Jumat, 11 September 2015

Istana Kedua



“Ketika kita menikah dengan seseorang, maka kita tidak bisa hanya menikah dengan sikap dan karakternya, atau keluarga dan adat istiadatnya.” (Hal. 49)


Penulis: Asma Nadia
Sampul: Wedha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Agustus 2007
Jumlah hal.: 248 halama
ISBN: 978-979-22-3045-1

Mei Rose:
“Aku telah merampas sesuatu yang paling berharga dari hidupnya. Dan sangat wajar jika perempuan ini datang dengan segunung lahar api. Hm... koreksi. Aku tidak merampas apa pun, aku hanya memaksanya berbagi.”

Arini:
“Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?”
Dongeng yang retak – retak.
Peristiwa tragis dan e-mail aneh dari gadis bernama Bulan.
Sementara seseorang berjuang melawan Tuhan, waktu dengan sabar menyusun keping – keping puzzle kehidupan yang terserak, lewat skenario yang menakjubkan.

***


“Bukankah laki – laki memang pencuri? Datang karena melihat peluang, lalu pergi setelah mengambil kesempatan?” (Hal.73)

Arini, adalah seorang penulis yang merasa bahwa kehidupannya adalah sebuah dongeng yang sempurna. Bagaimana tidak jika ia memiliki seorang suami yang selama membujang sangat menjaga mata dan hatinya. Mereka kemudian dianugerahi 3 orang malaikat hebat titipan Allah. Kondisi inilah yang membuai Arini.

Hingga mendadak dunianya runtuh saat mendengar ada perempuan lain yang menyebut dirinya sebagai “nyonya Prasetya”. Gelar yang selama ini tersemat pada Arini.

Di sisi lain kisah hidup seorang Mei Rose yang begitu tragis hingga membuatnya meragu atas keberadaan Tuhan. Kehidupan Mei Rose yang sangat berbeda dengan kehidupan Arini. Hingga ia pun memutuskan bahwa ia menginginkan seorang suami di hidupnya. Dan lelaki itu haruslah lelaki yang sudah berkeluarga.

Dan Pras? Laki – laki yang secara logika dan hampir seluruh hidupnya tidak pernah berpikir untuk melakukan poligami. Namun ternyata, ketika dihadapkan pada kondisi? Ia pun nyaris tak berkutik.

 ***

“Perempuan, desisnya... bahkan dalam kemarahan dan kekecewaan, perempuan masih berusaha menjaga hati suami.” (Hal. 128)

Saya lupa bagaimana bisa mendapatkan novel ini. Sejak saya aktif menulis review di blog ini, saya belum pernah lagi membaca karya Asma Nadia. Terakhir membaca karyanya saat SMA. Entah bagaimana novel ini saya miliki. Kayaknya beli buku second teman.

Saat membaca novel ini saya jadi berpikir apa ini novel yang sama dengan novel yang telah diterjemahkan. Entahlah, saya bahkan belum pernah baca review buku dan film karya tersebut. Dan saat menulisnya saya enggan mencari tahu. Saya ingin apa yang saya tulis tentang buku ini akan terlepas dari perdebatan terkait novel dan filmnya. Ok ini review saya.

Novel ini menyuguhkan kisah dua perempuan dan cara mereka menghadapi dongeng – dongeng yang biasa mereka hadapi. Dua nasib yang berbeda jelas menyikapinya dengan cara yang berbeda.

Arini, seorang muslimah yang berprofesi sebagai penulis. Ia sangat mencintai dongeng – dongeng. Ia percaya bahwa akan ada pangeran yang datang meminangnya dan mereka akan menjalani apa yang disebut happily ever after. Awalnya ia meyakini hal ini. Sampai akhirnya ia mendapati kenyataan bahwa pangerannya memiliki putri yang lain yang tinggal di istana lain. Dongeng indahnya seketika runtuh menyadari bahwa ada dongeng lain yang dirajut suaminya. Suaminya, Pras, telah menikah lagi.

Mei Rose, perempuan keturunan Cina yang hidupnya tidak seindah dongeng. Yatim piatu, tanpa cinta, hidup bak pembantu di rumah bibi sendiri, hingga tragedi itu datang satu persatu. Tidak ada cerita indah dalam hidupnya. Ia mencibir dongeng – dongeng indah tentang putri yang hidup bahagia setelah penderitaan panjang menderanya. Ia bahkan meragukana kehadiran Tuhan. Hingga hadirlah Pras dalam hidupnya.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, novel ini mengetengahkan poligami dalam 3 sudut pandang. Posisi Arini yang menjadi “korban” poligami, Pras sebagai pelaku, dan Mei Rose yang merupakan pihak ketiga.

Isu ini sensitif. Penulis menampilkan Pras sebagai orang yang awalnya merasa cukup dengan Arini. Ia bahkan memiliki alasan kuat untuk berkata, “Tidak” pada poligami. Tapi ternyata pada akhirnya alasan itu tidak lagi cukup. Ia pun melakukannya. Ia yang awalanya meyakini bahwa sebenarnya poligami tidak memiliki pembenaran selain upaya “pemuas nafsu yang halal”. Ternyata pria dengan pemikiran seperti Pras pun malah menjadi orang yang melakukan poligami.

Selain itu, hingga akhir cerita ditampilkan bahwa dalam rumah tangga masalah pihak ketiga adalah hal yang umum dan wajar terjadi. Bahwa pernikahan pasti harus menghadapi ancaman ini. Ini kalau benar begini perempuan yang sudah tahu resiko semacam ini kemudian tetap memilih menikah berarti adalah perempuan berani ya. I did it. Jauh di bawah alam sadar saya pun memiliki kekhawatiran yang sama sehingga saat suami ingin melamar salah satu syarat yang saya minta adalah berjanji untuk tidak melakukan poligami. Padahal saya sadar betapa suami selama masa bujangnya selalu menjaga pergaulannya dengan perempuan.

Baca novel ini pun menampilkan beberapa wacana yang berkembang di masyarakat tentang perempuan dan poligami. Bahwa meski perempuan adalah korbannya, namun perempuanlah yang sering dituding sebagai penyebabnya. Tidak bisa rawat dirilah, tidak bisa melayani dengan baiklah, tidak bisa masak, dan alasan lainnya yang memojokkan perempuan yang suaminya menikah lagi itu. Ini dinarasikan di halaman 104.

Lantas bagaimana laki – laki pelaku poligami? Mereka salah karena ternyata mereka mencari cinta dan keindahan lain. Namun entah datang dari mana pembelaan,”sudah fitrahnya laki – laki mencintai keindahan. Daripada zina?”

“Mata laki – laki adalah mata yang setiap hari melihat pemandangan luar. Menatap yang indah – indah. Dan saat kembali ke rumah, ..., saat kembali ke rumah harus kecewa karena pandangannya tak menemukan apa yang diinginkan...” (Hal. 43)

Ya Rabb.. sungguh saya tidak mengharamkan apa yang kau halalkan. Saya hanya menyadari bahwa saya tidak bisa menempuh jalan yang sebenarnya tidak Kau wajibkan untuk saya jalani. Ya, menjadi perempuan yang dipoligami bukanlah pilihan pasrah. Perempuan memang memiliki hak untuk menolak tapi bukan berarti perempuan tersebut mengharamkan poligami.

Haaah, novel ini memang menampilkan poligami dengan cukup menyentil. Sosok dingin Mei Rose ditampilkan bahwa alasan Mei Rosa merebut Pras adalah hal yang bisa dipahami. Tapi tetap saja pertanyaannya, “Kenapa suami orang?”

Oiya, diksinya manis. Cara bercerita juga menarik dengan kehadiran sosok Ratih yang diciptakan Arini. Dan untuk ending? Hm.. sebenarnya saya tidak begitu suka dengan ending terbuka (>_<)

***




Puisi yang terinsipirasi novel Istana Kedua

Suamiku, aku memang tak kan pernah sempurna
Namun aku tak pernah berhenti mencoba agar matamu terus diisi binar cinta

Suamiku, jika sempurna bagimu adalah pengertian dariku untuk membagimu
Maka izinkan aku bertanya, "Relakah kau jika harus membagiku dengan sosok lain?"

 Dan ingatlah, aku takkan pernah bisa sempurna
Pun dengan dirimu
Juga dengan cintaku
Sebab sempurna hanya milik-Nya

***

 “Kenapa selalu tahun – tahun poligami Rasulullah yang dicontoh? Kenapa para lelaki itu tidak mencontoh tahun – tahun panjang Rasulullah, 28 tahun hanya membagi kasihnya untuk Khadijah?

Sementara kebanyakan lelaki sekarang bahkan tidak merasa perlu menunggu setengah dari bilangan tahun yang telah ditempuh Rasul dengan Khadijah, sebelum memutuskan mengambil perempuan lain.” (Hal. 225)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar