Senin, 14 Maret 2016

My Pre-Wedding Blues



“Nggak gampang cari orang baik zaman sekarang, Cand. Makanya ... jangan sia-siain orang yang sudah terbukti baik dan cinta sama kita. ....” (Hal. 68)



Penulis: Anna Triana
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 265 halaman
ISBN: 978-602-02-8022-6

Kejujuran tak selalu jadi jawaban paling benar saat hati dan perasaan banyak orang yang jadi taruhan

Candance dan Abim sepakat menikah.
Candance siap menjadi tua bersama Hans, Abim mau menemani Aira sepanjang hidupnya.
Sepasang sahabat beda gender dari bayi ini yakin, mereka bisa menjalani kehidupan rumah tangganya kelak.
Tapi, saat persiapan pernikahan hampir sempurna, rasa takut kehilangan mengambil alih keyakinan mereka.
Abim merasa Candance takkan bisa jadi teman traveling terbaiknya lagi. Candance juga sadar, Abim akan sulit ia jadikan tempat berkeluh kesah seperti biasa.
Bagaimana mereka menghadapi pre-wedding blues ini?
Apakah Hans dan Aira mampu menerima kejujuran hati Abim dan Candance?

***

“Something related to beauty is always subjective, Candance,” (Hal. 148)

Candance dan Abim adalah dua orang yang bertetangga dan telah menjadi sahabat sejak kecil. Hari-hari mereka riuh dengan saling berdebat dan bertengkar satu sama lain. Tidak ada yang mengenal Candance sebaik Abim, pun sebaliknya. 

Namun kini sesuatu terjadi. Semua menjadi berbeda. Candance telah menerima lamaran Hans. Laki-laki yang telah menjadi kekasihnya selama setahun. Laki-laki yang selama ini tidak pernah mencemburui Abim dan membatasi kebebasan Candance. Hans adalah laki-laki yang paling sempurna untuk menjadi pendamping hidup Candance.

Abim pun telah melamar Aira. Kekasihnya yang sudah mengisi hari-harinya selama dua tahun lebih. Perempuan yang karakternya sangat berbeda dengan Candance namun membuat Abim merasa ingin selalu melindunginya.

Kedua sahabat itu tengah sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Namun di tengah semua kesibukan itu, ada sesuatu yang mengganggu. Mereka disergap kebimbingan. Hidup mereka akan berbeda. Candance tidak akan bisa selalu menghabiskan waktu dengan Abim. Abim tidak bisa selalu ada di sisi Candance untuk menjaganya. Hal yang sudah ia lakukan bertahun-tahun, hampir seluruh hidupnya.

Lantas apakah yang ada di antara Candance dan Abim hanyalah cinta? Bagaimana dengan Hans dan Aira. Adakah mereka akan selalu memahami Candance dan Abim? Memahami apa yang dimiliki oleh dua orang yang bersahahabat itu?
“..., karena gue tahu gue hidup cuma satu kali, gue akan memilih buat enggak hidup dalam penyesalan.” (Hal. 195)
***
“Abim memilih untuk jujur daripada menghabiskan sisa hidupnya dalam sebuah penyesalan karena tak pernah mencoba.” (Hal. 213)
Membaca My Pre-Wedding Blues ini bikin saya berpikir tentang persiapan pernikahan saya sendiri. Saya bersyukur bahwa sejak memutuskan untuk menerima lamaran dari laki-laki yang baru satu kali saya temui, tidak ada keraguan sedikit pun atas itu. Pikiran bahwa pernikahan akan merenggut kebebasanku bahkan tidak terlintas sedikit pun. Aku selalu percaya bahwa pernikahanku malah akan menjadikan aku dan suamiku bisa bersinergi dan memberi manfaat bagi banyak orang di sekitar kami.

Maka saat mendapati bahwa Candance merasa takut sebab ia merasa bahwa jika terus menikah dengan Hans maka kebebasannya akan terbatasi rasanya jadi aneh. Untuk perempuan yang hidup di perkotaan dengan pemikiran yang lebih terbuka dan kemampuan komunikasi dan berdiskusi secara terbuka seharusnya bisa mengatasi hal ini. Berdiskusi dengan calon pasangan dan menetapkan komitmen bersama terkait kehidupan yang akan dijalani setelah menikah sangatlah penting. Pernikahan adalah sebuah kesepakatan dan kompromi tanpa batas. Maka sebelum membicarakan pernikahan dengan melibatkan keluarga, maka sebaiknya hal semacam ini sudah disepakati bersama oleh dua orang yang memutuskan untuk saling mendampingi seumur hidup.

Baiklah, mari kembali ke konflik utama My Pre-Wedding Blues. Tentang Abim dan Candance yang bersahabat dan kini persahabatan mereka menjadi salah satu sandungan terbesar pernikahan mereka. Sebab mereka terlalu terlambat untuk menyadari bahwa ada cinta yang tumbuh di tengah mereka. Dan akhirnya mereka harus memilih, bersikap jujur namun melukai banyak pihak, atau melanjutkan rencana pernikahan masing-masing dan hidup dengan membohongi diri sendiri.

Konflik semacam ini telah banyak dibukukan, namun salah satu nilai tambah untuk novel ini adalah karena karakternya terasa lebih hidup karena interaksi antara  Candance dan Abim yang mudah dibayangkan berkat deskripsi yang pas dari penulisnya. Selain itu, cerita tentang keindahan Karimunjawa yang ada di dalam novel ini membuat saya semakin suka. Ini karena salah satu destinasi traveling yang saya dan suami impikan adalah Karimunjawa. Namun hingga kini masih sulit terwujud. Mungkin suatu hari nanti kali ya. Amin

Keseluruhan cerita dan konflik di novel ini menarik, meski endingnya masih terasa terlalu mudah. Padahal konfliknya jika terjadi di dunia nyata tidak akan bisa selesai semudah itu. Tapi di luar itu semua, novel ini menarik dibaca dan tokoh-tokohnya mudah disukai.

***
 
Baca review di atas dan review lain dari blogger yang menjadi host blogtour My Pre-Wedding Blues bikin kamu ikut membayangkan tentang pre-wedding blues itu seperti apa enggak sih? Trus mikir, kira-kira nanti setelah dilamar, akankah merasakan kegalauan seperti yang dialami Candance? Nah, daripada baper karena mikirin itu, lebih baik ikutan Giveawaynya, Readers. Siapa tahu kamu yang beruntung mendapatkan satu novel My Pre-Wedding Blues. Caranya mudah. Yuk ikuti langkah ini:

1. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar
“Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”
Jangan lupa sertakan data diri berupa nama, akun twitter atau akun instagram, dan email kamu. 

2. Share giveaway ini dengan ketentuan berikut:
Via Twitter: follow akun twitter @annatriana_anna dan @atriasartika. Kemudian share link Giveway ini dengan hashtag #MyPreweddingBlues dan mention kedua akun tersebut.
Via Instagram: follow akun instgram @atriasartika & @Annatriana_anna. Repost banner atau e-poster Giveaway #MyPreweddingBlues yang ada di akun @atriasartika. Sertakan link blogpost ini dalam caption. Tag akun @atriasartika. Ingat, tag ya, bukan mention :)
3. Giveaway ini hanya berlangsung 3 hari dari tanggal 14 – 16 Maret 2016
4. Giveaway ini hanya untuk yang berdomisili di Indonesia
5. Pengumuman pemenang akan saya posting di twitter atau IG (tergantung yg terpilih jadi pemenang pakai medsos apa dalam mempromosikan GA ini)

26 komentar:

  1. Nama : A.R. Nadhira Ichsan
    Ig : @arnadhiraich
    Email: azizah.ichsan@gmail.com

    Kalau aku hari ini dilamar oleh orang yang mampu memahami dan menerimaku apa adanya, aku mau.
    Aku tentu akan istikharah. Tapi bukan untuk mempertanyakan baikkah dia untukku, melainkan untuk meminta keyakinan atas keputusan yang telah aku ambil. Aku mau menerima, karena bagiku cukup dengan dia menerimaku apa adanya dan memahamiku maka kami bisa lebih mengerti satu sama lain. Menerima apa adanya tentu bukan lantas membiarkanku atau aku membiarkannya memelihara sikap dam sifat buruknya. Melainkan menyadari kekurangan masing-masing dan menjadikannya kelebihan untuk dapat jadi pribadi yang lebih baik lagi.
    Aku yakin, seseorang yang berani datang melamar adalah seseorang yang sedikit banyak paham bahwa yang ia lakukan berkaitan dengan banyak orang. Bahwa tanggung jawabnya bukan hanya kepadaku, tapi juga kepada keluargaku dan kepada Allah. Maka bila seseorang itu datang dan agama serta akhlaknya baik, in syaa Allah aku mau.

    BalasHapus
  2. Nama : Eka Putri Arviyanthi
    IG : @ekaarviyanthi
    Email : ekaarviyanthi@gmail.com

    "Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?"

    Aku akan bersedia. Caranya yang menerima dan memahami ku adalah langkah awal keseriusannya kepadaku. Karena menurutku, pasangan yang berbahagia merupakan pasangan yang tidak mengaharapkan kebahagian dari pasangan. Melainkan yang siap saling membahagiakan.

    Saat menikah nanti, sesungguhnya aku tak mengharapkan hadirnya kemewahan dari pasanganku. Melaikan kita akan menjadi partner siap menggapai sukses bersama.

    Bukan masalah dia yang tampan, melaikan dia yang mampu membimbing ku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

    Bukan pula sebagai ajang gengsi. melainkan ia yang mampu menerimaku mampu menjadikan penyempurna imanku untuk mencapai surga.

    Insha Allah :)

    BalasHapus
  3. Saya masih menunggu bukunya hadiah giveaway kemarin. Dan setelah membaca reviewnya, saya jadi ingat kalau saya pun pernah cemburu dengan suami kakak saya. Saya merasa tidak rela saja kakak perempuan saya dimiliki orang lain. Waktu itu ketakutan saya, nanti tidak ada yang bangunin saya tidur, nanti tidak ada yang namanya ngobrol berdua, pokoknya banyak. tapi pelan-pelan semua akan terbiasa dan kepanikan saya tidak terbukti. hehehe. Mungkin awalnya hal itu yang dipikirkan Can dan Abim.

    Berarti kedua tokoh utama tidak saling jujur ya sama perasaan diri sendiri. Atau mungkin itu yang disebut friendzone kebablasan sampai akhirnya keduanya memutuskan memiliki pasangan masing-masing. Walah, ribet ya

    BalasHapus
  4. Nama: Arie E. Pradianita
    Twitter: @APradianita
    e-Mail: ariepradianita@gmail.com

    “Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”

    TENTU SAJA AKAN SAYA TERIMA DENGAN SUKA CITA, karena:

    Menurut saya pribadi mendapatkan pasangan yang bisa memahami dan menerima apa adanya itu sangat sulit sebenarnya. Hampir semua orang tidak bisa mendapatkan hasil yang seperti itu. Meskipun perjuangan atau pencarian terus dilakukan dengan keras bahkan penuh dengan pengorbanan. Memang ada orang yang bisa menerima kita apa adanya, dan hal itu bisa dilihat dari orang tersebut. Apa yang ada pada dirinya dan juga sikap dia terhadap kita bagaimana. Agar lebih mudah, saya akan memberikan sedikit ciri orang yang kemungkinan besar bisa menerima kita apa adanya.

    1. Kekurangan.
    Untuk yang pertama, orang yang dimaksud bisa menerima kita apa adanya jika dia juga merasa memiliki kekurangan dan ada rasa bahwa kekurangan tersebut bisa berpengaruh pada hubungannya. Keadaan memang seperti itu, sebab orang yang memiliki kekurangan tapi tidak merasa maka belum tentu dia bisa menerima kita apa adanya. Tapi bukan hanya sampai disitu saja, kekurangan dirinya yang hampir sama dengan kekurangan kita bisa menjadikan hal itu satu ciri bahwa dia bisa menerima kita apa adanya. Tapi perlu diingat, hal ini hanya berlaku jika dia merasa atau sadar bahwa dirinya memiliki kekurangan yang dimaksud. Dan hal seperti itu sangat sulit ditemukan pada diri seseorang.

    2. Keadaan Apapun.
    Dia tetap bersikap sama dengan kita dalam keadaan apapun, dimanapun, dan saat dirinya bersama siapa saja. Bahkan pada saat kondisi kita bisa dikatakan memalukan, dia tidak berubah dan tetap bersikap seperti saat-saat lainnya. Dan jika dirinya sering ada untuk kita, dalam suka atau duka dia tetap menjadi orang yang bisa dibuat sandaran. Dia tetap bisa ada dalam keadaan apapun, bukan hanya saat ada maunya saja.

    3. Bisa Menghargai Perbedaan.
    Perbedaan apapun dari kita dan dirinya, tidak membuatnya merasa berbeda. Hampir mirip seperti yang diatas, dia tidak akan bersikap berbeda meskipun kita berada satu kelompok yang hampir semua banyak kemiripan dengan dirinya. Contoh mudah, dia berkulit hitam berada dalam kelompok kulit hitam dan kita juga ada di sana. Meski begitu kita tetap dianggap sama walau kita orang yang paling berbeda. Bahkan bukan hanya itu, perbedaan sikap, pekerjaan, atau hal lain tidak membuatnya membedakan kita dari orang yang sama dengan dirinya.

    4. Bisa Berjuang Bersama.
    Dalam kondisi buruk, dirinya bisa menjadi partner dalam mencapai suatu hasil atau tujuan. Apapun hubungan kita dengan dirinya, dia akan terlibat langsung untuk suatu tujuan atau keluar dari suatu masalah bersama.

    BalasHapus
  5. Nama : Nafilah
    Twiter : @naafilahizzah
    Email : nafilah26izzah@gmail.com

    “Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”

    hari ini? saya sangat ingin sekali mendapatkan pasangan seperti itu, pasangan yang memahami serta menerima saya apa adanya.
    Akan tetapi, saya akan menolaknya jika hari ini terjadi. Saya masih SMA mbak, masih labil banget wkk.
    Saya hanya berharap jika dia benar-benar sangat mencintai saya, ia akan mengerti akan alasan saya, saya benar-benar masih ingin berfoto dengan orangtua saya dengan toga bertengger manis dikepala saya.
    Dan saya juga berharap jika kami memang benar-benar berjodoh, kami akan dipertemukan kembali, dengan pribadi yang lebih baik lagi saat saya sudah siap lahir maupun batin, di ikatan sakral 'pernikahan' ;)

    BalasHapus
  6. Nama: Kitty
    Akun Twitter: @womomfey
    Link Share: https://twitter.com/WoMomFey/status/709493175560179712
    Alamat email: kitty.wibisono@gmail.com


    Jawaban:

    Jika hari ini aku dilamar oleh seseorang yang mampu memahamiku, siap menerimaku apa adanya, tentu saja aku akan menerimanya dengan hati terbuka. Tapi tetap dengan beberapa catatan khusus ya:

    1. Kami sudah harus mengenal sebelumnya
    >> Entah kenapa, aku agak susah membayangkan akan hidup bersama seseorang yang belum kukenal sebelumnya. Jadi aku sudah pasti tidak akan langsung menerima lamaran seseorang yang baru saja berkenalan denganku. Penting sekali buatku untuk merasakan kenyamanan dan kecocokan saat bersamanya dan itu sudah pasti hanya akan didapat dari orang yang benar-benar sudah mengenalku sebelumnya. Dengan begitu kami pasti sudah mengenal dengan baik kelebihan dan kekurangan kami masing-masing.

    2. Kami memiliki beberapa prinsip dasar yang sama
    >> Menikah itu tidak hanya butuh cinta. Akan naif sekali jika kita menikahi seseorang hanya karena kita teramat mencintainya. Aku pribadi memiliki beberapa prinsip dasar yang tidak bisa ditawar! Dan aku hanya akan menerima lamaran dari pria yang juga memiliki prinsip dasar yang sama denganku. Kenapa? Karena aku gak ingin membuang energi dan menghabiskan waktu bertengkar dan berdebat hanya karena perbedaan prinsip dasar yang kami miliki. Kami ini kan ingin mengarungi bahtera rumah tangga, bukannya ingin perang prinsip seumur hidup kami. Oh iya, dan jika kalian kurang ngeh apa itu prinsip dasar, maka akan kuberitahu bahwa prinsip dasar disini adalah hal-hal paling mendasar yang selama ini kalian pegang, yakini dan jalani. Bukan sesuatu yang dapat kalian ubah hanya karena kalian mendapat lamaran dari seseorang, sekalipun orang itu adalah pria yang kalian cintai :)

    3. Kami harus sama-sama terbuka dalam segala hal
    >> eits! Bukan berarti aku gak akan menerima lamaran seorang introvert ya. As long as he become an extrovert while being with me, I won't mind ;) Bukannya mau sok kepo dan menguasai pasanganku, tapi beneran deh! Keterbukaan dan komunikasi itu penting banget dalam menjalankan sebuah hubungan agar tidak timbul terlalu banyak miss-communication yang kelak membawa hubungan ini malah makin runyam. Kalau dia belum bisa sepenuhnya terbuka padaku, mungkin dia belum benar-benar siap berkomitmen.

    Kurasa 3 hal itulah yang paling benar-benar kupertimbangkan saat akan menerima lamaran dari seorang pria, selebihnya akan dapat kami komunikasikan dan diskusikan bersama.

    BalasHapus
  7. Nama: Fetreiscia Frida
    Twitter: @fetreisciafrida
    Link share: https://twitter.com/fetreisciafrida/status/709665791889657857

    Kalau aku dilamar oleh orang yang mau menerimaku apa danya pada saat ini juga, aku pastj akan menerimanya. Kenapa? Ak tau, sebagai manusia pasti aku mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Aku tau juga tidak semua orang bisa menerima ku dengan semua keburukan yang aku punya. Jika orang itu sampai berani untuk melamarlu, pasti dia sudah mengerti dan tau apa konsekuensi yang akan diterimanya jika ia memilihku. Karena setelah melamar pasti kita akan menikah bukan? Pernikahan bukanlah suatu permainan yang bisa diakhiri kapan saja. Jika kau sudah memutuskan seseorang untuk menjadi pendamping mu, kamu harus siap untuk hidup bersamanya untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, aku akan menerima orang tersebut. Karena aku juga membutuhkan seseorang yang dapat melengkapi diriku dengan dua sisi yang kumiliki tadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lupa email nya: fetreisciafrida@gmail.com

      Hehe maaf ya kak :)

      Hapus
  8. Putri Prama Ananta | @putripramaa | anantaprama@yahoo.co.id

    “Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”

    Tentu, asalkan 'memahami dan menerima apa adanya' itu bukan hanya omong belaka. Aku perlu tindakan dari orang tersebut, jangan hanya bicara kalau mau memahamiku dan siap menerimaku apa adanya.

    BalasHapus
  9. Nama: Eka Sasining Putri
    Akun Twitter: @cah_ichie
    e-mail: ekasasie@yahoo.co.id
    Jawaban: Tidak. Jika "dia mampu memahamiku dan siap menerimaku apa adanya", aku akan menolak lamarannya. Bukan bermaksud serakah dan bersikap angkuh (atau sok jual mahal), aku hanya ingin menganalisis kebulatan tekad dan keteguhan hatinya dalam melamarku. Menikah itu mudah tapi menjalani pernikahan itu tidak mudah. Aku juga ingin berserah diri pada Allah, istikharah, apakah orang yang melamarku ini adalah orang yang sebaik-baiknya untukku dan aku adalah orang yang sebaik-baiknya untuknya; bukan langsung berserah diri pada dia. Aku ingin pula memahami dan siap menerimanya apa adanya, tidak lantas karena alasan dia mampu memahami dan siap menerimaku apa adanya, aku menyegerakan diri untuk menerima pinangannya. Aku tidak ingin terburu-buru dan terlena oleh apa yang bisa dia lakukan untukku. Jika memang aku memilih dan menerima lamarannya, aku ingin aku juga bisa melakukan banyak hal besar dan berharga untuknya.

    BalasHapus
  10. Eris Andriani
    @RizAnNie88
    ayaseyis@gmail.com

    Aku akan menolak karena memahami dan menerima apa adanya tuh belum tentu menjadi satu.satunya alasan untuk berkomitmen. Tapi masih butuh alasan lain misalnya merasa cocok, nyaman,saling memahami satu sama lain (bukan satu pihak saja),dll. Kalau hanya didasari kata memahami ku dan menerima apa adanya itu kayak terkesan buru.buru dan pasrah. Sebagai cewek kita butuh yg benar.benar pasti hehehe..

    BalasHapus
  11. Gestha
    @AltGST
    gesthareffy@gmail.com

    Belum tentu. Hanya karena dia mampu memahami dan menerima apadanya bukan berarti pernikahan kami akan berjalan dengan sebagaimana yang diinginkan pasangan yang menikah pada umumnya. Terlebih lagi itu kembali kepada diri kita sendiri, meski si dia mampu memahami dan menerima apa adanya bukan berarti aku memiliki perasaan yang sama. Nah, jika diriku memiliki perasaan yang tidak sepertinya bagaimana bisa aku menerimanya..

    BalasHapus
  12. Nama: Dian Maharani
    Akun Twitter: @realdianmrani93
    Email: dianmaharani833@yahoo.com

    “Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”

    Aku akan menolaknya. Alasannya sederhana, aku belum selesai sekolah. Karena prinsipku, harus ada hiasan di undanganku nanti, minimal title S1 ^_^ Menerima apa adanya? Perempuan memang ingin diterima apa adanya. Tapi, aku sebagai perempuan juga ingin menunjukkan ke-bisa-an-ku, kemampuanku pada orang yang aku sayangi. Aku yakin dia bisa menerima alasanku itu, walau terkesan kurang masuk akal. Dia sudah memahamiku, bukan?

    BalasHapus
  13. Nama : Tri
    twitter : @tewtri
    E-mail : triwahyuni.irawan3@gmail.com

    Di lamar hari ini oleh orang seserius dan sebaik itu?

    Maaf saya tidak bisa. Benarkah saya menolaknya? Iya. Kok bisa? Menikah itu komitmen dua hati juga dua keluarga ya. Bukan hanya karena dia sanggup menerima saya seutuhnya lantas saya berpikir inilah yang saya cari. Saya rasa menikah itu proses, banyak memang yang dalam sekejap saja sudah merasa yakin menemukan jodohnya. Namun, bagi saya waktu adalah peran penting dalam urusan pernikahan. Di sini bukan soal dia yang a atau b tapi soal waktu yang saya yakini. Pernikahan= Waktu+Proses. Yah begitulah.

    BalasHapus
  14. nama: Visca
    twitter: @Visca_Apr
    e-mail: apriliyantivisca@yahoo.com
    “Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”
    emaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak *teriak pake toa* anak mu ini dilamar mak, iya dilamar sama ZAYN MALIK *eh*
    back to topic, kalo hari ini ada yang orang mau ngelamar aku, jelas aku seneng banget dan bersyukur akhirnya ada juga yang mau sama aku. apalagi orang itu mampu memahami aku, siap menerima aku apa adanya tapi yang lebih penting sih mampu membimbing aku ke jalan yang benar.
    terus aku ga mau langsung diajak nikah gitu, kasian sama abang aku yang belum nikah ntr dia malah galau gara-gara ditinggalin nikah duluan sama adeknya yang unyu ini *eh*. aku juga masih mau menikmati masa muda dulu, masih pengen main sama temen-temen. perlu belajar banyak juga tentang pernikahan, ga mau kan kalo pernikahannya cuma seumur jagung? pernikahan itu sangat sakral, kalau bisa cukup sekali dalam seumur hidup

    BalasHapus
  15. Nama : Dera Devalina
    IG : @deradevalina
    Email : deradevalina@gmail.com
    “Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”
    Mungkin orang akan berkata ya tunggu apa lagi dia sudah menerimamu apa adanya, apalagi yang kau tunggu?, Kalau aku akan meminta satu hari untuk diriku sendiri, mempertanyakan pada diriku apakah akau siap, dia telah menerima aku dengan apa adanya, apakah aku menerimanya dengan apaadanya?, dan akau akan memantapkan diriku untuk jawaban selanjutnya, bukankah pernikahan harus dilandasi kejujuran dan keiklasan, karena menuju pernikahan biasanya hati akan diuji, karena itu memantapkan hati adalah pilihan yang tepat, setelah itu meminta restu kedua orang tua adalah hal yang utama..

    BalasHapus
  16. Nama: khusnul
    Twitter: @imahreana
    Email: khusnulalsyafia@gmail.com

    Menerimanya, apa yah? kita bisa mencari yg lebih di luar sana mungkin, tapi belum tentu ada yang bisa memahami dan menerima kita apa adanya. Butuh proses dan tidak menuntut kemungkinan juga bakal berhasil. Makanya, yg namanya kesempatan itu harus diambil, bukan di biarin apalagi ditunggu, karna kedepannya belum tentu kesempatan itu bisa kamu dapatkan kembali.

    BalasHapus
  17. Nama : Rachmah Wahyu
    Twitter : @rachmah_wahyu
    Domisili: Surabaya
    Email : rachmahwahyu27@gmail.com
    link share :
    Jawaban :

    Ini pertanyaan yang super baper, tapi saya akan berusaha menjawabnya walau pacar saja tidak punya. Jika memang ada seorang pria yang mampu memahami saya dan menerima saya apa adanya, saya tidak akan ragu untuk menerimanya. Alasan pertama karena memang usia saya sudah cukup, kedua jika dia mampu memahami saya dan mau menerima saya apa adanya kenapa saya tidak mau memahaminya dan menerimanya apa adanya. Inti dari pernikah adalah sebuah ibadah, di mana kita nanti harus membangun rumah tangga, membesarkan anak bersama dan menua bersama. Jika kita berkomitmen menikah karena Allah, Allah pasti akan merestui kita.

    BalasHapus
  18. Ketinggalan link share nya kakak...
    link share : https://twitter.com/rachmah_wahyu/status/709942742684704768

    BalasHapus
  19. “Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”

    Saya mikir mikir dulu. Kenapa ? Pernikahan itu bukan hal sepele antara dua insan saja. Tetapi menghubungkan beberapa unsur, seperti keluarga.

    Dalam hubungan pernikahan memahami dan menerima pasangan apa adanya itu memang sangat penting. Tapi, yg paling penting apakah sebelumnya kami saling kenal ? Nah maka dari itu, mungkin sebelum menerima lamarannya saya akan mencoba mengenalnya lebih dalam lagi, tentang bibit, bobot, dan bebetnya. Kalo memang saya sekeluarga ngerasa "sreg" insyaallah saya akan menerimanya dengan senang hati.

    Dan satu lagi. Menemukan orang yang bisa memahami dan menerima kita apa adanya memang susah, tapi jika kita berserah diri kepada Allah, insyaallah kita akan menemukan orang yang pas untuk dunia, dan akhirat kita.

    Intinya sih, saya mau mengenal dia lebih dalam dulu sembari meminta keyakinan hati kepada Allah. Keputusan Akhir saya serahkan kepada Allah...

    Nama : Aziza Avita Sari
    Twitter : @azizaavita
    Ig : @azizaavita
    E-mail : azizaavitasari@gmail.com

    BalasHapus
  20. Nama: NM. Rayanti
    Akun twitter: @biblionervosa
    Email: biblionervosa@gmail.com

    Saya rasa, saya akan menerimanya (setelah mengatur napas selama beberapa jenak dan menjernihkan pikiran yang mungkin akan saya lakukan dalam hitungan menit). Jika seseorang melamar saya hari ini juga, dan dia adalah orang yang mampu memahami dan menerima saya apa adanya, dia pastilah orang yang sudah mengenal saya dengan begitu baik. Dan karena saya memiliki bakat menakjubkan dalam memilih lelaki yang salah, saya pikir, saya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat keputusan. Bahkan jika keinginan saya untuk menikah tidak sebesar keinginan yang dimiliki lelaki itu. Karena, lelaki yang mampu memahami dan menerima kelemahan dan kelebihan seorang perempuan, adalah jenis lelaki yang sangat mudah untuk dijatuhcintai ^_^

    BalasHapus
  21. nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    email: auliyati.online@gmail.com

    “Jika hari ini kamu dilamar oleh seseorang yang mampu memahamimu, siap menerimamu apa adanya, akankah kamu menerimanya? Kenapa?”

    Dilamar seseorang hari ini??! Wah pastinya senang banget! Karena itu yg sudah ditunggu sejak lama huehehee :D

    Tapi sebelum menerima ataupun menolaknya, aku akan melihat dulu 4 hal yg disunnahkan Rasul dalam menerima pinangan seorang pria yaitu Agamanya, keturunannya, harta dan fisiknya. Jika ke-empatnya memenuhi kriteria sesuai tuntunan agamaku, maka untuk lebih memantapkan hati dan juga memohon petunjuk dan keyakinan dari Allah SWT, aku akan sholat istikharah. Dan selanjutnya aku juga akan meminta pendapat dan restu kedua orangtuaku.

    Karena pernikahan adalah suatu yang suci, tidak hanya mementingkan hati kita, tapi juga ridho Allah SWT dan restu kedua orangtua.

    BalasHapus
  22. Nama: Ayu Widyastuti
    Twitter: @widyayu15
    Email: widyayu15@gmail.com

    Kalau akunya sendiri tidak ada halangan untuk menikah dan sudah siap menikah lalu tiba-tiba dia menkhitbah, ya aku akan terima. Pokoknya terima aja dulu. Aku sangat menghargai lamarannya ini. Tapi dengan catatan aku juga butuh istikharah. Jawaban dari Allah adalah jawaban terbaik untuk masa depanku. Yakin saja bahwa Allah akan menuntun ke jalan yang terbaik.

    Ketika seorang pria sudah berani untuk melamar itu tandanya memang ada keseriusan dari dirinya, karena belakangan ini kebanyakan pria cuma bisa cengengesan hahahehe kalau ditanya soal kapan melamar dan menikah. Terlebih dia yang mengkhitbah ini juga menyodorkan modal bahwa dia mau memahami dan menerimaku apa adanya.

    Setelah menerima, sembari menjalani dan menunggu hari H tiba, seiring waktu kelak jawaban dari istikharah itu akan muncul. Seperti yang pernah saya baca di sebuah buku yang mengatakan bahwa jawaban dari istikharah tidak selalu datang lewat mimpi, tidak pula selalu cepat muncul jawabannya. Dia bisa datang lewat petunjuk lain misalnya soal kemantapan hati, proses yang nggak berbelit, kelancaran segala urusan, dan lain-lain.

    Jadi kalau dia memang jodohku insya Allah semua urusan bisa berjalan lancar hingga ijab qobul. Tapi kalau dia bukan jodohku, maka Allah akan memberi petunjuk dengan berbagai cara misalnya dari mimpi, atau membuat hati yang tiba-tiba goyah, atau urusan pernikahan macet bahkan berantakan, atau adanya selisih paham dari kedua pihak, dan lain-lain.

    BalasHapus
  23. Nama : Nova Indah Putri Lubis
    Twitter : @n0v4ip
    Email : n0v4ip[at]gmail[dot]com
    Link Share :https://twitter.com/n0v4ip/status/710055697027866624

    Jika hari ini ada yang melamar saya, insyaAllah saya terima selama dia yang melamar saya memang baik agamanya, sedikit banyak saya sudab mengenalnya dan juga sedikit banyak tau tentang dia, insyaAllah saya terima. Sambil terus berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah semoga pilihan saya tidak salah. Alasan saya menerimanya pastinya yang utama karena niatnya untuk berkomitmen menunjukkan bahwa dia pria yang serius dan bertanggung jawab. Dan ditambah perangainya yang memang sudah saya kenal meski tidak banyak, menjadi patokan saya juga untuk menerimanya. Dan juga saya sudah tidak mau berpacaran lagi. Kalau memang dialah jodoh saya, ya kita taaruf sebentar, lalu menikah. Itu lebih baik daripada saya pacaran lama-lama dan penuh dosa tapi akhirnya saya tidak bersamanya... Semoga jodoh saya segera datang... :D

    Terima kasih kak ^^

    BalasHapus
  24. Rini Cipta Rahayu
    Twitter @rinicipta
    Email rinspiration95@gmail.com

    Kalau aku dilamar hari ini, aku akan menolaknya dulu. Entahlah jika dia datang lagi beberapa tahun ke depan. Menerima ponangan seseorang adalah sebuah keputusan yang besar. Memang masih ada kemungkinan untuk putus, tapi sebisa mungkin kita akan mempertahankan hingga ke pelaminan kan?
    Bagiku, mampu memahami dan siap menerima apa adanya, hanya terjadi jika dia mengenalku dengan baik. Nggak mungkin kalau akhirnya nanti aku menghabiskan hidupku dengan seseorang yang 'asing'.
    Jangan terburu-burulah. Aku perlu waktu untuk mengenalnya, beradaptasi dengan kehidupannya dan berinteraksi se-intens mungkin. Komunikasi mungkin akan menyatukan kita, meaki awalnya belum ada rasa cinta. Selain itu, aku ingin menilai kesungguhannya. Dia yang benar-benar serius akan berjuang untuk mengupayakan kedekatan hubungan kami. Dia bukan 'akan datang lagi' tapi akan 'menanti sesuatu terjadi'.
    Trims kak :)

    BalasHapus
  25. Nama: Arini Angger
    Twitter: @ariniangger
    Email: ariniangger@gmail.com

    Sebenarnya seseorang yang mencintai kita bukan dilihat dari apa- apanya namun dilihat dari ketulusan hatinya, dan bagaimana dia memperlakukan kita, ketulusannya.
    Jadi, jika saya dilamar dengan orang yang mencintai saya apa adanya dan sangat tulus saya akan terima namun dengan catatan bahwa seseorang itu sudah saya kenal dan juga saya tahu seluk beluknya dia, jadi tidak asal terima siapa yang melamar saya. Karena ini adalah menuju ikatan yang abadi. Dan hanya aku dan dia yang tahu apa itu cinta diantara kita.

    BalasHapus