Jumat, 04 Desember 2015

[Blog Tour] When The Star Falls




Sebelumnya, terima kasih untuk Atria yang sudah memberikan tempat dan kesempatan bagi saya untuk menjadi guest writer di blognya yang cakep ini sebagai pembuka rangkaian Blog Tour When The Star Falls!
Nah, pada kesempatan ini saya ingin sedikit membagikan sedikit tentang proses kreatif WTSF, mulai dari riset, tokoh, dan proses revisi sampai akhirnya bisa menjadi satu naskah utuh.
***
Sebenarnya, kisah Sam dan Lynn sudah sempat saya tulis tahun 2005. Naskah ini sempat saya kirimkan ke penerbit, tapi waktu itu ditolak. Sedih banget, kan? Setelah itu, WTSF mengendap sangat lama dan akhirnya muncul kembali ke benak saya akhir tahun 2014 saat GWP batch 2 dibuka.
Waktu itu, saya langsung membuka lagi naskah lama tersebut. Kagetnya, naskah itu benar-benar amburadul. Pantas aja ditolak, batin saya waktu itu dan kemudian bertekad untuk memperbaikinya.
Satu hal tentang saya yang jangan ditiru, saya tidak pernah membuat kerangka terlebih dahulu. Kerangka saya menyusul saat saya mulai menulis. Apalagi riset, paling males banget kalau disuruh riset. Jadilah saya menulis kerangka, riset dan menulis naskah semua bebarengan. Bener deh, jangan ditiru. Benar-benar tidak efektif, tapi cara inilah yang saya suka.

Perban putih ditempel di sisi kepala sebelah kirimu.

Untuk menulis satu kalimat itu saja, saya harus berhenti mengetik dan membuka browser sambil bertanya pertanyaan di bawah ini:
1.      Otak sebelah mana yang mengatur ingatan? Sekitar dahi? Belakang?
2.      Operasi pengangkatan tumor otak itu seperti apa? Apa tempurung kepala dibuka semua? Apa hanya disayat? Atau malah semacam pake jarum dan tumornya disedot?
Barulah kemudian saya tahu bahwa ingatan jangka panjang disimpan di Lobus temporalis bagian kiri otak. Melalui beberapa blog para penderita tumor otak yang berhasil bertahan, saya juga tahu operasi pengangkatan hanya memerlukan sebuah sayatan, dan kepala tidak dibebat perban sepenuhnya.
Saya juga masih harus mencaritahu tentang perawatan pasca operasi, obat-obatan kemoterapi, dan lokasi di mana tumor bisa menyebar.
Terus, selain kerangka dan riset, ada satu hal lagi yang penting dalam sebuah naskah novel, yaitu tokoh. Saya ingat salah satu editor saya pernah bilang untuk mempermudah menciptakan karakter adalah menciptakan karakter yang mirip dengan diri saya sendiri atau orang yang dekat dengan saya. Jadi, itulah yang saya lakukan dengan WTSF (terlebih karena sudah eneg dengan riset, jadi nggak mau mikir terlalu berat untuk karakter).
Saat proses penulisan, beberapa bab naskah ini sempat saya ikutkan dalam ajang GWP, tapi sayang sekali tidak bisa masuk sebagai salah satu yang beruntung. Tapi, saya tetap berusaha menyelesaikan naskah ini.
Draf nol (saya menyebutnya draf nol, karena alur belum fix) naskah ini selesai Januari 2015. Saya meminta beberapa orang untuk membaca naskah tersebut dan, ternyata ada beberapa masukan yang membuat saya harus merombak naskah tersebut.
Tahu tidak bahwa dulu:
1.      Billy saya tulis sebagai gay yang suka pada Sam
2.      Posisi Billy dan Leon terbalik di twist pada akhir cerita
3.      Leon dulu disebut tokoh sia-sia dan lebih baik dihapus aja (*kasian)
4.      Baru keluar rumah sakit, Lynn sudah bisa keluyuran
Dan masih banyak lagi komentar-komentar kecil yang harus saya garap.
Saya harus merevisi naskah tersebut beberapa kali sampai akhirnya draf satu naskah tersebut jadi, dan akhirnya diterima di meja redaksi Penerbit Haru dan tiba di tangan teman-teman semua dalam bentuk buku yang covernya cantik banget ini!
Nah, kira-kira seperti itu proses kreatif When The Star Falls. Saya membuat playlist sendiri untuk naskah ini, karena ingin membangun suasana melankolisnya. Semoga suasana itu bisa tersampaikan dengan baik.
Akhir kata, mohon maaf kalau ada kekurangan dalam artikel ini, dan semoga artikel ini berguna bagi teman-teman semua!

***
Nah, Readers, artikel di atas ditulis oleh penulis tamu, lho. Siapa yang bisa nebak?
Siapa Kak Andry Setiawan? Betul banget!
Senang deh, penulis kece ini mau main dan jadi di My Little Library.
                                                   
Tulisannya juga keren ya? Akan sangat bermanfaat bagi Readers yang tertarik untuk menulis novel juga. Dan ternyata Kak Andy nggak Cuma kece dan keren, tapi juga baik hati. Kenapa? Karena sudah menyediakan 1 novel When the Star Falls untuk 1 orang Reader yang beruntung. Mau? Beneran mau? Ikuti langkah di bawah ini

1) Follow blog ini via GFC atau bloglovin (Cek sisi kiri atas side bar. Tepat di atas “My Favorit Book This Month”)
2) Follow akun twitter @konstantin0609  dan @atriasartika
3) Share link giveway ini di twittermu sambil mention kedua akun di atas dan pakai hashtag #BlogtourWTSF colek juga @penerbitharu ya :D
4) Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar
Setelah baca artikel di atas, kamu punya pertanyaan gak untuk Kak Andry? Atau mau ngasih pendapat tentang artikel di atas juga boleh. Oiya, satu orang cukup 1 pertanyaan ya :D
Sertakan data dirimu berupa nama, nama untuk follow blog ini (kalau beda dengan nama), akun twitter, email.
5) Periode giveaway ini: 4 November – 10 Desember 2015
6) Hanya untuk yang berdomisili di Indonesia

Nanti pertanyaan kalian akan dijawab langsung oleh Kak Andry ya. Jadi selamat berinteraksi dengan penulis keren dan baik hati kita ya :D

82 komentar:

  1. Ada kak :D aku mau nanya nih sama kak Andry.

    Pertanyaannya: ketika membuat cerita apakah kita perlu memperhatikan nama daerah/latar tempat agar menarik perhatian banyak orang? Soalnya, aku mau membuat cerpen dengan latar tempat daerahku sendiri, yaitu kota Lhokseumawe, Aceh. Cuma, aku takutnya orang tidak akan tertarik dengan latar tempat seperti itu.

    Mohon dijawab yaa :D

    Nama:Adriani febrina
    Nama follow blog: Adriani Febrian (Via GFC)
    Akun twitter: @FebrinaAdriani
    Email: @orizuka414@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/FebrinaAdriani/status/67257600159179571

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Adriani,

      Sepanjang latar tersebut kuat, tidak perlu takut orang tertarik atau tidak.
      Malah menurut saya, orang akan tertarik pada daerah yang jarang mereka ketahui. Saya tertarik dengan latar Lhokseumawe! Mungkin karena itulah novel dengan latar luar negeri malah disukai, karena mereka ingin tahu tempat itu.

      Yang penting, bawakan latar tersebut dengan kuat, terutama deskripsinya. Baik itu deskripsi tempat itu sendiri, juga budaya di sana.

      Semoga menjawab pertanyaannya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  2. Selamat pagi teman-teman semua, dan terima kasih Atria atas kesempatannya!

    Selama seminggu ini, saya akan nongol di blog My Little Library ini dan menjawab pertanyaan teman-teman.

    Sebelumnya, mohon maaf kalau sekiranya ada kekurangannya.

    Salam,
    Andry

    BalasHapus
  3. Nama : Ana Anggraini
    Nama Follow blog : Ana Anggraini
    Akun twitter : @ukhty_ana
    Email : anggrainiana94@yahoo.com
    Link share : https://twitter.com/Ukhty_ana/status/672604118163128321
    “Setelah baca artikel di atas, kamu punya pertanyaan gak untuk Kak Andry? Atau mau ngasih pendapat tentang artikel di atas juga boleh. Oiya, satu orang cukup 1 pertanyaan ya :D”
    Bagaimana cara kak Andry membuat Karakter-karakter dalam cerita kakak menjadi hidup dan tidak terasa seperti hanya cerita karangan? karna aku agak sulit membuat karakter dalam cerita itu terasa nyata bahkan karakternya terkesan kaku dan terasa banget ceritanya dikarang. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Ana,

      Untuk karakter, coba membuat karakter yang mirip dengan orang-orang dekatmu. Misalnya saudara, orangtua, atau teman dekat. Perhatikan bagaimana mereka bersikap dalam menghadapi masalah.

      Juga, jangan lupa memberikan sifat buruk pada tokohmu, dan latar belakang kenapa mereka memiliki sifat tersebut.

      Misalnya, seorang pemuda yang atletik, tampan, setia kawan, tapi dia arogan dan nakal. Kenapa? Dia nakal karena broken home, dia nakal dan arogan karena ingin menarik perhatian kedua orangtuanya yang bercerai. Dia setia kawan karena teman-temannya lah yang membantunya melalui masa sulit perceraian kedua orangtuanya.

      Jadi, kamu harus tega pada tokohmu. Berikan sifat buruk, juga latar belakangnya. Memang kadang nggak tega sih, terutama pada tokoh yang cakep (*eh), tapi sifat buruk dan latar belakang itulah yang membuat mereka lebih terlihat sebagai manusia.

      Semoga berguna.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. Terima kasih kak Andry jawabannya :) bermanfaat sekali *buru-buru lirik
      teman-teman* :D

      Hapus
    3. https://twitter.com/Ukhty_ana/status/672626892063703042 kalau link share yang tadi gak bisa link share yang ini yah kak Atria :) makasih

      Hapus
  4. Selamat pagi teman-teman. Terima kasih untuk Atria atas kesempatan yang diberikan. ^^

    Selama seminggu ini aku akan ada di sini untuk menjawab pertanyaan teman-teman semua. Sebelumnya, mohon maaf ya kalau ada yang tidak berkenan.

    Mohon bantuannya.

    Salam,
    Andry

    BalasHapus
  5. nama: naely ulya
    akun twitter:@naelyulya
    nama untuk follow blog: naely ulya
    email:@naelyulya@gmail.com
    link share: https://twitter.com/NaelyUlya/status/672617034518159360
    menurut kak andry, bagian tersulit saat menulis sebuah novel itu apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Naely,

      Bagian tersulit menurut saya adalah konsistensi karakter dan membuat alur, karena dua hal itu adalah yang menurut saya paling dasar.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  6. Nama: Anggita dewi
    Nama untuk follow blog: Anggita Ravina
    Akun twitter: @Anggitarav
    Email: ravinaanggita@gmail.com

    Hai kak andry!
    Ternyata kita punya kesamaan yang buruk, malas buat kerangka. Tapi kalo kak andry bisa menyelesaikan masalah itu, sedangkan aku sampai saat ini belum.
    Jujur aja sih, banyak banget post-it di dinding kamar dengan kata-kata motivasi menulis lah, tips menulis, yang (mungkin) bisa bikin aku termotivasi buat nulis. Tapi tetep aja pas buat kerangka malah aneh, mau langsung nulis aja...
    Tiba-tiba ngeblank pikiran. Dan aku belum nemuin solusi buat nulis yang lancar adem anyem versi penulis-penulis hebat sekalipun.
    Mau buat versi aku, tapi aku cuman amatiran... Hehe
    Ini keresahanku sendiri sih sampai saat ini :'D
    Kalau kak andry keresahan sampai saat ini apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Anggita,

      Hehe, sama-sama malas buat kerangka, ya.
      Meskipun tidak membuat kerangka, tapi paling tidak kamu harus tahu dulu ceritamu ingin kamu bawa ke mana.

      Untuk keresahan sekarang mungkin sedang tidak ada. Paling naskah yang statusnya masih menggantung, belum ada tanggapan dari penerbit. Menunggu memang bikin orang nggak sabaran.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  7. Nama: Eris Andriani
    Follow blog via GFC: Eyis yis
    Twitter: @RizAnNie88
    Email: ayaseyis@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/RizAnNie88/status/672622588678434822

    Haii kak Andry wah nama kita sama ya hehehe.
    Pertama.tama aku mau ngucapin selamat dulu sama kak Andry atas terbitnya novel When The Star Falls dan Sayap-Sayap Kecil yg covernya unyu maksimal. Maaf ya kak telat ngucapinnya. Hehe

    Berhubung aku kepo bgt sama novel WTSF ini, ikut GA sebelumnya juga belum beruntung (eh jujur banget) jadi aku coba baca review di beberapa blog. Banyak yg bilang kalau plot twist di akhir cerita membuat kesan manis yg sulit dilupakan setelah dibaca. Namun hampir semua mengatakan bahwa kurang mendapat gambaran yg jelas, mengenai latar tempat yg hanya disebutkan kota di Jawa Timur. Sebagai anak Jatim aku juga kepo nih kak hehe.

    Pertanyaannya:
    Kenapa kak Andry tidak menjelaskan lebih rinci tentang nama kota ini, apa kota ini memiliki kesan pribadi bagi kakak sehingga tidak perlu dijelaskan secara rinci? Atau kakak memang ingin membuat pembaca penasaran? Hehehe

    Ini intermezzo aja kak: Akun twitter kakak kan @konstantine0609, sbg pecinta film thriller, fantasi dan horor dlm bayanganku langsung menuju ke sosok John Constantine yg diperankan oleh Keanu Reeves di film Constantine deh hehe, bener gak sih kak? (Duh arek iki kakean takon) hehe


    Terima kasih kak Andry atas waktunya , mohon maaf kalau ada kata-kata yg kurang berkenan. Aku hanya cewek biasa dengan sejuta mimpi (lhoo malah curhat) hehe. Sukses terus buat kak Andry, ditunggu karya.karya selanjutnya, :)

    Sekian matur thank yuu ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Ayis,

      Thank you ucapannya. ^^

      Untuk setting, banyak banget nih terima kritik tentang itu. Bukannya sengaja juga, tapi untuk When the Star Falls aku ingin menekankan pada karakter tokoh-tokohnya. Jadi, setting mungkin agak kurang tergali dengan baik. Masih butuh banyak belajar nih.

      Untuk Konstantin, erm... Sebelum ada film itu saya sudah memakai alamat email tersebut. Nemu nama itu kalau nggak salah ingat dari buku sejarah, dari nama seorang kaisar.

      Semoga menjawab pertanyaannya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  8. Nama : Arum Okta Sukarta
    Twitter : @okta_s3233pm
    Email : arum.okta12@gmail.com

    Kak Andry , kalo gak salah kakak yang nerjemahin Girls In The Dark kan ?? Nah kira kira sulitan mana sih nerjemahin novel luar atau menulis novel sendiri ?? , trus kira kira kakak nguasain berapa bahasa sih ?? . Oiya satu lagi inspirasi kakak buat terus menulis itu siapa kak ? Udah itu aja kak eyke udah kebanyakan nanya .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Arum Okta,

      Ada kesulitannya masing-masing. Tapi kalau dilihat dari waktu, menulis sendiri membutuhkan waktu lebih panjang.

      Untuk bahasa asing, dua. Bahasa Inggris yang agak nggak keruan, dan bahasa Jepang yang syukurnya bisa dipakai untuk bekerja.

      Menulis adalah hobiku. Jadi... Aku hanya menjalankan hobi saja. Hehe.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  9. Nama: Qurrota A'yun
    Nama follow blog: Uyuneviosa
    Akun twitter: @Uyunistaff
    Email: uyun.uyuneviosa@gmai­l.com
    Link share: https://­mobile.twitter.com/­Uyunistaff/status/­672610234158989312?p=­v

    Hallo Kak Andry, mau tanya..
    Aku penulis pemula, jadi belum terlalu tau.. Kalo kerangka cerita itu kaya gimana ya? Apa jalan cerita runtut dari awal ampe akhir atau gimana? Trus cara bikin kerangka cerita yg ga ngebosenin itu kaya gimana ya?

    Mohon dijawab ya kak, terima kasih:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Ayun,

      Kerangka yang baik harus dari awal sampai akhir, agak tidak mengalami writer block di tengah-tengah.

      Pertama, tulislah apa yang ingin kamu tulis. Kamu harus tertarik dengan naskahmu sendiri. Terus karena ini cerita, setiap bab harus ada sumbangsihnya ke cerita supaya ceritanya berjalan. Bab yang tanpa tujuan atau sumbangsih, berarti bab yang tidak perlu.

      Semoga menjawab pertanyaanmu.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  10. Sebelum memberikan pertanyaan, aku mau kasih 'congrats' dulu buat kak Andry untuk novel terbarunya "When The Star Falls" dan juga "Sayap Sayap Kecil". Selamat ya kak, selalu sukses :)

    Novel ini kan udah kaka tulis tahun 2005 dan waktu itu kak Andry mengirimkan naskah ke penerbit tapi ditolak *sabar ya kk* dan juga novel ini sempat terhenti lama. Di akhir tahun 2014 kakak mempunyai ide lagi.

    Dan pertanyaannyanya

    " Kenapa kak Andry setelah 9 tahun, memilih untuk melanjutkan novel When The Star Falls yang telah berlalu? Dan tidak mencoba membuat cerita yang baru?

    Terima kasih :)

    ~~~~~~~~~~~~~
    Nadia Zulpa Aulia (nama follownya sama)
    @nadia_zulpa
    nadia.aulia99@yahoo.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Nadia,

      Karena saya ingin menyelesaikan apa yang belum saya selesaikan.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  11. Nama : Rigita Cahyani
    Nama follow akun : Rigita Cahyani
    Twitter : @Rigita2110
    Email : crigita07@gmail.com

    Aku mau tanya, minta saran sh sebenarnya.
    Kak andry aku kan lg proses menulis naskah novel dan aku sebarin di wattpad, itu pengalaman menulis pertama aku.
    Gaya menulis aku suka banyak penjelasan suasana atau apa aja dan lebih banyak dari dialog, apa itu termasuk naskah yang baik? Takutnya pembaca akan bosan.

    Makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Link share : https://twitter.com/Rigita2110/status/672642214497923073

      Hapus
    2. Hi Rigita,

      Tulislah apa yang kamu suka. Kalau kamu tidak menikmati tulisanmu, berarti orang juga nggak bisa menikmatinya dan bosan.

      Novel dengan banyak narasi juga lumayan banyak kok. Misalnya serial Game of Thrones. Dia banyak banget narasi. Malah bisa satu dua halaman narasi semua. Tapi tetap seru. Yang penting kamu menikmati apa yang kamu tulis.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  12. Darimana kak Andry mendapatkan inspirasi membuat novel When The Stars Falls? Dari pengalaman pribadi kah?

    Terima kasih :)

    Nama : Tasya
    Akun GFC: Tasya Amanda
    Akun twitter : @tasyaamanda95
    Email : tasyamanda9525@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Tasya,

      Dari melamun, baca buku, nonton youtube dan dengar musik.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  13. Nama: Hany Adiasih
    Nama follow blog: Hany Adiasih (Via GFC)
    Akun twitter: @hany_aln
    Email: hanyadiasihh@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/hany_aln/status/672661497072390144

    Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, tapi cuma boleh satu ya? aku tanya yang paling bikin aku penaaran deh.

    Novel kakak sebelum dirombak dulu berarti ada unsur gay kan? nah pertanyaan aku, Bagaimana respon mereka ketika membaca naskah kakak? Aku pengen tau respon orang-orang umum tentang cerita berlatar belakang gay kak, karena menurut aku itu menarik. sudah terimakasih, semoga novel-novel kakak selanjutnya semakin bagus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Hany,

      Waktu itu cara membawakannya yang kurang baik. Sebagian besar teman-teman mengatakan bahwa itu terlalu memaksa dan malah membuat ceritanya kacau.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  14. Nama> rahmad halomoan hrp
    Twit >@halomoan_rahmad

    Hy kak andry, saya ingin bertanya nih, kalau cerpen sudah siap ditulis, lalu bagaimana dan kemana di kirim cerpen itu agar kita bisa tau cerpen itu dapat di terima atau tidak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Rahmad,

      Bisa search di google tentang majalah-majalah yang menerima cerpen. Bisa juga diikutkan lomba.

      Yang penting kamu aktif dalam mencari informasi tentang cerpen.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  15. Nama: Firdha Amelia
    Nama untuk follow blog: Firdhaamelia18@yahoo.com (via Bloglovin)
    Akun twitter: @Firdhamelia_ Link: https://twitter.com/Firdhamelia_/status/672681688447643648
    Email: Firdhaamelia18@yahoo.com
    Hai, kak. Aku mau nanya nih. Aku suka bikin cerita, dan sempet punya rencana untuk bikin novel. Tapi, aku suka bingung buat nentuin kalimat awal, pedahal jalan ceritanya udah muncul di pikiran. Ada usul ga kak untuk mengatasi ini? Terimakasih :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Firdha,

      Banyak-banyak baca buku dan perhatikan kalimat pertamanya. Terutama buku dengan tema yang mirip dengan cerita kamu. ^^
      Kadang dari situ bisa muncul inspirasi.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  16. Hai, Kak Andry.
    Saya mengalami hal yang kurang lebih sama dengan Kakak, terkait kerangka dan riset yang nantinya akan digunakan untuk membangun cerita. Meskipun kadangkala saya sudah menyiapkan alur, penokohan, bahkan beberapa potongan dialog, saya sering digoyahkan ide dadakan saya sendiri. Hal ini yang kerap menghambat proses menulis saya. Jika Kakak tidak keberatan, saya ingin tahu bagaimana cara Kakak menjaga konsistensi karakter tokoh, menyajikan alur cerita yang menarik tanpa kesan berbelit, dan membangun konflik dengan penyelesaian masalah yang tidak terkesan 'memaksa'. Terimakasih, Kak Andry.

    Salam,
    Eka Sasie

    Nama: Eka Sasining Putri
    Nama akun untuk follow blog: Eka Sasie
    Akun twitter: @cha_ichie
    e-mail: ekasasie@yahoo.co.id
    Link share: https://twitter.com/cha_ichie/status/672714527025315840

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Eka,

      Wah, ide dadakan memang sering muncul. Hehe.
      Tapi, kamu harus bisa mempertimbangkan apakah ide tersebut bisa memberikan sumbangsih yang lebih bagus pada alurmu atau tidak. Kalau menurutmu alur yang baru lebih oke, kenapa tidak?

      Untuk karakter, aku berusaha hanya memberikan satu sifat baik dan satu sifat buruk. Kalau terlalu banyak, biasanya aku masih belum bisa konsisten.

      Untuk alur yang menarik… aku sebisa mungkin menikmati saat menulisnya. Kalau saat menulis aku tidak bisa menikmati, berarti itu tanda-tanda bahwa alurnya mulai berbelit dan tidak menarik.

      Untuk konflik dan penyelesaian, harus dibangun dari awal pelan-pelan. Di WTSF, aku menyangkutkan semua konflik dengan karakter tokoh dan latar belakang mereka.

      Semoga menjawab pertanyaannya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. Terimakasih atas jawaban Kakak. Saya belajar banyak dari Kakak. Senantiasa sukses, Kak Andry.

      Salam,
      Eka

      Hapus
  17. nama: mariyam
    twitter: @mariyam_elf
    email: mariyam.riya96@gmail.com

    aku mau tanya nih kak.
    kan aku baru nyoba ikut lomba cerpen gitu, nah aku selalu kesulitan dalam hal penjabaran karakter tokoh maupun latar tempat.
    gimana caranya biar gak susah membuat suatu gambaran tentang tokoh dan latar tempat yang kita buat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Mariyam,

      Untuk mempermudah, mungkin kamu bisa membuat karakter yang mirip dengan orang yang dekat dengan kamu, atau bahkan kamu sendiri. Untuk latar tempat, banyak-banyak riset untuk tempat yang tidak kamu ketahui. Kan sekarang ada google maps yang bisa membantu kamu. Atau untuk mempermudah, ya gunakan kota tempat tinggal kamu.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  18. nama : RIZKI HANDAYANI
    nama untuk follow : rizki yannie
    twitter : @yannie_minnie
    email : rizki.yannie@gmail.com
    link share: https://twitter.com/yannie_minnie/status/673056145523650560

    aku punya pertanyaan nih buat kak andry :). aku lagi nyoba-nyoba nulis novel nih kak. tapi, mungkin karna aku nulisnya suka tergantung mood. klo mood-ku lagi bagus nulisnya lancar banget tapi, klo mood-ku lagi kurang bagus ide-ide di kepala ku langsung lenyap entah kemanadan ujung-ujungnya aku jadi kesulitan buat nerusin jalan ceritanya. kira-kira apa ya kak yang harus aku lakuin untuk mengatasi masalah mood yang kadang-kadang naik turun saat manulis ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Rizki,

      Aku pun juga harus menjaga mood untuk menulis. Kalau mood itu sudah rusak, menulis pun tidak akan ada hasilnya. Pasti nanti aku hapus dan ulangi lagi.

      Kamu sendiri yang harus bertanggung jawab menjaga mood itu. Misalnya nggak marah pada orang lain, atau nggak merasa jengkel.

      Untuk merangsang mood itu, kamu juga harus menentukan kapan kamu paling nyaman untuk menulis. Kalau aku, aku biasa menulis saat pagi setelah minum kopi. Musik juga membantu. Kamu bisa membuat playlist untuk menjaga mood kamu selama menulis.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. terima kasih kak, atas jawaban dan sarannya aaaa :) sangat membantu untuk pemula seperti aku

      Hapus
  19. Nama : Nanda Zulya Gustina
    Bloglovin : Nanda Zulya Gustina
    Twitter : @Nanda26Zulya
    Email : nandazulya@gmail.com
    Link Share : https://twitter.com/Nanda26Zulya/status/673053517037232129

    Kak Andry! tau ga, tulisan kakak diatas itu udah bikin saya ketawa2 sendiri. apa yang bikin lucu? itu tuh, kak andry yang harus bolak balik ngerombak naskah kakak sendiri. saya sempet mikir, kalo saya jadi kakak tu naskah mungkin udah keburu lapuk dimakan rayap wkwkwk sampai akhirnya kira2 10 tahun berlalu, novelnya jadi juga!! Asikk, kak Andry hebat juga loh! STRONG! ;)

    Nah, ngomong2 nih. yang mau saya tanyain ke kakak itu, tentang gimana bikin cara nentuin judul yang pas buat novel atau cerpen yang udah kita buat? soalnya dari dulu, kalau saya buat cerita itu, selalu selesai ceritanya duluan, tapi judulnya belum ditentuin. makanya tuh banyak cerita yang udah saya bikin akhirnya disimpen gitu aja di laptop, soalnya mau di share juga bingung, kan harus ada judulnya. kadang saya udah tentuin judul di awal, eh malah jauh dari cerita yang dibuat. malah kadang jadinya ga nyambung dan terkesan udah ngasih tau isi ceritanya duluan sebelum dibaca.
    jadi gimana nih kak Andry solusinya buat nentuin judul untuk cerita yang udah kita buat itu? sayang nih cerita2 saya buat tanpa identitas wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Nanda,

      Haha Terima kasih pujiannya.

      Untuk judul, memang begitu. Yang paling penting adalah isi novelnya. Judul bisa menyusul nanti dan biasanya butuh semedi dulu. Haha. Untuk ini aku nggak ada tips atau saran yang spesial sih, soalnya aku juga kadang susah untuk menentukan judul.

      Mungkin kamu bisa membuat daftar panjang judul-judul yang muncul di kepala kamu untuk satu naskah. Kemudian, kamu coret satu-satu yang tidak sesuai dan aneh. Kalau belum klik dengan judul yang ada, ulangi terus.

      Semoga berguna.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  20. Nama: Leny H
    Nama follow blog: leny.hermi@yahoo.com (via bloglovin)
    Twitter: @Lenny66677291
    Email: leny.hermi@yahoo.com
    Pertanyaannya: naskah itu kan sudah kakak tulis dari tahun 2005, sudah kurang lebih sepuluh tahun yg lalu dan sekarang kakak garap kembali, apa sih yg membuat kak Andry menggarap naskah itu kembali dan memperbaikinya? Kenapa tidak buat naskah yg baru saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Leny,

      Naskah yang sudah susah payah digarap, kalau nggak direvisi kan kasihan. Apalagi alurnya sudah fix, karakternya sudah fix, tinggal cara menulisnya dan cara penyampaiannya yang nggak greget. Jadi, memang perlu dirombak. Sayang kalau ide yang sudah ada dibiarkan mati.

      Kenapa tidak membuat naskah baru saja? Karena masih belum menerima wangsit, jadinya yang lama saja yang digarap. *hehe

      Salam,
      Andry

      Hapus
  21. Melakukan riset sesuatu yang menyenangkan dan juga melelahkan ya kak? Apa tipsnya biar gak bosan atau melewatkan riset untuk suatu buku yang akan ditulis?

    Nama: Andria
    Follow blog via GFC: Mawar Hs
    Akun twitter: @goodenoughoks
    Email: mawarhs12@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Andria,

      Tulis dan riset bidang yang kamu sukai.
      Karena riset adalah kewajiban penulis. Tanpa riset bisa-bisa tulisan kita jadi penuh info yang salah, atau logika yang nggak bener.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. Terima kasih kak atas tipsnya :)

      Hapus
  22. Azzah Hanifah
    Azzah Hanifah (GFC)
    @azhanifa
    azha.4224@gmail.com
    https://twitter.com/azhanifa/status/673111064045752320
    Wew, aku bacanya agak ngeri sendiri. Keren sangat. Patut diteladani sifat pantang nyerahnya Kak Andry. Entah dalam proses penulisan maupun pengajuan ke penerbit. Salut!
    Pernah enggak sih kepikiran buat menyerah saat memperbaiki/melanjutkan/merevisi novel When The Star Falls dan gimana cara mengatasinya? hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Azzah,

      Nggak pernah kepikiran untuk menyerah kok.
      Kasihan kan tokoh-tokoh yang sudah ada, kalau ceritanya tidak disampaikan ke pembaca.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  23. Nama: ayyu
    Nama follow blog: Kim yuHwa (via GFC)
    Akun twitter : @ayyu2193
    Email: kim_yuHwa@yahoo.com
    Link Share: https://mobile.twitter.com/Ayyu2193/status/673116502766186497?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C2177599548

    Hai kak andry, Aku mau nanya nih Gimana sih cara menjaga mood kita dalam menulis..?? Soalnya aku sering banget ngalamin 'kebuntuan ide' dipertengahan cerita dan akhirnya suka bikin aku males buat lanjutin nulis dan ujungnya cerita aku itu gg pernah selesai-selesai. Mohon sarannya yaah kak^^ makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Ayyu,

      Buat kerangka dan konsep cerita dari awal sampai akhir. Meskipun tidak tertulis, yang penting kamu tahu arah cerita kamu dari awal sampai selesai. Dengan demikian tidak ada alasan kamu kehabisan ide, karena sudah terpola semuanya.

      Untuk jaga mood, coba tentukan kapan kamu paling nyaman untuk menulis. Kalau aku, aku biasa menulis saat pagi setelah minum kopi. Musik juga membantu. Kamu bisa membuat playlist untuk menjaga mood kamu selama menulis.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  24. Nama : Erdina Yunianti
    Email : erdinayunianti21@gmail.com
    Twitter : @Dinnaaa_27
    Link share : https://twitter.com/Dinnaaa_27/status/673125320661200897
    follow blog via GFC : Erdina Yunianti

    Halo, Kak Andry :) Salam kenal dari saya. Semoga berkenan menjawab beberapa pertanyaan dari saya, ya
    Pada kenyataannya yang kita ketahui kan novel dengan genre romance itu sudah bertebaran dimana-mana dengan kemasan ide atau jalan cerita bahkan konflik-konflik yang disajikan di setiap novel itu berbeda. Nah, itu berarti saingan untuk menarik perhatian pembaca nih berat banget kak. Bagaimana siasat kakak menghadapinya. Tetap percaya diri saja dengan hasil karya kakak karena sudah yakin bahwa apa yang kakak tulis dalam buku ini juga memiliki something different yang bakal punya daya tarik sendiri yang membuat beda dari buku lainnya. Atau mungkin karena kakak merasa sudah banyak penggemar jadi yakin saja nih ngeluarin buku apa saja pasti dibeli deh oleh mereka entah apakah karyanya bagus atau tidaknya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Erdina,

      Aku percaya setiap orang punya cara mereka masing-masing dalam meramu sebuah cerita. Meskipun idenya sama, dan alurnya mirip, pasti gaya bahasa dan cara penyampaiannya ada seribu satu macam.

      Kalau aku sendiri, selama aku menikmati saat-saat bersama tokoh-tokoh dalam ceritaku, aku akan menulis apa yang ingin aku tulis, dan tidak memikirkan apakah naskah yang aku tulis punya something different.

      Aku juga percaya kalau kita menikmati saat-saat kita menulis, pembaca juga pasti bisa menikmatinya. Kalau kita sendiri tidak bisa menikmati karakter kita, kita tidak bisa meminta pembaca untuk menikmatinya, kan?

      Salam,
      Andry

      Hapus
  25. Nama: Evita
    Following this blog by GFC (Evita)
    twitter: @evitta_mf
    email: evita.mf27@ymail.com
    link share: https://twitter.com/evitta_mf/status/673146523308322816

    Hai kak Andry, aku salut banget sama naskah ini ternyata udah ada dari tahun 2005. Keren ya, walau harus ditolak dulu hingga akhirnya diterbitkan, tapi aku suka baca dari respon pembaca novel WTSF ini kalau ceritanya bagus. Pastinya itu semua karena melewati proses yang sangat panjang.
    Aku juga punya cita-cita kaya kak Andry, jadi penulis novel. Bodohnya aku selalu berenti di bab 2. Bahkan parahnya lagi selalu berenti di bagian kerangka. Mungkin karena aku kurang sabar sama yang namanya proses dan kurang konsisten. :(
    Yang mau aku tanyain gimana ya kak supaya bikin kisah dalam novel yang nggak ngada-ngada banget, juga bagaimana membuat dialog yang hidup?
    Terimakasih kak Andry... ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Evita,

      Agar naskah bisa hidup, ya....
      1. Buat tokoh serealistis mungkin. Jangan hanya sifat baiknya saja, tapi sifat buruknya. Selain itu, setiap tokoh juga pasti punya latar belakang dan 'sejarah'nya masing-masing. Sifat dan latar belakang itu yang memberikan efek pada dialog mereka agar bisa hidup.
      2. Riset. Jangan malas riset, karena tanpa riset, naskah akan terasa tidak berbobot.
      3. Setiap bab harus punya tujuannya. Bab yang tanpa tujuan dan tidak memberikan sumbangsih pada jalan cerita, tidak berguna dan lebih baik dihapus saja.
      4. Setiap tokoh harus punya peranan. Tokoh yang tidak berguna lebih baik dihapus, misalnya Leon dalan WTSF di draf nol sempat disarankan untuk dihapus, tapi untungnya dalam revisi aku bisa membuat tokoh ini berguna, jadi tidak perlu dihapus.

      Kira-kira seperti itu. Semoga berguna.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  26. Aku rasa itu akan menarik kalau kak andry tidak merombak naskah awal, bagian dimana billy itu agak belok atau mungkin benar-benar belok. apalagi kalau lynn sempat cemburu dengan billy.. tapi sebagai penulis kakak pasti berpikir banyak, terutama tentang respon dari publik.

    Jadi, apa kita harus memikirkan respon seperti apa yang kita dapat nantinya ketika kita sedang menulis? khususnya menulis dengan tema yang yang tidak biasa…
    Aku pikir fine-fine saja kan kalau kita menulis apa yang ingin kita tulis tanpa harus berpikir apa yang reader inginkan. Tapi kalau begitu akan ada banyak hati yang kecewa ya.. atau bisa jadi novelnya yang tidak laku. menurut kakak?

    aku sangat penasaran akan seperti apa tanggapan kakak. Terimakasih sebelumnya..

    Nama : Sari Rizki
    Nama follow blog: Sary Choi (via GFC)
    Twitter : @ryeroro
    Email : pappermint94@gmail.com

    link share : https://twitter.com/ryeroro/status/673495310753075200

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Sari,

      Untuk Billy, aku merevisi Billy, bukan karena khawatir dengan opini publik, tapi lebih ke gregetnya cerita. Kalau kamu sudah baca WTSF pasti mengerti. ^^ Memang lebih greget yang ini daripada Billy suka sama Sam.

      Untuk menulis dengan tema yang tidak biasa, aku pikir itu sangat sah. Di luar sana banyak kok novel dengan tema yang sedikit sensitif seperti LGBT. Dan menurutku dengan adanya novel-novel dengan tema sensitif akan sangat membantu kita membuka mata kita terhadap apa yang ada di luar sana.

      Salam,
      Andry



      Hapus
  27. Nama: Mellisa Assa
    Namu akun utk follow: Mells_A (via bloglovin)
    Twitter: @Mells_A
    email: mishapink2507@gmail.com
    link share: https://twitter.com/Mells_A/status/673674237966594048

    Pertanyaan buat Andry Setiawan:
    Bagaimana cara membangkitkan semangat saat naskah ditolak? Dan apa yang pertama kali direvisi dari naskah yang ditolak tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Mellisa,

      Apa ya... sayang aja kalau naskah sampai mengendap dan tidak diapa-apain.
      Untuk WTSF aku rombak total mulai dari gaya bahasa, latar tempat, sampai tokoh-tokohnya, tapi alurnya tetap sama.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  28. Nama: Rizcha Mawadah
    Akun twitter: @chaecungmochi
    Email: rizcha_10@yahoo.co.id

    Karena buku ini buuh riset yang lumayan banyak, pernah gak sih kak Andry ngerasa males riset sampai jadi writers block? Makasih atas kesempatan bertanyanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Rizcha,

      Khusus untuk buku ini, tidak pernah.
      Aku sudah mempersiapkan alurnya, jadi writers block di alur tidak terjadi. Untuk riset, memang di beberapa tempat aku harus berhenti menulis sejenak untuk mencaritahu beberapa hal, tapi semuanya lancar.


      Salam,
      Andry

      Hapus
  29. Nama : Rima Dwi Andina (sama dengan yang follow blog via GFC)
    Twitter : @andinarima (https://twitter.com/andinarima/status/673838873047273472)
    Email : rimadwiandina[at]gmail[dot]com

    Pertanyaanku untuk Kak Andry
    "Kenapa sih Kakak males banget kalau nge riset?"
    Padahal kan riset tuh salah satu langkah penting agar cerita kita nggak ada yang 'bolong'.
    Dan, terkadang aku juga kalau lagi nulis suatu cerita, suka maleees banget riset, googling tentang sesuatu yang bisa nambah elemen ceritaku. Tapi ya itu, malesnya ampun-ampunan. Malah kalau udah siap internetan, akunya malah seluncur di socmed hehe.

    BalasHapus
  30. Hi Rima,

    Kenapa, ya?
    Rima sendiri kenapa males riset?
    Mungkin alasannya sama dengan Rima. Hehe.
    Tapi aku berusaha untuk memaksa diri melakukan riset, karena itu bagian penting dalam menulis novel.

    Salam,
    Andry

    BalasHapus
  31. nama : Isnaini Alfazcha
    nama untuk follow: Isni
    twitter: @isnalfa
    email: naina9498@gmail.com
    link share: https://twitter.com/isnalfa/status/673854193128505344
    pertanyaan:
    kakak bilang naskah Cerita ini sempat mengendap cukup lama. dan ketika dibaca ulang kakak merasa ceritnya emang amburadul dan makanya ditolak.
    apa yg membuat kakak merasa bahwa naskah kakak masih amburadul? apa yg kakak rasakan saat itu?
    keren semnangat kakak untuk memperbaikinya dan perjuangan risetnya. bener2 sabar dan tinggi keteguhan.
    terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Isna,

      Yang membuat terasa amburadul adalah penokohan yang tidak stabil, alurnya yang kadang berulang-ulang, bahkan ada bab yang tidak berguna, juga gaya bahasanya yang setelah dibaca-baca lagi terasa sangat aneh.

      Padahal, waktu aku menulis itu aku sudah merasa begitu yakin dengan hasil tulisan tersebut. Tapi ternyata setelah jeda beberapa tahun dan dibaca kembali… memang ada benarnya penerbit menolak naskahku.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  32. Nama: Gestha R
    GFC: Gestha Reffy
    Twitter: @AltGST
    link share:https://twitter.com/AltGST/status/673866963311976452

    Waaah, finally daku berkesempatan untuk mewawancarai penulis yang bukunya sedang jadi wishlist ku ini\m/


    Kak, aku agak aneh sekaligus takjub dengan cara menulis kakak yang umumnya berbeda dari penulis kebanyakkan. Langsung aja deh mau nanya, belajar dari pengalaman kakak apa sih kelebihan dan kekurangan kalau kita menulis naskah tanpa menggunakan kerangka terlebih dahulu (let it flow) ? Makasih kakak

    BalasHapus
  33. Hi Gestha,

    Banyak negatifnya daripada positifnya. Dan aku tidak menyarankan hal tersebut.

    Aku pun tidak 100% tanpa kerangka. Aku menulis tujuan tiap-tiap bab, tapi tidak menjabarkan terlalu detail. Ingat bahwa setiap bab harus ada tujuannya. Bab yang tanpa tujuan harus dihapus karena tidak memberikan sumbangsih pada jalan cerita.

    Misalnya:
    Bab 1: Tentang ingatan Lynn, tentang hubungan Sam dan Billy
    Bab 2: Teman-teman SD menjenguk, colek masalah dengan Leon
    Bab 3: Munculkan masalah keluarga Sam, terutama ayahnya
    Bab X: Klimaks masalah dengan Ayah
    Bab Y: Penyelesaian masalah dengan Ayah
    … dan seterusnya.

    Sangat tidak aku sarankan menulis tanpa pegangan apa-apa sama sekali, karena hanya akan membuat kamu tersesat dan malah jatuh dalam writer's block.

    Salam,
    Andry

    BalasHapus
  34. Bintang Maharani
    @btgmr
    btgmhrn@gmail.com
    https://twitter.com/btgmr/status/674088877376806912

    Hai, salam kenal ya.

    Saya cuma penasaran sama satu hal.
    Awalnya di novel ini tokoh Billy adalah seorang gay yang suka pada Sam. Apakah novel ini sejak awal memang diproyeksikan untuk tema LGBT? Lalu apa alasannya sehingga bagian itu dirombak dan dihilangkan?

    Terima kasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Bintang,

      Tidak, pada draf awal, LGBT hanya sebagai konflik pendamping, jadi bukan konflik utama.

      Billy saya ubah, karena cerita akan lebih mengalir dan greget jika Billy ada di posisi sekarang. Juga, posisi Billy yang sekarang menjadi memungkinkan bagi Leon untuk berperan.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  35. Nama: Aya Murning
    Email: ayamurning@gmail.com
    Twitter: @murniaya
    Link share: https://twitter.com/murniaya/status/674255672758833152

    Sebelumnya aku sempat baca review novel ini dari beberapa blogger. Di situ disebutkan kalau Lynn, pacar Sam, setelah terbangun dari operasi tumor malah mengalami hilang ingatan, termasuk pada Sam. Akhirnya Sam dengan rajinnya tiap hari nyeritain semua tentang dia dan Lynn dari kecil bagaimana. Berharap ingatan Lynn kembali lagi, atau setidaknya dapat membuat Lynn jatuh cinta lagi dengannya. Begitu kan ceritanya?

    Nah, tiba-tiba aku langsung ingat dengan film THE VOW yang dibintangi Channing Tatum & Rachel McAdams. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, di mana si pasutri mendapat kecelakaan mobil dan si istri mengalami selective amnesia, kehilangan sebagian ingatannya untuk batas periode waktu tertentu. Bahkan dia juga lupa dengan suaminya. Sehingga si suami bertekad ingin membuat istrinya, yang sedang amnesia itu, dapat mencintainya lagi dari awal, sekali pun ingatan si istri nggak akan kembali lagi.

    Jadi, sekalian aku mau kasih pertanyaan nih. Apakah selama perombakan naskah ini di tahun 2014 waktu ikutan GWP batch 2, sempat dapat influence atau bahkan terinspirasi dari film THE VOW (2012) itu? Atau mungkin bukan dari film-nya deh, mungkin pernah baca kisah aslinya Kim dan Krickitt Carpenter di manaaa gitu... hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Aya,

      Tidak ada influence dari The Vow.
      Bahkan aku baru pertama kali dengar judul itu.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  36. Nama: Tri Wahyuni
    Bloglovin: Tri W Putri Mahmudin
    Twitter: @tewtri
    Email: triwahyuni.irawan3@gmail.com

    Halo, Kak Andry. Selamat untuk kelahiran anak barunya (WTSF). Semoga bisa dibaca banyak orang.

    Oke, di sini saya mau tahu pendapat Kakak saja deh. Menulis tanpa outline, jujur saya termasuk orang yang nyaman dengan cara ini tapi sekali kurang fokus alur sudah meluber kemana-mana, kadang kayak roller coaster kadang lagi malah ngantukin gara-gara terlalu lambat. Nah, dari cara pandang Kakak, bagaimana caranya untuk menjaga ritme alur tetap pas walau tanpa outline?

    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Tri Wahyuni,

      Karena sudah ada yang pertanyaan yang mirip dengan ini, aku copy jawabanku, ya.

      Aku tidak menyarankan menulis tanpa outline, karena banyak negatifnya daripada positifnya.

      Aku pun tidak 100% tanpa kerangka. Aku menulis tujuan tiap-tiap bab, tapi tidak menjabarkan terlalu detail. Ingat bahwa setiap bab harus ada tujuannya. Bab yang tanpa tujuan harus dihapus karena tidak memberikan sumbangsih pada jalan cerita.

      Misalnya:
      Bab 1: Tentang ingatan Lynn, tentang hubungan Sam dan Billy
      Bab 2: Teman-teman SD menjenguk, colek masalah dengan Leon
      Bab 3: Munculkan masalah keluarga Sam, terutama ayahnya
      Bab X: Klimaks masalah dengan Ayah
      Bab Y: Penyelesaian masalah dengan Ayah
      … dan seterusnya.

      Sangat tidak aku sarankan menulis tanpa pegangan apa-apa sama sekali, karena hanya akan membuat kamu tersesat dan malah jatuh dalam writer's block.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  37. Nama: Cahya
    Follow via GFC: Cahya S.
    Email: cahyasptm@gmail.com
    Twitter: @chynrm

    Setelah baca resensi dari teman-teman blogger yang lainnya, ada satu hal yang saya simpulkan bahwa Sam ini karakter yang sangat menyebalkan di awal cerita. Pesimis, mudah kemakan omongan orang, selalu berpikiran jelek, blablabla. Apakah memang sengaja Sam dibuat seperti itu untuk membuat pembaca jadi kepancing emosinya? Dan adakah sifat atau karater si penulis sendiri, yang secara sengaja atau pun tidak, terefleksi menjadi karakter dari tokoh Sam? Sifat apa saja contohnya kalau memang ada?

    Itu saja pertanyaan dariku.
    Thank you ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Cahya,

      Aku memang sengaja menulis tentang cowok-cowok yang lemah. Di naskah ini, semua yang bermasalah adalah cowok-cowoknya, termasuk para ayah, untuk menunjukkan bahwa cowok di dalam novel pun bisa tidak sempurna.

      Untuk sifat Sam, mungkin ada sedikit sifatku sendiri, yaitu sering memikirkan semuanya sendirian.

      Salam,
      Andry



      Hapus
  38. Nama: Eni Lestari
    Follow via GFC: Eni Lestari
    Email: shinra2588@yahoo.com
    Twitter: @dust_pain

    aku penasaran dengan playlist-nya nih. boleh kasih tahu gak lagunya sapa yang ada di playlist? apa lagunya lagu melow? aku suka lagu2 melow yang bikin suasana melankolis. enak banget kalo buat menggalau. apalagi kalo dengernya pas ujan turun :')

    BalasHapus
  39. Nama:Rina Eko Wati
    Nama follow blog: Hikari Mio (Via GFC)
    Akun twitter: @HikariMio
    Email: rinaeko87@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/HikariMio/status/674914899504422912

    Sebelumnya mau kasih ucapan dulu deh. Congrats ya kak atas terbitnya WTSF ini. Salut deh sama kak Andry, meskipun metode menulisnya ribet menurutku (karena menulis kerangka, riset dan menulis naskah semua bebarengan) tapi riset yang kak Andry lakukan memang patut diacungi jempol. Sampai sedetail itu sih. Jadi bener ya, penulis itu memang harus serba sabar. Sabar buat riset tentang cerita yang bakal ditulisnya (apalagi kalau risetnya membutuhkan waktu yang lama) sabar juga buat merevisi ulang kalau ada yang nggak srek, pokoknya macem – macem deh.

    Dan ini satu pertanyaanku buat kak Andry : “Bagaimana cara kak Andry menghindarkan novel – novel cinta yang kakak tulis agar tidak jatuh pada jenis novel cinta yang menye-menye?”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi RIna,

      Terima kasih ucapannya. Semoga suka dengan WTSF.

      Untuk pertanyaannya, menurutku kamu harus membuat sebuah premis yang besar untuk menggulirkan romancenya. Juga konflik sampingan juga bisa membantu. Misalnya di buku WTSF ada di masalah Sam yang ingin mengingatkan Lynn tentang kenangan mereka, dengan konflik sampingan masalah kedua ayah Sam dan Lynn.

      Semoga membantu.



      Salam,
      Andry

      Hapus
  40. Nama : Mukhammad Maimun Ridlo
    Nama Follow blog : Maimun Ridlo
    Akun twitter : @MukhammadMaimun
    Email : maimun_ridlo@yahoo.com
    Link share : https://twitter.com/MukhammadMaimun/status/674939129948332033
    “Setelah baca artikel di atas, kamu punya pertanyaan gak untuk Kak Andry? Atau mau ngasih pendapat tentang artikel di atas juga boleh. Oiya, satu orang cukup 1 pertanyaan ya :D”
    Bagaimana cara kak Andry mengatasi masalah kehilangan mood dan motivasi ketika sedang menulis ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Maimun,

      Untuk mengatasi mood:
      1. Jaga mood, jangan terpancing emosi baik itu emosi sedih, marah, kecewa, dll. Sudah jadi tugas kita sebagai penulis untuk menjaga mood sendiri.
      2. Buat playlist musik untuk sebuah karya. Jadi, kamu bisa mendengarkan lagu-lagu tersebut sebelum mulai menulis.
      3. Buat imaginary cast, kadang juga bisa membantu untuk membuat karakter.

      Semoga berguna.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  41. Sebelumnya terima kasih banyak lho kepada kak Andry yang udah mau memberikan waktu nya untuk menceritakan
    proses kreatif dari When The Star Falls ini. Sedikit banyak, bisa membantu kami para newbie... *eaaa, bahasanya ndah* :D

    Menurut saya, kakak kan 'sedikit' menyiksa para tokoh dalam novel WTSF ini nih terutama kedua tokoh utama. Nah,
    pertanyaan nya adalah adakah pesan moral yg ingin kak Andry sampaikan melalui tiap tokoh dalam novel WTSF ini?
    Dari sisi tokoh utamanya mungkin..?!
    Itu aja deh :D

    Sukses terus untuk karya-karyanya dan terima kasih untuk waktunya ^^

    Salam :)

    Nama : Nova Indah Putri Lubis
    Follow Via GFC : Nova Indah Putri Lubis
    Twitter : @n0v4ip
    Email : n0v4ip[at]gmail[dot]com
    Link Share : https://twitter.com/n0v4ip/status/674936327633170432

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Nova,

      Tentu saja ada.
      Tapi, untuk jawaban pertanyaan kamu, kamu harus mengikuti rangkaian blog tour ini, karena akan ada di salah satu artikel.

      Salam,
      Andry

      Hapus