Sabtu, 23 April 2016

[Early Review] Purple Eyes




Penulis: Prisca Primasari
Penyunting: Carberus404
Proofreader: Seplia
Design Cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Inari (imprint Penerbit Haru)
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Jumlah hal.: 144 halaman
ISBN: 978-602-74322-0-8
"Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi."

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.
***
Pernahkah membayangkan, setelah seseorang meninggal ia akan pergi ke mana? Adakah ke surga dan neraka? Ataukah transit dahulu di sebuah tempat?

Dalam novel ini, penulis mengujak kita berpetualang ke  negeri imajinasinya. Tempat di mana manusia singgah sesaat sebelum memutuskan apakah ingin melanjutkan hidup atau lebih baik mati saja.

Apakah pernah mendengar nama “Hades”? Ya, dia adalah nama yang erat kaitannya dengan mitologi serta kematian. Pernah membayangkan wajah Hades? Ah, dewa-dewa selalu digambarkan tampan. Hades adalah ketampanan yang membawa kengerian. Namun, di dalam “Purple Eyes” ini kita akan mendapati betapa tampannya Hades.

Ok, baiklah. Maaf sudah melantur ke berbagai arah. Kisah dalam novel ini bukanlah menjadikan Hades sebagai tokoh utama. Melainkan asistennya Lyre, atau yang kemudian berubah nama menjadi Solveig. Hades dan Lyre pergi ke bumi tempat manusia yang masih hidup tinggal. Mereka memiliki sebuah misi.

Demi misi ini, Hades menyuruh Lyre untuk menemui Ivarr. Seorang pemuda Norwegia yang adiknya baru saja meninggal. Hades sempat berpesan. “Jangan jatuh cinta padanya, ..., Sebaliknya, buat dia jatuh cinta kepadamu.” (Hal. 42).

Sayangnya pesan ini, meski sangat jelas tetap saja tidak bisa menghentikan perasaan Lyre. Kebersamaannya dengan Ivarr yang awalnya sedingin gunung es hingga membuat Lyre tidak nyaman, ternyata menumbuhkan simpati di Lyre. Namun hingga misi itu hampir berakhir, Lyre tetap tidak tahu apa alasan Hades menyuruhnya mendekati Ivarr.

Siapa sebenarnya Ivarr? Apa hubungannya dengan misi Hades terkait pembunuh berantai yang mengambil liver korbannya? 

Dan ketika semua kebenaran hadir, maka semakin tipis waktu yang tersisa dan semakin sakitlah hati Lyre.
Bagaimanakah nasib kisah cinta asisten Hades ini?

***

Membaca judulnya dan melihat covernya, saya memang membayangkan cinta beda dunia. Antara sesosok hantu dengan anak manusia *tsah, bahasamu, Tria*.

Tapi saya dibuat sedikit terkejut terkejut sekaligus penasaran saat menyadari cerita ini ternyata ada hubungannya dengan salah seorang Dewa Yunani. Hades, sang Dewa dari Dunia Bawah, tempat manusia-manusia yang sudah meninggal pergi.

Dan membaca keseluruhan cerita, saya menyukai imajinasi penulisnya. Cara ia menggambarkan sosok Hades dan Lyre sangat elegan. Penulis memiliki kekuatan dalam berdeskripsi yang banyak memegang peran penting dalam keseluruhan cerita ini. Sebab deskripsinya membuat karya fantasi ini terkesan hidup dan nyata.
Pilihan penulis memakai sudut pandang orang ketiga dalam bercerita adalah pilihan yang aman. Penulis bisa berdeskripsi secara bebas namun bisa tetap menahan “part penting” hingga akhir. Membuat pembaca terus membaca cerita hingga selesai karena penasaran dengan, “Apa sebenarnya rencana Hades?” atau pada kenyataan, “Ada apa dengan Ivarr?”.

Dengan cerdas penulis menahan informasi penting dan membukanya satu persatu di part-part akhir novel.

Bagian Favorit

Ada satu bagian cerita yang membuat Ivarr merasa Lyre adalah sosok yang janggal. Saat Lyre yang orang Inggris mengaku penyuka karya fantasi namun tidak mengenal si anak laki-laki dengan luka berbentuk petir di keningnya. Ya, Harry Potter. Untuk generasi di masa sekarang, Harry Potter bukanlah nama yang asing, terlepas bahwa tidak semua orang menyukainya. Ha..ha.. pasti Ivarr berpikir, “Ini gadis hidup di zaman apa?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar