Sabtu, 31 Oktober 2015

Still Alice



“Membuat prioritas itu menyakitkan, menyadarkannya bahwa waktunya tinggal sedikit, dan bahwa ada hal – hal yang takkan sempat ia lakukan.”(Hal. 148)


Penulis: Lisa Genova
Penerjemah: Anindita Prabuningrum
Editor: Yuki Anggia Putri
Desainer Sampul: Yudi Nur Riyadi
Penerbit: Erlangga
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: vii + 300 halaman
ISBN: 978-602-7596-92-4

Berkat kerjakerasnya, Alice Howland memiliki kehidupan yang membanggakan. Pada usianya yang kelima puluh, ia memiliki karier yang cemerlang sebagai profesor psikologi kognitif di Harvard sekaligus ahli linguistik terkemuka. Ia juga memiliki suami yang sukse dan tiga anak yang sudah dewasa. Namun, berawal dari satu hari di mana ia tiba – tiba menjadi pelupa dan mengalami disorientasi, hubungannya dengan keluarganya dan dunia berangsung berubah. Akhirnya penyakit Alzheimer mengubah hidup Alice selamanya.

Novel ini telah diangkat ke layar lebar dengan bintang Julianne Moore, Alec Baldwin, dan Kristen Stewart.

***

“Kata “ingin” bagaikan hantaman telak bagi Alice. “Ingin”menunjukkan kelemahan dan suka bergantung pada orang lain, sebuah penyakit.” (Hal. 25)

Alice Howland tengah berada di puncak masa kejayaannya sebagai seorang profesor psikologi kognitif di Harvard. Dengan jam terbang yang tinggi ia pun berpindah dari satu kota ke kota lain mengisi seminar dan menjadi pembicara terkait keahliannya. Rumah tangganya pun berjalan baik dengan seorang suami yang juga bekerja di Harvard. Anak anak yang telah dewasa dan mulai mengembangkan “sayap”nya masing-masing.

Namun semua kehidupan yang awalnya baik baik saja dan bahkan terasa mengangumkan berputar menempuh arah yang tidak diduga Alice. Saat ia merasa bahwa menurunnya kemampuan mengingat yang dialaminya karena menopause yang dideritanya. Namun karena kepikunannya terasa mengganggu maka Alice pun mendatangi dokter dan memeriksakan diri.

Rabu, 28 Oktober 2015

[Giveaway] Operation: Break the Casanova’s Heart




Halo, Readers. Sudah lama juga ya saya tidak bikin Giveaway untuk Penerbit Haru. He..he..
Nah, kali ini saya datang bawa kabar gembira.

Sudah tahu donk ya kalau Penerbit Haru punya lini baru? Yup, sekarang ada Phil-Fict. Lini ini khusus menerbitkan novel – novel dari Philipina untuk pembaca Indonesia.

Dan buku Operation: Break the Casanova’s Heart ini adalah buku pertama untuk lini Phil-Fict. Mau tahu ceritanya? Yuk baca review Operation: Break the Casanova’s Heart di sini: http://atriadanbuku.blogspot.co.id/2015/10/operation-break-casanovas-heart.html

Gimana? Sudah baca? Tertarik buat bisa baca juga?

Nah, Penerbit Haru sudah menyiapkan hadiah buku untuk 1 orang pemenang, lho. Kamu mau? Yakin mau? Ya udah yuk cek langkahnya. Gampang kok, lebih mudah dari bikin akun twitter baru :D

1.) Follow twitter @penerbitHaru dan @atriasartika

2.) Share link Giveaway ini di akun twitter kamu dengan mention @penerbitharu dan @atriasartika pakai hashtag #BreakCasanovaHeart

3.) Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar postingan ini:

Jika kamu ada di posisi Naomi, apa kamu akan bersedia menjalankan “Operation: Break the Casanova’s Heart” ini?

Jangan lupa sertakan data dirimu berupa nama, akun twitter dan email.

4.) Dengan memberi komentar di review Operation: Break the Casanova’s Heart di My Little Library akan memperbesar peluangmu memenangkan Giveaway ini :) 

5.) Giveaway ini berlangsung sejak 28 Oktober – 3 November 2015

6.) Giveaway ini khusus untuk yang berdomisili di Indonesia.

Nah, mudahkan???? Yuk segera ikutan. Kapan lagi bisa icip – icip novel populer dari negeri tetangga? :)

Selasa, 27 Oktober 2015

Sayap – Sayap Kecil

“Aku belajar sejak kecil bahwa teman adalah hal yang berbahaya bagi seseorang di posisiku.” (Hal. 12)

Penulis Andry Setiawan
Penyunting: Yooki
Proofreader: Seplia
Design cover: Chyntia Yanetha
Penerbit:  Inari
Cetakan: Pertama, Oktober 2015
Jumlah hal.: 124 halaman
ISBN: 978-602-71505-2-2
Para pembaca.
Berikut fakta singkat tentang diriku:
1.      Namaku Lana Wijaya
2.      Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3.      Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4.      Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5.      Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi di rumah sialan ini.
Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.

***
“Prinsipku, kalau ingin menyembunyikan sesuatu, lebih baik sembunyikan benda itu di tempat yang tidak diduga orang.” (Hal. 7)
Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang gadis remaja bernama Lana. Kehidupannya setiap hari diwarnai oleh kekerasan yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Lana berusaha menyembunyikan hal itu dengan menjaga jarak dengan orang lain. Berbaur namun tidak berteman akrab.

Hingga suatu hari kehadiran Surya, seniornya di sekolah yang sekaligus tetangga yang tinggal di samping rumahnya mengubah rona hidup Lana. Ya, layaknya gadis remaja lain. Lana tidak mampu menghindar dari pesona dan perhatian Surya hingga perlahan ia pun tertarik pada cowok itu.

Senin, 26 Oktober 2015

Sayap – Sayap Mawaddah



“Perjodohan pada prinsipnya adalah sebuah penetralan sesuatu yang ekstrem. Dengan adanya jodoh, kutub maskulin bertemu kutub feminim. Terbentuklah keseimbangan.” (Hal. 22)


Penulis: Afifah Afra & Riawani Elyta
Penyunting Bahasa & Penyelaras akhir: Mastris Radyamas
Penata letak: Bagus Muhammad Ma’ruf
Desain sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Juli 2015
Jumlah hal.: 208 halaman
ISBN: 978-602-1614-65-5

Sakinah, menurut ulama, adalah hadiah dari Allah untuk sepasang suami – istri yang menikah dalam rangka menyempurnakan separuh agama. Modal sakinah, jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan mawaddah dan rahmah. Inilah sesungguhnya pilar penting dalam sebuah pernikahan. Dalam buku ini, penulis secara khusus dan mendetail memaparakan pilar mawaddah, alias cinta yang khusus terjalin antarsepasang manusia yang berlawanan jenis, yang telah sah sebagai suami istri. Pilar ini penting unruk dikaji. Karena secara manusiawi, manusia memiliki hasrat terhadap lawan jenis. Islam tidak hendak menghilangkan hasrat tersebut, namun dikelola dalam sebuah ikatan cinta yang sakral, dan dijadikan sebagai sarana regenerasi manusia itu sendiri. Di satu sisi, inilah yang membuat sebuah pernikahan seringkali terasa begitu indah.

Ya, pernikahan ibarat buah segar. Pernah melihat rangkaian buah anggur yang dipajang menawan? Dari tampilan kulitnya saja yang merah merona, akan mampu menyedot rasa ketertarikan yang besar dari siapa pun yang menatapnya. Kita penasaran, menatapnya berlama – lama, ingin mengulik isinya, mencicipi rasanya, membayangkan kelezatannya. Sementara, bagi yang telah mencecap nikmatnya, sepertinya tak sabar untuk mengabarkan kepada dunia, seberapa buncah kebahagiaan kita. Namun, memang ada yang mendadak memuntahkan anggur yang terlanjur dikunyah, karena ternyata dagingnya kecut, busuk, atau berisi ulat. Tentu, kita tdak menginginkan hal ini terjadi pada kita, bukan? Karena itu, mari kita baca buku ini!

***

Buku Sayap – Sayap Mawaddah ini adalah lanjutan pembahasan dari buku Sayap – Sayap Sakinah. Yup, kedua buku ini membahas tentang pernikahan. Menjabarkan doa – doa yang terucap terkait pernikahan,“Semoga sakinah, mawaddah dan rahmah.”

Masih jelas saya ingat saat membaca buku Sayap – Sayap Sakinah, saya masih berstatus single dan jomblo. Tidak punya calon pasangan dan bahkan calon suami. Membaca buku Sayap – Sayap Sakinah saat itu, bukannya membuat saya jadi galau maksimal, melainkan menumbuhkan keyakinan untuk sibuk memperbaiki diri dan belajar lebih banyak tentang pernikahan dalam Islam, sehingga kelak ketika jodoh datang dan saya dipinang, maka bekal yang saya sediakan sudah cukup.

Namun ternyata saya salah. Membaca buku Sayap – Sayap Mawaddah membuat saya menemukan bahwa semakin banyak saya membaca, maka semakin saya tahu bahwa sangat sedikit ilmu yang saya miliki. Buku ini membuat saya memahami apa yang tidak pernah saya ketahui apalagi pahami tentang “mawaddah”.  Melalui buku ini saya memperoleh pemahaman bahwa “mawaddah adalah semacam perasaan cinta yang bersifat fisik, passionate (gairah), sebagaimana yang terjadi antara dua orang yang berlawanan jenis.” (Hal. 24)

Bahwa mawaddah mengarah kepada perasaan sayang yang diikuti oleh nafsu seksual. Namun tidak semua nafsu seksual itu tergolong mawaddah. Syarat utama ia disebut mawaddah jika ia diikat oleh pernikahan. 

Pemahaman ini membuat saya menyadari bahwa betapa Islam telah mengatur semua hal bagi kebaikan manusia. Gairah manusia tidak dikungkung. Hanya diberi batasan. Diatur. Namun tidak diharamkan/ dilarang. Bahkan mawaddah ini dalam Islam dianggap sebagai hal penting bagi pernikahan. Subhanallah betapa Allah telah mengatur semua hal bagi manusia.

Dan seperti sebelumnya, penuturan Afifah Afra dan Riawani Elyta mudah dipahami. Mengalir dengan baik. Dan didukung oleh sejumlah fakta ilmiah. Ini membuat pembahasan ini menjadi informasi yang akhirnya menjadi pengetahuan. Namun di saat yang sama diketengahkan bahwa hubungan seksual itu bukanlah hal haram dalam Islam. Ia bagian dari syariat dan telah diatur dengan sangat baik. Ketika aturan itu dipahami dan diaplikasikan maka kebahagian akan menanti.

Selain itu, dalam buku Sayap – Sayap Mawaddah ini, pembaca tidak hanya disuguhi pendapat para ulama terkait penikahan khususnya tentang mawaddah, namun juga berisi fakta – fakta, penelitian yang terkait, hingga kisah – kisah para orang saleh dalam menjalani mawaddah ini.

Salah satu kisah favorit saya adalah tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang ditulis di halaman 37. Kalimat pamungkasnya sungguh indah,”Cinta itu tetap ada di dalam hatiku, bahkan jauh lebih kuat daripada yang dahulu – dahulu.” Bagi para pecinta kisah beliau mungkin dianggap “sad ending”, namun bagi orang – orang yang paham, kisah beliau adalah sebuah bentuk ketaatan yang sangat besar kepada Rabb Semesta Alam.

Selain itu, Riawani Elyta banyak menuliskan tips terkait cara membangun kecintaan pada pasangan. Sehingga tercipta mawaddah. Riawani Elyta juga mengetengahkan tips tajammul. Tajammul berarti memelihara tubuh dan memelihara kecantikan alaminya serta menjauhkan dari hal – hal yang mengotori atau merusaknya. (Hal. 112)

Jadi, pada intinya, buku Sayap – Sayap Mawaddah ini menjadi rujukan yang membahas dengan lengkap dan padat hal – hal terkait mawaddah dalam pernikahan. Mulai dari definisi, penjabaran konsep, ilmu tentang seksologi (Yang dibahas dengan bahasa yang ringan namun tetap ilmiah dan santun oleh Ahmad Supriyanto), berbagai tips untuk menciptakan mawaddah serta berisi kisah – kisah nyata yang bisa menjadi inspirasi bagi pembaca.

Dan sejujurnya sekali lagi, buku Sayap – Sayap Mawaddah datang di saat yang tepat seperti halnya buku Sayap – Sayap Sakinah. Saya yang baru saja menikah 5 bulan lalu, membutuhkan semua ilmu yang bisa saya serap di buku ini. Saya bahkan membagi informasi yang saya dapatkan kepada suami saya. Kami membaca beberapa bagian bersama – sama dan mendiskusikannya. Dan sejujurnya kami merasakan banyak manfaat darinya.

[Pengumuman Giveaway] Pemenang Giveaway #MencariSebuahTitik




Assalamualaykum, Readers.
Siapa yang sudah menunggu – menunggu pengumuman pemenang Giveaway #MencariSebuahTitik ? Siapa yang ikut dalam #LiveInterview yang dilaksanakan Sabtu, 24 Oktober lalu?
Wah, ikut dua – duanya? Keren. Sekarang waktunya saya mengumumkan 3 orang yang beruntung?
Kenapa?

Ya, ada 2 orang pemenang untuk #LiveInterview #MencariSebuahTitik dan ada 1 orang pemenang yang beruntung dalam Giveaway yang berlangsung di blog ini.

Baiklah, langsung saja saya umumkan ya:

Minggu, 25 Oktober 2015

[Review + Giveaway] Putri Kunang – Kunang



“Kenapa manusia bisa begitu mudah jatuh cinta?Bahkan, beberapa nggak berhenti jatuh cinta meskipun mereka sudah punya pacar. Apakah itu artinya kita bisa mencintai dua orang bersamaan? Atau bahkan lebih dari dua orang? Kenapa hal seperti itu bisa terjadi?” (Hal. 115)


Penulis: Titi Setiyoningsih
Desain sampul: Ivan Susatya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 192 halaman
ISBN:978-602-03-1507-2

Pindah ke sekolah keren dan terkenal kedengarannya menyenangkan. Tapi tidak buat Sanding. Rasanya seperti masuk ke sarang alien. Ia harus siaga dari gangguang anak – anak geng populer yang sangat berkuasa dan siap menindasnya. Kalau saja dia bisa eksis di kegiatan ekstrakulikuler, pasti akan ada teman – teman yang membelanya.

Alih – alih bergabung di cheerleader, Sanding malah memilih bergabung di kelas drama yang biasanya hanya diikuti siswa – siswa cupu. Untungnya sih, Kala – si cowok ganteng – juga terpaksa ikut kelas drama sebagai hukuman, dan menjadi lawan main Sanding dalam lakon Ramayana. Mereka semakin dekat karena memerankan tokoh Rama dan Sinta.

Tapi ternyata ada yang tidak terima melihat kedekatan Sanding dan Kala. Ragan tak pernah habis akal mengganggu gadis itu. Mampukah Kala membela “Sinta”-nya dari gangguan si Raja Preman itu? Dan bagaimanakah kalau ternyata Ragan jatuh cinta pada Sanding?

***

“Bukankah perasaan juga ada masa kedaluwarsa, bisa berubah – ubah. Terlebih karena sekian jauh jarak yang memisahkan.” (Hal. 39)

Kasanding Hapsari, seorang remaja putri yang menikmati hidupnya di tepi pantai. Namun keputusan ayahnya untuk menutup kedai yang selama ini menjadi tempat mereka tinggal dan pindah ke Kota Nusa dan membuka kafe di sana. Jika bukan karena hal itu adalah permintaan ibunya yang telah meninggal dunia, maka Sanding tidak akan pernah mau menyetujui hal tersebut.

Bahkan sang ibu pun berpesan khusus agar Sanding bersekolah di SMA Nusa. Sekolah itu adalah sekolah yang terkenal di Kota Nusa. Kumpulan anak – anak dengan otak encer kalau nggak yang punya dompet tebal. Sanding merasa dirinya tidak masuk dalam kedua kategori itu. Tapi sekali lagi ini demi memenuhi permintaan sang ibu. Sanding sendiri tidak habis pikir tentang alasan di balik permintaan tersebut. Akhirnya Sanding pun menjalaninya demi ibunya.

Kehidupan yang menanti Sanding di tempat baru tersebut tidak mudah. Ia dan ayahnya harus memulai kembali kafe mereka dari nol. Menyiapkan, mendesain interior kafe dan banyak hal lainnya menyita perhatian Sanding saat libur sekolah. Syukurlah tetangga mereka Pak Martin, pemilik toko bunga di dekat kafe, menjadi teman yang baik bagi Sanding. Sesekali Sanding membantu di sana. Dan di sanalah Sanding bertemu kala dan Ragan.

Esok harinya ia mendapati bahwa mereka berdua adalah anggota geng populer yang lucunya adalah dua orang yang selalu berseteru. Persaingan antara Kala dan Ragan ini telah terjadi turun temurun. 

Kemudian perlahan banyak hal terjadi membuat Sanding menjadi dekat dengan Kala. Di waktu yang sama Ragan pun terus mengganggu Sanding. 

Bagaimanakah kehidupa masa putih abu – abu Sanding? Akankah perseteruan Kala dan Ragan yang sudah diwariskan turun temurun itu akan berkahir?

Kamis, 22 Oktober 2015

[Pengumuman Giveaway] Pemenang Giveaway Blogtour #DaeHoDelivery




Halo, Readers. Apa kabar? Ah, diriku lagi – lagi terkendala di kesehatan.

Jadi, maafkan pengumuman yang terlambat ini.

Jawaban peserta Giveaway yang sudah masuk sungguh mengharukan. Cerita yang dibagi punya warnanya masing-masing. Ada yang cerita tentang kegagalan, cerita tentang usaha untuk bangkit kembali setelah terpuruk, pencapaian pribadi, dan bahkan kehilangan sosok idola.

Ah, ini salah satu hal yang bikin saya senang mengadakan Giveaway. Jawaban setiap peserta itu beragam dan sering kali menemukan cerita yang unik. Penuh hikmah atau bahkan yang bikin ngakak.

Baiklah, itu sedikit simpulan dari saya. Nah, sekarang langsung saja saya umumkan pemenangnya, ya. Selamat kepada:

[Review + Giveaway] Mencari Sebuah Titik



“... segala sesuatu tetap ada jalan keluarnya, kebuntuan itu ada hanya ketika kita benar – benar berhenti.” (Hal. 55)


Penulis: Torianu Wisnu
Penerbit: Quanta (Imprint Elex Media Komputindo)
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: xiv + 160 halaman
ISBN: 978-602-02-7271-7

Sama seperti hidup, buku ini laiknya puzzle. Setiap pribadi berhak menyusun dan merangkai puzzle-nya masing – masing. Begitu pun kita memiliki potongan demi potongan yang tersusun secara ‘acak’ dalam buku ini.

Jika tak cermat, kita akan ‘terjebak’ dalam beberapa kalimat tertentu.
Meski ini ‘hanya’ sebatas Mencari Sebuah Titik’, tetapi persisi yang disampaikan kakak saya, Anis Khurli, “Kamu tidak hanya akan menemukan ‘titik’. Tetapi, akan banyak koma, tanda tanya, tanda seru, petik satu, dan (mungkin) akan menemukan idiom – idiom baru.”

Bersiaplah untuk mengerutkan dahi, nyinyir, atau sekadar tersenyum simpul menyiak setiap kisahnya.

Hingga akhirnya kita akan menyadari bahwa, memang sulit memahami kehidupan yang tak pernah kita ketahui akhir dari sebuah ceritanya. (Karena barangkali, cerita itu akan berlanjut lagi esok hari). Tapi, inilah menariknya kehidupan. Ia memberikan jawaban dari setiap misteri.

***

“Menikah adalah menyatukan dua hati. Jadi menikah harus penuh keridhaan. Ridha orang tua adalah ridha Allah.” (Hal. 11)

Dalam buku ini ada kumpulan titik. Tepatnya ada 24 titik yang mengetengahkan banyak hikmah tentang hidup yang coba dikumpulkan oleh tokoh Genta dan “saya” di dalam buku ini.

Ya, buku ini sulit untuk di definisikan. Ia bukan buku non-fiksi, namun tokoh Genta dan ‘saya’ bisa jadi adalah rekaan. Namun menyebutnya fiksi, rasanya banyak penuturan yang serupa dengan penuturan buku non-fiksi.

Hm... bacalah dan sila definisikan sendiri.

“Kita pun nggak pernah tahu, orang – orang yang datang dalam hidup kita itu ‘benar’ atau ‘salah’. Benar menurut kita belum tentu menurut-Nya, salah menurut kita belum tentu salah menurut-Nya, karena kita kan makhluk penduga.” (Hal. 32)

Selasa, 20 Oktober 2015

[Pengumuman Giveaway] Pemenang Blogtour Giveaway #EntanglingGame




Hai, Readers. Akhir – akhir ini aku sering melupakan banyak hal jika tidak aku buatkan reminder. Sayangnya ada pula hal yang aku lupa untuk aku buatkan remindernya.
Syukurlah ada yang menagih pengumuman ini *dikeplak Mbak Ema*

Nah, ngobrol tentang sebuah pertemuan pertama yang unik, aku ingat pada seseorang. Sayangnya kau lupa namanya. Ia laki – laki yang usianya sekitar 6 atau 8 tahun lebih tua dariku. Kami berteman di FB sampai sekarang tapi sudah jarang saling sapa.

Nah, perkenalan kami tuh tanpa sengaja. Saat itu Library Cafe yang biasa aku datangi sedang ramai sehingga akhirnya aku dan kakak itu saling sharing meja. Kemudian aku berpikir untuk memesan kentang goreng. Namun karena aku tahu porsinya gede akhirnya aku memaksanya untuk ikut menghabiskan kentang goreng itu. Setelah itu kami pun ngobrol seru. Ia ternyata berprofesi sebagai seorang awak kapal pesiar. Setahun melaut yang hanya diselingi oleh 2 bulan cerita. Ia pun menceritakan pengalamannya dan teman – temannya sebagai seorang pelaut. Seru!! Jadi informasi yang baru. 

Nah, pengalaman yang dibagi oleh Readers juga banyak yang manis dan seru. Tapi ada satu yang bikin aku iri. Dan akhirnya membuatku memilihnya sebagai pemenang.
Dia adalah:

Love, Lemon and the Last Kiss



“Berusahalah untuk setia. Setia ketika pasangan kita baik – baik saja, itu biasa. Tetapi setia ketika ada hal khusus yang terjadi pada pasangan kita, itu hanya untuk orang – orang yang berkelas.” (Hal. 185)



Penulis: Ida Ernawati
Editor: Husfani Putri
Cover dikerjakan oleh: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 192 halaman


ISBN: 978-602-03-1608-6

Meski Delia tergila-gila lemon yang kecut, tapi urusan kisah cinta, ia penggemar kisah cinta supermanis. Buat Delia, cerita tentang kesetiaan dan ketulusan Ardan merawat dan mendampingi istrinya masuk ke kategori kisah supermanis.

Namun, ketika kekaguman terhadap kisah Ardan yang manis itu perlahan berubah menjadi cinta, Delia terjebak dalam dilema.

Delia menekan perasaannya dalam-dalam terhadap Ardan dan memutuskan menerima cinta Reza yang gigih memperjuangkannya. Delia belajar satu hal: kisah cinta sejati tak selalu berjalan mulus dan manis. Seperti lemon yang kecut tapi menyehatkan, ujian kesetiaan membuat nilai cinta menjadi lebih berharga.
 

***

“Delia, tidak akan berhasil kalau kamu mencari seseorang yang sempurna. Nggak akan ada. Cari laki – laki yang bisa memperlakukan kamu seolah kamu orang yang sempurna.” (Hal. 118)

Kehidupan Delia yang awalnya tenang di “The Lemon” mendadak berubah saat ia menyadari bahwa ia mulai jatuh hati pada Ardan. Ardan adalah rekan kerjanya di The Lemon yang tengah sibuk mendampingi istrinya, Socha, yang tengah terbaring koma karena kanker.

Mendengar kisah Ardan dan Socha dari Anya, membuat Delia menyimpan rasa simpati pada Ardan. Namun perlahan tanpa ia sadari perasaan itu berubah menjad cinta. Namun Delia tidak ingin merusak apa yang dimiliki Ardan dan Socha. Namun kenapa hari itu Ardan menciumnya?