Sabtu, 03 Oktober 2015

New York After The Rain



“Ya, kurasa kalian – penulis – selalu memiliki kehidupan lebih rumit dari yang siapa pun bisa bayangkan.” (Hal. 228)



Penulis: Vira Safitri
Editor: Irna Permanasari
Desain Cover: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama
Jumlah hal.: 288 halaman
ISBN: 978-602-03-1506-5

Tidak ada yang tahu bahwa Julia Milano adalah sosok di balik penulis best seller terbitan BlackInk, tempat Julia bekerja sebagai editor.

Ketika Ethan Hall, sutradara ternama, ingin mengangkat salah satu karya Julia ke layar lebar, mau tidak mau Julia harus membuka topeng yang selam ini ia kenakan dan membuka diri untuk bekerjasama dengan pemuda itu.

Tapi siapa sangka, kedekatan membawa mereka pada skenario yang membua luka hati dan rahasia – rahasia yang mereka sembunyikan tersibak.

Ketahuilah, seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. Apa pun....

***

“Perasaan adalah hal yang sangat kompleks. Kita berdua tahu itu” (Hal. 27)

Kehidupan Julia Milano mendadak menjadi keluar dari jalurnya saat buku yang ia tulis ternyata menarik perhatian Ethan Hall, seorang aktor yang juga sutradara ternama. Ethan ingin memfilmkan buku yang ditulis Julia. Masalahnya adalah Julia bekerja di BlackInk yang memiliki aturan bahwa editor di BlackInk tidak boleh mempublikasikan karyanya di BlackInk. Dan penulis yang menerbitkan karyanya di BlackInk tidak bisa menjadi editor di BlackInk.

Yup, Julia memang menulis dengan nama samaran yakni Jane Martin. Dan setelah 3 tahun berlalu tidak ada yang tahu hal ini kecuali sahabatnya yang juga editor di BlackInk sekaligus editor Jane Martin, Brianna.

Namun kini karena keinginan Ethan, Julia harus mencari akal untuk tetap menyembunyikan identitas Jane Martin sekaligus menyelamatkan karirnya dan karir Brianna. Hal ini membuat Julia semakin sering bertemu Ethan dan jadi saling mengenal lebih dekat. 

Di sisi lain, rasa cinta yang Julia pendam selama bertahun – tahun pada Jacob Pierce, pemimpin redaksi umum BlackInk, mulai membuat Julia kepayahan. Ia harus terus menahan diri melihat Jacob dekat dengan perempuan lain. Sedang di saat yang sama, Julia tidak kunjung memiliki keberaranian untuk menyampaikan isi hatinya pada Jacob. Kacaunya, Ethan mengancam akan memberi tahu tentang perasaan Julia ke Jacob jika Julia tidak mau membantunya mengusahakan agar ia bisa memfilmkan novel Jane Martin.

Dan setelah itu, semakin runyamlah semua urusan perasaan ini. Ditambah lagi sebuah kejadian di masa lalu yang membuat Julia trauma kini kembali menghantui gadis itu.

Bagaimana hidup Julia selanjutnya?

“Hei, jangan khawatir. Bukankah terkadang petunjuk muncul saat kita hampir putus asa?” (Hal. 43)

***
“Mungkin... cinta itu adalah ketika kau memilih memendam perasaan untuk orang yang kaucintai, namun diam – diam tetap mengharapkannya, meski dia sudah memiliki orang lain di sisinya.” (Hal. 84)
Cerita di novel dibuka dengan prolog berupa adegan kecelakaan. Dan prolog ini akan menjadi salah satu kunci yang membuat pembaca meneruskan bacaan hingga akhir. Sebab pertanyaan yang muncul adalah adegan apa ini? Siapa “ia” yang dimaksud dalam cerita? Apa sebenarnya yang terjadi? Dan memang remah-remah cerita terkait kejadian ini ditaburkan di sepanjang novel. Membuat rasa penasaran pembaca terus bertahan.

Sayangnya, gaya penceritaan masih kurang luwes. Penggunaan POV 3 tapi hampir semua adegannya menghadirkan Julia malah membuat saya bertanya. Kenapa tidak pakai POV 1 saja? Bukankah logika cerita tidak akan bolong karena pada akhirnya kebenaran yang didengarkan Julia pun memang dari telling tokoh lain? Dan dengan begitu, kemelut di kepala dan benak Julia akan lebih tersampaikan. Karena sesungguhnya pergulatan batin Julia pun menarik. Mulai soal traumanya, hubungannya dengan Jacob, kehadiran Ethan sampai di ending cerita saat kebenaran terkuak.

Tapi secara keseluruhan, novel ini masih cukup manis untuk dicicipi. Dan ini perkenalan pertama saya dengan karya Vira Safitri. Dan saya cukup suka. 

Oiya, covernya juga sangat maniiiss.. bikin nggak bisa nolak :D

“Kalau cinta mirip patah hati seperti katamu, mungkia menyerupai penyesalan. Selalu datang belakangan, hadir saat sudah kehilangan, dan terasa sakit ketika baru menyadarinya.” (Hal. 84)
***


Puisi yang terinspirasi New York After The Rain

Aku lebih suka mencintai dari jauh
memendam rindu dalam diam
mengagumi dan menyimpan semua untukku sendiri
Lantas ia datang
berkata bahwa ketika mencintai kita sanggup melakukan apapun
Lantas menurutmu
apakah diamku sama dengan tidak memberi apapun?
Ah, andai kau tahu getirnya mencintai dalam bungkam

***

“ ... sebaiknya jangan pernah sia – siakan air matamu untuk orang yang salah. Karena ketika air mata sudah terlanjur mengalir, sulit sekali bagi siapa pun menghentikannya. Kau mengerti?” (Hal. 186)
“Hati bisa memperbaiki dirinya sendiri bila kau mau memberikannya sedikit waktu” (Hal. 189)
“Sungguh aneh kau mencari kebahagiaan hingga sejauh ini padahal kebahagiaan itu ada pada dirimu. ... . Lakukan apa yang membuatmu bahagia, maka kau akan bahagia. Semudah itu.” (Hal.  204)
“Ketahuilah, seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. Apa pun.” (Hal. 223)
“Terkadang orang yang terkejam adalah orang yang paling mencintaimu.” (Hal. 252)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar