Jumat, 29 Januari 2016

Daylight



“Teko yang kosong  tak akan pernah mampu mengisi cangkir-cangkir.” (Hal. 3)


Penulis: Robin Wijaya
Editor: Andriyani
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 290 halaman
ISBN: 978-602-02-7734-9
Bandung
Sebuah wujud dari mimpi. Satu pesan masuk.
Gabriel dinyatakan lolos pada audisi tahap awal sebuah kompetisi memasak yang selama ini merupakan impiannya.

Batam
Sebuah pemakaman. Satu panggilan telepon. Mantan istri Gabriel dikabarkan tewas dalam sebuah kecelakaan, dan meninggalkan di kecil Kata, anak hasil pernikahan mereka dulu. Seketika Gabriel harus memilih; mengejar mimpi atau mengambil kembali perannya sebagai ayah.

Jakarta
Sebuah kompetisi. Kekacauan terjadi.
Gabriel mengambil kesempatannya untuk mengejar mimpi dan meninggalkan Kate bersama Amanda, kekasihnya, selama mengikuti kompetisi di Jakarta. Tetapi kekacauan itu terjadi dan dia menyesali keputusan yang telah diambilnya.

***

“... untuk membuatmu maju, kau harus menantang dirimu.” (Hal. 2)

Bagaimana jika impianmu datang, siap untuk kamu raih? Maju tanpa ragu? Ini berbeda dengan Gabriel. Bahkan sejak awal ia terkesan ragu-ragu menerima kesempatan untuk berkompetisi di Star Chef. Kemudian mendadak ia dikabari bahwa mantan istrinya meninggal. Ini membuat Gabriel memikirkan Kate, putri sematang wayangnya.

Dengan banyak pertimbangan dan kebimbangan, Gabriel memutuskan untuk tetap mengikuti kompeti Star Chef demi Kate. Agar ia layak menjadi teladan bagi putri kecilnya.

Setelah itu, drama kehidupan Gabriel berlanjut ke kehidupan yang berkisar dengan kompetisi di dalam Star Chef. Bercerita tentang keahlian memasak. Resep, pilihan bahan, dan makanan yang dihidangkan.

Namun ternyata ada konflik lain yang menanti. Yang membuat Gabriel kembali bimbang. Benarkah keputusannya mengikuti Star Chef dan meninggalkan Kate di Bandung? Haruskan ia tetap berkompetisi atau segera kembali ke Bandung menyelesaikan masalah yang terjadi? Dan Amanda, bisakah Gabriel menerima masa lalu Amanda?


“Tak banyak orang yang paham dengan ketiadaan. Mereka yang tak benar-benar tahu seperti apa rasanya kehilangan sampa benar-benar mengalaminya sendiri.” (Hal. 155)

***

“Kau tak bisa menyematkan kata mantan pada anak. Tak ada mantan anak. Selama mereka mengawasi genmu, kau akan terikat kontrak darah selamanya.” (Hal. 156)

 
Suka menonton kompetisi memasak yang tayang di berbagai stasiun tv? Bahkan ada kompetisi yang level dunia? Pernah membayangkan bagaimana jika kompetisi ini dituangkan dalam kata-kata dan dibukukan?

Ini yang dilakukan oleh Robin Wijaya dalam novel Daylight miliknya ini. Cerita kompetisi memasak yang diikuti oleh Gabriel, tokoh utama di novel ini, mendapat porsi yang sangat besar. Namun cerita kehidupan Gabriel sendiri memberi warna yang ikut mempermanis cerita.

Pilihan penulis untuk mengangkat kompetisi memasak di dalam novelnya adalah sebuah pedang bertama dua.  Ini bisa menjadi kelebihan namun di saat yang sama berpeluang menjadi kekurangan.

Namun eksekusinya cukup pas. Ini karena deskripsi yang ditampilkan penulis cukup hidup. Meskipun deskripsi mendetail juga sedikit membuat paragraf tertentu jadi membosankan. Tapi, pilihan penulis menggunakan sudut pandang orang pertama adalah pilihan yang pas dan membuat cerita jadi lebih menarik. Narasi yang diketengahkan terkadang terasa seperti sebuah kontemplasi tokoh Gabriel. Ia melihat peristiwa dan mengambil pelajaran dari hal itu.

Salah satu kelebihan novel ini adalah informasi yang dibagikan terkait dunia memasak. Seperti yang diwakilkan oleh kalimat berikut, “Selalu menganggap bahan masakan sebagai material berharga adalah sikap yang harus dimiliki seorang juru masak” (Hal. 139). Ada juga potongan informasi yang simple terkait memasak dan kretivitas.

Selain itu, cerita kehidupan Gabriel membuat tokoh ini jadi mudah dibayangkan dan merebut simpati pembaca. Sayang hubungannya dengan Amanda masih terkesan kurang emosi juga Konfilk yang muncul di akhir cerita terlalu mendadak. Alasan untuk masalah yang terjadi di antara mereka masih terasa kurang. Oiya, saat Gabriel pusing harus melakukan apa agar Kate ada yang menjaga saat ia ikut Star Chef, kenapa tidak dari awal Amanda menawarkan diri membantu? Kenapa harus jadi pilihan terakhir padahal harusnya jika hubungan Gabriel dan Amanda benar-benar, hal ini sejak awal seharusnya terlintas oleh mereka berdua.

Oiya, tokoh Kate, anak Gabriel, sebenarnya punya potensi menjadi konflik yang lebih besar. Sayang kurang dieksplorasi. Kenapa Mama Margareth tidak ikut dijadikan masalah yang mengganggu kehidupan Gabriel? Saya malah sempat menebak bahwa Mama Margareth terlibat dalam konflik terakhir. Ternyata?? He..he.. tidak usah saya ceritakan lebih lanjut. Biar enggak spoiler.

Oiya, bagian favorit saya adalah saat terjadi sabotase di dapur. Sabotase terkait daging itu. Itu ikut membuat saya kesal dan geleng-geleng kepala :D

“... cerita personal seorang idola kadang lebih menarik ketimbang karier dan prestasinya.” (Hal. 9)

***
 “Kalau dua orang yang terikat merasa tak punya satu topik pun untuk dibicarakan, kurasa mereka perlu memugar hubungan itu kembali.” (Hal. 169)
“Wanita tak suka pria yang kalah dengan perasaannya. Mereka lebih tertarik dengan pria yang mampu menang di atas perasaannya. Termasuk rindu.” (Hal. 181)
“Sebetulnya, itu hanya masalah terbiasa dengan keadaan saja. Berminggu-minggu berada di sana, kau akan hafal dengan segala yang kau temui setip hari dan lama kelamaan akan terbiasa dengan keadaan tersebut. Begitu pindah ke tempat baru, kau perlu waktu lagi untuk terbiasa.” (Hal. 233)
“Kepergian mendadak selalu menyisakan efek yang lebih kuat ketimbang melihat langkah seseorang yang pergi menjauh sampai benar-benar hilang dari pandangan.” (Hal. 269)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar