Sabtu, 17 Oktober 2015

Haru No Sora


“Kalau kau sedang gundah, angkatlah kepalamu dan pandanglah langit di atasmu. Di sana kau akan menemukan ketanangan yang kau cari.” (Hal. 228)

Penulis: Laili Muttamimah
Penyunting: Anida Nurrahmi
Perancang Sampul dan Isi: Deborah Amadis Mawa
Penata Letak: Teguh Tri Erdyan
Penerbit: Ice Cube
Cetakan: Pertama, Februari 2015

Jumlah hal.: vii + 298 halaman
ISBN: 978-979-91-0817-3

“Aku berharap musim dingin dapat membekukan rasa sakitku,” ujarku lirih.
“Begitu?” tanya laki-laki itu, asap putih yang hangat keluar dari mulutnya. “Kau pikir, ketika rasa sakit itu membeku, kau tidak akan merasakan sakit lagi?”
“Mungkin begitu.”
“Kurasa kau tidak akan bisa membekukan rasa sakitmu.”
“Kenapa?”
“Karena rasa sakitmu akan mencair ketika musim semi tiba.”


Tiap tahun, Miyazaki Sora selalu menantikan kedatangan musim dingin. Titik-titik putih yang jatuh dari langit berarti tiba waktunya untuk bermain di halaman bersama sang ayah, sementara si ibu akan menyiapkan hidangan lezat di meja makan. Di balik gunungan salju yang menumpuk di halaman, Sora menemukan kehangatan kasih sayang kedua orangtuanya. Namun itu dulu. Sebelum suatu rahasia yang terbongkar di musim dingin tiga tahun lalu merenggut nyawa ibunya. Sebelum judi dan alkohol menjerat perhatian ayahnya. Sebelum Sora memilih melanjutkan hidupnya dengan menapaki jalan yang salah.

***
“.... Kau tahu, dunia adalah tempat manusia menanam benih – benih keberuntungan. Kurasa tidak ada manusia yang ingin rugi.” (Hal. 38)
Sora adalah seorang remaja yang duduk di bangku kelas 3 di Hyouka Gakuen. Sebuah tragedi di dalam keluarganya merenggut kebahagiaannya. Ibunya yang tiada dan ayahnya yang menjadi pemabuk membuat Sora harus menghadapi semua hal sendirian. Termasuk kebutuhan ekonomi.


Ini membuat Sora memutuskan untuk mengambil langkah yang salah. Ia membutuhkan uang untuk membayar biaya hidup ia dan ayahnya serta membayar hutang judi sang ayah. Sedang usaha ayahnya telah bangkrut dan menjadi pengangguran. Maka Sora pun memutuskan menerima tawaran untuk bekerja kapada Ken sebagai perempuan malam. Ia menjajakan dirinya. Namun identitasnya di malam ini ia sembunyikan dengan rapi. Sahabatnya di sekolah yakni Risa dan Sae bahkan tidak tahu tentang hal ini. 


Suatu saat hari berlangsung dengan buruk dan malamnya harinya Sora bertengkar dengan ayahnya. Ia pun berusaha menenangkan diri di sebuah taman, dan tanpa sengaja bertemu dengan seseorang. Orang itu lantas meminjamkan mantel biru miliknya dan meninggalkan Sora sendirian bergumul dengan perkataan yang sempat laki – laki itu ucapkan.

Beberapa hari kemudian, Sora mendapati laki – laki yang mantel birunya masih ada pada Sora itu berdiri di depan kelas. Ia adalah murid baru di kelas Sora. Namanya Yoshida Haru. Namun kenapa Haru bersikap seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya?

Setelah itu satu persatu kebenaran terkuak termasuk pekerjaan Sora. Lantas bagaimana hidup Sora selanjutnya? Akankah ia menyerah dan meninggalkan Ayahnya yang tidak kunjung mau meninggalkan judi dan minuman keras? Apa pendapat teman dan sahabatnya setelah tahu pekeraan Sora sebagai perempuan malam? Dan ada apa dengan Haru? Siapa dia?
“Kau tidak akan tahu caranya bangkit jika kau tidak pernah jatuh, Sora,” (Hal. 62)
***
“Jika kau ingin seseorang memperhatikanmu, maka kau harus mencoba untuk memperhatikan sekelilingmu.” (Hal. 120)
Cerita dibuka dengan narasi tokoh utamanya tentang musim dingin. Penggunaan sudut pandang orang pertama membuat penuturan tokoh Sora menjadi sangat personal. Setelah itu pembaca langsung disuguhi gambaran yang membuat pembaca langsung menebak pekerjaan Sora sebagai perempuan malam.

Setelah itu, cerita dituturkan dengan runut. Kemudian yang cukup mewarnai cerita adalah kehadiran tokoh Akiyama Airi. Akiyama Airi adalah teman sekelas Sora yang jadi korban pembullyan yang dilakukan oleh Sora dan kawan – kawannya. Sejak awal cerita hingga akhir, peran ini memiliki menjadi peran pendukung yang cukup menarik diamati. Ini karena karakter Akiyama Airi adalah karakter yang ikut berkembang bersama perkembangana karakter Sora. Sedangkan Sae dan Risa serta Haru tidak.

Twist cerita sebenarnya cukup mudah ditebak. Hubungan antara Sora dan Haru. Namun tetap saja membuat saya penasaran tentang bagaimana penulis akan mengakhiri kisah ini. Ya, diakhiri dengan manis dan berakhir indah.

Sayangnya, ada beberapa pengulangan yang tidak perlu yang dilakukan di buku ini. Yaitu tentang filosofi bunga sakura. Beberapa kali ia disebutkan dan berulang dan menurut saya malah mengganggu saat dibaca.

Namun penambahan bagian saat Sora ke Kamakura menjadi salah satu nilai lebih bagi novel ini. Penjelasan tentang beberapa destinasi wisata di Kamakura menjadi informasi yang menarik dicerna meski deskripsi latar belum benar – benar smooth. Tapi sudah cukup bagus.

Ini adalah buku pertama Laila Muttamimah yang saya baca dan cukup bagus. Ditunggu karya berikutnya. Semoga semakin menarik :)
“Bunga sakura selalu mekar dan jatuh bersamaan. Ia tidak pernah membenci angin yang membawanya jatuh, juga musim panas yang membuatnya berubah warna. Ia akan tetap memancarkan keindahannya, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa bahagia.” (Hal. 158)
***

Puisi yang terinspirasi oleh Haru no Sora

Aku melangkah sendiri
Menghadapi pedih
Menentang dunia yang keji
Memilih jalan penuh duri

Hingga kau datang
Menantang
Menyajikan dunia yang ceria dengan harap yang merentang

Lantas setelah ini bagaimana ku jalani hidupku?
Sebab benar yang kukira selama ini bukan lagi kebenaran
Akankah semua akan tetap baik-baik saja?

***

“..., karena sebesar apa pun rasa sayang seorang perempuan pada pasangannya, ayahnyalah yang menjadi cinta pertamanya.” (Hal. 161)
“.... Cinta yang sesungguhnya adalah perasaan yang mampu membuatmu menerima orang itu, bagaimanapun keadaannya, apa pun kesalahannya, seolah rasa benci sekalipun tak mampu membuatmu mengabaikannya – ...” (Hal. 222)
“... saat orang yang kau sayang adalah orang yang membuatmu sakit paling dalam, kau tetap tidak akan pernah bisa membencinya – apalagi melupakannya.” (Hal. 282)

3 komentar:

  1. Judul sama covernya manis, Haru No Sora, Langit Musim Dingin ....

    BalasHapus
  2. Judul sama covernya manis, Haru No Sora, Langit Musim Dingin ....

    BalasHapus
  3. haru no sora = langit musim semi
    ceritanya bagus

    BalasHapus