Selasa, 01 September 2015

Remedy



“Ini kesempatan buat kamu. Kamu bilang ingin maju ke depan, kan? Menyelesaikan urusan masa lalu itu modal yang baik untuk maju ke masa depan.” (Hal. 85)
24694258


Penulis: Biondy Alfian
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Perancung Sampul dan Isi: Deborah Amadis Mawa
Penata Letak: Teguh Tri Erdyan
Penerbit: Ice Cube
Cetakan: Pertama, Februari 2015
Jumlah hal.: vi + 209 halaman
ISBN: 978-979-91-0818-0

“Lo yang nemuin dompet gue, kan?” tanya Navin.
“Ya,” jawabku.
“Berarti lo sudah lihat semua isinya?”
“Ya” jawabku lagi.
“Berarti lo sudah –”
“Melihat kedua KTP-mu?” tanyaku. “Sudah.”
Navin menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku.
Rahangnya tampak mengeras.

Ada yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompet Navin di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya lagi tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria berusia 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang [yang] kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis penyendiri itu punya rahasia yang lebih besar darinya.

***

Sebuah kebetulan membuat Tania berkenalan dengan Navin. Navin adalah murid baru di sekolah Tania. Tania tanpa sengaja menemukan dompet milik Navin. Dari KTP yang ada di dompet tersebut, Tania mengetahui bahwa usia Navin adalah 20 tahun. Untuk apa seorang pria berusia 20 tahun ada di SMA dan duduk di kelas XI IIS 3? Selain itu, di dalam dompet tersebut terdapat dua KTP dengan identitas yang sama namun hanya namanya saja yang berbeda.


Rasa penasaran ini yang membuat Tania tidak keberatan dengan kedekatan yang tercipta antara dirinya dan Navin. Sedangkan Navin sendiri merasa perlu untuk mengawasi Tania untuk memastikan Tania tidak menceritakan apapun tentang KTP Navin yang dia temukan.

Hingga akhirnya mereka pun menjadi akrab. Kepenatiaan yang mereka ikuti bersama berkat ajakan Viki, teman sekelas Tania, membuat mereka semakin dekat. Hingga akhirnya Navin menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang menyimpan rahasia. Tania pun punya rahasianya sendiri.

Bagaimana akhir kisah mereka berdua? Apa yang terjadi di masa lalu Navin? Apa rahasia yang berusaha disembunyikan Tania?

***

Novel Remedy benar – benar cocok untuk remaja. Kisah romance memang terbangun sejak awal cerita namun bukan menjadi pusat cerita. Hubungan Navin dan Tania adalah hal yang membangun cerita. Navin dan Tania membawa kisahnya sendiri.

Tema self-abuse yang ditampilkan di dalam cerita ini mampu diceritakan dengan baik oleh penulis. Psikologi Tania mampu ditransfer ke pembaca dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Dan alasan Tania menyayat dirinya sendiri menjadi sebuah twist yang menarik.

Secara keseluruh novel ini cukup enak dinikmati. Dan banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari kisah hidup Navin dan Tania.

Yang kurang dieksplorasi adalah hubungan Tania dan Viki. Selain itu tokoh antagonis di dalam novel ini nyaris tidak ada. Bahkan tokoh jahat yang terakhir pun muncul mendadak. Jadi gelombang konfliknya masih kurang greget.

Oiya, selain itu, sudut pandang yang digunakan dalam novel ini sempat membuat saya bingung. Saat bercerita dari sisi Tania, maka POV yang digunakan adalah POV orang pertama. Penjelasan tentang hal – hal terkait dalam diri Tania menggunakan kata “aku”. Namun POV 3 digunakan saat cerita dituturkan dari sisi Navin. Bahkan ketika bersama Tania, jika diceritakan dari sisi Navin tetap saja menggunakan POV 3 serba tahu.
Tapi tetap saja secara keseluruhan ceritanya masih bisa dinikmati. 

***

 Puisi yang terinspirasi novel Remedy

Kadang rasa sakit bukan untuk membuatku mati perlahan
Namun untuk membuatku hidup dan merasakan serta teralihkan

Dan kadang kehadiran bukan untuk membunuh sepi
Namun membungkam keriuhan yang memekakkan hati & pikiran

Kadang luka untuk membutku merasa "ada"

***

“Menangis seorang diri memang membuatku merasa lega, tetapi sesudah itu aku tersadar bahwa aku tidak punya seorang pun yang dapat kujadikan tempat berbagi.” (Hal. 202)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar