Rabu, 16 September 2015

Sincerely Yours



“Cinta mungkin mudah diucapkan ketika berumur belasan. Makin dewasa, cinta makin butuh alasan dan pembenaran.” (Hal. 128)


Penulis: Tia Widiana
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-2050-2

Sebagai penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar.
Namun di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam segala hal. Alan dengan mudah dapat membayangkan Inge menjadi perempuan yang ingin ia nikahi, bukan Rubby ... perempuan yang selama ini berstatus kekasih Alan.

Alan mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal... Inge tidak ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun – tahun. Inge tidak mau Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.

Sebagai penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan....

***

“.... Orang yang meninggalkan kita begitu saja tanpa meninggalkan alasan, tanpa mau mendengar penjelasan apa pun, tak pantas ditunggu. ...” (Hal. 160)

Inge adalah seorang penulis novel horor dan misteri. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah yang terletak di daerah Sentul, Kabupaten Bogor. Rumah itu adalah rumah yang seharusnya ia tinggali bersama ayahnya. Sayangnya ayahnya sudah lebih dulu berpulang sebelum sempat menempati rumah tersebut.

Inge yang tertutup dan lebih suka menyendiri merasa hidupnya baik – baik saja. Sampai sang ibu muncul di depan pintu rumahnya. Mengetuk hati Inge demi sebuah maaf. Hal yang tidak mampu diberi Inge.

Kemudian di saat yang sama muncullah Alan yang memberinya rasa aman. Alan yang membuat hidup Inge lebih meriah. Ia yang sudah lama tidak merasakan hubungan percintaan merasa bahwa apa yang ia miliki bersama Alan itu indah.

Sampai suatu hari ia mengetahui bahwa kehadirannya telah meminggirkan kehadiran Ruby, perempuan yang sudah menjadi kekasih Alan selama delapan tahun. Hal yang tidak pernah Ruby bayangkan. 

Seketika semua masalah itu membuat hidup Inge penuh duka. Nurani, perasaan, dan pikiran Inge berperang tentang hubungannya dengan sang ibu dan hubungannya dengan Alan.

Apa keputusan Inge? Akankah ia memilih melarikan diri dan melupakan semuanya? Atau ia melangkah maju dengan berani demi perasaannya pada Alan? Tanpa peduli tentang hati lain yang terluka?


“Hanya karena berjauhan, tidak berarti dia melupakanmu. Distance makes the heart grows fonder” (Hal. 161)

***

“Karena itulah gunanya komitmen, Nia. Agar orang bertahan, dan tidak serta-merta lari tunggang – langgang mengejar sesuatu yang mereka kira kebahagiaan.” (Hal. 166)

Pure romance. Itu adalah sesuatu yang bisa mendifiniskan cerita yang ditulis Tia Widiana ini. Dengan berfokus pada kehidupan Inge, penulis menghadirkan kisah percintaan yang dibalut oleh kekecewaan masa lalu.

Hubungan Inge dengan ibunya menjadi salah satu trigger konflik Inge dan Alan. Masa lalu, penerimaan, pemaafan akan menjadi salah satu warna dalam cerita ini. 

Cerita tidak begitu terkesan berputar – putar pada masalah yang sama karena bab – bab akhir memunculkan sosok baru, Metha. Tokoh ini masuk di waktu yang tepat dan memberi warna baru dan mengundang rasa penasaran yang baru.

Penggunaan sudut pandang orang ketiga dalam menuliskan novel ini membuat cerita bisa dituturkan dengan rapi dan menarik. Kisah dari sisi Alan dan Inge saling mengisi.

Selain itu, informasi yang disampaikan di dalam cerita tentang kehidupan seorang penulis melalui cerita tentang kehidupan sehari – hari Inge sebagai fulltime writer dan juga hubungan Inge dengan Hera, editornya, pun menjadi suguhan yang menarik.

Nice book. Benar – benar kisah yang manis.


“Hidup terlalu pendek kalau hanya dihabiskan untuk menderita dan menyesal. Apa salahnya mengejar kebahagiaan?” (Hal. 166)

***

Puisi yang terinspirasi novel Sincerely Yours

Aku pernah terluka di masa lalu
Oleh ia yang kucinta sepenuh hati
Ia membuatku meragukan setia

Dan kini kau datang
Menawarkan kisah yang kupikir hanya tentangku saja
Dan ternyata aku salah

Lantas bisakah aku terima,
Jika kau menggugah luka lama yang belum mampu kuberi maaf
Memaksaku menghadapi kemarahan yang kusimpan sangat lama

Menghadapimu membuatku harus mengahadapi mimpi buruk itu

***

"Hanya orang yang kamu cintai yang bisa menyakitimu...” (Hal. 208)

“Kata – kata hanya akan mengecilkan kejadian yang sebenarnya” (Hal. 214)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar