Minggu, 08 November 2015

Awaiting You



“Bagaimana kamu bisa tahu kita nggak jodoh kalau kamu berusaha mempertahankannya saja tidak?” (Hal. 150)


Penulis: Nadya Prayudhi
Editor: Herlina P. Dewi
Proof Reader: Weka Swasti & Tikah Kumala
Desain Cover: Theresia Rosary
Layout isi: Arya Zendi
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: 1, Juni 2015
Jumlah hal.: 258
ISBN: 978-602-7572-40-9
Hilang!



Sam, suami Amora, sang chief editor Majalah Fashionette, mendadak hilang. Di tengah kekalutan dan kekacauan hidupnya, Amora dihadapkan berbagai macam ujian: anaknya bermasalah di sekolah, didekati Lody si brondong di kantornya, mendapat simpati berlebihan dari sahabat sang suami, bertemu kembali dengan cinta lama, dan diteror oleh seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya. Semua itu membuat dirinya semakin frustrasi hingga akhirnya Amora memutuskan cuti sementara dari pekerjaannya.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan foto-foto baru yang diunggah ke laman Facebook Sam–yang membuat Amora semakin bertanya-tanya:

Ke manakah Sam? Apa yang terjadi padanya?

Jika dia masih hidup, mengapa tidak menghubungi Amora?

Akankah dia pulang? Atau, akankah dia menghilang selamanya?
***

“ ... ‘a happy wife, a happy life’- itu prinsip Sam, menyontek moto seorang selebritas.” (Hal. 20)

Novel ini bercerita tentang kehidupan Amora, seorang chief editor di majalan fashion. Karirnya yang gemilang membuatnya enggan untuk berhenti bekerja meskipun ia tetap sering merasa khawatir dengan keadaan kedua anaknya di rumah. Bilal dan Sabin adalah anak Amora dan Sam.

Sayangnya, sesuatu terjadi. Sam menghilang. Tanpa jejak meninggalkan Amora berbulan – bulan. Membuat Amora harus merasakan banyak hal, mulai dari khawatir, kesal, marah, rindu dan kelelahan akibat menanggung beban. Amora kini harus berperan dobel. Ia harus terus berusaha menafkahi anak – anaknya, juga harus menenangkan anak – anaknya yang kerap merindukan ayah mereka.

Di tengah kondisi itu, muncul Lody. Berondong di kantornya. Lody menghujani Amora dengan perhatian dan rayuan. Membuat Amora nyaman namun juga terus berusaha menolak kedekatan yang ditawarkan Lody. Di sisi lain, Gavin yang merupakan sahabat sekaligus rekan bisnis Sam menunjukkan perhatiannya kepada Amora. Ini membuat Amora semakin bingung.

Dan mendadak muncul update terbaru di laman Facebook milik Sam. Membuat Amora lega sekaligus marah. Lega karena itu berarti Sam masih hidup. Marah karena jika masih hidup kenapa Sam tidak pulang untuk Amora dan anak – anak mereka.

Ada apa sebenarnya? Kenapa Sam menghilang? Ke mana pergi?


“Di mataku, dia pria yang pas. Pas segala-galanya. Mengapa aku tak menyambut Sam sempurna? Karena orang yang sempurna itu tidak pernah ada. Tapi pria yang pas segala-galanya itu ada. Sayangnya, pria ini sekarang menghilang entah ke mana.” (Hal. 40)

***

“Saat sedang susah, manusia sering kali bilang, “Why me?” Padahal bisa saja Tuhan mengatakan, “Why not?” (Hal. 95)

Saat membaca blurb Awaiting You ini, saya pikir akan ada adegan seru terkait detektif – detektifan. Namun ternyata saya salah. Memang pembaca disuguhi dan bahkan ikut berpikir tentang alasan dan tujuan kepergian Sam. Namun hanya sebatas itu saja. Tidak ada ketegangan terkait hilangnya Sam.

Cerita dibuka dengan kalimat yang cukup panjang. Sesungguhnya ini bisa membuat kesan pertama kurang menarik. 

Novel ini seluruhnya bercerita tentang kehidupan Amora setelah Sam menghilang. Bagaimana perempuan ini menjalani kehidupannya hari demi hari. Sayangnya, penggunaan POV 3 dalam bercerita membuat pembaca berjarak dengan emosi Amora. Padahal jika menggunakan POV 1 seluruh pergulatan batin Amora akan lebih personal. Lagipula seluruh cerita juga diceritakan dari sisi Amora. Semua adegan cerita di dalam novel ini melibatkan Amora di dalamnya. Jadi tidak ada salahnya jika memakai POV 1.

Kehadiran tokoh – tokoh pria di sekitar Amora ini memang menarik. Namun membuat riak yang kecil – kecil saja. Hampir saja seluruh cerita terkesan flat dan terlalu berputar – putar dan jadi anti klimaks. Syukurlah ending cerita menyelamatkan hal ini.

Hubungan Lody dan Amora yang maju mundur dan kusut sendiri membawa rasa bosan. Kalau memang tidak tertarik ya tinggalkan. Tidak usah bermain – main di sekitar hubungan itu. Lagi pula akan ada 2 tokoh lain dengan porsi yang sama dengan Lody di dalam novel ini. Meski Lody pun menjadi twist tersendiri di dalam cerita.

Oiya, sejujurnya saya sedikit terganggu saat membaca tokoh yang digambarkan beragama Islam namun secara terbuka diceritakan minum minuman beralkohol. Meskipun harus saya akui bahwa hal itu lumrah terjadi di dunia nyata. Tapi tetap saja saat membacanya di dalam novel,  rasa keberatan atas penggambaran ini tidak terhindarkan.

Selain itu, ada sedikit kejanggalan di halaman 41. Percakapan Amora dan putrinya, Sabin, terasa aneh. Gaya bicara Sabin kurang sesuai dengan umurnya.

Btw, di halaman 170 saya mendadak ngakak. Ha..ha.. bisaan ya si Beamy itu. Ha..ha.. 

Secara keseluruhan buku ini cukup bisa dinikmati. Dan ending cerita cukup bisa mengetuk emosi pembaca. Seluruh cerita di tutup dengan baik. Dengan cerita yang tidak terduga.

“...: ‘Sometimes good things fall apart, so better things can fall together’” (Hal. 192)

***
Puisi yang terinspirasi novel Awaiting You
Kosong mengungkungku dalam penantian
Ketiadaan membuatku menapaki sepi tak tertahan

Jejakmu kau tinggalkan
Menghidupkan harapan

Namun di mana kau, sayang?
Tidak kah rumah menumbuhkan rindu di hatimu?
Akankah kau mengakhiri penantianku?
Ataukah kau melangkah pergi tinggalkanku

***



“Kadang, apa yang sudah tidak bisa kita miliki, adalah yang terbaik bagi kita. Memang susah menerimanya. Tapi, pelan – pelan, Ibu bisa memberi waktu buat hati Ibu. ...” (Hal. 198)

 

“Yeah, I know. Hidup itu lucu banget kok, memang. Kata orang bijak, life is a funny thing. How much you enjoy it depends on how humorous you are.” (Hal. 227)

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar