Minggu, 20 Desember 2015

Romansa 2 Benua




Penulis: Pipiet Senja
Editor: Dani Fitriyani, Hijrah Ahmad, Adhika Prasetya
Sampul: Satrio Amal Budiawan
Penerbit: Emir (imprint Penerbit Erlangga)
Cetakan: 1, 2015
Jumlah hal.: 224 halaman
ISBN: 978-602-0935-24-9

Soli tak pernah tahu siapa ayah kandungnya dan mengapa ibunya sampai hati membuangnya begitu saja? Masa kecilnya dihiasi dengan pergulatan seru melawan kemiskinan, penghinaan, dan identitas yang tidak jelas. Tenyata, tak cukup sampai di situ. Hal itu masih ditambah lagi dengan kezaliman di luar batas kemanusiaan. Di usia 13, Soli telah mendapat pelecehan dan perlakuan sadis dari seorang lelaki jahim.

Di usia 15, ia mengalami hal serupa yang lebih keji, disekap berhari-hari di gerbong kereta, sehingga ia bangkit melawan dan menghabisi si durjana. Derita seakan tak berkesudahan, saat berjumpa dengan ibu kandung yang dirindukan, sang ibu malah tega menjualnya.

Novel ini menceritakan bagaimana seorang perempuan lugu dari desa mampu memintal masa depannya. Mengejar mimpi-mimpinya, dan menyimpan segala pedih-pedih kehidupannya, kemudian ia mampu bangkit melawan!

***

Novel ini bercerita tentang kehidupan Soli. Perempuan yang sejak kecil menjalani pahitnya kehidupan. Titin, ibu Soli, seketika meninggalkan bayi kecil yang masih berwarna merah itu tepat setelah melahirkannya. Bersikap tidak peduli pada bayi kecil itu. Syukurlah nenek Soli yang merupakan ibu kandung Titin, Mak Kesih, mau merawat gadis itu.

Sejak kecil kehidupan Soli tidak pernah mudah. Sejak mulai mampu membantu Mak Kesih, Soli dengan senang hati menggantikan perempuan yang setulus hati merawatnya meski hidupnya sendiri sangat terhimpit. Menjadi pemecah batu atau pengangkut pasir. Sayangnya, Soli tumbuh menjadi gadis yang rupawan. Ya ini disayangkan sebab kecantikan bagi orang yang berada dalam situasi seperti Soli bisa jadi malapetaka. Benar saja. Kecantikan soli membuatnya menghadapi kejadian pahit. Ia digagahi di usia 13 tahun. Akibat hal itu, ia harus kehilangan Mak Kesih dan terusir dari kampung. Ia pun mencoba mencari ibu kandungnya. Sayangnya malang tak dapat ditolak. Gadis ini kembali mengalami kepahitan karena kecantikan yang diwariskan ibunya. Ia disekap di gerbong selama berhari-hari hingga mengalami trauma dan luka berat di tubuhnya.

Setelah itu, ibunya mendadak datang padanya. Entah karena apa. Namun ternyata itu bukan akhir dari penderitaan. Ia harus melihat sendiri bahwa ibunya tetap saja tidak menginginkannya. Ibunya malah menjualnya. Setelah itu hidup tetap saja tidak memberi kenyamanan baginya.

Bagaimanakah akhir bahagia bagi seorang Soli?

***

Sudah lama saya tidak menikmati karya bunda Pipiet Senja. Karya-karya beliau mewarnai masa SMA saya. Saat itu tentu saja saya belumlah jadi seorang blogger buku. Bahkan saat itu lebih sering pinjam buku daripada membeli. Maklum, modal sebagai anak sekolah tidak memungkinkan untuk selalu membeli buku yang diinginkan.

Maka saat mendapati novel Romansa 2 Benua ini dalam paket buku yang saya terima dari penerbit Erlangga jelas menyenangkan hati saya. Membaca blurb di belakang buku ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana Pipiet Senja akan menuturkan kehidupan Soli yang sangat tragis ini?

Kekhasan novel-novel Pipiet Senja adalah selalu bernuansa Islami tanpa kesan menggurui. Kesan ini menguat saat kemunculan tokoh Faiz. Terutama di sepertiga akhir novel ini. 

Salah satu kelebihan novel Romansa 2 Benua ini adalah informasi tentang suku Amungme. Suku yang berada di Papua. Budaya mereka banyak yang terangkat di dalam novel ini. Dan bagi saya ini menyenangkan. Menemukan sebuah hal baru dalam buku yang dibaca adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi saya.

Namun, ada yang hal yang menganggu saya. Ada sedikit kesan “sinetron” di dalam plot cerita. Kehidupan Soli yang ditimpa kemalangan tanpa henti adalah penyebabnya. Ditambah lagi kehidupan Soli di Belanda di mulai dengan kebetulan. 

Tapi gaya menulis Pipiet Senja yang mengalir membuat kesan itu bisa diabaikan. Deskripsi dan narasi di dalam novel ini benar-benar pas. Tidak berlebih. Lugas tapi menyentuh hati. Kemudian banyak hal yang menarik diceritakan. Tentang kehidupan Titin, Ibu Soli, kehidupan Nuwa, dan tokoh lain. Ini karena penggunaan sudut pandang orang ketiga di dalam cerita. Sudut pandang ini memudahkan Pipiet Senja mengeksplorasi banyak hal dalam hidupnya. Pilihan tepat.

Saya bersyukur bisa kembali menikmati karya beliau. Sukses terus ya, Bunda Pipiet Senja. Semoga trus produktif. Sehat selalu ya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar