Kamis, 28 Januari 2016

Cat meets Vet



“Kami berdua adalah tipe pria yang sama dalam banyak hal. Menghormati pernikahan dan akan mempertahankannya sampai akhir.” (Hal. 102)

Penulis: Acariba
Editor: Afrianty P. Pardede
Desain kover: Agus “Gusiq” Ferdinand
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 258 halaman
ISBN: 978-602-02-7270-2

Apa yang sangat kau benci dalam hidupmu?

Meta, seorang bidan, akan menjawab: kucing jantan –yang mencakar setiap pria– dan seorang playboy.

Takdir seakan tak mengerti Meta. Dia pun dipertemukan dengan seorang playboy pemilik masa lalu yang kelam dengan bantuan seekor kucing yang memiliki kelakuan ajaib.

Playboy itu bernama Ego, seorang dokter hewan tampan yang sangat mudah mendapatkan setiap perhatian dari wanita. Playboy yang terluka harga dirinya akibat penolakan dari “seorang” Meta.

Mungkinkah Meta –yang pernah mengalami sakit hati karena pengkhianatan seorang pria – melunturkan ego seorang Ega?
***

“Semua orang butuh waktu, Met. Ayahku juga begitu. Hanya saja dia butuh waktu selama sisa umurnya untuk belajar melupakan wanita itu dan mencintai ibu.” (Hal. 104)


Apa jadinya jika dua orang yang berbeda prinsip bertemu? Saling berseteru? Yes! Itu yang terjadi antara Meta dan Ega. Lebih tepatnya Meta yang sebal setengah mati pada Ega. Pertemuan pertama mereka berkesan BURUK sekali bagi Meta.

Menjadi obat nyamuk..hmm...lebih tepatnya disebut jadi pihak ketiga di dalam lift saat Ega dan entah siapa nama perempuan itu, asyik bercumbu. Meta adalah satu-satunya penghuni lain di lift itu selain Ega dan kekasihnya. Itu jika kucing jantan nan galak yang dibawa Meta tidak dihitung.

Dijebak oleh sahabat sendiri, membuat Meta mau tidak mau harus rela mengurusi kucing jantan bernama Martin. Ternyata selain terjebak bersama kucing, takdir pun menjebak Meta untuk saling terhubung dengan Ega yang playboy cap kadal aneh. Padahal Meta sangat membenci playboy.

Setelah itu, hari-hari meta tidak tenang sama sekali. Belum lagi kehadiran sosok dokter Ari yang sempat membuat Meta patah hati membuat semuanya semakin runyam. Bisakah hidup Meta kembali tenang? Bagaimana hubungan Meta dan Ega berikutnya?

***

Hubungan Meta dan Ega di dalam novel ini dituturkan dengan manis sekaligus cukup lucu. Ega adalah laki-laki dengan kesadaran penuh memilih menjadi playboy yang perjaka (?!). Di sisi lain, Meta adalah perempuan yang membenci playboy dan terbiasa hidup sendiri karena kepergian orang tuanya yang cukup cepat.

Keduanya pun digambarkan punya pendapat berbeda tentang urusan percintaan. Bagi Ega rasa cinta dalam sebuah hubungan sangat penting, “Untuk apa sebuah hubungan tanpa ada rasa cinta? Simpati itu bullshit. Sebuah hubungan yang berdasarkan karena simpati saja mirip sebuah bangunan dengan fondasi beton tanpa besi. Rapuh!” (Hal. 82)

Sedangkan bagi Meta, cinta bisa ditumbuhkan. “Tapi cinta itu bisa muncul dari simpati.” (Hal. 82) Itu menurut Meta.

Dalam hal penokohan Mbak Acariba berhasil membangun karakter yang mudah disukai. Ega yang meski playboy namun punya sikap yang manis dan perhatian. Wajah tampan dan kehidupan ekonomi yang mapan. Hm.. tipe yang akan membuat saya pun tertarik untuk menjadikannya imam. Eh, maaf lupa kalo saya udah nikah. :D

Di sisi lain Meta digambarkan sebagai perempuan mandiri yang kuat dan irit. Kehidupan ekonomi pas-pasan. Wajah tidak jelek tapi juga tidak cantik pakai banget. Sangat manusiawi. Mudah untuk disubsitusi dengan sosok pembaca perempuan manapun.

Penggunaan sudut pandang orang pertama, membuat narasi dalam novel ini terkesan santai. Enak dibaca. Sayangnya, sesekali, saat cerita dituturkan dari sisi Ega, gaya berbicara Ega masih terkesan kurang maskulin.

Di sisi lain, saya juga sedikit heran dengan Meta. Kok dia selalu bisa menyadari saat kenjantanan Ega mulai beraksi ya? Berarti dia merhatiin donk? Aku soalnya kalau berinteraksi dengan lawan jenis hanya memperhatikan wajahnya. Hm.. itu berarti Meta..... (silakan isi sendiri..he..he..)

Tapi di luar itu, novel ini menyenangkan untuk mengisi waktu luang karena narasinya yang kocak. Meskipun ada cukup banyak kesalahan penulisan. Tapi tidak benar-benar mengganggu alur cerita.

Oiya, novel ini sebaiknya diberi label dewasa deh. Karena menurutku, ini sebaiknya gak dikonsumsi remaja :D

“..., betapa sesuatu yang menyebalkan bisa jadi sangat dirindukan saat orangnya sudah tiada.” (Hal. 106)

2 komentar:

  1. tsahhh... pasti seru itu tahu aksinya Meta yang benci dg playboy. eh, dipertemukan dg Ega sang Playboy. hohoohoo...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha.. Ha.. Seru..narasinya juga lucu sih. Jadi pengin ngakak pas baca :D

      Hapus