Selasa, 06 Oktober 2015

Re-Write



“Ketika kau mencintai seseorang, ...., terluka adalah syaratnya. Itu adalah harga yang harus dibayar. Kau akan terluka, oleh dan karena orang yang kau kasihi.”(Hal. 231)


Penulis: Emma Grace
Editor: Tri Saputra Sakti
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama
Jumlah hal: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-2115-8
Kehidupan Beth Samodro berjalan seperti layaknya gadis berumur dua puluh tahun. Ia kuliah di Sydney. Memiliki keluarga yang sayang padanya. Jatuh cinta luar biasa pada laki-laki yang telah ia kenal sejak sekolah menengah di Jakarta.

Perjalan hidup Derick Bhrasongko dimulai dari kota Sydney. Ia lahir dan besar di kota tersebut. Ia tak suka pada orang Indonesia. Masa lalu telah mengajarnya untuk membenci gadis lemah yang hanya bisa menganggukkan kepala dan menurut pada orang lain, atas nama cinta.

Beth dan Rick memiliki latar belakang dan pribadi yang berbeda. Kesamaan di antara mereka hanyalah sama-sama menyimpan rahasia kelam yang membebani langkah mereka saat ini. Kedua manusia yang tak pernah cocok untuk bersama dalam kondisi apa pun. Lalu pada satu persimpangan, jalan mereka bertemu.

Dan garis hidup berkata lain

***

“Tidak ada sloki minuman apa pun, bahkan minuman keras yang membuat seseorang lepas dari masalah. Melupakan sebentar, mungkin ya. Tapi seperti hantu, mereka akan kembali. Masalah itu akan terus mengikuti dan baru akan pergi ketika keberanian untuk mengucapkan selamat tinggal hadir.” (Hal. 58)

Beth Samodro bertahun – tahun menyimpan cinta untuk Jared. Laki – laki yang selalu ada namun bukan untuknya. Melihat Jared memasang relationship dengan pacar barunya, Gwen, membuat hati Beth patah. Ia yang tidak kunjung mampu menyampaikan isi hatinya pada Jared pada akhirnya tetap saja tidak bisa membenci laki  - laki itu meski sudah dibuat patah hati berkali – kali.

Satu hal lagi, Beth bahkan tidak bisa berkata “tidak” pada Jared. Hasilnya, Beth harus terjebak menggantikan Jared bekerja di Fashion Sheet. Tahu alasannya kenapa? Karena Jared terlalu sibuk mendukung Gwen dan timnya untuk sebuah kompetisi.

Kondisi ini membuat Beth berkenalan dengan Rick. Seorang pembenci Indonesia yang juga adalah fotografer di Fashion Sheet. Awalanya Rick membuat pekerjaan yang dijalaninya bak neraka. Namun sebuah moment mengubahnya. Lambat laun mereka menjadi lebih saling memahami dan membuka diri.

Namun, Beth tetap saja sulit berkata “tidak” pada Jared. Bahkan janji untuk membantunya selama sebulan akhirnya diperpanjang menjadi dua bulan karena Jared masih sibuk dengan Gwen. Di saat yang sama, sebuah tragedi di masa lalu terus membayangi Beth. Memaksanya untuk menerima kenyataan.

Bagaimanakan hidup Beth selanjutnya?
“Pepatah itu benar! Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan hanya dengan memeriksa notifikasi ponsel. Hidup terlalu pendek untuk dilalui dengan berharap, lalu kecewa.” (Hal. 52)
***
 “..., jangan pernah menaruh kunci kebahagiaanmu di tangan orang lain, selain dirimu sendiri. Tidak bisa. Gambaran di pepatah – pepatah cinta itu, tentang orang yang selalu hadir ketika kaubutuhkan, itu hanya ilusi. Bahkan bayanganmu sendiri meninggalkan dirimu ketika gelap datang.” (Hal. 82)
Cerita dibuka dengan adegan patah hati Beth. Cara ini cukup membuat penasaran. Showing yang menarik berupa keterangan tentang notifikasi menjadi perkenalan yang menarik pada tokoh Jared. Kemudian akan memunculkan kerut dikening pembaca karena adegan setelahnya. “Lha, patah hati tapi masih ketemu?” itu pertanyaan yang muncul. Tapi kemudian ini akan berubah.

Seiring cerita, maka perasaan pembaca akan dibuat menjadi sangat kesal pada karakter Beth dan Jared sekaligus. Gemas pada sikap Beth yang mau saja nurutin semua mau Jared karena dibutakan cinta. Dan juga kisah Jared yang memperlakukan Beth sesukanya.

Cerita di dalam novel ini dituturkan dengan sangat mengalir. Banyak kalimat yang manis. Dan tidak melulu tentang Beth dengan hubungan percintaannya. Ada pula sebuah cerita yang menjadi bagian dari keseluruhan cerita, yakni tentang keluarga Beth sendiri. Ini membuat kehidupan Beth terasa sangat manusiawi.

Bahkan kehadiran Sheila dalam cerita pun ikut menghidupkan suasana. Menguatkan showing di beberapa cerita. Seperti seberapa menyenangkannya sosok Rick dan seberapa menyebalkannya Jared.

Tapi ada hal yang sedikit mengganggu. Apakah ide tentang postingan di twitter dan youtoube untuk perayaan ulang tahun Fashion Sheet yang bikin Beth kagum sama Rick tidak terlalu biasa (lihat hal. 63) ? Ide ini sudah sering dipakai. Bahkan di Indonesia. Apa di Australia ide semacam ini nggak lebih dulu nge-trend ya? Apalagi untuk sebuah perayaan ulang tahun. Hm.. ide yang ini masih kurang nendang ;)

Oiya, penggunaan sudut pandang orang ketiga dalam novel ini membuat keseluruhan konflik menjadi luas. Pembaca disuguhi cerita dari sisi Jared dan Rick sesekali. Ini membuat logikan cerita jadi tetap runut dan tidak bolong. Tapi bikin emosi Beth jadi kurang terasa oleh pembaca.

Tapi secara keseluruhan, cerita ini manis. Dan didukung oleh sampul yang menarik pula.

Ah, senang berkenalan dengan karya Emma Grace ini. Jadi pengin baca buku pertamanya :D *iya, aku malah lebih dulu baca novel keduanya. :D
 “..., kau tak perlu melakukan hal yang tidak ingin kaulakukan demi orang lain. Jangan merendahkan dirimu sedemikiran rupa pada laki – laki. Seberapa dalam pun kau mencintai mereka.” (Hal. 117)
***


Puisi yang terinspirasi oleh novel Re-Write

Adakah cinta yang tak menorehkan luka?
Aku sudah lelah berduka
Andai boleh memutuskan sendiri kepada siapa aku jatuh hati, aku berharap itu kamu
kamu yang mendukungku tanpa henti
kamu yang menjagaku tanpa meminta dipuji
dan kamu yang diam – diam mendampingi
Padamu aku ingin berkata, “Mari kita menulis kisah kita bersama”
bisa jadi kita terluka berdua
Namun bukankah kita akan mengobatinya bersama?

***
 “Ketika kau peduli kepada seseorang, terluka adalah syaratnya. Terluka merupakan suatu bagian yang akan kau terima dan pasti kau terima. Terluka adalah sesuatu yang takkan dapat kau tolak.” (Hal. 153)
 “Ketika seseorang siap melepaskan dan menyiapkan tempat yang kosong di hatinya, akan ada cinta yang baru, yang tak kalah indah, untuk menggantikannya. Bukan cinta yang persis seperti yang kau rencanakan. Tapi jelas tak kalah indah dari yang dibayangkan.” (Hal. 241)

2 komentar:

  1. Ya ampuuun, quotesnya :3 Kereeeen, jadi pengen, kan. Nunggu giveawaynya dulu aja deh :D

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus