Jumat, 15 Januari 2016

[Review+Blogtour Giveaway] Sesaat di Keabadian



“Kalau kamu sedang sangat terluka, jangan pejamkan mata kamu karena memejamkan matamu akan membuatnya berkali-kali lipat lebih menyakitkan. Biarkan saja Re, maka rasa sakitnya akan sedikit berkurang....” (Hal. 63)

Penulis: Mezty Mez
Editor: Ayuning dan Bayu Novri Lianto
Penyelaras: Emka
Penata letak: Blu Athea dan Maspri
Penyelaras tata letak: Gita Ramayudha
Desainer sampul: Maspri
Penyelaras desain sampul: Gita Ramayudha
Penerbit: EnterMedia
Cetakan: pertama, 2015
Jumlah hal.: vi + 130 halaman
ISBN: 979-780-835-1
Harga buku: Rp 42.000

Ini tentang seseorang yang istimewa di hatiku; seseorang yang tak bisa aku lupakan meski telah lama pergi. Ini juga tentang seseorang yang mampu membahagiakanku; seseorang yang tak bisa aku tinggalkan di babak kehidupan selanjutnya. Mungkin ceritaku ini sedikit berlebihan, tapi aku jujur menuliskannya. Bukankah tak ada yang lebih indah dari saling mencintai?

Aku bisa jadi salah seorang perempuan yang beruntung di bumi ini, mungkin saja. Tapi tanpa mereka? Entahlah bagaimana aku jadinya.

Apakah kamu tahu takdir tentang cinta yang paling menyakitkan itu apa? Jawabannya adalah kamu tidak ingin orang-orang yang mencintaimu patah hati lalu terluka.

Kamu tak perlu setuju dengan jawabanku, karena cinta punya bahasanya sendiri. Percayalah, apa yang aku alami jauh lebih buruk dari sekadar patah hati. Sampai di sini, maukah kamu mendengar ceritaku selanjutnya?
***

“Berubah bagaimana? Beberapa hal memang berubah. Tapi, bukankah memang ada hal-hal yang tak berubah meski sudah digerus waktu?” (Hal. 6)

Novel “Sesaat di Keabadian” ini adalah novel yang bercerita tentang seorang perempuan bernama Rena yang menanti seorang lelaki yang terlah berjanji untuk datang dan akan bersumpah setia di hadapan Tuhan. Lelaki itu bernama Dante. Sayangnya, Dante tidak pernah datang.

Sudah 2 tahun berlalu dan Dante tetap tidak muncul. Menghilang tanpa kabar. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaan Dante. Rena dan Alex telah mencari Dante sekuat tenaga namun nihil.

Di sisi lain ada pula Alex yang ternyata menyimpan cinta yang tidak seharusnya ia miliki. Bagaimana mungkin ia mencintai Rena? Mencintai kekasih sahabatnya sendiri? Meskipun Dante telah menghilang namun tetap saja ia tidak berhak melakukannya. Lagi pun Alex tahu betapa Rena sangat mencintai Dante.

Dan Dante? Dimana ia berada? Apa yang membuatnya melanggar janji yang ia buat pada Rena?

“Apakah mungkin cinta seperti seperti bintang yang bersinar dalam kegelapan. Begitu kecil, tapi berusaha mati-matian bersinar. Menjadi penghias kegelapan dan kompas bagi para pelaut agar tak tersesat di lautan. Ataukah cinta itu seperti bulan yang cahayanya terkadang sembunyi dalam gelapnya malam, tapi sebenarnya tetap berada di sana, tak pernah pergi sedikitpun meniggalkan bumi. Dan ketika cinta seperti bulan, kita hanya perlu yakin bahwa dia ada di sana.” (Hal. 33)

***

“Karena kami tidak dianugerahi air mata seperti milik perempuan oleh Tuhan. Perempuan dianugerahi air mata, bukan sebagai bentuk kelemahan. Melainkan, sebagai alat untuk meluapkan kesedihan dan meringankan beban. Tapi air mata kami hanya untuk bersedih, tidak untuk meringankan beban-beban kami. Karena itu, kami lebih suka melampiaskan kesedihan dengan melukai diri sendiri.” (Hal. 47)

Novel “Sesaat di Keabadian” ini adala novel pertama Mezty yang saya baca. Meski ini bukanlah karya pertama Mezty. Novel ini adalah novel keduanya.

Membaca novel ini bisa dilakukan dalam beberapa jam saja. Kenapa? Selain ukuran buku yang tipis, buku ini pun ceritanya ringan. Saya mendefiniskannya sebagai pure romance. Ya, keseluruhan cerita berkisah tentang percintaan. Tentang Rena yang menunggu Dante.

Yang membuat penuturan di buku ini menarik adalah permainan alur yang dilakukan penulis. Alur campuran membuat pembaca penasaran. Bahkan di akhir cerita pembaca malah menemukan hal baru yang sebenarnya sudah disampaikan di prolog.

Sayangnya, ada beberapa kekurang di dalam novel ini. Pertama, terlalu banyak telling. Padahal akan semakin menarik jika dilakukan dengan showing. Seperti di halaman 17 tertulis “Meski ibu Rena sudah tua, tapi dia tetap mampu bergerak dengan gesit.” Bagaimana jika hal ini dijabarkan dengan showing, menyebutkan usai kemudian hal-hal yang bisa dilakukan dengan gesit oleh sang ibu?

Selain itu, deskripsi di dalam buku ini terasa minim. Deskripsi yang paling banyak hanya pantai. Di luar itu, deskripsi lain sangat sedikit. Di sisi lain, buku ini tidak menghadirkan sosok lain selain Alex sebagai orang yang bisa dihubungi untuk mencari Dante. Apa Dante tidak punya keluarga? Kolega? Teman kerja? Teman lama semasa kuliah? Eksplorasi ini jika dilakukan akan membuat novel jadi memikat.

Tapi di luar itu, novel ini cukup ringan untuk dibaca oleh mereka yang menyukai novel pure romance.
“Cinta membuat seseorang egois, ingin memiliki dan tak ingin kehilangan.”
 (Hal. 57)
***
“Cinta membuatnya tak bisa berhenti berspekulasi, menunggu, dan tak bisa melanjutkan hidup untuk mencari pria lain dalam hidupnya.” (Hal. 79)

Hai..saatnya Giveaway Blogtour ya. Kali ini My Little Library jadi Giveaway pembuka untuk blogtour novel “Sesaat di Keabadian” ini. Sudah disediakan satu buku untuk satu orang pemenang yang beruntung? Mau? Ikuti syarat berikut:

1. Follow blog ini via Google Friend Connect (GFC) *lihat side bar kiri di atas postingan
2. Follow akun twitter @EnterMedia3, @OnlyMezty, dan @atriasartika
3. Share link Giveaway ini di akun twittermu dengan mention ketiga akun di atas pakai hashtag #SesaatDiKeabadian
4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar
Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?
Sertakan data dirimu berupa nama, akun twitter, dan email ya

5. Giveaway ini berlangsung sejak 15 – 20 Januari 2016
6. Hanya untuk yang berdomisili di Indonesia
7. Pengumuman pemenang serentak dilakukan di 12 Februari 2016 di blog www.ach-bookforum.blogspot.co.id
“..., terkadang dalam diam, seseorang justru berbicara dengan jujur.” (Hal. 104)

31 komentar:

  1. Nama : Alifa Nanda Tarina
    Akun twitter : @_alifananda
    Email: embol559@gmail.com
    Jawaban : kalo aku pasti menunggu, karena aku selalu yakin dan percaya kalo orang yang aku cintai pasti datang kembali untukku. Lagian Kita tidak pernah tau akhir dari penantian dari Sang Tuhan, siapa tau Allah kasih ending storynya indah sweet jugaa
    The first, moga aja beruntung, makasih ka Atria :*

    BalasHapus
  2. Nama: Estiy
    Twitter: @estiyuliastri
    Email: estiyuliastri@gmail.com
    https://twitter.com/estiyuliastri/status/687844055963676680

    Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?
    "Jika aku dihadapkan pada posisi Rena, aku akan tetap menunggu.
    Namun sejatinya, tidak selamanya aku akan terus menunggu. Selain menggunakan hati, perempuan seperti kita harus juga menggunakan LOGIKA dalam berpikir, menjalani hidup & mengambil keputusan. Jangan membuat diri ini terlalu larut diperbudak cinta.
    Boleh saja bertahan, menunggu. Namun juga tetapp harus berpikir jernih & logis, "Yang aku pertahankan itu seorang yang cukup pantaskah untuk ditunggu? Atau malah merugikan & membawa dampak negatif bagi diriku?"
    Karena jika menunggu hanya akan mempersulit langkah kita berjalan, untuk apa terus egois mempertahankan cinta tersebut..

    BalasHapus
  3. Nama: Annisa Ayundi Prastiwi
    Twitter: @annsynd
    Email: annisaica04@yahoo.co.id

    Jawaban:

    Saya memutuskan untuk menunggu. Itu adalah pilihan dan hak saya, asalkan saya menunggu dengan dewasa dan paham bahwa di dunia ini tidak semua bisa dipaksakan. Saya akan menunggu dengan cara saya sendiri, dengan mencari sebanyak-banyaknya ilmu agar orang yang saya tunggu tidak menyesal karena memutuskan untuk mendatangi saya (baca: penunggu) kembali. Tapi, saya hanya akan menunggu jika orang yang saya tunggu menghargai saya yang sudah mengorbankan sebagian waktu saya demi sebuah harapan. Saya akan berkata "Aku akan tetap menunggu. Tidak peduli kau datang atau tidak" kepada orang yang juga akan berkata "Aku akan datang. Tidak peduli kau masih disana atau tidak".

    BalasHapus
  4. Neneng Lestari
    @ntarienovrizal
    n_tarie90@yahoo.com

    Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?

    Jawaban: Aku tidak akan bertahan menunggu sekejap pun ketika dia memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku tanpa kabar. Meski ia masih memiliki janji kepadaku, tapi apa gunanya janji itu kalau hanya mengikat aku pada hubungan yang tidak terlihat masa depannya.

    Lebih baik aku menyerah menunggunya meski sakit, dan mencoba melanjutkan hidup meski sulit.

    Hidup sulit lebih baik daripada hidup dengan rasa sakit.

    BalasHapus
  5. "Jika kamu harus
    menunggu seperti
    Rena, apakah kamu
    akan bertahan
    menunggu atau
    akhirnya menyerah?
    Kenapa?"

    jawaban : kalau harus menunggu sampai dua tahun tanpa kabar apapun seperti Rena mungkin aku akan nyerah. Untuk apa aku menunggu orang yang nggak pasti, meski dia sudah berjanji sekalipun. Ketika sebuah hubungan atau komitmen sudah disepakati ke dua belah pihak. Harusnya satu sama lain memberi kabar nggak harus setiap hari tapi cukup lah tiga hari sekali memberi tahu kabarnya satu sama lain. Untuk menghindari pemikiran buruk kalau terjadi apa-apa dengan orang tersebut. Sebagai perempuan yang aku butuhkan adalah kepastian bukan janji-janji manis saja. Dan dihantu pikiran-pikiran buruk tentang pasangan.


    Nama : Emma
    Twitter : @EmmaNoer22
    Email : amrelisha@gmail.com

    BalasHapus
  6. Nama: Kiki Suarni
    Twitter: @Kimol12
    Email: kikisuarni616@yahoo.com

    Jawaban:

    Bukan menunggu sih tapi lebih ikhlas dan pasrah aja. Kalo emang dia jodoh pasti kembali. Tapi kalo gak jodoh, pasti Tuhan akan menggatinya dengan yang lebih baik.

    Kalo menunggu tanpa kepastian gitu juga percuma, sia-sia, buang-buang waktu. Lebih baik waktu selama itu aku gunakan untuk memperbaiki diri dan mengejar impianku. Lah, bukankah semakin baik diri ini pasti kelak akan dapat pendamping yang baik pula? Eeeaaa...

    Terima kasih.

    BalasHapus
  7. nama : Wening
    twitter : @dabelyuphi
    email : dabelyu_phi@yahoo.com

    walaupun aku bukan tipe orang yang sabar dan tahan untuk disuruh menunggu, tapi jika ada seseorang yang aku anggap berharga dan aku sayang memintaku untuk menunggunya, aku akan berusaha untuk sabar menunggu kedatangannya. meskipun mungkin janjinya itu tidak pernah ditepati.

    aku akan terus menunggu sampai titik dimana aku pada akhirnya harus melepasnya pergi. bukan karena aku lelah menanti kedatangannya, namun karena aku harus mengikhaskan kepergiannya. karena mungkin Tuhan hanya menjodohkan kami sampai batas waktu tertentu saja, tidak menjodohkan kami untuk menghabiskan waktu bersama sampai ajal memisahkan kami.

    mungkin saat aku menghabiskan waktu untuk menunggu dirinya terdengar seperti aku membuang sia-sia waktuku, tapi pasti akan selalu ada pelajaran berharga yang aku dapatkan selama aku menunggunya.

    BalasHapus
  8. Nama : Faiz Istighfara
    Twitter : @lisyaann
    Email : faiz.istighfara@gmail.com

    "Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?"

    Aku akan menunggu. Namun akan ada saat nya juga aku akan menyerah oleh keputus asaan. Bagaimana tidak, Dante yang menghilang begitu saja. Tidak ada kabar, lost contact. Tentu aku akan terombang-ambing dengan perasaan yang campur aduk. Namun menyerah untuk tak menunggu lagi bukan berarti aku melepaskan. Tidak, aku hanya akan menyerahkan semuanya pada yang diatas. Jika kita berdua memang benar-benar jodoh, akan ada jalan untuk kita bersua kembali. Itu pasti.

    BalasHapus
  9. Nama: Wika Agustina
    Twitter: @agstnwika
    Email: wikaagustina22@yahoo.com

    Jika saya jadi Rena, saya akan tetap menunggu. Karena sejatinya cinta tidak munafik. Ia pasti akan setia menunggu selama apapun. Jika hati kita yakin dengan cinta tulus yg kita miliki, takdir pasti akan selalu mempertemukan kita dengan org yg kita cintai melalui caranya yg indah. Karena bisa saja, lelaki yg sengaja menghilang dari hidup kita, membiarkan kita menunggu lama, karena semata-mata ingin menguji cinta kita. Apakah selama dia menghilang tak berkabar, kita akan melupakannya dan tidak mencarinya. Dan yg terpenting, apakah kita akan tetap menjaga cinta kita secara utuh dan tidak membiarkan orang lain memilikinya selama dia menghilang? Itu mungkin yg menjadi alasan seseorang pergi tanpa. Jadi, penting buat kita untuk tidak bertingkah gegabah dan tetap setia pada cinta yg seharusnya kita jaga.

    BalasHapus
  10. Nama : Neni Arwanda
    Twitter @neniarwanda95
    Email : neniarwanda77@gmail.com

    Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?
    Bagiku, pilihan yang teramat menyebalkan adalah menunggu atau menyerah. Dan pertanyaan yang teramat sulit adalah "kenapa". Mari kita jawab pertanyaan giveaway ini.
    Saya memilih untuk menunggu. Kenapa? Jawabannya karena jika saya telah berjanji untuk menunggu maka saya akan menunggu sampai semuanya terlihat jelas, sampai Dante datang dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Saya bukannya tidak mau menyerah, hanya saja karena teramat sangat mencintai, terkadang seseorang bisa menerima untuk menunggu dalam jangka waktu yang teramat lama, jikalau belum ada kepastian dari orang yang kita tunggu. Saya tahu ini akan membuat banyak pertanyaan yang melintas dalam benak dan akan menimbulkan kekhawatiran sampai mungkin luka tak kasat mata. Tapi bukankah ketika mencintai kita tak pernah peduli seberapa lama kita harus menunggu mereka yang kita cintai?

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. Octaviyanti
    @octaviyaa
    octaviyaa29@outlook.com

    Rena, wanita yang menunggu ketakpastian dari sesosok Dante, yang katanya akan menjemput Rena dengan kebahagiaan. Dua tahun, bagiku, itu sudah cukup untuk menunggu. Bukankah menunggu itu membosankan? Apalagi sesuatu yang penuh dengan ketidakpastian. Kini, saatnya untuk membuka hati, membuka pikiran dengan kehidupan dan orang-orang yang baru. Biarkan Dante terkubur dalam masa lalu. Ketika ia kembali, masa-masa itu cukup dikenang, tanpa perlu diungkit.

    BalasHapus
  14. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    rinspiration95@gmail.com

    Kalau aku sebagai Rena *laah, namanya mirip* kemungkinan aku pada akhirnya akan menyerah. Menunggu itu sangat membosankan lho, tapi akan aku laakukan dengan semangat. Pada awalnya saja. Banyak hal yang membuat kita berubah, keadaan berubah, dan kemungkinan janji yang diucapkan akan tidak relevan lagi beberapa tahun kemudian. Ketidakhadiran sosoknya, perlahan membuat kita lupa.
    Beruntung kalau dia segera datang dan menepati janjinya. Tapi gimana kalau kita hanya menunggu sendiri, sedangkan yang ditunggu tidak berusaha menjemput kebahagiaan kita? Yaa.. aku cuma mencoba realistis aja sih, gak bisa selamanya kita diam di tempat sementara waktu terus berjalan. Tidak membuat perubahan apapun akan membuat kita menyesal nantinya.

    BalasHapus
  15. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    rinspiration95@gmail.com

    Kalau aku sebagai Rena *laah, namanya mirip* kemungkinan aku pada akhirnya akan menyerah. Menunggu itu sangat membosankan lho, tapi akan aku laakukan dengan semangat. Pada awalnya saja. Banyak hal yang membuat kita berubah, keadaan berubah, dan kemungkinan janji yang diucapkan akan tidak relevan lagi beberapa tahun kemudian. Ketidakhadiran sosoknya, perlahan membuat kita lupa.
    Beruntung kalau dia segera datang dan menepati janjinya. Tapi gimana kalau kita hanya menunggu sendiri, sedangkan yang ditunggu tidak berusaha menjemput kebahagiaan kita? Yaa.. aku cuma mencoba realistis aja sih, gak bisa selamanya kita diam di tempat sementara waktu terus berjalan. Tidak membuat perubahan apapun akan membuat kita menyesal nantinya.

    BalasHapus
  16. Nama: Yuliani
    Twitter: @yulianipatty
    Email: yulianicullen22@gmail.com

    Jawaban: Jika aku menjadi Rena, aku akan menunggu Dante. Aku akan menanti kedatangannya dihadapanku. Aku yakin Dante akan kembali dan berada disisiku lagi. Mendengar keluh kesahku ketika dirinya tidak berada disampingku. Aku akan setia menunggu Dante. Dan mendengar penjelasannya. Mengapa dia meninggalkan diriku cukup lama dan tidak memberi kabar. Yang sebenarnya aku haus akan hal itu. Ketika Dante sudah kembali dan berada disampingku, akan mendengar semua penjelasan dan kebenarannya. Karena aku percaya Dante tidak akan meninggalkan diriku begitu saja.

