Jumat, 20 November 2015

Love Is the End



“Saat menghabiskan waktu dengan seorang Aidan, kau tak akan bisa memikirkan hal lain. Matanya akan menyedaremu. Menuntut perhatianmu.
Melelahkan. Sekaligus seperti candu.” (Hal. 14)


Penulis: Christina Tirta
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 181 halaman
ISBN: 978-602-02-7343-3

Walau sudah lama tak bertemu, Naira tak sanggup melepaskan obsesinya terhadap Aidan Rahardja. Katakan saja norak, tapi Aidan memang cinta pertamanya. Katakan saja ini takdir, yang membuat mereka akhirnya kembali berjumpa di kantor tempat Naira bekerja dengan jabatan sebagai atasan baru Naira. Sayangnya, bukannya membawa harapan baru, Aidan malah kembali membuat Naira patah hati dengan mengumumkan bahwa ia telah memiliki kekasih bernama Ami. Tidak tanggung – tanggung, kekasihnya adalah keponakan GM di tempat ia bekerja sekaligus anak pemilik perusahaan.

Bobbi, kakak Ami, yang merupakan atasan Naira, membuat Naira semakin “gerah” dengan sifatnya yang jelas – jelas menunjukkan rasa tidak sukanya pada Naira. Tidak hanya itu, Bobbi seolah – olah menyimpan banyak rahasia dan melibatkan Naira di dalamnya. Merasa tak punya pilihan lain, Naira pun menjalankan tugasnya walau dengan perasaan kesal. Tugas – tugas yang akhirnya membuat Naira merasakan sesuatu yang lain pada Bobbi.

***

“Menurut gue, gue hidup adlaah pilihan. Lo punya kebebasan buat menjalani hidup lo sendiri. Kalau lo merasa pernikahan itu beban, just don’t do it. Buat apa dibikin susah?” (Hal. 27)

Love Is the End bercerita tentang kehidupan percintaan seorang Naira. Kehidupan percintaan yang hanya berpusat di satu nama, Aidan. Perasaan Naira yang oleh sahabatnya, Leila, disebut sebagai obsesi. Ini karena sejak duduk di bangku SMA, Naira tidak pernah bisa melihat lelaki lain selain Aidan. Bahkan saat Aidan tampak seolah mempermainkan hati Naira. Datang dan pergi sesukanya. Datang menyuburkan harapan di hati Naira, kemudian menghilang tanpa pesan meninggalkan Naira dengan hati yang kosong.

Hingga kali ini Aidan muncul lagi. Setelah menghilang tanpa kabar sama sekali. Seolah takdir sedang mempermainkan Naira. Saat Naira mulai memaksa dirinya melupakan Aidan yang telah menghilang tanpa kabar, mendadak Aidan muncul dan menjadi atasannya. Kemunculan Aidan kali ini seraya membawa masuk sosok baru dalam hidup Naira. Bobbi dan Ami. Ami adalah kekasih Aidan. Bobbi adalah sahabat Aidan yang juga kakak Ami serta menjadi atasan Naira di kantor.

Hubungan ini menjadi rumit saat Bobbi bersikap sinis pada Naira. Seolah berpikiran bahwa Naira akan merebut Aidan dari Ami. Bagaimana mungkin Naira merebut Aidan sedangkan ia tahu Aidan tidak mencintainya. Benarkan? Lantas bagaimana kalau dia salah?


Belum lagi posisi Naira di kantor memungkinkannya mengenal Bobbi lebih jauh. Ia pun mulai memerhatikan Bobbi. Menemukan bahwa laki – laki itu tidak sejahat yang ia pikir.

Tapi bagaimana hubungan Naira, Aidan dan Ami? Bagaimana akhir kisah cinta Naira?

“Kadang hidup itu bukan pilihan. Kadang lo harus berbuat apa yang menurut lo benar walau hati lo nggak sejalan. Mungkin bagi sebagian orang itu disebut pengorbanan yang mulia atau bullshit lain yang sejenis artinya. Tapi bagi gue, itu bukan pengorbanan. Itu keharusan. Lo hidup berarti lo bertanggung jawab sama siapa yang ngasih lo kehidupan itu.” (Hal. 28)

***

“Bahagia itu ilusi. Nggak pernah nyata. Tapi kalau lo nggak bisa bahagia, seenggaknya lo harus berusaha bikin orang di sekitar lo percaya bahwa lo bahagia supaya mereka ikut bahagia.” (Hal. 29)

Sekali lagi, novel tentang cinta pertama, patah hati pertama dan juga obsesi kembali sampai ke tangan pembaca. Kali ini semua hal itu terangkum dalam satu cerita dengan bumbu drama yang beragam.

Penggunaan POV 1 membuat cerita benar – benar berpusat di kehidupan Naira. Membuat sudut pandang cerita menjadi sempit tapi sekaligus tetap fokus. Menjadikan kehidupan percintaan sebagai centre point dalam novel ini.

Keluarga Naira tidak banyak disebut. Hanya sesekali menyebutkan tentang ibunya Naira. Tokoh pendukung yang paling banyak ditampilkan adalah Leila. Menariknya deskripsi tokoh yang mendapat porsi paling banyak adalah Ami menyusul Aidan. Sedangkan deskripsi Bobbi yang paling membekas hanya tentang senyum simpul pria itu. Tapi sosok Bobbi ini secara karakter sangat mudah membuat pembaca jatuh hati. Sikap dinginnya dan kaku jadi terasa manis saat ia bersama Naira. Sedangkan sosok Naira sendiri? Secara fisik kurang berkesan.

Cerita dituturkan mengalir. Dengan beberapa konflik yang mewarnai cerita dengan ending yang sedikit tidak terduga. Selain itu adegan yang ditampilkan dengan manis yang pas.

Hanya saja ada ada sebuah keanehan di halaman 102. Jika memang rumah itu bukan rumah yang biasa ditinggali Bobbi dan keluarganya, kenapa tersedia roti dan roti tersebut tidak expired, ya? He..he..

Oiya, filosofi cinta yang dianalogikan dengan nasi panas dan sambal ini menarik. Terdengar lucu tapi juga tepat.

Novel Love Is the End ini cukup manis. Twistnya pun menarik. Selain itu, novel ini pun quote-able banget :D

“.... Dan lo tau apa yang terjadi pada hubungan yang dilandasi air mata? Fondasinya bakal lapuk dan ambruk. ....” (Hal. 45)

***

“Hidup memang seperti ini. Sekali lo bikin kacau, lo nggak akan bisa memutar ulang waktu. Tapi bukan berarti kita harus menghabiskan sepanjang hidup kita buat menyesali kesalahan kita, kan? Waktu itu nggak berasa. Dalam sekejap mata, kita nyaris sampai di garis finish dan waktu kita di dunia ini habis. Jadi, kita bisa membuat semua yang rusak dan memulai sesuatu yang baru. Nikmati hidup. Kedengarannya gampang, ya?” (Hal. 48)

“..., cari pasangan yang setia dan benar – benar menyayangi kalian. Bukan cuma setia di saat senang, lho. Tapi setia di waktu susah juga. Hidup ini nggak bisa ditebak.” (Hal. 84)
“Cinta itu harus dipelihara.” (Hal. 84)

“Apabila suatu saat kalian mengalami hari yang buruk, jangan menyerah. Jangan jadikan alasan untuk menyakiti satu sama lain. Bicarakan semuanya. Jangan takut bertengkar. Tapi selalu ingat untuk memaafkan. Jaga kata – kata dan sikapmu. Manusia nggak ada yang sempurna. Jangan cuma ingat keburukan pasangan, tapi selalu ingat kebaikannya.” (Hal. 85)

“Ada hal – hal yang terekam secara permanen di dalam sini, sekeras apa pun lo berusaha melupakannya. Dan ada hal – hal yang hilang secara otomatis walau lo udah berusaha mati – matian buat nginget – nginget.” (Hal. 125)

“Cinta itu sesuatu yang aneh. Lo pikir manusia bisa dikendalikan oleh cinta. Tapi bukan....  Bukan seperti itu. Cinta cuma kambing hitam yang selalu disalahkan oleh manusia. Yang sebenarnya, manusialah yang mengendalikan cintanya.” (Hal. 142)

“Manusia itu selalu punya pilihan. Hidup itu pilihan. Lo bisa milih hidup atau mati.” (Hal. 142)

“Aku tetap merasa hidup itu pilihan. Bahkan tidak memilih itu sudah merupakan pilihan. Satu – satunya saat kita kehilangan hak pilih adalah saat kita mati.” (Hal. 144)

“Cinta itu memang bukan matematika. Tidak ada jawaban yang pasti dari satu pertanyaan.” (Hal. 162)

“Gue nggak mau menyesali apa pun. Everything comes with a reason, right?” (Hal. 176)







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar