Senin, 16 Mei 2016

[Review + Blogtour Giveaway] Memorabilia



“Banyak orang yang punya kekurangan dan ketidakpastian dalam hidup, tapi mereka selalu punya jalan keluar: menekuni hal yang mereka sukai. Pikirkan apa yang kamu sukai, Sofia. Maka setiap kekurangan dan ketidakpastian dalam hidupmu, bisa kamu atasi ....” (Hal. 55)



Penulis: Sheva
Penyunting: Donna Widjajanto
Perancang dan ilustrasi sampul: NA Zundaro & labusiam
Ilustrasi isi: Tubagus Dika
Pemeriksa aksara: Septi Ws & Faradila Totoy
Penata aksara: Martin Buczer
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: vi + 294 halaman
ISBN: 978-602-291-124-1
Jingga membangun bisnis majalah online Memorabilia bersama Januar dan Karsha. Media ini memuat beragam kisah kenangan di dalam barang-barang yang hendak dijual atau diberikan kepada pembaca yang tertarik.

Namun, bisnis itu sedang di ujung tanduk. Jumlah pembaca menurun seiring dengan berkurangnya pemasukan iklan yang menjadi tulang punggung Memorabilia. Di saat sulit itu, datang Pak Pram membawa proyek besar. Ia ingin menjual gedung bioskop tua miliknya lengkap dengan segudang kisah kenangan. Semua bersemangat, kecuali Jingga. Ia selalu berusaha menolak tawaran Pak Pram. Di matanya, bioskop itu menyimpan trauma yang sangat mengerikan, yang selalu ia simpan sendirian.

Sebenarnya Jingga dilema, antara ingin menyelamatkan Memorabilia, atau terus melayani ketakutan masa lalunya. Selama ini Jingga membantu banyak orang melepaskan kenangan pahit, tetapi tak mampu menolong dirinya sendiri. Dalam kalutnya Jingga, Januar mencoba masuk lebih dalam ke kehidupan gadis itu. Ia berusaha meyakinkan Jingga agar berani melepas kepedihan selama ini, bersamanya.
***
“Sebuah barang menjadi memorabilia karena kisah yang menyertainya, bukan karena mahal atau murahnya.” (Hal. 12)
Novel Memorabilia ini bercerita tentang Jingga yang menjalankan sebuah usaha beruapa majalah online “Memorabilia”. Memorabilia web magazine ini menjadi media untuk mereka yang ingin melepaskan atau menemukan pemilik baru bagi benda yang memiliki nilai historis tersendiri bagi mereka (Hal. 11).

Jingga merintis usaha ini bersama dua orang sahabatnya, Januar dan Karsha, sejak mereka kuliah hingga akhirnya itu menjadi proyek serius bagi mereka bertiga. Bagi mereka Memorabilia ini juga menjadi medium untuk membuktikan sesuatu ke orang tua mereka masing-masing. Bahwa mereka kelak akan sukses dengan pilihan karir mereka.

Suatu hari Memorabilia terancam akan berakhir. Pengiklan terbesar yang menjadi sumber penghidupan majalah ini berniat menarik iklannya dari Memorabilia. Mereka mensyaratkan agar Memorabilia ini memiliki pembaca yang lebih banyak lagi jika ingin rencana tersebut dibatalkan.

Peluang menyelamatkan Memorabilia muncul melalui Om Pram yang ingin menjual Bahagia Theater miliknya. Namun sayangnya, gedung bioskop tua ini ternyata menyimpan sebuah kenangan yang kelam bagi Jingga. Kenangan yang tidak ia bagi dengan sahabat-sahabatnya. Akhirnya Jingga terjebak dilema. Tidak menanggapi kerjasama dengan Om Pram dengan resiko Memorabilia berakhir atau menghadapi masa lalunya.

Selain kisah Jingga sebagai kisah utama dan benang merah di dalam novel ini, terselip sejumlah kisah lain. Kisah dari mereka yang ingin menjual benda yang punya arti bagi mereka ke Memorabilia. Ada kisah Sofia dengan keping CD rekamana permainan pianonya yang jadi pengingat tentang bagaimana rasanya melepaskan impian.
“Ada cita-cita yang hilang, kesempatan yang terbuang dan cinta yang pergi.
Ada cita-cita yang selalu ingin direngkuh, tetapi kesempatan itu telah pergi.
Ada kesempatan manis yang telah pergi, bersama dengan cinta yang mungkin tidak kembali.” (Hal. 74)

Ada juga kisah Pandu dengan dengan sebuah kupon buatan tangan yang diberikan oleh orang yang ia cintai. Kupon yang mengingatkannya tentang betapa rapuhnya sebuah hubungan. Kupon yang mengingatkannya bahwa kesempatan kedua layak untuk diperjuangkan.

Masih ada kisah-kisah lain yang terserak dari para pengguna jasa Memorabilia. Kisah-kisah ini menyisakan banyak pesan. Namun yang paling menarik adalah kisah Bahagia Theater.

Apa sebenarnya kenangan yang dimiliki Jingga dengan gedung itu? Dan bagaiamana nasib gedung bioskop tua tersebut? Bagaimana nasib Memorabilia yang diperjuangan oleh Jingga dan kedua sahabatnya sejak dulu?
“I don’t need happy memories, when those memories just make me even sadder.” (Hal. 26)
***
“Kalau kita berjarak dengan barang-barang tersebut, kita akan lebih cepat lupa. Nah, gue memilih untuk lupa, daripada terus-terusan sakit. Dan , gue merasa lebih tenang. Lebih lega.” (Hal. 27)
Novel ini merupakan karya kedua Sheva yang saya baca setelah Blue Romance. Sebuah jeda yang cukup panjang dari buku pertama karya Sheva tersebut. Rasa penasaran muncul sambil bertanya-tanya, akankah karyanya semengesankan Blue Romance?

Novel Memorabilia ini mengusung tema yang menarik. Mengetengahkan kondisi masa kini di mana industri kreatif mengambil tempat di dalam masyarakat. Konsep yang menarik, bidang kerja yang “tidak umum”, menjadikan usaha Jingga sebagai tokoh utama mewakili kondisi di tengah masyarakat khsuusnya anak muda masa kini.

Pergulatan yang dialami tokoh Januar dan Karsha dengan keluarganya yang menentang pilihan mereka bekerja di Memorabilia menjadi konflik pendukung yang juga kuat. Kisah pertengkaran antara anak yang mengejar impian dan orangtua yang mengatur masa depan anak dengan alasan “demi kebahagiaan sang anak” adalah kisah yang akan terus terjadi dan berulang di banyak kehidupan. Konflik yang sudah ada sejak dulu hingga kini juga nanti.

Di sisi lain, kisah-kisah selipin yang muncul dari para pengguna jasa Memorabilia juga cukup manis. Menyelipkan banyak pesan dan filosofi kehidupan. Mengingatkan kita bahwa tidak ada kisah yang benar-benar tidak berarti. Setiap manusia punya cerita yang bisa memberi arti bagi kehidupan lain.

Novel ini memang quote-able sekali. Terbukti dengan banyaknya post it yang mewarnai. Kisahnya ringan namun filosofis.

Dalam hal penokohan, yang paling dominan adalah sosok Jingga. Dia yang bertarung dengan masa lalu menjadi dimensi paling emosional di dalam novel ini. Sayangnya, emosi ini masih terasa kurang. Masih belum benar-benar memancing duka di hati saya. Rasa iba dan simpati sih iya, tapi belum sekuat itu. Ini karena di awal cerita Jingga terkesan berputar-putar dan menghindar. Membuat pembaca penasaran tentang apa hubungan Jingga dengan Bahagia Theater namun juga sedikit kesal karena “Apa sih susahnya cerita?”

Dan saat seluruh kisah dituangkan, saya malah jadi kurang bersimpati pada Jingga karena ia melupakan jasa Mama dan Papa yang telah membesarkannya. Saat kesadaran Jingga muncul, ia malah lebih menghargai kehadiran Om Pram dan sahabatnya terutama Januar.

Tapi di luar itu, novel ini menyenangkan dibaca. Kisah-kisah selipin dari pelanggan Memorabilia membuat novel ini semakin menarik. Cerita dituturkan dengan rapi dan logis. Karakter tokoh-tokohnya juga konsisten.

Oiya, selipan informasi tentang film-film lama Indonesia juga jadi nilai plus. Bikin saya tertarik ingin mencari dan menonton filmnya.
“Mungkin karena setiap orang memiliki kenangan yang ingin mereka lupakan.” (Hal. 33)
***
Tokoh Favorit
Karsha adalah tokoh yang memberikan kesan positif sejak awal hingga akhir. Ia tipe sahabat yang jika kita miliki di dunia nyata, maka jangan pernah melepaskannya. Ia adalah orang yang berdiri menentang Jingga dengan keras saat ia merasa bahwa keputusan Jingga terlalu egois. 
Namun ia juga orang yang datang untuk meminta maaf dan menawarkan penghiburan saat mengetahui luka yang ditanggung Jingga seorang diri sejak dulu. Ia yang memerhatikan sahabat-sahabatnya dan memberi mereka kesempatan beristirahat saat ia merasa bahwa mereka sudah bekerja terlalu keras.
“Menjalani hidup sehari-hari dengan pekerjaan yang tidak disukai, dan dijalani hanya karena kata harus. Hal itu sama sekali tidak membahagiakan.” (Hal. 35)
***
Quote Favorit
“Selalu ada satu hari yang membuat hidup kita berubah menjadi penuh harapan. Penuh kepercayaan diri. Dan kita selalu berharap, hari-hari seperti itu akan datang lagi pada masa depan.” (Hal. 78)
Quote ini sebenarnya menyuntikkan rasa optimisme. Bahwa kita bisa berharap atau bahkan percaya bahwa di masa depan akan ada lagi satu hari yang membuat hidup kita berubah menjadi penuh harapan. Jadi jangan pernah menyerah menghadapi beratnya kehidupan saat ini.
***
Giveaway Time!!!
Halo Readers, sudah membaca review di atas? Penasaran enggak sama cerita di dalam novel Momorabilia ini? Mau baca kisah yang bagian mana? Kisah Jingga? Kisah Sofia? Kisah Bahagia Theater?

Nah, Bentang Pustaka telah menyediakan dua buah novel Memorabilia untuk dijadikan hadiah dalam giveway kali ini. Itu artinya? Akan ada 2 orang pemenang, Readers.
Mau jadi yang beruntung mendapatkannya? Caranya mudah:
1. Follow akun Bentang Pustaka, Sheva, dan saya. Boleh di twitter atau instagram boleh juga di kedua medsos tersebut.
a. Twitter: @bentangpustaka, @dearsheva, @atriasartika
b. Instagram: @bentangpustaka, @shevanitalia, @atriasartika

2. Promosikan Giveaway ini di akun media sosial.
a. Twitter: pakai tagar #Memorabilia dan mention ketiga akun di atas
b. Instagram: repost postingan utuh #IGBookReview #Memorabilia yang ada di akun instagram @atriasartika

3. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar postingan ini:
“Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”
Jangan lupa sertakan data dirimu berupa nama, akun medsos (twitter/IG), email.

4. Periode Giveaway: 16 – 22 Mei 2016

5. Hanya untuk yang berdomisili di Indonesia ya.

Semoga beruntung, Readers. Selamat menikmati kenangan. Ingat, bukan untuk dilupakan tapi untuk dilepaskan.

***

Tumpukan Quote dalam Novel Memorabilia
“Tidak ada orang yang ingin bersedih di duni ini. Semua ingin bahagia. Jika hanya karena suatu benda mati, kebahagiaan seseorang menjadi buih yang tidak berarti maka sebuah tindakan harus dilakukan.” (Hal. 43)
“Saya yakin bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk berkontribusi terhadap hal yang mereka sukai.” (Hal. 55)
“When you are passionate about something, you talk too much about it. That’s how it’s done.” (Hal. 63)
“Nggak semua orang butuh jalan keluar kok, Jingga. Kadang yang mereka butuhkan cuma sepasang telinga yang mendengar.” (Hal. 77)
 “Nothing is happier than to have a second chance after you blow up the first one ...” (Hal. 118)
“Apa yang datang terlalu cepat, akan pergi terlalu cepat juga.” (Hal. 121)
“Bukankah hidup adalah melihat ke dalam sumur yang dalam, bersama dengan orang-orang lain, melihat dan berbagi apa yang ada dalam sumur itu?” (Hal. 166)
“.... Mungkin, kita memang nggak boleh bilang penderitaan kita lebih sakit daripada penderitaan orang lain. Karena, rasa sakit itu nggak punya ukuran. Sesepele apa pun itu, jika itu bikin kita menderita, itu namanya rasa sakit.” (Hal. 169)
“Kalau semua kenangan disimpan, itu hanya akan bikin gudang penuh dan hati ringkih. Hati kita ini sudah ringkih, Jingga. Buat apa ditambah beban lagi?” (Hal. 174)
“Untuk apa menulis berita jika tidak dibaca. Berita yang ditulis tanpa pernah dibaca hanya akan jadi orasi tanpa suara yang terdengar.” (Hal. 188)
“..., kadang-kadang kita cuma bisa ikhlas, terima, dan lanjutkan hidup. Biar kita bisa berdamai sama diri sendiri, dan hidup bisa lebih tenang.” (Hal. 205)
“Kalau kita terima kenyataan bahwa kesedihan itu ada, pasti beban kita lebih ringan.” (Hal. 205)
“...; selalu tersenyum dalam keadaan apa pun, karena menangis tidak bisa membuat keadaan lebih baik.” (Hal. 226)
“This ice cubes will melt, and you could still drink the water. It’s just your choice, to keep on staring at the ice cubes and do nothing, or waiting ‘til it’s melted and then you could finish you’ve started.” (Hal. 241)
“Gue selalu berpikir, kalau bicara tentang kematian, kita tidak hanya bicara tentang hidup seseorang yang berakhir. Kita bicara tentang bagaimana hidup orang-orang yang di sekelilingnya juga terpengaruh .... Kita bicara tentang hati yang hancur, mimpi yang tak terwujud, tentang hidup yang begitu berbeda hanya karena seseorang telah tiada ....” (Hal. 260)
“Membagikan kenangan, atau menjualanya, tujuannya adalah untuk bisa fokus ke masa depan, bukan melupakannya. Kenangan bisa dibagi, tapi nggak bisa dihilangkan, Jingga” (Hal. 270)
“Kesedihan nggak bisa dipindahtangankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Perasaan kayak duka itu justru harus selalu ada, supaya ...supaya manusia jadi makin ... manusia?” (Hal. 272)
“Mungkin karena itulah manusia memang tidak bisa lupa. Dengan tidak lupa, manusia dituntut untuk belajar memaafkan diri sendiri.” (Hal. 273)
“Memaafkan bukan berarti melupakan, dan itu semua butuh proses. Lo mungkin nggak bisa meluupakan apa yang lo rasa lo salah buat, tapi bukan berarti lo jadi nggak maju.” (Hal. 273)

30 komentar:

  1. Nama: Insan Gumelar Ciptaning Gusti
    Akun Twitter: @san_fairydevil
    Email: alamadt_saya@yahoo.com

    Jawaban: Aku lupa. Tapi sepertinya enggak, karena aku baru merasakan sesuatu itu sangat berharga ketika aku sudah enggak memilikinya lagi. Dan benda-benda berhargaku adalah segala benda yang ada kenangannya dengan bapakku. Dan sebisa mungkin aku enggak akan melepaskannya karena selain kenangan, cuman itu yang bisa bikin aku tetep inget sama bapak yang sudah enggak ada.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Gita | @oneonlygzb | mrsbabe97@gmail.com

    Jawaban :
    Belum pernah. Karena selama ini belum ada yang bisa membuatku yakin kalau dia benar-benar orang tepat untuk ku berikan barang berharga ku.
    Apalagi barang berharga dan punya arti khusus itu lumayan banyak, pengorbanan untuk mendapatkannya juga ada. Jadi tidak bisa sembarangan memberikannya apalagi hanya berlandaskan cinta, hehehe.
    Pernah hampir mau ku berikan barang itu tapi karena suatu hal, aku mengurungkan niat itu.
    Aku ingin memberikannya ke suami ku kelak, dan berkata "ini loh obsesi ku dulu waktu masih ABG"

    BalasHapus
  4. Baper baca reviewnya. Ini soal kenangan yang melekat pada benda. Otomatis, benda tersebut sangat berharga. Entah ada memori yang manis atau justru yang pahit. Ketika melepasnya, saya yakin butuh kebesaran hati. Memoribilia semoga memiliki pesan bagaimana melakukannya. penasaran euy.

    Hapudin
    @adindilla
    hapudincreative@blogspot.com

    Saya pernah memberikan earphone kepada perempuan yang saya incar. Dia suka musik. Saya juga suka musik. Earphone yang saya dapat bawaan ponselnya ketika beli. Dan saya menganggap itu benda berharga. Pasti taulah gimana rasanya melepaskan barang yang memang kita butuhkan karena kesukaan kita. Saya pun awalnya mikir, terus nanti saya nggak bisa privasi dengerin musik dong. Namun mendengarkan earphone dia yang sebelahnya tidak bunyi, saya mengalah. Atau tepatnya, memendam ego. Enggak apa-apalah kali ini saya memberikan apa yang berharga buat saya dan apa yang berguna dan menyenangkan buat dia. Kalau hati yang ngomong soal suka-sukaan. Ego kalah. Makanya setiap melihat, memegang earphone, kenangan itu pasti teringat. Ini kali yang disebut Memorabilia???

    BalasHapus
  5. Nama : Nurul Islamiyah
    Akun twitter : @nurullislamiyah
    Email : nurulislamiiyah@gmail.com


    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”

    Pernah sih, hehe. Waktu masih zaman SMA setahun yang lalu. Saya pernah memberikan hadiah jam tangan. Spesial karena saya belinya pake uang sendiri dan tentu saja karena barang tersebut punya filosofi tersendiri di mata saya.
    Arti khusus dari jam tangan adalah sebagai pengingat waktu, juga sebagai pengingat untuk si doi kalau saya selalu ada untuknya *halah* juga bermakna bahwa waktu terus berputar. Selagi ada kesempatan nikmati hidup dan lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia. Lakukan hal-hal spesial bersama orang spesialmu.
    Kenapa saya memberikannya jam tangan? Karena saya ingin dia selalu ingat waktu, ingat saya, dan mengingat bahwa waktu kebersamaan kami amat terbatas menjelang akhir masa sma *menuju ldr* *alay* *masasma* 😄😃☺

    BalasHapus
  6. 18.30
    Twitter: @vivion16 email: vimubarokah16eu@gmail.com

    Ini kali pertama aku mengembalikan kenangan. Maksud dari kata-kataku itu, aku pernah. Baru beberapa minggu kemarin kuserahkan lebih dari seratus surat yang telah aku tulis di sebuah buku harian, buat seseorang yang ada di masa lalu. 5 tahun. Waktu itu cepat sekali dan lambat jika kita sedang menunggu seseorang, dan lima tahun yang aku kumpulkan itu adalah pertemuan pertama kami. Karenanya kukasih lebih dari seratus surat itu, sekadar buat mengingatkan dia bahwa dia adalah bagian dari memori yang sempat singgah. Arti khususnya sesederhana itu. Untuk mengembalikan kenangan.

    BalasHapus
  7. Kurnia Dwi Pertiwi
    @KDP264
    kurniadwipertiwi1@gmail.com

    Pernah, yaitu foto almarhum bapak. Aku simpan foto bapak memang sengaja untuk di kenang jika sewaktu-waktu aku kangen beliau tapi, aku juga sengaja menyiapkan foto itu ketika kelak adik saya sudah besar. Almarhum bapak meninggal ketika adik saya masih bayi, tentu dia tidak bisa mengingat sosok ayahnya seperti apa. Nah, saya menyimpan foto itu khusus untuk adik saya, di balik foto itu saya juga menulis, "untuk fariel(nama adik saya)" saya berfikir, paling nggak adik saya bisa mengenal bapaknya walau hanya sebuah foto. Paling nggak itu bisa mengobati rasa penasarannya daripada tidak sama sekali.

    BalasHapus
  8. ailina
    @ailina85
    ay_lyna@yahoo.com

    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”

    Belum pernah. Karena menurut saya setiap benda punya cerita, punya kisahnya masing-masing. Apalagi nih yaaa...kadang sesuatu terasa berarti ketika sudah nggak ada sama kita kan ya, heheheu..

    “..., kadang-kadang kita cuma bisa ikhlas, terima, dan lanjutkan hidup. Biar kita bisa berdamai sama diri sendiri, dan hidup bisa lebih tenang.” (Hal. 205)

    Suka sama quote ini. Kan lebih tenang. Kenangan kan bukan untuk dilupakan tapi untuk dilepaskan.. ^_^

    BalasHapus
  9. nurul ayu patia
    instagram: @napatia7
    patianurulayu02@gmail.com
    belum pernah, mungkin karena aku belum memiliki barang kenangan yang khusus atau mungkin spesial.. karena selama ini semua masa lalu hanya bisa ku kenang dengan mengingat kembali kejadian yg terkadang membuatku ingin tertawa, sedih, dan yang pasti rindu.. mungkin kalau barng kenangan ada, tapi tidak khusus dan belum pernah diberikan ke orang lain seperti tiket nonton bioskop pertamaku dengan teman" ku yang masih kusimpan sampai sekarang dan kebanyakan kenangan dengan teman ku abadikan dengan berbagai macam potret

    BalasHapus
  10. nurul ayu patia
    instagram: @napatia7
    patianurulayu02@gmail.com
    belum pernah, mungkin karena aku belum memiliki barang kenangan yang khusus atau mungkin spesial.. karena selama ini semua masa lalu hanya bisa ku kenang dengan mengingat kembali kejadian yg terkadang membuatku ingin tertawa, sedih, dan yang pasti rindu.. mungkin kalau barng kenangan ada, tapi tidak khusus dan belum pernah diberikan ke orang lain seperti tiket nonton bioskop pertamaku dengan teman" ku yang masih kusimpan sampai sekarang dan kebanyakan kenangan dengan teman ku abadikan dengan berbagai macam potret

    BalasHapus
  11. Dewi ayu ningsih || @DewiiaeyuN || dewiiayuningsih[at]gmail[dot]com

    Pernah.
    Dulu aku sampai kelas 3SD belum lancar membaca masih di'eja, jadi sama paklek ku dibelikan buku-buku komik, cerita para Nabi yg ada gambarnya, Bobo, sampai buku pitrok& gareng pun diberikannya. Biar aku tertarik membukanya karna ada gambarnya sekaligus semakin sering membaca, alhamdullilah dikelas 4 aku udah lancar membaca, jadi buku-buku ini sangat berarti buatku.
    Sampai akhirnya semua buku ini kuberikan kesaudara kecilku yang lebih membutuhkannya daripada aku waktu itu . Kenapa gak sayang? Karena biar dia juga bisa merasakan manfaat dari buku-buku tersebut seperti yang kurasakan.

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. Nama : Mega Widyawati
    Akun twitter : @widy4_w

    “Pernah tidak kamu
    memberikan benda yang
    punya arti khusus
    bagimu ke seseorang?
    Apa arti khususnya dan
    kenapa memberikannya
    ke orang tersebut?”

    Pernah. Aku pernah memberikan sebuah hadiah buat adik perempuan kesayanganku sebuah kalung berbandul bunga sakura.
    Sebenarnya, itu aku berikan ketika dia berulangtahun bulan januari lalu. Ulangtahunya saat ia menginjak usia empat tahun.
    Kalung itu ku berikan sebagai tanda sayang dan cintanya seorang kakak pada adik kecilnya, Itu saja. Walaupun hanya kalung perak, yang terpenting adalah makna khususnya. Yaitu sejuta kasih sayang dan ketulusan dari seorang saudara kandung.

    BalasHapus
  14. Nama : Humaira
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Email : humairabalfas5@gmail.com

    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”

    Aku belum pernah memberi sesuatu yang benar-benar sangat berharga untuk orang yang khusus, mungkin karena belum menemukan orang yang cocok. Kecuali keluarga, mereka orang-orang khusus dan sangat berharga yang posisinya akan selalu ada di hatiku, tak berubah dan tak berpindah (tempatnya khusus, tak bisa diganggu gugat). Untuk masalah memberi, aku selalu takut untuk memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada seseorang.
    Alasannya karena :
    1. Aku takut jika barang yang aku berikan adalah barang perpisahan. Takut kami tidak akan pernah bertemu lagi.
    2. Aku takut jika barang yang sangat berharga milikku ini, tak cukup berharga untuk dirinya.
    3. Aku takut dilupakan. Aku takut jika orang yang ku beri benda berharga hanya mengingatku saat melihat benda yang aku beri, jika itu disimpan olehnya. Lalu, bagaimana jika benda itu hilang atau terbuang?

    Barang itu mencerminkan pemberinya. Jika seseorang memberi hal yang berharga, itu sama saja orang itu memberi hatinya. Jadi, tentu saja orang yang diberi itu memiliki tempat khusus di hati si pemberi. Aku belum ingin merasa kecewa lagi. Karena, dulu aku pernah memberikan kepercayaan (meski bukan benda) tapi dikecewakan. Sebelum memberi, aku akan mempertimbangkannya terlebih dahulu matang-matang. Apa aku juga cukup berharga bagi dirinya? Seperti dirinya yang berharga bagi diriku.

    Terimakasih :) :)

    BalasHapus
  15. Nama: Dian Maharani
    Akun Twitter: @realdianmrani93
    Email: dianmaharani833@yahoo.com

    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”

    Belum pernah.
    Jika itu mempunyai arti khusus bagiku, aku pasti tidak akan memberikannya kepada orang lain, sekalipun orang itu-pun mempunyai arti khusus juga bagiku. Justru jika orang itu mempunyai arti khusus bagiku, aku dan dia bisa membuat banyak arti khususnya yang bisa kami kenang selamanya, yang nantinya pun tak akan kubagikan kepada orang lain.

    BalasHapus
  16. Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”
    Nama: Ahmad miftakhul nirfa nanda
    Akun Instagram: @miftakhulirfan
    Email:ahmadmiftahulnirvananda14@gmail.com

    Pernah. Saya memberikan smarthphone pertama saya kepada ibu saya dikarenakan handphone beliau tengah rusak. Jujur, saya merasa sangat sayang dengan smartphone saya itu. Tetapi saya terus memutar otak untuk menghilangkan rasa sayang saya pada smarthphone itu, meski lebay tapi itulah yang saya rasakan. Saya mencoba mengikhlasakannya pada ibu, karena bagaimanapun saya mengelupas memori saya, memori dimana ibu selalu ada dan selalu memberi apa yang saya butuhkan. Sebuah smarthphone itu tidak ada harganya sama sekali dibandingkan dengan semua yang diberikan ibu, ibarat sesuap nasi dibandingkan dengan sebongkah berlian. Pemberian saya pada ibu tidak ada bandingannya, bahkan meski itu benda kesayangan saya karena hati saya yakin ibu saya jauh lebih membutuhkan daripada saya.

    BalasHapus
  17. Nama : May Ridwan
    Tweter : @camayneng
    Email : neng.camay@gmail.com

    Pernah,sebuah kalung itu sangat berharga karna itu adalah mas kawinku waktu nikah,aku tidak punya pilihan lain,saat itu mertuaku sakit keras yang harus di rawat di ruang ICU karna penyakit diabetesnya,saat itu keuangan kami lagi menipis,dan demi mertuaku aku rela memberikan kalung ku untuk di jual,yang penting aku ikhlas,barang bisa di beli lagi,tapi keselamatan mertuaku itu yang terpenting

    BalasHapus
  18. Nama: Dera Devalina
    Akun Twitter: @deradevalina
    Email: deradevalina@gmail.com

    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”
    Pas waktu bongkar bongkar lemari aku nemuin baju kesayang aku warnanya ungu motif garis2 baju itu aku pakai waktu bertemu pertama kali sama pacar aku dan itu pun ngak sengaja dia ngasih aku kursi yang ia duduki karena waktu itu aku ngak kebagian tempat duduk, berselang beberapa tahun dia yang udah jadi mantan bertemu dengan aku disuatu tepat dan kebetulan sekali aku lagi pake baju yang sam, terus dia nanya perihal baju yang masih dipake sama aku dan dia juga ngingetin aku tentang pertama kali bertemu spontan aku pun jadi baper kalo teringat tentang kejadian itu..
    Ya karena mumpung lagi bongkar baju - baju lama yang udah ngak kepake dan kekecilan akhirnya baju itu salah satu yang aku masukin ke kantong plastik untuk aku kasih ke seseorang yang aku lihat tipe orang yang menghargai pemberian orang lain dan termasuk orang yang pembersih, aku suka kalau ngelihat apapun yang aku kasih keseseorang tersebut dipake, bukanya bersifat riya’ tapi berarti orang tersebut menghargai pemberian kita.
    walaupun baju tersebut masih muat untuk ku setidaknya aku udah ngelepas kenangan itu dan menurut aku sih itu jalan untuk Move On, ya… aku ngak mau sering baper aja kalo lagi buka lemari :)

    BalasHapus
  19. Nama : Fitriani Dewi
    Twitter : @fitrianidewi914
    Email : fitrianidewi914@yahoo.com

    *Pertanyaan : Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?

    *Jawaban : Pernah.
    Memberikan sebuah foto kepada seseorang yaitu sahabat ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Memiliki arti khusus karena foto tersebut adalah foto berisi kita berdua dan hanya satu-satunya yg kita miliki. Memberikannya kepadanya karena dia adalah sahabat terbaik yang saya miliki dan saya memberikannya untuk menjadi sebuah kenang-kenangan agar ia selalu mengingat kebersamaan kita ketika kita duduk di bangku sekolah dasar.

    BalasHapus
  20. Devi Ambar Wati
    @ivedvedi
    ivedvedi@gmail.com
    Doa
    Belum pernah, sekalipun itu untuk orang yang paling berpengaruh dalam kesuksesan hidup saya "IBU".
    Benda atau pun barang, memang belum. Untuk yang paling sering ialah berupa doa. Ini adalah hal yang paling sepele, hal yang paling sering dilupakan bahkan disepelekan kekuataan nya. Itu ialah doa.
    Lagi pula ibu saya sendiri, pernah berkata. Disaat ia menyiapkan sarapan pagi berupa tempe goreng dengan sambal bawang seadanya. Ia tersenyum lebar, kemudian ia mengecup kening ku. Sebelum aku pergi meninggalkan ibu untuk bersekolah di SMAN 1 Plemahan.
    "Devi, belajar yag bersungguh -sungguh nya, ingat senantiasa berdoa. Allah itu maha kaya, mintalah apa-apa yg Devi butuhkan. Insyaallah Ia akan memberikan mu, memberikan apa yg Devi butuhkan bukan apa yg Devi inginkan." Kata ibu, menyalami ku.
    Bagi saya, benda yg paling berharga doa, karena ibu. Saya menjadi lebih zuhud. Karena Devi begitu mencintai ibu, maka hadiah yg paling berharga ialah doa untuk keselamatan ibu di dunia maupun di akhirat.
    Itu ialah benda berharga saya, memang wujudnya semu. tetapi ia adalah pegangan saya, disetiap saya bersujud.
    Benda yg istemewa untuk orang yg paling istemewa di hidup saya, Ibu. Maaf, Ibu. Devi,tidak bisa memberi mobil mewah.atau perhiasan yg banyak. Hanya mampu memberikan ibu berupa doa. Satu-satu nya benda yag akan abadi. Satu-satunya benda yg akan menuntun ibu ke Surga.
    Terimakasih Ibu, ini adalah benda ku. Apa benda mu?

    BalasHapus
  21. Nama: Alfianu Z Fitri
    Akun Twitter: @falfanyfitri
    Email: alfiani.fitri901@gmail.com

    Pernah. Saya membuat kerajinan burung hantu dari kardus. Saya tujukan ke orang tua saya disaat mereka anniv pernikahan mereka. Ini bukan benda yang dibeli tapi hasil usaha sendiri. Kenapa burung hantu? Karena menurut yang saya tau, burung hantu hanya akan punya satu pasangan seumur hidupnya. Dan kemudian akan setia merawat anak mereka di sisa usianya.

    Bukan pemberian yang mahal. Tapi berkesan.

    BalasHapus
  22. Rika Rahayu
    Ig : @rindu507
    Arikaryu@gmail.com

    Aku pernah memberikan Tas Gendong ku kepada keponakan ku.
    Tas gendong itu tas yg ku dapatkan dari kakak ku ketika Naik kelas 2 SMP.
    Tas nya Awet.. tas itu menemani hingga aku lulus SMA . Menemani Aku kemana-mana,Bandung misalnya. Tp ketika aku ke Bromo aku pakai tas dengan Merk satu nya.
    Ketika Keponakan ku mulai masuk SMK,dia seperti nya menyukai tas itu.Dan dia berkali-kali meminta ku untuk memberikannya. Dan aku pun memberikannya. Toh aku masih bisa lihat dia . ☺

    BalasHapus
  23. Putri Prama A.
    @putripramaa (twitter)
    anantaprama@yahoo.co.id
    Mungkin aku belum pernah memberikan benda yang memiliki arti khusus, tapi aku pernah memberikan suatu benda pada seseorang tapi setelah diberikan padanya benda itu (apa saja yang aku berikan padanya) menjadi memiliki arti khusus bagiku.
    Benda-benda beruntung yang menjadi memiliki arti khusus itu adalah benda-benda yang kuberikan pada ibu.
    Ibuku bukanlah orang yang menuntut untuk diberi hadiah, bahkan saat hari ulang tahun mauupun hari ibu pun beliau nggak pernah meminta sesuatu. Mungkin ibu sadar kalau cukup rasa sayang dari anak-anaknya saja yang ia pinta dari kami.
    Aku pernah memberikan dompet pada Ibu, sebelumnya Ibu bilang Ibu pengin punya dompet. Benda yang sederhana sekali yang kata Ibu bisa digunakan untuk menyimpan uang bulanan biar nggak kececeran, biar lebih gampang dihitung. Mungkin aku anak yang 'kurang baik' ya dengan membiarkan Ibu menggunakan dompet dengan label nama toko tertentu selama bertahun-tahun. Sebenarnya ibu tidak terlalu peduli dengan fashion, jadi ibu tidak peduli meskipun dompetnya tidak sefascinated ibu-ibu yang lain. Ibu tidak peduli, yang terpenting bagi ibu adalah anak-anaknya selalu well-dressed. Tapi, aku akhirnya membulatkan tekad, aku ingin membelikan ibu dompet. Lalu, saat lagi online di twitter, ada lomba review yang hadiahnya adalah dompet. Aku buru-buru catat info lomba review itu, kebetulan aku punya novelnya, itu pun aku punya karena giveaway. Aku buat reviewnya di blog yang sudah lama tidak aku fungsikan. Review kedua yang kubuat setelah review yg pertama itu bertahun-tahun yang lalu. Aku berusaha habis-habisan supaya review-ku menarik tidak berarti aku tidak memberikan review jujur, kuberi imaginary cast yang kubayangkan saat membacanya. Setelah itu, kupost review tersebut di blog usang itu.
    Alhamdulillah, reviewku menjadi pemenang utama. Aku mendapatkan dompet yang setidaknya fascinated dan membuat itu untuk Ibu. Ibu senang bukan main, Ibu nggak nyangka aku bakal memberikan dompet pada beliau.
    Sayangnya meskipun sudah kuberikan pada beliau, Ibu jarang menggunakannya, katanya eman-eman kalau dipakai, paling dipakai kalau ibu pergi ke tempat yang agak jauh. Jadi Ibu benar-benar menjaganya.
    Aku paling merasa bangga sekali ketika memberikan dompet tersebut pada Ibu dibanding hadiah-hadiah lain yang kuberikan pada beliau. Hal tersebut karena dompet benar-benar hasil kerja kerasku, aku mendapatkannya karena tekadku membahagiakan Ibu, kalau aku tidak ingin memberikan ibu dompet, mungkin aku anggap pemberitahuan lomba itu angin lalu saja dan hadiahnya hanyalah sebuah 'benda' biasa. Oleh karena itu, aku menyebutnya, benda tersebut memimiliki arti khusus bagiku setelah aku memberikannya pada Ibu.
    Mungkin pengalamanku sudah mainstream, tapi aku selalu jngin mengulanginya lagi-lagi, kalau hisa setiap saat. Karena... aku ingin pepatah kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah tidak benar. Aku ingin menyayangi ibu sepanjang masa.
    Terima kasih untuk giveawaynya, Mbak Atria, Mbak Sheva, dan Bentang Pustaka. Berharap aku beruntung di kesempatan terakhir ini. :)

    BalasHapus
  24. Nama : Dhea Nur'Aini Rachmayanti
    Twitter : @dhedhea_98
    e-mail : dheanurainirachmayanti@gmail.com

    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”

    Pernah.
    Aku pernah memberikan sebuah cincin kepada seseorang. Cincin yang menjadi saksi bisu menyayangi seseorang itu. Seseorang yang berarti bagiku. Seseorang yang telah berhasil menarikku ke dalam pesonanya. Aku memberikan sebuah cincin couple untuknya yang berwarna biru muda . Karena aku tau dia sangat menyukai warna biru muda . Kami sepakat menggunakan cincin itu di jari tangan kiri karena itu memiliki arti tersendiri yaitu bermakna hubungan langsung dengan hati. Ini juga merupakan sebagai bentuk ungkapan emosi atau kasih sayang kepada pasangan kita. Juga melambangkan kreativitas dalam diri seseoang. Aku memberikan cincin biru muda itu tepat pada jalinan hubungan kami yang menginjak bulan ke 14. Walau hanya sekedar cincin biasa, tetapi bagiku itu mempunyai arti khusus yaitu kamu milikku dan aku milikmu.

    BalasHapus
  25. nama : Wening
    twitter : @dabelyuphi
    email : dabelyu_phi@yahoo.com

    dulu aku pernah membuat sebuah scapbook buat sahabatku saat dia ulang tahun. kami udah sahabatan sejak kami TK dan sampai lulus SMA pun kami selalu satu sekolahan terus (walaupun nggak selalu satu kelas sih) kadang kami seperti upin dan ipin saking seringnya bersama dan tak terpisahkan. karena dimana ada aku pasti selalu ada sahabatku. kami baru berpisah saat melanjutkan jenjang perguruan tinggi. sahabatku melanjutkan kuliahnya di kota besar, sedangkan aku tidak lanjut karena keterbatasan dana.

    selama masa kuliahnya, kami jadi jarang berkumpul. apalagi dia juga jarang pulang ke rumahnya, sebulan sekali pun belum tentu dia bisa pulang. tapi saat dia pulang, kami selalu berusaha untuk menyempatkan waktu dan mengabiskannya walau hanya untuk mengobrol saja.

    di ulang tahunnya ke-21, aku hampir saja melupakan harinya karena kesibukan yang sedang aku jalani. dan di hari H ulang tahunnya pun, sahabatku bilang ia juga tidak bisa pulang untuk merayakannya bersamaku dan keluarganya.

    karena saat itu aku bingung harus ngasih kado apa (dan keuanganku pun juga sedang menipis), akhirnya aku memutuskan untuk membuat sebuah scrapbook untuknya. scrapbook itu aku isi dengan berbagai macam foto kenangan saat kami menghabiskan waktu bersama dari sejak TK sampai sekarang. selain foto, aku juga mengisinya dengan gambar2 doodle buatanku juga kata-kata harapan dan doaku untuknya, agar persahabatan kami tetap langgeng dan dia tetap terus semangat menjalani harinya meskipun jauh dari keluarga. saat membuatnya aku sampai harus begadang (karena harus scan dan cetak foto dulu di kota, sampai rumah pun sudah jam 8) dan mengirimkannya melalui paket kilat esok harinya agar hadiahku sampai tepat di hari ulang tahunnya.

    BalasHapus
  26. Nama: Eni Lestari
    Twitter: @dust_pain
    Email: shinra2588@yahoo.com

    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”

    Pernah, yaitu buku koleksiku. Aku sangat menyayangi buku. Selama ini bukulah yang selalu menemaniku, baik waktu senang maupun sedih. Bagiku buku adalah sahabat terbaik yang sudah sepantasnya dijaga dan dirawat seumur hidup. Nah, suatu kali ada seorang teman yang datang ke rumah. Kebetulan dia suka baca buku. Dulu dia juga pembaca setia tulisanku yang sering ku-post di FB. Dia selalu memberikan feedback baik atas tulisanku. Dia juga kasih semangat supaya aku bisa punya novel sendiri suatu hari nanti. Gak cuma itu saja. Sambil menunjukkan buku antologi milikku ke anaknya yang masih balita, dia bilang begini, "Tante keren ya, punya buku lho." Itu membuatku merasa hangat banget. Karena itulah, untuk menghargainya, aku kasih dia bukuku. Bagiku gak papa melepas koleksiku yang berharga demi teman yang baik seperti dia :)

    BalasHapus
  27. Nama: Eni Lestari
    Twitter: @dust_pain
    Email: shinra2588@yahoo.com

    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”

    Pernah, yaitu buku koleksiku. Aku sangat menyayangi buku. Selama ini bukulah yang selalu menemaniku, baik waktu senang maupun sedih. Bagiku buku adalah sahabat terbaik yang sudah sepantasnya dijaga dan dirawat seumur hidup. Nah, suatu kali ada seorang teman yang datang ke rumah. Kebetulan dia suka baca buku. Dulu dia juga pembaca setia tulisanku yang sering ku-post di FB. Dia selalu memberikan feedback baik atas tulisanku. Dia juga kasih semangat supaya aku bisa punya novel sendiri suatu hari nanti. Gak cuma itu saja. Sambil menunjukkan buku antologi milikku ke anaknya yang masih balita, dia bilang begini, "Tante keren ya, punya buku lho." Itu membuatku merasa hangat banget. Karena itulah, untuk menghargainya, aku kasih dia bukuku. Bagiku gak papa melepas koleksiku yang berharga demi teman yang baik seperti dia :)

    BalasHapus
  28. nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    email: auliyati.online@gmail.com

    “Pernah tidak kamu memberikan benda yang punya arti khusus bagimu ke seseorang? Apa arti khususnya dan kenapa memberikannya ke orang tersebut?”

    Aku pernah memberikan handphone ke papaku. Handphone itu punya arti khusus buat aku karena itu adalah handphone (baru) pertama yg aku beli sendiri dari gajiku, sebelumnya cuma beli yg second, hehe...
    Aku berikan handphone itu ke papa karena handphone beliau hilang waktu pulang kampung, dan alhamdulillah handphone-nya masih awet sekarang :D

    BalasHapus
  29. Nama : Lois Ninawati
    Twitter : @_loisninawati
    Email : ninawatilois@gmail.com
    Jawaban : pernah. Aku pernah ngasih gelang ke sahabatku. Dan artinya itu,kalau aku mau aku sama dia sahabatan terus sperti gelang itu yang nggak ada ujungnya. Jadi aku berharap bisa sahabatan bareng dia selamanya

    BalasHapus
  30. Nama:Cici
    Twitter:@prisiliairene
    Email:ciciprisil@gmail.com
    Jawaban : pernah. Saya kasih bingkai foto dan 2 tangkai bunga buat ibu saya. Benda tersebut berharga bagi saya karena, saya rela-relain beli hadiah tersebut walaupun waktu itu saya kagi krisis bgt duit dan cuma cukup buat beli kado itu, harganya sih lumayan. Tapi saat saya lihat senyum ibu saya merekah dan terlihat senang sekali, semua uang dan tenaga saya akhirnya terbayar sudah. Dan kenapa saya berikan ke ibu saya? Karena ibu saya itu pahlawan bagi saya, ibu saya selalu memberi saya hadiah saat saya ultah tapi saya blm pernah kasih dia apa-apa, jadi ditahun 2016 ini, dihari ultah ibu saya, saya memberi kado pertama dari saya, dan pertama kalinya ibu menangis terharu karena hadiah dari saya.

    BalasHapus