Senin, 28 Desember 2015

Rahasia Pelangi



“Bersamamu, tak ada yang perlu kutakutkan meskipun menerobos rimba yang tidak berujung. Aku yakinkan langkahku mengkikutimu hingga hutan lebat menipis dan kelak kita temukan cahaya di depan sana.” (Hal. ix)


Penulis: Riawani Elyta & Shabrina Ws
Editor: Bernard Batubara & Yulliya
Penyelaras aksara: Idha Umamah
Penata Letak: Wahyu Suwarni
Penyelaras tata letak: Putra Julianto
Desainer sampul: Mulya Printis
Penyelaras desain sampul: Amanta Nathania
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: x + 326 halaman
ISBN: 979-780-820-3
Katamu ada pelangi setelah hujan.
Kau hadir, mengulurkan tanganmu.
Ajak aku melangkah, bersamamu.
Bisakah cinta menghilangkan rasa takut?
Juga memupuk rindu
yang mulai bertunas di hati?

*

Sepertimu, Anjani dan Rachel juga mencari cinta.
Namun, mereka tak pernah menduga
tenyata cinta segelap hutan di tengah malam.
Sementara bagi laki-laki itu,
ia baru menyadari
bahwa hidup ternyata seperti hutan.
Jika tak hati-hati, banyak ranting
yang akan membuatmu luka.
Dalam gelap hutan,
akankah pelangi terlihat sama indahnya?

***

“ Kita memang tak bisa lari dari masa lalu. Namun, kita punya pilihan, berdamai dengan waktu.” (Hal. 1)

Novel Rahasia Pelangi ini bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama dari dua orang tokoh utama perempuan dalam cerita. Mereka adalah Anjani dan Rachel. Dua perempuan dengan karakter yang berbeda serta kehidupan yang berbeda. Namun mereka mencintai hal yang sama yakni mencintai alam.

Anjani yang bekerja sebagai mahout (penjaga gajah) adalah seorang perempuan dengan kulit yang menggelap akibat terpapar matahari dan banyaknya pekerjaan yang harus ia lakukan. Pekerjaan sebagai mahout bukanlah pekerjaan yang umum apalagi bagi perempuan. Wajar jika orang tua Anjani terutama sang ayah kurang suka dengan pilihan Anjani. Ditambah lagi karena saat kecil Anjani pernah melihat sesuatu terkait gajah yang membuatnya  menyimpan trauma sendiri baginya Namun dengan menjadi mahout, Anjani menyadari bahwa rasa takut dan trauma bisa diobati jika kita mau berusaha berdamai dengan hal itu. Kehidupan Anjani sebagai mahout di Taman Nasional Tesso Nilo. Selain itu, Anjani adalah tipe perempuan introvert. Ia lebih suka memendam pikiran dan perasaannya.

Di sisi lain, Rachel adalah perempuan yang berkebalikan dari Anjani. Rachel, secara fisik amat menarik karena mendapatkan warisan gen dari ayahnya yang orang Australia. Selain itu, Rachel adalah tipe perempuan yang saat bicara sangat blak-blakan. Ia pun supel dan ceria. Selain itu, Rachel lebih banyak bertindak berdasarkan semangat dan keoptimisan.

Kehadiran Rachel di Tesso Nilo mengganggu Anjani. Kedekatan Rachel dengan Chay, mahout senior di Tesso Nilo yang berdarah Thailand, memunculkan rasa tidak nyaman di Anjani.

Semua ketidaknyamanan ini akhirnya berbuntut buruk. Sebuah tragedi yang melibatkan mereka dan gajah memperburuk semuanya.

Bagaimana akhir kisah dari kedua perempuan ini?


“Berdamailah dengan kenangan. .... Bersahabatlah dengan waktu.” (Hal. 5)

***

“Ada Tuhan yang lebih berkuasa. Kita hanya bisa mengusahakan semaksimal yang kita mampu. Jadi, jika kita terus-menerus menyalahkan diri sendiri akan sesuatu yang di luar jangkauan kita, bukankah itu sama artinya dengan kita meragukan Tuhan?” (Hal. 267)

Sebenarnya sinopsis yang saya buat di atas hanya merangkum sebagian dari seluruh permasalahan di atas. Sebab salah satu hal yang menarik dan menjadi kelebihan novel Rahasia Pelangi ini adalah penggambaran tentang hubungan manusia dan gajah. Informasi tentang gajah tertuang dengan cukup lengkap dan menyatu dengan baik dengan cerita.

Penggambaran setting Taman Nasional Tesso Nilo di buku ini pun menarik. Menyatu dengan baik dengan keseluruhan cerita. Penggambaran kondisi hutan yang rusak akibat ulah manusia pun menyindir dengan telak pada kenyataan yang terjadi. Ya, di dalam buku ini kita akan disuguhi konflik gajah dan manusia yang memakan korban jiwa tidak hanya dari sisi gajah namun juga manusia.

Manusia yang terus membabat hutan demi membuka lahan pemukiman dan perkebunan merusak ekosistem. Namun mereka sendiri marah saat gajah datang dan masuk ke dalam pemukiman dan perkebunan mereka. Padahal gajah hanya mengikuti insting alami mereka. Gajah melalui jalur yang telah mereka pakai selama bertahun – tahun. Manusialah yang masuk dan memutus jalur itu. Merebut tempat hidup mereka. Ini membuktikan bahwa kita sebagai manusia kadang sangat egois pada alam. Kita marah jika kenyamanan kita diusik. Namun kita tidak peka  bahwa bisa jadi kitalah yang mengusik kehidupan makhluk lain. (Dan bisa jadi saya pun menjadi pelakunya tanpa saya sadari)

Kelebihan lain dari buku ini adalah setiap chapter dibuka oleh kalimat yang penuh makna. Quote yang menggugah hati. Dan ini menyenangkan.

Dalam hal penokohan, meskipun menggunakan sudut pandang orang pertama dari dua orang yang berbeda, namun kedua karakter tetap bisa dibedakan. Kesan kalem dari sosok Anjani dan kesan penuh semangat dari Rachel tertangkap dengan baik.

Hm..sayangnya ada hal yang sedikit mengganggu dalam buku ini. Dalam penulis narasinya, novel ini sering sekali menggunakan kata yang dibubuhi tanda kutip (“). Menurut saya ini kurang enak dipandang. Kenapa tidak menggunakan kata biasa atau kata tersebut dibuat miring saja (italic). Ini lebih baik.

Selain itu, saya masih mendapatkan sedikit kesan menggurui di beberapa adegan. Terutama di beberapa bab setelah tragedi di Tesso Nilo. (Tragedi apa sih, Tria? He..he.. baca sendiri aja, Readers. Tidak seru kalau saya beberkan di sini)

Tapi semua kekurangan itu masih bisa saya terima. Ini karena semua informasi baru yang saya temukan di dalam buku ini membuat saya senang  membacanya. Menemukan hal baru dengan bahasa yang ringan adalah salah satu kesenangan dalam membaca.

Terakhir, saya mau bilang kalau covernya bagus. Menggambarkan isi cerita. Tapi terkesan agak kekanak-kanakan. Mungkin karena dua orang yang di gambar pakai baju cokelat. Jadi disangka pakai baju pramuka. Ha.. ha..

Tapi sekali lagi saya mau menulis bahwa saya suka dengan apa yang saya baca. Terima kasih untuk bacaan ringan tapi bermanfaat ini ya, mbak-mbak kece.

Kirim pelukan untuk Mbak Riawani Elyta dan Mbak Shabrina Ws :)

“..., cara paling sederhana untuk kita ngelupain hal buruk adalah dengan bercermin pada kisah orang lain yang juga nggak kalah buruknya. Dan dari situ, kita bisa menggali rasa syukur karena ternyata bukan kita satu-satunya di dunia ini yang mengalami musibah.” (Hal. 286)

2 komentar: