Kamis, 14 Januari 2016

Cafe Waiting Love



“Emas murni tidak takut ditempa dengan api. Cinta tidak takut menunggu.”
(Hal. 167)
Penulis: Giddens Ko
Penerjemah: Julianti
Penyunting: Arumdyah Tyasayu
Proofreader: Selsa Chintya
Cover Designer: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, Januari 2016
Jumlah hal.: 404 halaman
ISBN:978-602-7742-70-3
Dalam hidup ini,
ada beberapa kali saat di mana jantung
berdegup dengan kencang,
dan kata-kata tidak sanggup terucap?
Aku belum pernah berpacaran,
tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta,
seharusny menghargai momen setiap kali
jantungnya berdebar,
kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya,
kali berikutnya,
dan kali berikutnya lagi.
Di dalam sebuah cafe kecil,
setiap orang sedang menunggu seseorang.
***
“Mengajarkan bahwa bersandar pada gunung, gunung bisa runtuh; bersandar pada orang, orang akan menjadi tua; unuk mendapatkan kebahagiaan, yang terbaik tetaplah mengandalkan diri sendiri.” (Hal. 6)
Novel Cafe Waiting Love ini bercerita tentang kehidupan Li Siying dengan orang-orang terdekatnya. Kisah yang banyak bertempat di Cafe Waiting Love milik Nyonya Bos yang nyentrik.

Siying bekerja  sebagai pelayan (juga merangkap barista) di Cafe Waiting Love. Rekan kerjanya, Albus, adalah seorang lesbian yang sangat irit berbicara namun juga seorang pengamat yang jeli. Siying tertarik pada salah seorang pelanggan di kafe tersebut. Zeyu, mahasiswa Universitas Chiao Tung. Rasa kagumnya pada sosok laki-laki itu membuat Siying bertekad untuk kuliah di universitas yang sama.

Suatu hari Siying mendengar cerita tentang A Tu yang kerap diolok oleh teman-temannya karena berita bahwa pacarnya direbut oleh seorang lesbian. Mendengar cerita itu, Siying sangat bersimpati pada orang tersebut. Ternyata Siying bertemu langsung dengan pria itu dan akhirnya membela A Tuo, ya kakaknya salah mengingat nama, di hadapan teman-teman A Tuo. Ini karena Siying amat geram dengan sikap A Tuo yang terkesan lemah hingga teman-temannya terus mengoloknya. Sejak itu, Siying pun berteman dengan A Tuo.

Berkenalan dengan A Tuo membawa Siying ke kehidupan yang lebih berwarna. Ia berkenalan dengan banyak orang yang unik. Ada Bibi Pisau Emas, Paman Pisau Emas, Kepala Besi, Abang Bao si Raja Pembantai Orang di Hsinchu, dan orang-orang unik lainnya. Siying pun menikmati pertemanan itu.

Di sisi lain, Siying masih terus menyimpan ketertarikannya pada Zeyu. Hingga suatu hari Zeyu putus dengan kekasihnya dan Siying pun memberanikan diri menyapanya. Mereka pun jadi memiliki hubungan yang menarik. Siying kemudian berhasil masuk di universitas yang sama dengan Zeyu. Namun sayangnya Zeyu masih belum menyadari perasaan Siying.


Lantas apa keputusan Siying saat ia dihadapkan pada keputusan untuk menelaah perasaannya pada A Tuo dan Zeyu? Apakah rasa nyaman bersama A Tuo memang hanya karena persahabatan? Apakah “seseorangnya” adalah Zeyu?

“Masuk kuliah pastilah proses kehidupan yang seperti sihir, bisa mengubah siswa SMA yang bagaikan zombi seakan terlahir kembali.” (Hal. 17)
***
“..., seorang laki-laki yang tidak percaya tentu saja tidak akan dapat bergerak untuk mengejar perempuan yang disukainya. Lagi pula, tidak ada perempuan yang menyuukai laki-laki yang tidak percaya diri. Itu bagaikan menampung seorang gelandangan kecil ingusan yang tidak berdaya.” (Hal. 27)
Saat mengetahui bahwa Penerbit Haru kembali menerbitkan karya Giddens Ko, saya sudah tertarik membelinya. Ini karena novel You’re the Apple of My Eye berhasil membuat saya gemas dengan kisah masa remaja tokohnya. Ternyata Cafe Waiting Love pun tidak kalah menarik. 

Novel ini bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Siying. Melalui sudut pandang ini, pembaca disuguhi kehidupan penuh warna seorang remaja perempuan di Taiwan. Tidak jauh berbeda dengan remaja di Indonesia. Percintaan dan persahabatan adalah salah satu hal yang paling banyak mendominasi kehidupan seorang remaja.

Dengan penggunaan sudut pandang ini, kesan ceria dan sangat spontan dari sosok Siying sangat terasa. Saya malah ingin memberi gelar “tukang ikut campur yang baik hati” pada gadis ini. Sifatnya itu membuat Siying berani mengorek kisah tentang hal aneh yang dilakukan sang bos dengan menu “Racikan Spesial Nyonya Bos yang Rasanya Tidak Pasti”. Selain itu, sifatnya itu pula yang membuatnya bisa berkenalan di A Tuo dan Zeyu. Sikapnya itu pula yang membuat Siying dan Albus menjadi akrab. Sikap itu pula yang membuat Siying bisa nyaman dalam lingkungan pergaulan A Tuo yang unik.

Membaca novel ini, akan mengundang banyak tawa. Ya, jika harus mengklasifikasikan novel ini, saya akan menyebutnya sebagai “Komedi Romantis”. Tokoh-tokoh yang unik seperti Bibi Pisau Emas, Abang Bao, Xiao Cai si Master Seni Keajaiban Tubuh, hingga Cangzi si Master Game membuat seluruh cerita ini menjadi seru. Serasa membaca komik namun dalam bentuk novel. Deskripsi dalam novel ini pun sangat hidup. Detailnya pas.

Bagi yang sering kali menilai sebuah cerita dengan “logika” atau “masuk akal/ tidak masuk akal”, maka pasti akan menggerutu bagaimana mungkin kehidupan milik A Tuo itu nyata? Tapi ya itulah fiksi. Kadang sisi ini akan termaafkan karena ceritanya dikemas dengan sangat menarik.

Ah, membayangkan diri jadi Siying. Pasti hidup jadi sangat ceria. Tokoh kesukaanku selain A Tuo adalah Abang Bao. Saat membaca cerita perkenalan Siying dengan Abang Bao rasanya ingin tertawa. Begitu saat bagian yang bercerita tentang penyerangan apartemen Abang Bao yang mengancam nyawa A Tuo dan Siying, rasanya jadi terharu.

Kepada Penerbit Haru dan seluruh stafnya khususnya penerjemah, editor hingga first reader, terima kasih sudah membuat karya ini bisa dinikmati dengan baik dalam bahasa Indonesia. Oiya, bagaimana rasanya saat menemukan kata Indonesia dan Sulawesi dalam novel ini (hal. 51, hal. 155)? Keren ya, kopi Indonesia ternyata bisa masuk dalam cerita yang ditulis oleh orang asing. Bangga deh jadi orang Indonesia. Oiya, pacar teman seasrama Siying adalah orang Indonesia kan? Sepertinya Giddens Ko suka dengan Indonesia ya? *ini tebakan yang ngasal sih :D*

“Masalah apa pun, semuanya seperti itu. Seluruh jawabannya sudah tergambar jelas di benak masing-masing sebelum pertanyaannya terbentuk.” (Hal. 21)
***

“Kesempatan diberikan pada orang yang sudah membuat persiapan.” (Hal. 41)
“Kejadian memalukan sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja. Tapi ada saja orang yang akan terus mengingatkan kenangan yang tidak menyenangkan itu, kemudian menertawainya. Ini adalah perilaku yang sangat kejam.” (Hal. 50)
“Cinta tidak membicarakan perasaan bersalah.” (Hal. 59)
“Ada beberapa hal yang sejak dimulai sudah ditentukan akhirnya. Berusaha pun tidak ada gunanya.” (65)
“Kemampuan telinga untuk memahami jauh lebih kuat dibandingkan mata. Itulah sebabnya perempuan lebih suka mendengarkan kata-kata manis.” (Hal. 122)

“Dari kopi, klub, setiap detail kecil, aku merasa bahwa sangatlah masuk akal untuk bisa mengenal baik seseorang dengan memperhatikan hal-hal kecil tentangnya.” (Hal. 169)
“Kalau sudah berusaha, tentunya tidak akan ada penyesalan setelahnya.” (Hal. 212)
“... bisa dibilang bahwa berusaha tetaplah yang paling penting, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.” (Hal. 214)
“Sendirian saat semua orang bergembira adalah saat paling kesepian.” (Hal. 251)
“Sayangnya, kebanyakan orang senang dengan cinta, tapi merasa kalau cobaan cinta adalah sesuatu yang berlebihan dan amat kejam.” (Hal. 271)
“Mungkin hubungan persahabatan juga memerlukan ujian. Hanya hubungan kekeluargaanlah yang memiliki dasar paling kuat.” (Hal. 273)
“Aku menyadari bahwa riwayat pendidikan seseorang tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan dalam hidup seseorang. Yang paling penting adalah sikap orang tersebut dalam menjalani hidup–bisa atau tidaknya dia memandang diri sendiri dan dunia ini secara lucu” (Hal. 386)

1 komentar:

  1. gelar “tukang ikut campur yang baik hati” nya itu lho kak Tria... biasanya tukang ikut campur pasti ngeselin, tapi kayaknya Siying gak ya kak... :D Jadi makin penasaran dengan novelnya...

    Terima kasih kak reviewnya ^^

    BalasHapus