    BalasHapus
  17. Jika akhirnya yang ditunggu-tunggu tak akan pernah kembali, aku akan menyerah. Karena aku tak mau menunggu orang yang nyatanya tak akan pernah kembali lagi sama saja menungguku sia-sia. Aku lebih baik perlahan-lahan membuka lembaran baru dengan yang lain walaupun itu tidak mudah, tetapi aku akan berusaha.
    nama : Lina Mufidah
    akun twitter : linamufidah4
    email : linamufidah4@gmail.com

    BalasHapus
  18. masih mikir untuk jawabnya.

    nitip dulu,
    http://popular-quotes.blogspot.co.id/
    fiksisingkat.blogspot.com

    BalasHapus
  19. Jika aku menjadi Rena aku akan tetap menunggu, mengingat bahwa hal itu adalah sebuah janji. Sebesar rasa sayang dan cinta kepada Dante, sebesar itu pula lah aku akan sabar menunggu. Aku percaya bahwa takdir selalu terikat bersama manusia, apabila Dante tidak menepati janjinya, aku yakin Tuhan pun akan memberikan jalan yang terbaik bagiku dan Dante.
    Nama : Tasya
    Akun twitter : @tasyaamanda95
    Email : tasyamanda9525@gmail.com

    Terima kasih mbak Atria untuk kesempatan GA nya

    BalasHapus
  20. Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?

    Pada awalnya aku mungkin akan menunggu, demi janji setia. Namun menunggu tanpa kepastian itu rasanya sia-sia, seperti membuang waktu, kita pun akan seperti berjalan di tempat sementara waktu terus berjalan. Untuk jangka waktu hingga 2 tahun apalagi tanpa kabar dan kepastian, rasanya aku akan berhenti menunggu. Bagaimana kalau Dante ternyata sudah bersama orang lain? Atau yang paling buruk, bagaimana kalau ternyata Dante sudah meninggal? Apa aku akan menunggu seumur hidup?? Tentu saja tidak! Hidup tidak bisa hanya menunggu dan berdiam diri, kita harus bergerak seiring dengan waktu yang terus berjalan. Jika usaha pencarian dan penantian sudah dilakukan namun tiada hasil, sudah saatnya untuk move on!

    Nama: Aulia
    Akun twitter: @nunaalia
    Email: auliyati.online@gmail.com

    BalasHapus
  21. Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?

    Jika aku harus menunggu seperti Rena, aku akan menunggu semampuku, sekuat hati dan keyakinanku untuk menunggu sampai waktu menunjukkan bahwa “sudah cukup waktuku untuk menunggunya”. Dua tahun menunggu bukan hal mudah, bukan pula waktu yang sebentar. Ada hati, ada perasaan yang dikorbankan dan diperjuangkan. Bukankah seseorang yang benar-benar menyayangi kita, tidak akan membiarkan kita menunggu, meskipun dia tahu kita bersedia saja menunggu? Terlebih menunggu tanpa kepastian, sudah mencari tahu tentangnya, tentang keberadaannya tetapi nihil, maka alangkah lebih bijaknya bila aku memilih untuk berhenti. Cinta memang kuat, tetapi ia hanya bertahan untuk seseorang yang mau dipertahankan. Cinta punya alasan untuk bertahan, dan ia juga punya alasan untuk berhenti. Bukan karena tak setia, tetapi waktu terus berputar dan aku harus tetap melanjutkan hidup, bukan hanya untuk menunggu seseorang yang tak pasti. Lepaskan, maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatiku, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatiku.

    Nama : Monika Gisthi Secaresmi
    Akun Twitter : @m_gisthi_s
    Email : monikagisthi@gmail.com

    BalasHapus
  22. Nama: Kitty
    Akun Twitter: @womomfey
    Alamat e-mail: kitty.wibisono@gmail.com
    Link Share: https://twitter.com/WoMomFey/status/689556717575602176

    Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?


    Jawaban:

    Jika harus menunggu seseorang seperti yang Rena alami dalam buku Sesaat Di Keabadian, pasti aku akan merasa kesepian, perih dan bahkan mungkin putus harapan. Bagaimana tidak? Orang yang ditunggu pun tidak ada kabar beritanya sama sekali, tak bisa dihubungi sama sekali. Ini adalah jenis menunggu yang paling menyedihkan dan konyol, sekalipun orang yang ditunggu adalah orang yang begitu saya cintai dan pernah berjanji untuk kembali agar dapat mengikat hidupnya sehidup semati dengan saya.

    Sekalipun sisi perempuan saya akan berusaha keras mempercayai semua janji-janji yang pernah dibuatnya, merindukan kebersamaan kami yang pernah ada di masa lalu, akan tiba waktunya perasaan cinta tak bersambut ini kelak tergerus sang waktu. Saat itu terjadi, pasti logika saya akan berjuang merebut kembali kewarasan saya yang telah lama tersita oleh perasaan mendamba.

    Logika itu akan menyadarkan saya hal-hal yang selama ini luput dari pemikiran saya hanya karena saya dibutakan oleh cinta dan rindu:

    1. Jika benar orang itu mencintai saya, dia tidak akan membiarkan saya terus-menerus tersiksa dalam keabadian penantian saya. No matter what! Apalagi di jaman seperti ini, dimana komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara.

    2. Jika benar orang itu mencintai saya, dia akan berupaya semaksimal yang dia bisa agar saya mendamba kehadirannya dengan rasa excited dan bukannya malah merana.

    Ya… pada akhirnya saya akan menyerah dan menjadi olok-olokan sang waktu yang merasa menang atas keterpurukan saya dan ketidaksanggupan saya bertahan dalam penantian saya. Biarlah… toh saya memang hanya perempuan biasa yang bisa patah hati pada sosok yang pernah saya cintai dengan begitu tulusnya. Saya juga hanya perempuan biasa yang dapat jatuh cinta lagi, terlebih pada orang yang mau berbagi kesedihan selama saya merindu sosok yang tak jelas kabar beritanya itu, pada orang yang dengan setia mendampingi saya melalui perihnya penantian panjang tanpa kepastian, pada orang yang jelas-jelas berada di sisi saya sepeninggal si pemberi harapan, pada sosok Alex jika saya adalah seorang Rena…

    BalasHapus
  23. Nama : Nova Indah Putri Lubis
    Twitter : @n0v4ip
    Email : n0v4ip[at]gmail[dot]com
    Link Share : https://twitter.com/n0v4ip/status/689672076085493760

    Jika saya ada di posisi Rena yang harus menunggu begitu lama tanpa ada kepastian, saya lebih memilih menyerah daripada bertahan dalam ketidakpastian. Mungkin pada awalnya saya akan bersedia menunggunya, tapi jika semakin lama malah tidak ada kabar berita, saya lebih memilih berhenti. Karena saya merasa jalan hidup saya masih panjang dan tidak mungkin terus menurus menunggu pada sesuatu yang belum pasti. Saya akan berhenti menunggu dan kembali melanjutkan hidup saya. Saya percaya, jika dia memang jodoh saya, kami pasti akan bertemu lagi dan akan dipersatukan Tuhan... :)

    Terima kasih kak ^^

    BalasHapus
  24. Nama : Agatha Vonilia Marcellina
    Akun twitter : @Agatha_AVM
    Email : agathavonilia@gmail.com

    Aku akan tetap menunggunya karena bagiku janji adalah 'hutang' yang harus ditetapi dan tetap melanjutkan hidup. Aku yakin suatu saat dia akan kembali padaku. Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku dan aku memang harus memilikinya. Bagiku dia adalah pasangan hidup terbaikku di masa depan.

    BalasHapus
  25. nama : Mukhammad Maimun Ridlo
    akun twitter : @MukhammadMaimun
    email : maimun_ridlo@yahoo.com

    Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?

    Jika aku menjadi Rena, aku akan berhenti menunggu.
    Karena Dante sudah mengingkari janji untuk datang. Padahal janji itu dilaksanakan di depan Tuhan.
    Aku juga akan memilih Alex karena aku akan lebih berpihak kepada kenyataan daripada sesuatu yang tidak pasti.
    Sabar pasti ada batasnya. Apalagi dalam soal menunggu...

    BalasHapus
  26. Nama : Siti nuryanti
    Twitter: @NelyRyanti
    Linkshare:https://twitter.com/NelyRyanti/status/689793124349018113
    Email : sitinuryanti@yahoo.com

    Jawaban

    Kisah Rena mirip sekali dengan kisah hidupku masa lalu...itu salah satu episode bittersweet kehidupanku..itu bukan hal yang mudah untuk dilewati. Saya pernah bertahan menunggu lebih dari dua tahun tanpa kepastian. Dia menghilang tanpa kabar berita, meskipun pernah telepon sekali dan meminta untuk menungguku, tetapi kemudian menghilang lagi. Saya tidak punya nomor kontak teman, saudara atau keluarganya. Karena kami menjalani LDR. Saya sedih,frustasi dan putus asa, setiap hari adalah hari-hari yang terberat dalam hidupku. Hingga akhirnya saya memilih menyerah, karena disatu sisi ada sosok lain yang selalu disampingku dan menjadi sandaranku dikala hatiku gelisah dan sedih, semua keluargaku juga sudah mendukungnya. Akhirnya aku memilihnya, meskipun sebenarnya hati ini belum bisa melupakan dia yang telah menghilang tanpa kabar. Karena menghapus nama dihatiku tidak semudah menghapus nama di phonebook. Hidup juga harus terus berjalan ke depan. Dan sepertinya pilihanku tepat, karena sampai bertahun-tahun kemudian dia tidak datang pernah datang...maaf nih jadi curcol ..langsung inget masalaluku :(

    BalasHapus
  27. Sesuatu yang paling membosankan itu bagiku adalah menunggu. Jadi aku paling tidak suka menunggu. Kalau aku jadi Rena aku tidak akan menunggu Dante, apalagi dlm waktu dua tahun itu bukan waktu yang sebentar, aku butuh kepastian, karena hidup ini akan terus berjalan, dan hidup ini tdk bisa hanya dihabiskan untuk menunggu sesuatu yg tak pasti. Lebih baik di habiskan dengan terus melakukan sesuatu hal yg positif daripada hanya menunggu.
    Nama: Leny H
    Twitter: @Lenny66677291
    email: leny.hermi@yahoo.com

    BalasHapus
  28. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  29. Nama: Manshur
    Twitter: @manshuri_yusuf
    Email: manshuri.yusuf@gmail.com

    Jika kamu harus menunggu seperti Rena, apakah kamu akan bertahan menunggu atau akhirnya menyerah? Kenapa?

    Aku akan memilih untuk menyerah dan berhenti menunggu kepastian yang entah kapan itu terwujud. Menunggu bukanlah hal mudah, sekalipun atas nama cinta, jika sudah dalam hitungan tahun tak ada bisa menebak rasa akan berubah menjadi apa.

    Dan soal janji, bukankah namanya menyiksa jika hanya berjanji bersumpah tetapi tanpa berikan kepastian akan kapan kebahagian itu terwujud.

    Lagipula menunda kebahagiaan hanya demi menanti sesuatu yang tak pasti itu sama saja seperti menyiksa jiwa.

    BalasHapus
  30. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus