Minggu, 27 Desember 2015

[Liputan Acara] Talkshow “Jodoh” dan (unofficial) Meet & Greet



Siang tadi, alhamdulillah Bandung sedang cerah. Cukup terik saat saya melangkah meninggalkan kostan demi menghadiri sebuah acara di Gramedia Merdeka, Bandung. Talkshow “Jodoh” yang akan menghadirkan langsung penulisnya, Fahd Pahdepie.


Talkshow yang diadakan oleh Bentang Pustaka ini sekiranya akan dimulai jam 2 siang. Saya datang tepat waktu. Kurang dua menit sebelum jam 2. Sayangnya seluruh kursi yang telah disediakan sudah penuh. Tapi alhamdulillah. Mendadak ditodong oleh MC cantik untuk ngobrol dikit tentang novel Jodoh. Hadiahnya dapat mug kece dan dapat tempat duduk saat turun dari depan. Berkah blogger salehah. :D

Keterlambatan Fahd berjodoh dengan tempat parkir membuat kehadirannya ikut terlambat. Lewat 40 menit berlalu, barulah penulis ini bergabung dengan audience. Tapi antusiasme masih tinggi. Obrolan tentang Jodoh dan “jodoh” pun dimulai.

Fahd membuka talkshow dengan berkisah tentang namanya. Bagi yang mengakrabi nama Fahd Djibran, pasti tahu bahwa itu adalah nama pena yang dulu disematkan oleh Fahd pada setiap bukunya. Ini ternyata punya cerita sendiri. “Dulu saat saya mengirim tulisan saya ke media lokal yang terkenal di Bandung dengan nama Fahd Pahdepie pasti ditolak. Kemudian saya mengirim tulisan yang sama dengan nama Fahd Djibran, ternyata diterima. Ini terjadi lagi di kali kedua. Akhirnya saya memutuskan memakai nama Fahd Djibran.”

Setalah itu, Fahd kemudian mulai bercerita tentang novel Jodoh. Mengungkapkan bahwa ia memasukkan kisahnya sendiri dalam novel Jodoh ini. Kisah Sena yang jatuh cinta pada Keara  sejak SD ini diambilnya dari pengalaman pribadi. Tapi Fahd pun menegaskan bahwa cinta-cintaan masa SD yang dialaminya tidak seperti anak-anak SD masa kini yang punya modal untuk makan bareng di restoran fast food atau untuk berkirim pesan via handphone.

Ia pun mengungkap bahwa jodoh itu berhubungan dengan titik pertemuan antara waktu dengan takdir. Takdir adalah sebuah ukuran. Dan ukuran ini bisa dalam bentuk apa saja. Selain itu jodoh pun berhubungan dengan titik-titik kemungkinan dan keputusan-keputusan yang kita ambil. Fahd kemudian menutup pernyataannya dengan candaan, “Bingung? Iya sengaja. Biar bingung.” Tawa MC cantik berkerudung ungu pun mengakhiri sesi itu.

Sesi tanya jawab kemudian dibuka. Dan ternyata memang pertanyaannya semua terkait jodoh. Hm..semoga sepulang dari talkshow tidak semakin baper ya, Akang dan Teteh :)

Setelah sesi tanya jawab, acara kemudian ditutup dan dilanjutkan dengan sesi Book Signing dan foto bersama Fahd Pahdepie. Oiya, dalam acara hari ini, peserta laki-laki yang hadir cukup banyak. Meski sebagian besar yang datang adalah perempuan. Apa ini berarti cowok Bandung banyak yang galau soal jodoh? *eh..gimana* He..he..
 
sempat ikut nodong foto bareng
Oiya, sedikit cerita tambahan, setelah acara selesai, saya berbincang dengan Tim Bentang Pustaka dan Mizan Media Utama yang ikut hadir sebagai pihak penyelenggara. Kemudian datanglah tawaran itu, “Tria, yuk ikut. Setelah ini mau ngobrol lagi sama Fahd. Siapa tahu kamu pengin nanya-nanya.” Mendengar tawaran itu, blogger buku mana yang bisa menolak?! He..he..

Foto bersama Fahd, tim Bentang, dan pemandu
 ***

Bertempat di sebuah kedai kopi, sambil menyantap makan siang yang terlambat dan menyeruput forozen Tiramisu saya pun mengajukan beberapa pertanyaan pada Fahd. Salah satu yang selalu menarik minat saya adalah tentang proses kreatif sebuah buku.

Saya tahu bahwa di tahun ini, Fahd juga menerbitkan sebuah buku non-fiksi. Saya lantas bertanya, “Yang mana ditulis duluan? Buku non-fiksi itu atau Jodoh?”

Fahd memberikan jawaban yang menarik. “Awalnya saya bermaksud menulis sebuah buku yang menceritakan kisah saya bersama istri saya. Ingin saya jadikan kado di peringatan 5 tahun pernikahan kami, tahun lalu. Tapi ternyata jadinya sangat tebal.”

Setelah itu, ia pun bercerita bahwa naskah ini kemudian ia bagi dan menjadi 3 buah naskah. Satu naskah menjadi buku non-fiksi tersebut, satu lagi masih belum diterbitkan, dan satu lagi adalah novel Jodoh ini. “Masing-masing naskah saya proses lagi selama kira-kira 6 bulan. Saya endapkan untuk kemudian saya baca dan perbaiki lagi.”

Setelah itu, Fahd kemudian bercerita bahwa penulisan novel Jodoh ini terinspirasi oleh banyak hal. Mulai dari film India hingga novel Twilight. “Salah satu hal yang membuat Twilight diterima dengan baik oleh pembaca adalah karena karakter Bella yang empty share. Tidak banyak deskripsi tentang Bella. Ini agar setiap pembaca bisa menempatkan dirinya sebagai Bella. Dan ini yang saya lakukan pula di Jodoh. Saya berharap saat membaca Jodoh, pembaca bisa menempatkan dirinya sebagai Keara.”

Setelah itu obrolan kami bersama tim Bentang Pustaka dan Mizan Media Utama pun meluas ke berbagai hal. Sebenarnya ada beberapa obrolan lain yang ingin saya tuliskan terkait novel Jodoh. Tapi biarlah saya tunda dulu. Obrolan lengkap akan saya publish bersama review saya tahun depan (Januari 2016).


***
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada pihak Bentang Pustaka yang memberi kesempatan yang langka dan tidak terduga ini. Sebuah kebahagiaan bagi seorang pembaca bisa ngobrol dengan penulis tentang buku yang dibacanya. Terima kasih banyak sudah menghadiahi saya kesempatan ini.

Dan untuk Kang Fahd Pahdepie, saya menunggu naskah ketiga yang sampai akhir obrolan masih dirahasiakan judul dan jadwal terbitnya. Sukses terus dengan karya-karyanya. Semoga menjangkau banyak pembaca dan bisa terus berbagi hal positif ke banyak orang. :)

Bandung, 27 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar