Senin, 07 Desember 2015

Keegan’s Matchmaking




“Cinta, meski dua karakter berbeda bisa membuat gaya tarik menarik. Di situ letak indahnya cinta.” (Hal. 81)
18243971
Penulis: Ragatnia Clara
Penyunting: Arief Ash Shiddiq
Ilustrasi sampul: Teguh Pandirian, Nandiasa Rahmawati
Perancang sampul: Teguh Pendirian
Pemeriksa aksara: Septi Ws, Rika Amelina
Penata aksara: Theresa Greacella
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi Ochidyati
Penerbit: PlotPoint Publishing
Cetakan: Pertama, Juli 2013
Jumlah hal.: 194 halaman
ISBN: 978-602-9481-43-3

Keegan bukannya tidak senang membantu menyiapkan pernikahan kakaknya. Tapi, pernikahan itu sepertinya justru membuat perhatian semua orang tertuju padanya, yang masih juga belum punya pacar. Kalau dia secantik Kak Ivone, sih, pacaran soal gampang, pikir Keegan. Keegan memang selalu merasa dirinya baik – baik saja. Tidak cantik seperti Tara, anggun seperti Kak Ivone, atau menawan seperti Mama. Itu sebabnya, bahkan saat memasuki usia keduapuluhnya, ia masih memilih untuk sendiri saja. Nggak susah. Lebih gampang. Tapi, saat ini, jadi jomblo tidak terasa mudah. Semua orang serasa menerornya.

Do I really need a boyfriend so my mother will be happy knowing that her own daughter is somewhat normal? Pikir Keegan.

Lalu tiba tawaran kerja dari Prof Gregory. Bagi Keegan itu seperti tempat suaka di antara kegaduhan ini. Tapi, mana Keegan tahu kalau ternyata tawaran kerja itu punya maksud tersembunyi? Mana Keegan tahu kalau menerima tawaran kerja itu akan menjerumuskannya ke dalam perjodohan konyol dengan manusia menyebalkan bernama Revan ini?

Seperti kamu bisa tebak. Ini cerita tentang cinta. Tapi, cinta bukan hal yang bisa ditebak. Ia sesuatu yang baru akan datang saat diberi kesempatan.

***

Ok, sinopsis paling singkat untuk novel ini adalah:

Keegan perempuan berusia dua puluh tahun yang masih jomblo dan menerima kerja sambilan dari dosen favoritnya, Prof Gregory. Ia tidak menyangka bahwa selain menerima pekerjaan, ia pun harus menerima permintaan sayng profesor untuk berkenalan dengan cucunya yang bernama Revan. Sayangnya, Keegan tidak pernah mau menerima ketika Revan menyampaikan bahwa ia menyukai Keegan.


Keegan menutup diri. Ini ada hubungannya dengan keadaan keluarganya yang cukup unik. Ini berpengaruh pada karakter gadis itu.

Tapi syukurlah ia memiliki seorang sahabat yang tidak hanya cantik tapi juga baik hati. Ini menjadi penyeimbang bagi Keegan.

Lantas bagaimana kehidupan Keegan nantinya? Adakah ia akan menerima Revan? Apakah ia akan bisa menemukan tempatnya di dalam keluarganya sendiri?

Sinopsis saya cukup beda dengan blurbnya? Yup, karena menurut saya inilah esensi cerita dalam novel ini.
***

Kisah dalam novel Matchmaking ini sebenarnya sangaaat sederhana. Sebuah bacaan ringan untuk remaja dan young adult. Cerita sebenarnya benar – benar berpusat di karakter Keegan sendiri. Tentang keadaan yang membentuknya dan tanggapannya terhadap hal – hal yang ada di sekitarnya seperti keluarga, sahabat dan hubungannya dengan laki – laki yang tertarik padanya.

Dan karena ceritanya simple, maka membacanya pun mengalir dan tahu – tahu sudah selesai. Sayangnya, konflik utamanya masih kurang tajam. Pembaca akan berpikir, “Ya ampun, masalahnya cuma itu aja toh? Trus udah gitu aja?”

Yup, sejak konfliknya sebenarnya terlalu sederhana dan tidak begitu kuat. Tapi syukurlah cara bertuturnya rapi dan tidak membosankan sehingga pembaca akan membacanya sampai selesai tanpa mereka sadari. Tapi ya itu, kesannya yang tertinggal jadi kurang kuat.

Dari segi emosi pun kesannya terlalu mendadak dan meledak – ledak. Di pertemuan pertama, Keegan dan Revan tahu – tahu sudah berantem. Keegan kesal dan melampiaskannya begitu saja pada Revan. Padahal kekesalannya pun sebenarnya belum pada tempatnya. (Hal. 42)

Selain itu, narasi yang seharusnya menggunakan sudut pandang orang ketiga, sempat menggunakan narasi orang pertama di salah satu kalimatnya. Tapi itu tidak mempengaruhi cerita secara signifikan kok.

Tapi secara keseluruhan, novel ini adalah novel remaja yang sangat ringan.

***

“ ...nikmati masa muda, nikmati cinta, nikmati hidup!” (Hal. 81)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar