Senin, 16 Mei 2016

People of the Book




Penulis: Geraldine Brooks
Alis bahasa: Femmy Syahrani
Editor: Siska Yuanita
Desain sampul: Erwin Indrawan
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 504 halaman
ISBN: 978-602-03-1447-1

Tahun 1996, Hanna Heath, pakar buku langka, ditawari pekerjaan hebat: analisis dan konservasi naskah Irbani misterius berhias ilustrasi indah, dibuat di Spanyol abad ke-15 dan baru diselamatkan dari kehancuran saat perpustakaan Sarajevo dibombardir. Saat Hanna menemukan serangkaian artefak kecil dari jilid kuno buku itu, dia mulai membongkar kisah dramatis tentang orang-orang yang membuat buku itu dan yang mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya.

Di Bosnia pada Perang Dunia II, serang Muslim mempertaruhkan nyawa untuk melindungi buku ini dari Nazi. Dalam ruang-ruang tamu yang hedonis pada akhir abad ke-19 di Wina, buku itu menjadi pion dalam perlawanan terhadap anti-Semitisme yang mulai berkembang. Di Venesia tahun 1609, seorang pastor Katolik menyelamatkan buku itu dari api Inkuisisi. Di Terragona tahun 1492, juru tulis yang menulis teks buku itu melihat keluarganya dihancurkan  akibat pengasingan paksa. Di Sevilla tahun 1480, alasan di balik ilustrasi luar biasa naskah itu akhirnya terungkap. Penyelidikan Hanna menjebloskannya ke dalam intrik pemalsuan karya seni dan fanatisme ultranasionalis. Pengalamannya akan menguji keyakinannya pada diri sendiri dan pada pria yang dicintainya.

People of the Book yang diangkat dari kisah sejati ini sarat suara dari masa lampau, tetapi suara Hanna menjadikan petualangan ini memikat, melampaui fiksi sejarah.

***

“... tapi setidaknya merpati tidak menyakiti siapa-siapa. Elang hidup dengan mengorbankan makhluk lain yang menghuni gurun.” (Hal. 78)


Novel ini bercerita tentang tokoh Hanna yang bekerja sebagai konservator buku tua. Ia sering kali berhadapan dengan perkamen tua. Keahliannya membuatnya bisa memperlakukan sebuah naskah secara layak. Melakukan sejumlah hal untuk membantu buku tua tersebut bertahan agar bisa terus dapat memberi pelajaran dan menuturkan kisah-kisah di baliknya. Hanna mengumpulkan serpih-serpih yang tertinggal di buku tersebut untuk dimanfaatkan sebagai cara untuk “membaca” perjalanan yang dialami oleh buku tersebut. Hal inilah yang dilakukan oleh Hanna kepada haggadah Sarajevo.

Jika membaca Kata Penutup di dalam buku ini, maka saya meyakini bahwa kisah tentang haggadah tersebut nyata. Namun dibumbui oleh fiksi yang memikat. Tentang porsi fiksi dan faktanya? Biarlah penulis dan orang-orang yang tahu tentang haggadah tersebut yang tahu.

Di novel ini, setiap chapter membahas kisah masing-masing, terutama kisah terkait benda dan unsur yang ditemukan di haggadah tersebut yang diyakini akan bisa menjelaskan apa yang telah dilalui oleh buku tersebut. Chapter Sayap Serangga, Bulu dan Mawar, Noda Anggur,  Air Asin, dan Sehelai Bulu Putih adalah sebuah kisah yang berdiri sendiri-sendiri yang terkait dengan noda yang ada di  haggadah tersebut. Ada juga chapter Hanna yang menyelingi setiap chapter tadi yang memberikan warna tersendiri bagi seluruh cerita. Menyuguhkan kisah pribadi Hanna yang membuat pembaca bisa merasa simpati pada perempuan cerdas ini.

Seluruh cerita disatukan dengan indah. Seindah pelangi. Seindah ia ingin memperingatkan kita bahwa perbedaan yang dipertajam akan membawa kehancuran.

***

Novel ini dibuka dengan sebuah peta yang indah. Meski saya buta arah. Ya, navigasi saya sangat buruk. Namun peta yang ditampilkan cukup menarik. Ada gambar kupu-kupu, ada gambar sejumlah bangunan yang terkait dengan keseluruhan kisah ini. Kelak setelah selesai membaca seluruh buku barulah saya memahami peta ini.


Buku ini adalah salah satu buku yang saya rasa mampu mengetengahkan konflik antara umat Islam, Nasrani dan Yahudi secara terbuka tanpa menimbulkan konflik baru. Krisis identitas yang kemudian dialami tokoh Hanna pun menampilkan konflik ini. Meksipun kesan yang cukup banyak tertangkap adalah bagaimana orang Yahudi menjadi korban dari banyak perang tersebut. Ini disebabkan karena haggadah yang jadi benang merah seluruh cerita ini adalah kitab milik orang Yahudi. Oiya, saya baru tahu informasi tentang haggadah ini. Ternyata haggadah adalah sebuah buku yang umumnya dimiliki oleh setiap keluarga Yahudi. Mengisahkan perjalanan orang-orang Yahudi saat meninggalkan Mesir.

Di novel ini setiap bagian memiliki ceritanya sendiri. Menariknya, kisah yang terkait dengan sejarah dan perjalanan haggadah ini diceritakan dengan alur mundur. Sedangkan kehidupan Hannah diceritakan dengan alur maju. Ini menjadi cara bercerita yang menarik. Alur campuran yang membuat pembaca terus merasa penasaran pada kedua dimensi cerita. Tentang masa lalu dengan pertanyaan, “Siapa pemilik sebenarnya haggadah ini?”; tentang masa depan dengan pertanyaan, “Bagaimana kehidupan Hanna setelah ini? Bagaimana nasib haggadah tersebut setelah ini?”

Satu hal yang membuat saya sangat menyukai novel ini adalah
Pertama, saya jadi tahu bahwa di dunia ini ada orang yang memiliki pekerjaan seperti Hanna. Menariknya lagi, novel ini menceritakan secara detail pekerjaan seorang konservator buku. Mulai dari bidang keilmuannya, langkah-langkah kerjanya, hingga intrik dalam dunia kerjanya.
Kedua, di novel ini kita akan melihat bagaimana perseteruan yang terjadi di antara umat Islam, Nasrani dan Yahudi meletupkan perang dan menghancurkan peradaban. Namun fokusnya bukanlah mempertajam hal ini, melainkan membuat orang memandang dampak buruk perang. Bagaimana perang menghancurkan banyak hal, termasuk menghancurkan banyak buku.

Pesan buku ini jelas. Ini bukan tentang perang keyakinan yang akan terus mewarnai kehidupan umat manusia jika tidak mau bersikap bijaksana terhadap perbedaan. Ini bukan hanya tentang bagaimana seorang muslim yang menghargai ilmu pengetahuan dan keindahan menjaga haggadah, kitab milik Yahudi, dari kekejaman Nazi; bukan tentang seorang Yahudi yang diselamatkan muslim; bukan tentang orang Nasrani yang menyelamatkan orang Yahudi dan Islam; bukan tentang Yahudi yang memberi perlindungan bagi seorang muslim dan Nasrani. Bukan pula tentang bagaimana Nasrani mengibarkan perang pada orang Yahudi dan Muslim; atau tentang Yahudi yang membunuh orang Islam dan Nasrani; dan bukan pula tentang orang Islam yang memerangi orang Yahudi dan Kristen.

Ini tentang kemanusiaan. Tentang pengetahuan dan seni. Dan tentang hati yang selalu mendahulukan kemanusiaan di atas peperangan. Ini tentang orang-orang yang menghargai pengetahuan yang berada di dalam sebuah buku.

***
Kutipan favorit

“Kalian semua, dari dunia yang aman, dengan kantong udara mobil dan kemasan antirusak dan diet bebas lemak. Kalianlah yang percaya takhayul. Kalian meyakinkan diri bahwa kematian dapat dielakkan, dan kalian tersinggung saat menyadari keadaannya tidak begitu. Sepanjang perang berkecamuk di negara kami, kalian duduk di apartemen kecil nyaman dan menonton kami berdarah-darah dalam berita televisi. Dan kalian berpikir, ‘Seram sekali!’ lalu bangkit dan membuat secangkir lagi kopi mahal.” (Hal. 59)

Kalimat di atas ditujukan oleh Ozren, kepala pustakawan Museum Nasional dan dosen ilmu perpustakaan di Universitas Nasional Bosnia, kepada Hanna. Ia Ozren sudah melihat sendiri bagaimana perang membunuh istrinya dan membuat anaknya bak mayat hidup. Dan ia pun tidak menyukai sikap dan kata-kata naif Hanna hingga akhirnya mengungkapkan kalimat tersebut.
Tapi saya rasa penggambaran ini tepat, bukan? Kita yang berada di rumah yang nyaman tidak akan pernah benar-benar mengerti apa yang dialami oleh orang-orang yang negerinya dilanda perang.
***
Tokoh Favorit
Di People of the Book ini, salah satu tokoh favoritku adalah Lola. Salah satu tokoh yang jadi bagian dari sejarah haggadah tersebut. Ia juga adalah saksi atas sebuah perang. Namun ia juga adalah saksi atas banyak peristiwa kemanusiaan. Seluruh keluarganya meninggal karena mereka orang Yahudi. Namun ia diselamatkan oleh seorang muslim. Diberi perlindungan dan bahkan mendapatkan banyak ilmu darinya. Meskipun setelahnya, ia tetap menghadapi kehidupan yang keras. Tapi tidak membuat hatinya mati dan dibutakan oleh dendam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar