Sabtu, 21 Mei 2016

Bridget: Si Ratu Sekolah



“Aku ingin kau mengerti bagaimana orang lain melihatmu. Aku ingin menunjukkan bahwa apa yang kaulakukan berpengaruh pada orang lain ... Kau harus belajara memahmi bahwa tempatmu di dunia ini  penting. Kau diberi kemampuan untuk memengaruhi orang lain, seperti halnya orang lain juga. Dan sangatlah penting –bahkan vital– bagimu untuk melalukan hal yang baik dengan kemampuanmu itu.” (Hal. 177)



Judul Asli: Here Lies Bridget
Penerjemah: Inosensus Rotorua
Editor: Yuki Aggia Putri
Cover & ilustrator: Satrio Abe
Penerbit: Esensi (Divisi dari Penerbit Erlangga)
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 238 halaman
ISBN: 978-602-6847-01-0

Bridget adalah gadis yang cantik dan populer di sekolahnya. Sayangnya, ia sangat sombong, egois, dan bersikap seenaknya sendiri. Suatu hari, gadis bernama Anna Judge pindah ke sekolahnya. Ia langsung disukai semua orang karena sifatnya yang baik. Sejak itu Bridget merasa dunianya jungkir balik karena semua yang dimilikinya direbut oleh Anna, termasuk sahabatnya.

Satu demi satu peristiwa menjengkelkan terjadi pada Bridget. Semakin ia berusaha merebut kembali apa yang menurutnya miliknya, semakin menjauh hal-hal itu darinya. Bridget pun tak tahan lagi. Ia melakukan sesuatu yang ekstrem tanpa memikirkan risiko terburuknya: mencelakai diri sendiri demi mendapatkan perhatian.

Siapa sangka, Bridget malah terdampar di alam antara hidup dan mati. Ia tak mampu berbuat apa-apa selain menunggu keputusan apakah ia akan hidup atau mati. Ia hanya diberi sedikit waktu untuk menyadari semua kesalahannya dan meminta maaf pada orang-orang yang disakitinya.

Tapi, apakah itu cukup? Apakah ia pantas diberi kesempatan kedua? Inikah akhir hidup Bridget?

***
Novel ini berkisah tentang tokoh utama bernama Bridget Duke. Bridget adalah gadis yang populer di sekolahnya. Ia menjadi pusat perhatian. Saat ia melintas, orang-orang memberinya jalan. Sebagian besar siswa di sekolahnya ingin berkencan dengannya dan sebagian besar siswi ingin menjadi temannya.

Namun lambat laun banyak yang berubah. Kehadiran anak baru di sekolahnya, Anna Judge, mempertegas perubahan tersebut. Popularitas Bridget berubah. Dari diperbincangkan dengan penuh kekaguman menjadi dicibir. Dari yang menjadi pusat perhatian menjadi dipojokkan. Satu persatu semuanya berubah menjadi buruk.

Mantan kekasih yang masih sangat dicintai Bridget, Liam, dekat dan akrab dengan Anna. Sahabat-sahabatnya menyukai Anna dan ingin mengenal gadis itu. Dan tidak butuh usaha keras dari Anna untuk disukai semua orang. Kebaikan hati Anna yang menjadi penyebabnya. Kebaikan hati yang kini tidak dimiliki lagi oleh Bridget.

Saat Bridget merasa semua hal berada di luar kontrolnya, ia pun melakukan hal ekstrim yang membawanya ke persimpangan kehidupan. Antara hidup dan mati. Ia pun diperlihatkan satu persatu sifat dan tindakannya. Membuatnya berharap mendapatkan satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua. Bisakah Bridget mendapatkan kesempatan itu? Ataukah ia harus mati dengan segudang penyesalan?


***

Novel ini adalah sebuah novel remaja yang diterjemahkan oleh Penerbit Esensi. Temanya menarik. Tema besarnya sebenarnya adalah bullying namun kali ini dari sisi kehidupan pelaku bullying di sekolah. Biasanya, yang jadi pelaku adalah mereka yang populer. Mereka yang menjadi role model bagi siswa lain di sekolah. Sayangnya tidak semua siswa dengan pengaruh seperti ini memutuskan melakukan hal baik dengan kelebihannya itu.

Hal ini pun diketengahkan dengan baik. Bagaimana rasa arogan yang memenuhi benak Bridget karena merasa dirinya lebih baik daripada teman-temannya. Membuat dia merasa berhak memperlakukan orang lain dengan seenaknya.

Satu hal menarik lain yang disampaikan melalui karakter Bridget ini: kebiasaan berbohong. Digambarkan bagaimana Bridget selalu melakukan kebohongan demi menyelamatkan dirinya dari akibat perbuatannya. Kebohongan-kebohongan yang lambat laun tidak bisa dia hentikan. Dia harus terus berbohong demi menyembunyikan kebohongan yang sebelumnya. Bridget cenderung manipulatif.

Cerita kehidupan Bridget ini bisa menjadi kisah yang baik untuk remaja Indonesia. Alur flashback  yang dipakai ikut menghidupkan cerita. Sebab sebuah peristiwa akhirnya dijelaskan dengan sudut pandang berbeda. Seperti quote yang ada di dalam buku To Kill A Mocking Bird:  “You never really understand a person until you consider things from his point of view ... Until you climb inside of his skin and walk around in it.”

Novel ini juga menyuguhkan drama keluarga, persahabatan, dan percintaan dengan porsi yang seimbang. Saya paling suka drama keluarganya. Apalagi selama ini banyak novel remaja yang mengecilkan porsi cerita keluarga, padahal salah satu hal yang paling banyak memengaruhi kehidupan seseorang adalah lingkungan keluarga.

Oiya, sekadar mengingatkan. Bagi pembaca yang selalu mengharapkan cerita yang seratus persen logis, maka novel ini tidak bisa memenuhi ekspektasi itu. Ada satu bagian cerita yang cukup penting yang akan sulit dijelaskan dengan logika, namun bukan berarti tidak mungkin terjadi.

Dalam hal penokohan, tokoh-tokohnya konsisten meski sosok ibu tiri Bridget, Meredith, adalah sosok yang terlalu baik untuk jadi kenyataan. Sosok yang cukup naif bagi perempuan di usianya.

***

Qoute Favorit
“Mungkin aku tidak merampas uang saku teman-temanku, tapi aku merampas harga diri mereka.” (Hal. 207)

Kalimat ini menunjukkan seberapa jahat sebenarnya bullying itu. Ini menyentil pelaku bullying yang sering kali merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Memberi tahu bahwa apa yang ia lakukan tidak ada bedanya dengan preman sekolah yang senang memalak uang jajan anak lain. Bahkan yang ia lakukan lebih buruk. Dan ingatlah pengalaman menjadi korban bullying adalah pengalaman yang tidak akan sanggup dilupakan dan bahkan memengaruhi perkembangan psikologi korbannya. (Percayalah karena saya sendiri adalah korban bullying semasa sekolah dulu).
***

Tokoh Favorit
Tokoh yang paling berkesan bagi saya adalah Meredith. Memang karakternya secara psikologi akan sulit ditemukan di dunia nyata. Namun sikap optimisnya menjadi salah satu hal yang paling saya sukai di dalam cerita. Saat mengetahui latar belakang pilihannya untuk menikah dengan ayah Bridget, saya semakin bersimpati padanya. Namun tetap saja saya pun menyimpan kekesalan karena sikap “lemah lembut” Meredith yang menurut saya malah memperburuk karakter Bridget.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar