Rabu, 16 Desember 2015

Pulang



“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.” (Hal. 340)


Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Lay out: Alfian
Cetakan: VIII, November 2015
Jumlah hal.: iv + 400 halaman
ISBN: 978-6020-82219

“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

***

“Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing.”(Hal. 101)

Novel ini bercerita tentang kehidupan tokoh utama yang bernama Bujang. Ia yang awalnya hidup di sebuah perkampungan terpencil di sekitar lereng Bukit Barisan, berubah menjadi laki-laki yang bisa berpindah dari satu negara ke negara lain dengan sebuah jet pribadi. Sayangnya, kenyamanan itu tidak ia dapatkan dengan percuma. Bujang harus melakoni pekerjaan sebagai sosok yang menakutkan di dunia shadow economy.

Ia menjadi tangan kanan yang juga tukang pukul bagi Tauke Besar, laki-laki yang mengubah kehidupan Bujang. Saat berusia lima belas tahun, Bujang meninggalkan kampung halaman, bapak, dan mamaknya untuk tinggal bersama Tauke Besar di Kota. Sejak itu, Bujang menjadi pribadi berbeda. Ia yang ternyata jenius bagi anak seusianya akhirnya mengejar ketertinggalannya dalam hal pendidikan formal. Di saat yang sama ia pun dilatih menjadi tukang pukul handal dan profesional. Mendapat ilmu bela diri dari Kopong, tukang pukul senior yang bekerja pada Tauke Besar; belajar ilmu bela diri ala ninja dari Guru Bushi; serta belajar menembak pada Salonga. Ini membuat Bujang memiliki kemampuan bertarung yang hebat.

Bujang pun menjadi salah satu orang paling berperan dalam kemajuan keluarga Tong. Keluarga Tong menjadi salah satu kekuatan besar dalam shadow economy. Bahkan keluarga Tong diperhitungkan di dunia internasional. Pemilihan presiden pun mampu mereka kendalikan. Gelar “si Babi Hutan” yang tersemat pada Bujang kian terkenal dan menakutkan di dunia tersebut.

Hingga suatu hari, Keluarga Tong terancam. Serangan dan pengkhianatan terjadi. Memaksa Bujang berada di sebuah titik di mana ia pun merasa tidak akan mampu melewatinya. Saat itu, rasa takut yang selama ini sudah hilang dari dalam dirinya kembali hidup dan dengan segera memenuhi benak Bujang. Satu persatu kenangan dan pengetahuan bercampur. Kepergiannya ke Kota bersama Tauke Besar, kepergian Mamak, kepergian Bapak, hingga semua hal yang ia alami hingga ia bisa berada di titik tersebut. 

Kemudian kemunculan sosok yang selama ini tidak pernah ia ketahui dan masih memiliki hubungan darah dengannya. Sosok ini mengingatkan Bujang untuk pulang. Tapi pulang ke mana? Apa arti pulang itu?

“Dia baik-baik saja, Bujang. Itu adalah momen paling  sulit bagi seorang guru, ketika muridnya berhasil mengalahkannya. Aku tahu bagaimana rasanya. Antara bangga, sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Susah dilukiskan.” (Hal. 184)
 ***
“Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri sendiri, menaklukkan monster yang ada di dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja.” (Hal. 219)

Ada beberapa kekurangan dalam novel ini yang ingin saya kritisi. Pertama, novel ini sejak awal  menggunakan sudut pandang orang pertama dalam penuturannya. Namun ada adegan yang tidak melibatkan tokoh utama tapi malah terdeskripsikan di dalam cerita (Hal. 35 dan hal. 298) . Ini adalah “kebocoran” yang normalnya tidak terjadi. Penggunaan POV 1 seharusnya membuat ruang pandang cerita jadi terbatas. Karena semuanya harus melalui penuturan tokohnya, berdasarkan apa yang dirasa oleh panca indra tokoh tersebut
Kedua, kembali Tere Liye menampilkan tokoh yang “sempurna”. Bujang digambarkan sebagai laki-laki yang multitalenta. Piawai dalam perkelahian tangan kosong, mahir menembak, dan mampu mengalahkan pelari yang merupakan juara dunia. Di samping itu, Bujang diceritakan mampu menyelesaikan 2 master sekaligus empat short-course dalam waktu 3 tahun (Hal. 35 dan Hal. 227). Bukankah ini terlalu perfect untuk dimiliki oleh seorang tokoh?
Ketiga, penggambaran setting tempat yang detail dan kelokalan Sumatera sangat minim ditemukan. Penyebutan pedalaman Sumatera (Hal. 4) dan lereng Bukit Barisan (Hal. 26) membuat setting tempat ini tetap sulit terbayangkan.  

Keempat, perubahan emosi tokoh yang terkesan mendadak. Terutama untuk hal yang berkaitan dengan adzan dan berhubungan dengan kondisi psikologi Bujang. Tentang “pulang” yang selayaknya tidak semudah itu setelah semua yang dialami oleh tokohnya.

Jika itu adalah 4 kekurangan di dalam novel ini, maka ada beberapa kelebihan novel ini yang membuat semua kekurangan tadi tertutupi dan bisa diabaikan. Pertama, tema novel Pulang ini sangat menarik. Mengangkat kehidupan di dalam shadow economy. Ini membuat kita mempertanyakan sesuatu. Jika shadow economy nyata, apakah kebakaran pasar yang dulu disebabkan oleh mereka? Apakah pertikaian di daerah sana dulu disebabkan oleh mereka? Serta pertanyaan – pertanyaan lainnya. Ini salah satu kesenangan dalam membaca. Saat fiksi mampu terkoneksi dengan baik dengan dunia nyata. 
Kedua, penuturan cerita yang menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Ini membuat cerita terasa mengalir dan enak dibaca. Tahu-tahu saja novel ini sudah tamat. 
Ketiga, karya – karya Tere Liye memiliki kekhasan tersendiri. Salah satuya Tere Liye selalu pintar dalam memenggal cerita dan menyimpan kepingan penting cerita. Membuat pembaca tetap bertahan hingga akhir karena penasaran dengan twist dan penjelasan kejadian agar bisa memahami keseluruhan cerita. 
Keempat, tulisan Tere Liye selalu memiliki muatan positif. Ini membuat Pulang layak dibaca oleh remaja hingga orang dewasa. Lintas agama dan suku. Tidak tentang agama tertentu, sebab kebaikan-kebaikan yang disampaikan adalah kebaikan-kebaikan universal.

Terakhir, novel Pulang menjadi bukti bahwa novel yang nikmat dibaca tidak melulu harus mengandung unsur percintaan. Tema yang menarik dan penulisan yang mengalir serta enak dibaca adalah kunci utamanya.

“Kesetiaan ini ada pada prinsip, bukan pada orang atau kelompok. Di masa – masa sulit, hanya prinsip seperti itulah yang akan memanggil kesetiaan – kesetiaan terbaik lainnya.” (Hal. 187)

***

“Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan.” (Hal. 262)

Itu sedikit ulasan saya untuk novel karya Tere Liye. Jika ingin baca novel karya Tere Liye lainnya bisa baca review novel Rindu di sini: http://atriadanbuku.blogspot.co.id/2014/11/rindu.html

157 komentar:

  1. well. berhasil merangkum baik apa yang aku rasain waktu baca. Terutama untuk beberapa poin yang kamu kritisi.
    Tambahan dari aku, pas baca agak sedikit terganggu dengan sesuatu yang berusaha disimpan oleh penulisnya padahal kalau pembaca cukup awas apa yang disimpannya terbaca jelas. hehehehhe
    good luck, atria!

    BalasHapus
    Balasan
    1. he..he.. klo aku sampein semua nanti malah spoiler,Mbak Dy.
      Makasih ya sudah berkunjung.
      Amin terima kasih :*

      Hapus
  2. Belum baca bukunya tapi aku selalu menyukai review yang seimbang dan santun seperti ini. Ada kelemahan pasti juga ada kekuatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gak ada karya yang sempurna.
      Terima kasih sudah berkunjung, Mbak Ruwi
      :)

      Hapus
  3. Belum sempat baca bukunya,, tapi review ini mampu membangkitkan gairah untuk membacanya,, terima kasih atria bisa memberi inspirasi selanjutnya untuk "booking" (book in travelling)..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semangat dengna "Booking"nya.
      Semoga semakin suka baca buku dan suka sama reviewanku, kak :)

      Hapus
  4. Terima kasih sudah 'diundang' untuk membaca ulasannya. saya sendiri belum membacanya. ulasan ini setidaknya memberikan gambaran awal tentang cerita yang ada didalamnya.

    ulasana yang menarik. semoga tetap eksis!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkenan mampir, Mas Tori.
      semoga Mas juga sukses dengan bukunya :)

      Hapus
  5. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran...
    Salam damai :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam damai, Om.
      He..he..terima kasih sudah berkenan mampir di blog saya. Jadi malu, ternyata Om Uli mau baca review yang saya buat :D

      Hapus
  6. Setuju dengan beberapa pendapat kak Atria tentang buku ini, saya cukup menikmati dari awal sampai akhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sudah baca juga ya?
      Iya, cara berceritanya bikin cukup nyaman menikmatinya :)

      Hapus
  7. Wah saya jadi ngiler setelah baca review ini. Mulai mencari buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo beli bukunya. Kece kok :D
      Temanya juga unik :)

      Hapus
  8. Balasan
    1. Kalo suka dengan karya2 Tere Liye, buku ini layak masuk wishlist :)

      Hapus
  9. satu lagi kak...
    pesan terakhir mamak pada Bujang sebelum dia berangkat kota.
    Dan janji itu dilaksanakan dengan baik. Bujang si anak pedalaman yang dulu datang tak beralas kaki dan babak belur sehabis 'bermain' dengan si babi hutan 'ketakutannya', akhirnya bisa jadi orang yang menjadi kunci kepingan pazel yang dibutuhkan keluarga Tong. Pesan yang aku ambil musuh itu selalu ada tapi musuh paling menakutkan adalah yang paling kau percaya, mungkin itu orang lain bisa juga itu diri kita sendiri. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, udah baca bukunya, dek?
      Iya. Pesan itu berulang kali disampaikan di dalam buku ini :)
      Menarik ya :)

      Hapus
  10. Sebuah pertanyaan sempat dilemparkan oleh penerbitnya, apakah seharusnya novel ini ada sekuelnya? Kalau menurut Mbak Atri sendiri bagaimana? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha.. Ha.. Kalo aku sih lebih suka kalau gak usah dilanjutkan. He.. He.. Karena biarlah kisah Bujang dan Keluarga Tong jadi sebuah romansa masa lalu bagi Bujang.. Ha.. Ha.. *baper*

      Hapus
    2. Setuju! Mending selesai sampai di buku pertama.
      Lanjutannya biarin pembaca yang membayangkan.
      Jangan dipaksa buat dilanjutin.

      Hapus
  11. Keren reviewnya. Seimbang ada kekurangan dan kelebihannya, dan selipan kutipan-kutipan bijaknya. Aku baru baca satu karya Tere Liye, jadi penasaran pengen baca novel ini juga. Apalagi Tria jg menyampaikan dalam review kalau bahasanya mudah dipahami dan ceritanya mengalir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Terima kasih juga krn sudah mau mampir. Yuk baca buku Tere Liye yang lainnya :)

      Hapus
  12. Keren reviewnya. Seimbang ada kekurangan dan kelebihannya, dan selipan kutipan-kutipan bijaknya. Aku baru baca satu karya Tere Liye, jadi penasaran pengen baca novel ini juga. Apalagi Tria jg menyampaikan dalam review kalau bahasanya mudah dipahami dan ceritanya mengalir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Gaya berceritanya enak. Bahasanya mudah dipahami dan seru (karena ada adegan actionnya) :D

      Hapus
  13. Aku sependapat tentang tiga kekurangan novel ini. Aku juga menyoroti tiga hal itu waktu baca. Semoga sempat nulis review buat lombanya. :)
    Tokoh favoritku dua cucu Guru Bushi. Siapa tokoh favorit Kakak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tokoh favoritku malah Kopong :D

      Hapus
    2. Kopong memang "menggemaskan", sih. Seram, tapi baik banget.

      Hapus
    3. tokoh favoritku....*jeng jeng* eh, lupa, nggak ditanya ya? *kabur*

      Hapus
  14. Suka kata-kata yang hal 340 itu. Review yang menarik, mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkenan untuk mampir :)
      Semoga review ini bermanfaat

      Hapus
  15. Meskipun Mbak mengaku menyukai novel ini, tapi Mbak nggak lupa ngasih kritik. Kritik itu penting banget, lho. Biar penulis makin bisa berkembang. Meskipun, yang dikritik udah penulis papan atas :D
    Dari rangkuman ceritanya, aku langsung bisa menangkap seperti apa novel ini berkisah. Kayaknya seru, ya? Agak-agak bercampur action gitu, ya?
    Good luck mbak. semoga menang

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Takutnya yg baca review aku kecewa kalau aku nulis bahwa bukunya gak punya kekurangan padahal saat mereka baca malah menemukan kekurangan.
      Klo nulis gini kan adil. He.. He.. Adil buat penulis, adil buat pembaca :D

      Hapus
  16. Bukunya udah oke banget, oke pula reviewnya. Semangat terus mba atria untuk memupuk rajin membaca. Jujur aja kalau untuk aku, blog mba atria menjadi salah satu referensi untuk beli buku. Makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, makasih Tasya :*
      Senang deh kalau tahu review ku dijadikan referensi beli buku.. He.. He.. Jangan kapok baca reviewanku ya :D

      Hapus
  17. Terkadang memang disayangkan kalau masih ditemukan beberapa kecolongan seperti yang sudah disebutkan di atas. Lebih disayangkan lagi karena yang menulis ini adalah seorang Tere Liye, penulis bestseller dan banyak sekali penikmatnya. Tapi mungkin karena keapikan yang beliau kemas dalam ceritanya sehingga membuat hal itu tidak terlalu mengganggu bagi sebagian orang. Betul tidak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Iya, mbak. Karena ceritanya mengalir mungkin kecolongan itu gak disadari oleh pembaca lain :D

      Hapus
  18. Jujur, aku belum pernah membaca satu pun karya Tere Liye. Tapi, begitu membaca review Mbak Tria untuk buku ini, jadi tertarik untuk baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Baca novel Rindu karya Tere Liye juga, mbak. Itu favoritku banget :D

      Hapus
  19. Tere Liye dengan tema-tema bukunya yang slice of life begini nggak pernah sepi peminat meski nggak melulu soal cinta-cintaan. Sepertinya menarik nih menyimak kisah Bujang. Mau baca juga deh jadinya ehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo baca, mbak. Kisah percintaan beneran minim banget, mbak. He.. He.. Dan emang Pulang ini setipe dengan karya Tere Liye lainnya. Ngomongin kehidupan dan nilai2 kebaikan universal :)

      Hapus
  20. Sebenarnya aku belum baca Pulang-nya Tere Liye. Dan, review Kak Tria jadi bahan pertimbangan banget untuk ikut baca juga. Penasaran banget jadinya sama apa yang dituturkan Kak Tria tentang shadow economy dalam novel Pulang. Fiks masukin Pulang di daftar what to read. Well, very nice writing. Thanks udah ngasih insight ya, Kak Tria. ๐Ÿ˜˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, makasih udah mampir, Aw. Semoga ntar pas baca bukunya, nisa ingat review ini dan setuju sama apa yang aku tulis ya :D

      Hapus
  21. Satu hal yang menyenangkan dari karya Tere Liye, beliau selalu menyisipikan kalimat2 pembelajaran hidup disetiap tulisan... Dan meski saya belum baca tapi dari reviewnya kak Tria, sedikit banyak sudah ada gambaran tentang jalan ceritanya... Semoga kesampean beli novel ini *lirik dompet*

    Terima kasih kak Tria atas reviewnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku doain isi dompetnya segera memadai buat beli buku baru :D

      Hapus
  22. Satu hal yang menyenangkan dari karya Tere Liye, beliau selalu menyisipikan kalimat2 pembelajaran hidup disetiap tulisan... Dan meski saya belum baca tapi dari reviewnya kak Tria, sedikit banyak sudah ada gambaran tentang jalan ceritanya... Semoga kesampean beli novel ini *lirik dompet*

    Terima kasih kak Tria atas reviewnya ^^

    BalasHapus
  23. Selalu suka dengan novel bertema kehidupan seperti ini. Banyak quote dan pesan positif yang disampaikan. Masuk ke wishlist!:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Semoga bisa segera dibeli ya :D

      Hapus
  24. Reviewnya membuat saya jadi tertarik baca bukunya. Bagus!

    BalasHapus
  25. Reviewnya keren ^.^ Teliti banget menuturkan kelemahan dan kelebihan novel Pulang =)
    Bikin aku tertarik untuk membaca karya Tere Liye. Aku belum pernah membaca novel karyanya. Terus terang aku jarang banget baca novel tentang kehidupan. Novel Pulang masuk ke wishlistku gara2 racun review Mbak Atria ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha.. Ha.. Asal jangan sampai keracunan ya karena sering baca review di sini. Takut dituntut karena jadi penyebab penipisin isi dompet.
      Makasih ya udah mampir :)

      Hapus
  26. Baca review kakak bikin ifa pengen banget beli novel Tere Liye dan jatuh cinta sama quotenya. Indah dan penuh makna. Belum pernah baca novelnya Tere, tapi baca review kakak kayak nonjolin kelebihan novel Tere dan sepertinya akan mengidolakannya. ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha.. Ha.. Ada yang mulai kecanduan baca buku nih. Ayo baca buku Tere Liye. Favoritku adalah novel Rindu :D

      Hapus
    2. Hahaahahaahaa.. sepertiinyaaaa.. gapapa nularin hal positif ๐Ÿ˜๐Ÿ˜„

      Hapus
  27. Belum pernah baca tapi setelah baca review dari Mba Tria jadi pengen baca. Tere Liye adalah one of my favorite writter. Gaya bahasa, cara bertutur, sangat khas beliau. Walau belum baca keseluruhan novelnya tapi dari review di atas bisa icip gambaran dari novel tersebut.
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo lengkapi bacaan Tere Liye nya, Mbak Siska.
      Makasih ya sudah mau mampir :)

      Hapus
  28. Aku belum baca novelnya kk, tapi dengan baca ulasan kk tria d atas, emang bikin pengen baca buku "pulang" bgt, beberapa novel tere liye yg aku baca emang kdang slalu bgtu kk, kurangnya mungkin yah, membuat tokoh utama adalah yg paling perfect dalam cerita, "negeri para bedebah" dan "negeri di ujung tanduk" juga sama. Tokoh utama adalah orang yang sangat sulit ditemui di dunia nyata, cuma bagusnya, selalu diperhalus dengan bahasa yang menarik, cerita yang membuat penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Kita sependapat ternyata ya, Rifky :)
      Makasih sudah mampir :)

      Hapus
  29. Aku belum baca novelnya kk, tapi dengan baca ulasan kk tria d atas, emang bikin pengen baca buku "pulang" bgt, beberapa novel tere liye yg aku baca emang kdang slalu bgtu kk, kurangnya mungkin yah, membuat tokoh utama adalah yg paling perfect dalam cerita, "negeri para bedebah" dan "negeri di ujung tanduk" juga sama. Tokoh utama adalah orang yang sangat sulit ditemui di dunia nyata, cuma bagusnya, selalu diperhalus dengan bahasa yang menarik, cerita yang membuat penasaran.

    BalasHapus
  30. Jadi tambah penasaran, padahal sudah beli tapi belum dibaca. Seperti biasa, review yang bagus, Tria :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo baca, kak Nay. He.. He..
      Makasih ya kak mau mampir dan baca :)

      Hapus
  31. Seperti biasa, atria selalu sukses mempengaruhi pembaca reviewnya mempertimbangkan sebuah buku untuk jadi bahan bacaan.

    Saya jadi sedikit penasaran dengan buku "Pulang" ini. Kayaknya seru!!.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mulky. Yuk dibaca novel Pulang ini :)

      Hapus
  32. Belum pernah baca bukunya.
    Tapi selalu suka dengan cara Mbak Atria mereview karena berimbang.Jadi pembaca tau kelebihan serta kekurangan buku ini.
    Dan ini membuatku penasaran banget sama buku ini.
    Okesip, masuk belanjaan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Nima, atas apresiasinya. Selalu senang kalau ada yang bilang suka dengan reviewan saya. Bikin semangat untuk tetap nge-review.

      He.. He.. Satu lagi yg daftar belanjaannya nambah karena baca review :D

      Makasih ya mbak karena berkenan untuk mampir di sini :)

      Hapus
  33. Masuk ke wish list. :)
    Aku belum pernah membaca bukunya. Review-nya sangat menarik, santun, dan penuh. Kelebihan dan kekurangan disampaikan dengan bahasa yang halus.
    Aku jadi penasaran sama bukunya.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Makasih Nisa udah mampir dan baca reviewanku ini.
      Biar gak kelamaan penasaran nya, Yuk baca bukunya :D

      Hapus
  34. Sebenarnya kurang suka dengan novel2 DTL. Tapi untuk review kali ini jadi lumayan terpancing buat beli dan baca. Ato berdoa kali2 ada yang ngadoin bukunya gitu #ehgimana #inimemangkode ahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha.. Ha.. Jago banget kodenya, Tanteu :D
      Ntar pinjam punyaku deh *eh

      Makasih udah mampir ya, Tanteu :D

      Hapus
  35. Sudah baca, Mbak Atria. suka sama quote-quotenya dan pesan yang terselip di sana. Berasa nonton film action. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Salah satu penggemar karya Tere Liye, Mbak? Iya, adegan actionnya banyak ya. :D

      Hapus
  36. Penjelasan mbak atria tentang shadow economy yang kalo ada di dunia nyata, sama dengan apa yang aku pikirkan :D sehingga bikin aku pengen baca bukunya.

    Seperti biasa, review mbak atria tepat sasaran, jelas dan gak bertele². Good luck ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir. Yuk baca Pulang :D

      Hapus
  37. Sampulnya kok kayak robek gitu??Apa cuman efeknya saja??Tapi keren lohh reviewnya kak Atria ini.Dimana kekurangan dijelaskan dengan bahasa yang sopan,juga tak melewatkan menyebutkan kelebihannya juga^^Aku selalu suka quote-quote yang kak Atria sebutkan tadi,sedikit menginspirasi..
    Oke,good luck kakak..:)
    salam,Riqza:*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Riqza. Iya sampulnya emang gitu. He. He..
      Makasih ya sudah berkenan mampir :)

      Hapus
  38. Review Mbak Atria menarik sekali. Ada sisi positif dan negatif yang dibahas, bisa membantu reader untuk menarik kesimpulannya sendiri.
    Sukses terus ya, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena fungsi review buat aku gitu, mbak. Jadi bahan pertimbangan untuk membeli buku. Dan rasanya adil jika kelebihan dan kekurangan buku disertakan :)

      Makasih ya mbak karena udah mau mampir :)

      Hapus
  39. Sedari awal, aku ingin baca novel Pulang ini, apalagi ada endors yang bilang: "Mamah kamu nggak bakal marah kalau kamu baca novel ini." Kurang lebih begitulah. Nah, aku tersulut dong pengen baca novel ini. Sebenarnya, temanku udah ada yg punya, jadi aku tinggal pinjem deh. Lalu ... aku baca review-nya mbak Atria tambah pengen baca. Yang aku suka dari review Mbak Atria adalah penjelasan singkat tentang jalannya cerita tersebut. Mbak Atria selalu bisa merangkum ceritanya dengan baik, hehehe. Oh, ya, aku suka dengan covernya. Kupikir robek beneran -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Tapi nggak spoiler kan ya?

      Iya, sampulnya emang gtu. Ya kali aku tega ngerobek buku.. :D

      Makasih ya udah bersedia mampir :)

      Hapus
  40. belum punya buku tere liye satupun, belum pernah baca juga satupun. dan reviewnya Atria bikin aku jadi pengen baca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Jangan2 ntar akan banyak yang akan protes ke aku karena "ngeracunin" buat beli lebih banyak buku :D

      Hapus
  41. Kak Atria emang selal TOP kalau soal ngereview, detail! saya belum punya buku beliau satupun entah kenapa selalu gak kebeli. Setelah baca review kak Atria mau coba baca aah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk dicoba..dicoba. He..he.. temanya bagus. Ada adegan action pula :D

      Hapus
  42. Selalu suka sama review dari Ka Atria. Kenapa? Soalnya benar-benar merupakan 'review', bukan hanya memberi 'pujian'. Kritikan yang diberi juga tidak lantas membuat pencinta buku tidak ingin membaca buku tersebut,malah jadi penasaran. Keren!
    Seperti karya Tere Liye yang lain, selalu banyak quotes yang bisa diambil dari karya-karyanya. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Vani. He..he.. malah jadi penasaran ya?? Karena pengin ngebuktiin itu benar atau nggak, gitu ya??

      Hapus
  43. Review nya seimbang kak. Netral dan ngga berbelit. To the point ttg kekurangan dan kelebihannya. Kritik yang membangun, tapi tetep ngebuat org penasaran buat beli bukunya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka agak gak pede malah, Nesia. Karena aku nggak begitu bisa basa basi. Takutnya dianggap reviewnya terlalu tajam :D

      Hapus
  44. Sebenarnya udah masukin novel ini ke dalam list. Baca review teteh jadi pengen buru2 beli novelnya >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha...ha..nambah lagi deh jumlah orang yang "keracunan" buat beli karena review ini.
      Semoga nanti suka sama bukunya ya, kak

      Hapus
  45. Atria Sartika yang saya kenal sejak di Komunitas Aleut memang rajin membaca. Setelah sudah tidak lagi berjumpa dan memperhatikan ternyata Atria semakin rajin membaca, mereview dan meresensi banyak buku. Mungkin Atria bisa berbagi di kelas resensi buku Komunitas Aleut setiap sabtu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hatur nuhun, Kang Alex udah mampir.
      He..he.. aku nggak pede. lebih banyak yang pro di kelas resensi buku Komunitas Aleut.
      Sukses terus ya dengan kelas serunya Komunitas Aleut

      Hapus
  46. Reviewnya bagus kak Atria.
    Aku udah pernah baca beberapa buku karya beliau, tapi nggak ada yang selesai. Hoho. Tere Liye pandai sekali merangkai kata menjadi kalimat indah, makanya banyak sekali orang mengutip kalimat yang terdapat di novel-novelnya, aku sering menemukan kutipan novelnya dijadikan tweet atau text picture oleh teman-teman. Semacam kalimat-kalimat yang memberi kekuatan, kalimat yang mewakili perasaan mereka. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Clau. He..he.. novelnya quoteable banget :D
      Lumayan nih buat nambah stok quote Pecandu Buku.. He..he.. :D

      Hapus
  47. Saya belum sempat membaca "Pulang" milik Tere Liye, tapi lewat reviewnya yang menarik, saya jadi cukup penasaran dengan cerita keseluruhannya. Saya setuju dengan Tere Liye dan kekhasannya dalam menulis. Juga kutipan-kutipannya, yang selalu saja dapat menyentuh hati para pembaca. Hmmm, jadi semakin penasaran nih untuk membaca :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setiap penulis ada kekhasannya. Dan bisa jadi itulah kekuatannya Tere Liye. Novelnya quote-able banget :D

      Hapus
  48. Hai, Atria. Baru sempat mampir nih.

    Sebenarnya saya tidak pernah membaca Tere Liye karena beda genre~. Ini kali pertama saya baca ulasan novel Tere Liye untuk tahu 'rasa'. Saya suka ulasan kamu yang selalu seimbang dalam kritik dan saran sehingga tidak menjatuhkan dan bisa memberi ruang untuk (calon) pembaca menilai jua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, mbak udah mau mampir.
      Alhamdulillah kalau suka dengan ulasan ini. Jangan kapok mampir di Blog saya ya :D

      Hapus
  49. secara global saya menilai bahwa review ini mencoba membongkar secara tuntas meski berupaya tetap balance.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Karena menulis dengan adil itu perlu. :D
      Bukan hak saya menilai sebuah buku bagus atau tidak.
      Semoga gak kapok baca reviewanku nah, kak :D

      Hapus
  50. aku selalu suka ulasan atria dan capture fotonya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ternyata mbak mampir. Aku malu (>_<)
      He.. He.. Terima kasih, mbak. Doakan saya selalu konsisten mereview dan bikin foto2 cantik buku. :D

      Hapus
  51. Review yang menarik, semakin penasaran sama novelnya. Good luck Atria :)

    BalasHapus
  52. Review yang menarik, semakin penasaran sama novelnya. Good luck Atria :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo dibaca novelnya, Teh :D
      Udah punya kan?

      Hapus
  53. Good luck ya kak Atria. Aku juga sependapat, kaget pas POV-nya berubah. Tapi aku suka karakter Bujang. Untuk jadi keren, usahanya gilaak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tapi itu ngeri ya. Keren bangetlah klo ada yg seperti dia.
      Yang antri mau jadi istrinya pasti banyak *galau jodoh* #eh

      Hapus
  54. Jujur saya merindukan novel Tere Liye yang romantis seperti Daun yg Jatuh,atau Rembulan Tenggelam di Matamu. Rasanya sudah cukup kenyang dengan tema heroik setelah novel Negeri di ujung tanduk dan sekuelnya lalu dilanjutkan dgn Novel Rindu dan kemudian Novel Pulang. Namun membaca resensi ini lumayanlah bikin menggelitik untuk menambah satu lagi "jagoan" ala Tere Liye. Good Job,Tria.

    BalasHapus
    Balasan
    1. he..he.. aku pikir kakak udah punya Pulang, lho.
      Tapi iya sih, tema buku2 Tere Liye akhir2 ini bukan romance ya, kak.
      *baru sadar* :D

      Hapus
  55. Review yang berimbang seperti biasanya nih. Good review, Tria. Good luck ya :)

    BalasHapus
  56. Buku tentang "Pulang" . Sebenarnya belum pernah baca. Tapi pas singgah di blok ka atri. Saya penasaran dgn crtanya. Ada apa dengan si bujang, sampai2 tak tahu harus pulang kemana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bujang mungkin perlu ingat "pulang" setelah semua yang dialami :D

      Hapus
  57. Selalu suka jalan-jalan ke reviewnya kak Atria. Cakep,beberapa kutipan yang ditampilkan, foto buku yang bagus.

    Pulang karya Tere Liye ini salah satu wishlistku, covernya cantik. Lalu, ceritanya menyangkut shadow economy. apakah ceritanya cukup berat? Hhmmm penasaran!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga wishlist nya segera terpenuhi ya, Fikriah :D

      Makasih sudah mau mampir :)

      Hapus
  58. Kayax lebih bagus kalo baca novel diceritakan kembali sj sm atria, jadi novel setebal kitab bs habis dlm 1 halaman.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha.. Ha.. Gak gitu juga. Masih bnyak hal seru yg bisa dibaca sendiri. Terutama di bagian actionnya :D

      Hapus
  59. Balasan
    1. Terima kasih :)
      Terima kasih sudah mau mampir :)

      Hapus
  60. Singkat, padat, langsung kena sasaran. Sejauh ini, buku Tere Liye yang kubaca, kekurangan-kekurangann bisa dianggap angin lalu, bahkan nggak terasa sama sekali, karena kelebihan-kelebihannya dan kekhasan gayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Iya, kadang beberapa kekurangan dianggap tidak penting jika cerita diturunkan dengan menarik ya :D

      Hapus
  61. Resensi novel Pulang TL ini membuat calon pembaca masih memiliki keinginan kuat untuk membaca novelnya, sebab Atria masih menyisahkan banyak jalan yang harus ditelusuri hanya dengan membaca novelnya langsung. Dan saya rasa, bagi yang sudah membacanya akan mendapat hal baru yang ditulis dengan segar oleh Atria, beberapa pandangan subjektif yang baik tentang novel ini. Sukses terus untuk peresensi Atria.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin.
      Terima kasih, kak Dahri.
      Saya masih harus belajar menulis resensi yang baik dan benar dari kak Dahri

      Hapus
  62. Saya suka sama resensinya kak, sangat setuju sama yang kak Atria katakan novel yang nikmat dibaca tidak melulu harus mengandung percintaan, sebelum saya baca bukunya sempat brpikir ada unsur prcintaan di dalamnya ternyata tidak tapi itu membuat saya suka cerita dan sangat menarik. Sukses terus yah kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Makasih ya sudah mampir.
      Berarti sudah baca bukunya juga ya?
      Saya malah setelah novel berakhir baru sadar bahwa tidak ada unsur percintaan di dalam Pulang selain kisah Mamak dan Bapak nya Bujang :)

      Hapus
    2. Iya kak sama2 semoga bermanfaat bagi yang sudah membaca. Hehe iya kak mungkin baru pertama kali baca novel yg pemeran utamanya tidak mnceritakan percintaannya.

      Hapus
  63. Reviewnya bagus.. memuat sisi kelebihan dan kekurangan buku ini.. ditambah dengan cuplikan-cuplikan kalimat yang cukup menggugah untuk membeli bukunya.. Apakah saya setuju dengan isi reviewnya? Belum tahu, karena belum baca buku ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir, Kang. He.. He.. Pernyataan terakhirnya menarik ya :D

      Hapus
    2. Terima kasih sudah mampir, Kang. He.. He.. Pernyataan terakhirnya menarik ya :D

      Hapus
    3. Terima kasih sudah mampir, Kang. He.. He.. Pernyataan terakhirnya menarik ya :D

      Hapus
  64. Semoga BUKU Tersebut Membuat Kita Menjaadi Gemar Membaca....wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. InsyaAllah

      Waalaykumsalam warahmatullah :)

      Hapus
  65. Maaf kak baru bisa baca sekarang. Hehehe Aku lupa terus sih mau buka. Kak reviewnya makin bagus deh terutama untuk kelemahan novel ini. Aku yang baru pemula ini, emang susah ya kak menulis dengan menggunakan POV 1 kemudian di tengah tiba-tiba beralih menjadi POV 3. Sebenarnya bisa ada kesalahan seperti ini, apakah terlewat dari editornya ya. Novel ini ciamik. Aku belum pernah baca karya Tere Liye sebelumnya, tapi setelah baca review kakak kok penasaran ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, reviewnya makin bagus? Alhamdulillah. Doakan selalu makin baik ya :)
      Soal "kebocoran" itu, aku gak tahu siapa yg salah. Tapi semoga dengan Review ini, saat cetak ulang berikutnya bisa diperbaiki :D
      *siapa elu, Tria*
      He.. He..

      Hapus
  66. Mau komentar dulu tentang reviewnya, bagus! Menyeluruh. Dipaparkan kelebihan dan kekurangannya, jadi benar-benar terasa ini adalah honest review. Aku penasaran baca Pulang karena kutipannya juga, tapi kalau membaca sinopsis nya kok kayaknya berat ya kisahnya. Jadi bingung ><

    BalasHapus
    Balasan
    1. Temanya aja yang terkesan berat. Tapi bahasa yg dipakai bahasa populer dan mudah dipahami kok. Jadi enak dibaca. Gak bakal bikin bingung :D

      Hapus
  67. Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan.” :-)
    Habis baca review.x jdi kepengen baca bukunya yg penuh dngan kata kata untuk motivasi hidup.. Makasih sudah di undang untuk baca ini..
    *sukses selalu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya sudah mau mampir.
      Iya, bukunya banyak kalimat bijaksana :D

      Hapus
  68. Waw, aku setuju dg beberapa pendapat mbak Atria. Bahwasanya Tere Liye memang lihai dalam memenggal cerita dan menyimpan setiap kepingan cerita. Pertama kali membaca karya beliau adalah #DaunYangJatuh. Bahasanya yang mudah dipahami, menghanyutkan kita dengan mudah hingga ujung cerita.
    Selain itu, benar juga apa kata mbak Atria, bahwa novel ini membuktikan jika novel yang bagus tidak hanya mengangkat tema soal cinta. Banyak kehidupan sosial masyarakat yg bs diangkat menjadi cerita yg tak kalah menarik pula ~
    Sepertinya, review ini kian menguatkanku untuk memasukkan buku ini ke wishlist. Uummmmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, ikut tergoda juga ya? He.. He.. Mari dibeli bukunya :D

      Hapus
  69. Saya belum baca buku ini dan sepertinya kurang berniat juga membacanya, bukan karena review atau pun bukunya kurang bagus. Siapa yang tidak kenal Tere Liye dengan karyanya? Dan menurutku reviewnya Atria terasa berimbang mengenai kelebihan dan kekurangannya.
    Ini mengenai selera, bahwa tidak semua orang akan terkesima dengan genre buku dan nama penulisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setuju. Selera baca jelas memengaruhi pilihan bacaan :)
      Terima kasih sudah mampir, Kang

      Hapus
  70. Tema keluarga selalu bisa menyentuh.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan sesungguhnya itu favorit, Ryana :D

      Hapus
  71. Ulasan yang menarik. Diulas tidak hanya kelebihannya, kekurangannya pun diungkap. Karya Tere Liye belum ada yang saya baca satu pun, tapi mungkin dengan membaca ulasan ini, sepertinya #PULANG akan menjadi karya pertama beliau yang akan saya baca.
    Tema pencarian untuk 'pulang' memang selalu menarik. Bahkan hampir sebagian besar wanita ingin yang menjadi tempat bagi suami dan anak-anaknya untuk pulang. Tapi
    After all, kita semua akan selalu rindu untuk pulang, dan akan pulang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pada akhirnya kita semua akan "pulang" :)

      Hapus
  72. Belum baca bukunya..tapi hbs baca review ini, jd tertarik buat membacanya langsung :)

    BalasHapus
  73. Aku selalu suka karya-karya Tere Liye sejak buku pertamanya. Gaya tulisannya yang khas dan tema pilihannya selalu asyik buat diikutin. Habis baca review ini, jadi penasaran sama shadow economy yang disinggung-singgung ini. Jadi kepengin baca, tapi aku kukuh nunggu lanjutan seri Bumi dulu aja lah #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Aku malah belum baca seri Bumi, Cha :D

      Hapus
  74. Belum pernah baca karya Tere Liye, tapi yang ini aku tertarik, ada cerita tentang pergulatan dengan diri sendiri, tentang ekonomi, dan kejahatan, serasa film action tapi aku tau dari resensi ini sepertinya lebih ke pergulatan Bujang untuk kembali "pulang" dalam artian banyak hal. Kurasa judul PULANG memang cocok sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan sejak awal "pulang" sudah disinggung. Tapi belum dengan jelas dijabarkan. :D

      Hapus
  75. Hai kak Atria maaf ya aku baru mampir, tadi kena macet hehe.

    Wah buku ini udah ada di daftar wishlist ku, selain judul cover buku ini juga unik dan menarik. Dan yg pasti isinya juga gak kalah menarik nih.
    Seperti biasa review kak Atria selalu berimbang dan berbobot.
    Selalu bikin pembaca penasaran sama bukunya. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Terima kasih sudah mampir. Makasih ya
      Jangan kapok mampir dan reviewanku ya :)

      Hapus
  76. Wah reviewnya mantep. Tapi kalau boleh berkomentar secara subjektif ( gapapa dong sesekali ) pembahasaan tere liye terlalu biasa. Kurang ada ciri khas nya. Tapi ttg tema dan alur cerita beliau juaranya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.. He.. Tiap orang kadang menikmati hal berbeda dari satu buku yg sama

      Aku setuju bahwa tema dan alur cerita adalah salah dua kelebihan karya-karya Tere Liye :D

      Hapus
  77. saya belum membaca novelnya. Tapi setelah membaca resensi mbak Atria, saya jadi penasaran dan tertarik untuk segara membacanya.

    BalasHapus