Sabtu, 17 Oktober 2015

Astrie Ivo: Sepasang Sayap Menuju Surga (Autobiografi Parenting)




“Ibu adalah profesi utama seorang muslimah. Karena itu, seorang muslimah harus mempersiapkan diri menjadi ibu yang profesional.” (Hal. 98)


Penulis: Yugha Erlangga & Astrie Ivo
Editor: Fikni Mutiara, Hijrah Ahmad, Adhika Prasetya
Desain sampul: Yudi Nur Riyadi
Penerbit: Erlangga
Cetakan: 2015
Jumlah hal: 163 halaman
ISBN: 978-602-0935-16-4

Kisah – kisah di dalam buku ini adalah cerita hidup sebenarnya dari Astrie Ivo. Dikemas dengan bahasa yang mengalir, enak dibaca, dan menyentuh, buku ini membawa kita pada suatu perjalanan tak terduga dalam menjemput hidayah. Lebih dalam lagi, buku ini menyampaikan persoalan – persoalan penting tentang islamic parenting. Uniknya, hal tersebut tidak disampaikan lewat aneka teori melainkan melalui jejak kehidupan Astrie sebagai anak maupun ia sebagai seorang ibu. Sebuah buku yang menginspirasi pembaca untuk berjuang menjadi pribadi sekaligus menjadi orang tua yang lebih baik lagi bagi anak – anaknya.” – Helvi Tiana Rosa (Penulis dan Akademisi)

Bunda Astrie Ivo adalah sosok yang inspiratif bagi kaum muslimah. Buku ini melukiskan betapa menjadi ibu dan istri adalah amanah mulia dari Allah. Buku ini adalah bacaan penting bagi setiap muslimah yang ingin terus belajar menjadi lebih baik ...” – Oki Setiana Dewi (Penulis dan Artis)
***
“Saya tidak didik oleh orang tua yang komplet. Tapi itu bukan alasan. Saya bisa bertahan dan berusaha tidak melankolis dengan keadaan tersebut. Bagi saya, pernikahan itu menyelesaikan setengah dari agama. Allah memang tidak mewajibkan kita berhasil, melainkan dituntun agar hamba-Nya bersunggug – sungguh menjalankan perintah itu. ada manusia yang belajarnya biasa. Akselerasinya baik.” (Hal. 45)
Buku ini dibagi menjadi 26 part cerita. Masing – masing menjelaskan fase – fase kehidupan Astrie Ivo dan kenangan – kenangannya. Mulai dari cerita awal mula Astrie Ivo terjun di industri hiburan: film dan tarik suara. Hingga hal – hal yang dihadapi oleh Astrie Ivo sebagai seorang istri dan ibu.

Salah satu part favorit saya adalah : “Dari Berlin, Cinta pun Hadir”. Di part ini, pembaca disuguhi kehidupan cinta Astrie Ivo. Pertemuannya dengan sang suami hingga keputusan menikah.

Dan satu yang menginspirasi dan memberi saya ilmu yang baru adalah part “Surah Ar-Rahman dan Sekuntum Bunga Kamboja”. Ah ini membuat saya berpikir alangkah indahnya hidup dengan menjadikan kecintaan dan ketundukan pada Allah sebagai perekat dalam keluarga.

Ini adalah sebuah autobiografi yang lengkap. Tidak hanya tentang kehidupan seorang Astrie Ivo semata namun juga tentang mutiara – mutiara hikmah yang ia temukan selama hidupnya.

“Sebab, pernikahan itu adalah menyatunya dua manusia yang tidak sempurna. Bukan pertemuan dua malaikat, apalagi dua setan. Jika ingin suami yang ideal, ya, jangan menikahi manusia, melainkan malaikat.” (Hal. 46)
***
“ ... bahwa kita perempuan tidak bisa menjadi sempurna, tetapi kita bisa menjadi perempuan yang hebat karena kerja keras dan ilmu yang dimilikinya.” (Hal. 90)
Cerita dibuka dengan penuturan Astrie Ivo tentang posisi Astrie Ivo dalam rumah tangganya. Ini seperti yang dituliskannya di halaman 14:

“Alhamdulillah, sebagai seorang istri, maupun ibu bagi tiga orang anak lelaki, saya adalah perempuan yang senantiasa mendampingi mereka. Atas izin Allah, saya berusaha selalu berada di posisi depan, belakang, dan samping mereka.
Saat di depan, saya ingin menjadi sosok yang sanggup menjadi pelita penuntun, membuat langkah mereka berada di jalur yang benar dan selalu dalam koridor Allah semata. ...”

Ah, jika saya tulisakan lengkap, maka akan mengurangi kenikmatan membacanya. Ini adalah sebuah pembuka yang menghentak. Memberi pemahaman baru bagi saya tentang posisi perempuan dalam rumah tangga.

Buku ini adalah sebuah autobiografi. Penceritaan yang personal dan membuat pembaca seolah mendengar sendiri Astrie Ivo bercerita. Bahasa tutur yang disampaikan menjadi tulisan. Membuat tulisannya menjadi simple dan mudah dipahami.

Autobiogradi ini tentu berbeda dengan fiksi. Cerita yang dituturkan down to earth. Bahkan saat menceritakan kehidupan Astrie Ivo sebagai salah seorang public figure pun tidak menampilkan kesan glamour. Kesederhanaan dan penuturan yang lembut menjadi kunci dalam tulisan ini.

Cerita Astrie Ivo bisa jadi adalah cerita yang juga dialami oleh muslimah lain di Indonesia. Kebingungannya sebagai orang tua, keputasan – keputusan dan pilihan –pilihan yang dimiliki sebagai seorang anak, istri, dan ibu pun bisa jadi adalah hal yang tengah dihadapi oleh muslimah lainnya.

Dalil – dalil yang disampaikan pun menguatkan alasan dibalik keputusan Astrie Ivo. Kebaikan yang diaplikasikan sendiri. Dan menceritakannya kembali menjadi sebuah dakwah tersendiri bagi Astrie Ivo.

Sayangnya, ada beberapa pengulangan yang cukup mengganggu. Pengulangan berkali – kali tentang sikap ibu Astria Ivo yang sangat tegas tentang shalat, atau pengulangan tentang posisi Astrie Ivo sebagai anak yang berasal dari keluarga yang broken. Pengulangan ini terjadi beberapa kali di bab – bab yang berbeda. Ini terasa sedikit mengganggu.

Namun buku ini menjadi media dakwah yang baik tanpa kesan menggurui. Memberi banyak hikmah tanpa menceramahi.

Dan untuk masalah parenting, penjelasan Astrie Ivo tentang metode membesarkan anak yang diaplikasikannya menjadi sebuah ilmu yang cukup penting. Terutama yang ada di part “Ruang Diskusi untuk Anak”. Bahkan bagi saya yang baru menikah dan belum dikaruniai anak. (pssst.. do’akan saja ya. Jangan ditanya melulu kapan punya anak. Cukup do’akan *eeeaaa malah curcol)

Oiya, satu hal lagi. Layou buku cukup menarik dan tidak monoton. Membuat sudut khusus untuk kutipan di setiap bab untuk kalimat yang penting menjadikan nilai yang ingin disampaikan semakin mudah ditemukan.
“Teman biasa atau kenalan boleh datang dan pergi, tetapi sahabat adalah sosok yang bertahan seiring perjalanan waktu. Mereka hadir tidak hanya di saat bahagia. Ketika kesedihan dan keterpurukan bergiliran hadir dalam hidup, sahabat adalah sosok yang pertama kali datang dengan tangan terbuka.” (Hal. 94)
***
“Tolak ukur keberhasilan mendidik anak adalah saat orangtua mereka mampu mendidik anak sesuai dengan minat dan bakat buah hatinya.” (Hal. 98)
“Kematian sejatinya adalah perpisahan sementara dengan keluarga yang tercinta. Sesungguhnya kematian bukanlah perpisahan. Perpisahan terjadi jika salah satu dari kita di surga, namun yang lain di neraka. Itulah perpisahan yang sesungguhnya..” (Hal. 120)

www.erlangga.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar