Rabu, 02 September 2015

Blue Vino



“..., gen tidak bisa dijadikan alasan aku melakukan sesuatu. Kalau mau beres ya beres saja, kalau mau brengsek ya brengsek saja. Tidak bisa digeneralisasi.” (Hal. 178)

18692699
Penulis: Kusumastuti Fischer
Editor: Dini Novita Sari
Desain sampul: Farah Hidayati
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2013
Jumlah hal.: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-8019-7
Mereka terdiam.
Tanpa kata, namun bukan tanpa makna.
Ketika cinta menebarkan mantranya,
sebuah senyum mampu membuka seluruh bulir rasa.
***

Langenlois. Wilayah perkebunan anggur di selatan Austria itu menjadi tempat Roz menyembuhkan luka hati karena dikhianati rekan kerjanya.

Di tengah deretan pohon anggur serta penduduk pedesaan yang ramah dan menyenangkan, Roz berharap bisa menata lagi kehidupan pribadinya yang terlupakan demi ambisinya berkarier.
Bjorn Baum dan Dagny Kerulaner adalah dua pria yang membuat Roz menemukan sisi lain dirinya. Tapi tak disangka oleh Roz, satu dari dua pria tersebut melakukan hal keji yang nyaris membuat Roz melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

***

Roz adalah perempuan yang menekuni pekerjaan di dunia yang lebih banyak digeluti oleh laki – laki. Menjadi project manager sebuah perusahaan yang bergerak di industri baja tentu tidak mudah. Dan kendala itu jelas terlihat saat keberadaannya sebagai “perempuan” membuat karirnya terancam. Ia pun melakukan sebuah aksi yang ia yakini bisa membuat perusahaan melihat semua yang telah dilakukan.

Ia pun memutuskan untuk mengambil cuti 3 minggu. Tanpa rencana ia berakhir di Langenlois. Ia menginap di Hannerhof yang juga merupakan guest house milik Lisa, sekertarisnya di kantor.

Liburannya berlangsung menarik dengan kehadiran Bjorn yang memikat. Namun mendadak sebuah masalah muncul di Hannerhof. Dan sebagai “Miss Fix-It” Roz tidak bisa tinggal diam. Ia merasa harus membantu Liza.

Ini juga membuat Roz semakin mengenal Dagny, pemilik perkebunan yang berada di sebelah Hannerhof. Namun mendadak masalah menjadi runyam saat salah satu dari dua lelaki yang memikat hati Roz ternyata telah membohonginya dan ini bisa membuat Lisa kehilangan Hannerhof.

Dan Roz harus bisa menyelesaikannya. Ia harus melakukan sesuatu. Harus.


***

Sejujurnya membaca novel Blue Vino ini mengingatkan saya pada novel – novel Harlequin yang diterbitkan oleh Gramedia. Namun bedanya, penulisnya adalah penulis dari Indonesia. Oiya satu perbedaan lain adalah tidak adanya adegan detail untuk kontak fisik yang lebih dari ciuman yang biasa ditemui dalam novel Harlequin.

Cerita yang disuguhi oleh penulis cukup manis. Kisah diramu dengan apik. Cerita dituturkan dengan mengalir sehingga sangat enak dinikmati. *deskripsinya kayak deskripsi masakan ya :D*

Salah satu kekuatan novel ini adalah deskripsi tempat dan suasananya cukup detail dan menarik. Membuat pembaca bisa membayangkan perkebunan perkebunan tersebut dengan cukup jelas.

Dalam hal penokohan pun kuat dan konsisten. Alasan untuk setiap tindakan dan pilihan tokohnya cukup jelas. Sudut pandang orang ketiga menguatkan hal ini meskipun pusat cerita benar – benar berputar di sekitar Roz. Setiap scene menampilkan Roz sebagai pemerannya. Oiya, tokoh Bjorn yang diciptakan Mbak Uti termasuk salah satu tokoh yang paling nyebelin yang pernah saya baca..


Selain itu, secara emosi novel ini pun berhasil mempengaruhi saya. Saat membaca adegan di 1/4 akhir cerita saat Roz bertengkar dengan salah satu tokoh saya juga ikutan kesel dan gemes. Dan sejujurnya saya mikir,"Ini Roz kok sabar banget. Kalo saya sih udah dari tadi ngelempar barang ke orang itu." :D

Ah intinya, ini Amore pertama yang saya suka. He..he.. Senang bisa mencicipinya.

Terima kasih untuk Mbak Uti. Saya tunggu karya berikutnya ya :D

***

Puisi yang terinspirasi oleh novel Blue Vino
 
Mencari masa lalu di masa kini
Tak melulu menyenangkan hati
Akan ada peluh dan tangis
Dan jika beruntung
Takdir menghadiahi kelegaan sebab kekosongan itu telah penuh
Menemukan cinta sejati
Sesulit mencipta karya seni
Ada rasa di sini
Ada luka di sana
Ada tangis dan tawa yang berganti
Ingatlah,
Bisa jadi pencarian membuat lalai 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar