Rabu, 10 Februari 2016

Scarlet (The Lunar Chronicles)



“Sepanjang hidupnya–setidaknya, sepanjang hidup yang bisa dia ingat– yang dia inginkan hanyalah kebebasan. Dan kini, untuk pertama kalinya, dia mendapatkannya, serapuh apa pun itu. Tidak ada orang yang mengatur-aturnya. Tidak ada yang menghakimi atau mengkritiknya.” (Hal. 188)


Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Dewi Sunarni
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K
Design cover: @hanheebin
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, Februari 2016
Jumhal hal.: 444 halaman
ISBN: 978-602-71505-6-0

Nenek Scarlet Benoit, Michelle Benoit, menghilang tanpa jejak. Bahkan kepolisian berhenti mencarinya dan menganggap wanita itu melarikan diri atau bunuh diri.

Marah dengan keputusan dari pihak kepolisian, Scarlet membulatkan tekad untuk mencari neneknya bersama dengan seorang pemuda petarung jalanan bernama Wolf, yang kelihatannya menyimpan informasi tentang hilangnya nenek Scarlet.

Apakah benar Wolf bisa dipercaya? Rahasia apa yang disimpan Michelle Benoit sampai dia harus menghilang?

Di belahan bumi yang lain, status Cinder berubah dari mekanik ternama menjadi buronan yang paling diinginkan di seluruh Persemakmuran Timur. Dapatkah Cinder sekali lagi menyelamatkan Kai dan bumi dari Levana?

***
Novel Scarlet ini adalah buku kedua dari seri The Lunar Chronicles yang ditulis oleh Marissa Meyer. Sama seperti novel sebelumnya, Cinder (baca ulasannya di: ), yang mengambil tema dongeng yang kemudian dikolaborasikan dengan imajinasi penulis tentang dunia di masa depan, Scarlet sama memikatnya dengan Cinder.

Jika dalam Cinder, kita mencicipi “rasa baru” dongeng Cinderella yan melibatkan ibu tiri, dua saudari tiri dan pangeran; maka di Scarlet kita akan mengidentifikasi kekhasan dongeng Si Tudung Merah dengan icon berupa gadis bertudung merah dan serigala (wolf). Maka jangan heran jika di dalam novel ini berkali-kali kita membaca tentang tudung merah yang dipakai Scarlet serta Wolf, pendamping Scarlet dalam mencari neneknya.

Cerita dibuka dengan kekalutan tokoh Scarlet atas hilangnya sang nenek. Neneknya menghilang dengan meninggalkan chip identitasnya. Scarlet yakin sang nenek tidak melarikan diri ataupun bunuh diri. Ia yakin neneknya diculik. Tapi apa alasannya? Selama ini mereka hidup tenang. Kemudian kedatangan ayah Scarlet yang tidak membuat gadis itu nyaman sama sekali, membawa sebuah clue. Membuat Scarlet mendatangi Wolf, seorang petarung jalanan, yang ia yakini punya hubungan dengan para penculik neneknya. Namun Wolf meyakinkan Scarlet bahwa ia tidak tahu apapun. Wolf pun kemudian menawarkan diri untuk menemani Scarlet mencari neneknya. Tawaran yang akhirnya diterima Scarlet. Namun benarkah pilihan Scarlet memercayai Wolf?

Di sisi lain ada pula cerita pelarian Cinder, gadis cyborg yang ternyata merupakan Putri Selena yang selama ini ditakuti kehadirannya oleh Ratu Levana. Gadis ini melarikan diri dari penjara dan pelariannya ini mengikut sertakan Thorne, seorang narapidana yang ternyata sangat bermanfaat bagi Cinder. Thorne adalah pencuri ulang. Ia mencuri sebuah kapal kargo milik pemerintah Republik Amerika. Thorne dan pesawatnya pun menjadi pendukung bagi pencarian Cinder pada masa lalunya.

Bagaimana nasib kedua gadis ini? Akankah mereka bisa mencapai tujuan masing-masing? Dan kelak jika tadir mereka beririsan, akan seperti apa?


***

Novel Scarlet ini adalah sebuah bacaan yang penuh “bonus”. Kenapa? Kita akan mendapatkan dua kisah sekaligus saat membacanya. Kisah tokoh Scarlet dan kisah Cinder. Meskipun cerita dari sisi Scarlet cukup banyak, namun kisah Cinder pun tidak kalah menegangkannya. Membuat pembaca akan terus bertanya-tanya, “setelah ini bagaimana?”

Dan ide penulis tentang sosok Wolf ini cukup kreatif. Ia adalah tokoh yang berdiri sendiri dan menjadi benang merah bagi banyak tokoh lainnya. Pun benang merah yang kelak mengikat dan membuat kehidupan tokoh Scarlet dan tokoh Cinder saling terhubung.

Bagian favorit saya adalah bab-bab terakhir novel ini. Ketegangan yang ditampilkan membuat saya tidak bisa melepaskan buku ini hingga selesai. Dan saat novel ini berakhir, rasanya saya ingin langsung meneror Penerbit Spring agar segera menerbitkan Cress, buku ketiga novel ini. Sambil berpikir, selanjutnya dongeng apa?

Seri The Lunar Chronicles ini akan menjadi salah satu seri yang novel fantasi favorit pilihan saya. Padahal fantasi bukanlah salah satu genre favorit saya.

2 komentar:

  1. Saya juga masih menjauhkan genre fantasi. Tapi saya malah penasaran dengan kedua novelnya (Cinder, Scarlet) yang menggabungkan dongeng Cinderella dan si Tudung Merah. Sepertinya ceritanya seru. Pertanyaannya: masih sangat manusiawikah cerita di dalamnya? Sebab jika terlalu masa depan banget, saya takutnya tidak mendapatkan pelajaran yang relevan dengan sisi kemanusiaan yang kekinian.

    BalasHapus
  2. Sebagai bahan bacaan utk waktu senggang. Saya pun juga ingin punya buku bernuansa dystophia ini. Kren sblumnya juga blum pernah bca dg tema yg sama.
    Mupeng pengen mngkoleksi keseluruhan the lunar eclipse nya penerbit spring...

    BalasHapus