kecil paling sedih kalau lihat orangtua, terutama ibunya, sakit.” (Hal. 271)
“Pakai logika kamu. Jangan pernah biarin emosi ngalahin akal sehat.” (Hal. 290)
“Kamu nggak bisa jadi chef kalau setengah hati. Chef itu nggak cuma masak, tapi harus ngerti bahan makanan, membayangkan rasa, melihatnya terlihat menggiurkan, juga memastikan masakannya memiliki rasa yang sesuai dengan keinginan pemesanan.” (Hal. 311)
“Tapi nggak semuanya berakhir kayak yang aku pengin. Nggak peduli sebesar apa usaha yang aku lakukan hasilnya nggak pernah sesuai harapan.” (Hal. 313)
“..., perpisahan tidak pernah mudah. Terlebih ketika perpisahan itu terpaksa dilakukan.” (Hal. 32)

2 komentar:

  1. Udah baca Il Tiramisu kak Tria, tapi belum bikin reviewnya hihiii
    Sukaaa loh sama ceritanya. Sedaaap. Kayak lagi nikmatin Tiramisu :D

    BalasHapus
  2. Aku hampir selesai baca novel ini!
    Banyak quotenya yang kusuka di sini :D

    BalasHapus