Jumat, 13 November 2015

Walking After You



“Apa yang lebih menyakitkan? Tak bisa melihatmu lagi. Atau, menyadari bahwa aku kehilangan dirimu karena kesalahanku sendiri. Aku terlalu takut untuk percaya.” (Hal. 226)


Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Gita Romadhona & Ayuning
Penyelaras akhir: Mita M. Supardi & Widyawati Oktavia
Penata letak: Ria Kenes & Gita Ramayudha
Desainer sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal: viii + 320 halaman
ISBN:978-979-780-772-6
Masa lalu akan tetap ada.
Kau tak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An.
Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan  tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa – doa yang terbang ke langit. Doa – doa yang lupa kembali kepadanya.
An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari – hari lalu.  Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkah kau merasa seperti itu?
Tak bisa menyalahkan siapa – siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka?

Mungkinkah, kisah An seperti kisahmu.
Diam – diam, doa yang sama masih kau tunggu.
***

“Hujan kerap dikaitkan dengan kesedihan.” (Hal. 23)

Anise, yang lebih suka disapa “An”, memutuskan untuk bekerja di Afternoon Tea sebagai asisten koki. Membantu menyediakan berbagai kue untuk dihidangkan di Afternoon Tea. Ya, Afternoon Tea adalah sebuah toko kue. Pengunjung pun bisa memesan kue untuk di makan di Afternoon Tea.

An sebenarnya lebih menyukai memasak makanan Italia. Namun ia  harus melepaskan impian itu demi mewujudkan impian Arlet, saudari kembarnya. Ia harus membayar kesalahannya pada Arlet dengan memenuhi mimpi Arlet yang sangat gemar membuat kue. Meski itu berarti ia harus menyia-nyiakan semua usaha dan kesenangannya mempelajari masakan Italia. Ia berharap dengan itu ia Arlet akan memaafkannya dan menghapus bayangan kebencian yang ia lihat dari wajah saudari kembarnya itu. Hal terakhir yang ia lihat dari Arlet.

Bekerja di Afternoon Tea membuat An berkenalan dengan Julian. Julian adalah koki di Afternoon Tea. Tangannya piawai mengolah berbagai bahan menjadi kue. Tekstur yang pas dan penampilan yang memikat dan tentu saja dengan rasa kue yang lezat membuat Afternoon Tea ramai pengunjung. Sayangnya. An masih harus belajar banyak untuk membuat kue. Membuat kue berbeda dengan membuat pasta yang enak. Ini membuat An sering kali harus rela dimarahi oleh Julian.

Namun perlahan seiring dengan semakin mengenal Julian, An merasa tertarik pada laki – laki itu. Namun bagaimana dengan Jinendra? Laki – laki yang masih mengisi hati An namun setiap bertemu dengannya An harus menanggung rasa bersalah.

Bagaimana kehidupan An selanjutnya? Sanggupkah ia melepaskan mimpinya?

“Terima kasih. Aku tidak minta disukai. Kalau kue – kue buatanku bisa menyelamatkan hari seseorang, buatku itu sudah cukup.” (Hal. 57)

***

“Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik – baik saja.” (Hal. 256)

Bagi yang tidak suka membaca kata pengantar atau ucapan terima kasih sebuah buka, sebaiknya belajarlah untuk membaca bagian tersebut. Sebab kadang akan ada kalimat yang menarik yang terselip atau sebuah pemikiran yang mendalam tentang buku yang akan mulai dibaca tersebut. Seperti yang ada di novel ini. Sebuah kalimat menarik tertulis di dalamnya.

“Kita tidak pernah bisa menduga kapan dan dari mana ide datang. Terkadang, bukan kita yang menemukan ide. Ide yang menemukan kita.” (Hal. v)

Bagaimana menarikkan?

Ah, tapi mari melanjutkan membahas keseluruhan novel ini.

Novel Walking After You ini berhasil menyuguhkan cerita tentang makanan dengan sangat pas. Deskripsi kue dan makanan serta proses membuatnya menjadi bagian yang menyatu dengan cerita. Tidak hanya sekadar tempelan. Ia menjadi bagian cerita. Deskripsinya seolah membuat proses memasak adalah sebuah sihir. Dan penggambarannya atas kue – kue buatan Julian bikin saya pengin makan kue. *glek*

Alur cerita campuran dan POV 1 yang digunakan dalam novel ini pun berpadu dengan menarik. Sayangnya, tokoh An meski menggunakan POV 1 tetap terasa seperti menekan emosinya. Pembaca tetap berjarak dengan pengalaman emosional An. Saya belum benar – benar mampu terharu membaca kisah Anise dan Arlet. Padahal biasanya saya adalah pembaca yang cengeng (>_<) *ngaku dosa*

Selain itu, sedikit pendapat tentang cerita ini yaitu tentang hadiah ulang tahun An. Kemunculannya terlalu mendadak. Keinginan An untuk menemukannya muncul terlalu tiba – tiba.

Tapi di luar kekurangan itu, saya benar – benar menikmati pengalaman membaca novel Walking After You ini. Side story berupa kisah Ayu pun menarik diikuti. Saya suka cerita ini. Dan ikut terbawa rasa penasaran An tentang kehidupan Ayu.

Sekali lagi dibuat suka oleh karya Windry Ramadhina.

“Manusia cenderung mencari sosok pasangan yang membuat dia nyaman dan biasanya sosok yang membuat dia nyaman sangat mirip dengan orang – orang terdekatnya – ....” (Hal. 295)

2 komentar:

  1. wooo ada makan2 nannya yaaa

    suka dengan kutipan plg akhir

    BalasHapus
  2. wajib masuk wish list nih, apalagi membahas kue kue ><

    BalasHapus