Jumat, 13 November 2015

I Dream



“Hidup adalah pilihan. Dan hari ini, gue harus memilih apa yang harus gue kejar dan lakukan di masa depan nanti.” (Hal. 171)


Penulis: Adeliany Azfar
Editor: Anin Patrajuangga
Desain kover: Margaretta Devi & Ivana PD
Ilustrator: Mico Prasetya
Penata Isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Oktober 2015
Jumlah hal.: v + 202 halaman
ISBN: 978-602-375-197-6

Haena sudah terbiasa mengikuti punggung Tae Joon selama bertahun – tahun. Bagi Haena perasaan kepada Tae Joon adalah cinta malu – malu yang tak bisa diungkapkan.
Namun, dia tidak tahu kalau perasaan manusia begitu cepat berubah. Dia tahu Joon tidak menyukainya, tapi ... bagaimana dengannya? Mengapa Haena mendadak ragu saat Ajisaka muncul dalam hidupnya?

Harusnya, jantung Haena tidak secepat itu berdebar untuk lelaki lain, ‘kan? Tapi, saat bersama Ajisaka semua terasa berbeda. Lihat, lihat, bicara tentangnya saja sudah membuat wajah Haena memerah. Apalagi namanya kalau bukan... jatuh cinta?

***

“Ih, kadang – kadang wanita memang bisa berubah mengerikan tanpa mereka sadari.” (Hal. 2)

Novel I Dream ini bercerita tentang kehidupan Haena yang selama bertahun – tahun memendam perasaan sukanya pada Tae Joon. Ia menunjukkan perasaan itu namun tidak bisa menyampaikannya kepada Joon. Setiap hari ia membuatkan bekal makanan untuk Joon. Membuntutinya. Menatap punggung Joon adalah hal yang sangat disukainya. Ia tidak pernah memandang dan membuntuti punggung itu.

Hingga suatu hari ia mengetahui sebuah kenyataan yang meremukkan hatinya. Joon telah menjalin hubungan dengan Bohwa. Haena mengenal Bohwa. Bohwa adalah gadis yang baik dan memang layak menjadi kekasih Joon. Lantas bagaimana Haena harus mengobati luka hatinya?


Mendadak, muncul sosok baru dalam hidupnya. Ia adalah Ajisaka, tamu yang menginap di penginapan yang dikelola oleh orang tua Haena. Ajisaka berasal dari Indonesia.

Ajisaka datang ke Korea untuk mengobati hatinya yang patah akibat perempuan yang dicintainya yang juga adalah cinta pertamanya akan segera menikah. Ajisaka pun memutuskan untuk berlibur. Meninggalkan Jakarta. Menjauh dari kemungkinan bertemu dengan perempuan tersebut.

Dan bagaimana nasib dua orang yang patah hati ini? Adakah mereka mampu mengobati hati yang patah? Apakah mereka menjadi pelipur lara bagi satu sama lain?

“Suatu hari nanti, kau pasti akan tahu apa yang seharusnya kau ketahui.” (Hal. 15)

***

“Ck, mungkin Bohwa bisa memiliki dada Joon, tetapi punggungnya hanyalah untukku seorang.” (Hal. 53)

Novel I Dream terpilih menjadi Pemenang Pilihan dalam PSA 3 untuk kategori Fiksi Remaja. Sesuai dengan syarat PSA 3, cerita harus bersetting di Korea. Dan penulis memilih Yangbuk, sebuah kota kecil di Gyeonju, provinsi Gyeongsangbuk (Hal. 3). Ini tentu menarik, karena penulis memilih kota yang masih kurang familiar bagi pembaca.

Namun pemilihan setting tempat ini tepat. Ia menjadi daya tarik tersendiri karena mengangkat wilayah yang belum banyak dimasukkan dalam novel.

Dalam novel I Dream ini, penulis menggunakan POV 1 dalam menceritakan kisah ini. Namun POV 1- nya berasal dari kedua tokoh utama, Haena dan Ajisaka. Ini menarik dan membuat lebih banyak kesempat untuk mengeksplorasi cerita.

Sayangnya POV 1 dari sisi Ajisaka masih kurang enak dibaca. Narasinya yang  menggunakan kata “gue” terasa mengganggu. Lagi pun kesan maskulin dari narasi yang dituliskan dari sisi Ajisaka masih kurang. Yang terlihat seolah penggunaan “gue” semata yang membuat narasi antara Ajisaka dan Haena berbeda.

Selain itu, setting tempat di novel ini kurang ditonjolkan. Setting kurang melebur dalam cerita. Kalau toh setting cerita di tepi pantai lain di Indonesia seperti Karimun Jawa pun tidak masalah. Tidak cukup signifikan mempengaruhi cerita.

Tapi saya suka ide yang dieksplorasi penulis. Kisah tentang cinta pertama dan patah hati pertama. Tokoh utamanya yang masih remaja tidak digambarkan cengeng. Ia cukup tegar dan terus berusaha memahami ceritanya. Dan ending cerita menarik karena membuat Ajisaka membuat pilihan yang cukup berarti.

Oiya, kalimat – kalimat pembuka setiap chapter cerita selalu menarik. Manis dan sarat makna. Ini cukup menggugah pembaca. Memunculkan rasa penasaran. Lihat saja pembuka pertama novel ini yang terdapat di halaman 2:

“Mereka bilang aku harus terus berjuang untuk cinta sepihakku ini. Kadang, mendapat terlalu banyak dukungan bisa berubah menjadi beban kalau kau tak berhasil mewujudkannya.” (Jang Haena)

Manis kan? Quote-able banget kan ya?
Secara keseluruhan, novel ini cukup enak untuk dibaca kok, Readers :)

1 komentar:

  1. bulrb nya khas mv akmu yg 200% ya, seorang gadis yg hanya bisa memunggungi laki-laki impiannya.

    BalasHapus