Jumat, 11 September 2015

30 Days Revenge



“Balas dendam adalah sesuatu yang sia – sia, sama sekali tidak berguna. Ketika ia berusaha menyakiti orang yang dicintainya, ia malah merasa sakit sendiri.” (Hal. 120)

Penulis: Monica Anggen
Desainer Kover: Steffi
Penata isi: Abdurrahman
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah: vi + 234 halaman
ISBN: 978-602-251-943-0
Kenapa jadi begini? Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini?
Aku telah kehilangan segalanya. Aku tak lagi punya daya untuk menahannya. Semua orang seakan berkata... Aku tidak pantas bahagia! Aku tidak boleh bahagia walau hanya sebentar saja!
-Cho Hye Mi -

Segala hal akan kulakukan. Segala yang mampu kuberi akan kuberi, meski tak ada cinta itu di hatimu. Semua itu kulakukan hanya demi membuatmu bertahan di sisiku. Agar aku tetap bisa melihat mentari di senyum hangatmu. Agar aku bisa membuatmu tahu betapa aku mencintaimu. Karena aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Hanya bersamamu. Hanya denganmu. Aku tidak akan bisa bertahan tanpamu di sisiku.
-Seong So Hyun-

Seong So Hyun mengira segala yang selam ini diperjuangkan akan bisa diraihnya dengan mudah. Pernikahan menjadi sesuatu yang mendebarkan untuk ditunggu. Tapi sebelumnya, ia harus mencari waktu yang tepat untuk melamar Cho Hye Mi. Sayangnya, tidak pernah ada waktu yang tepat. Harusnya, ia tidak menundanya. Karena penundaan mendatangkan masa lalu yang sama sekali tak disangkanya.
30 Hari!

Seong So Hyun hanya punya waktu 30 hari untuk menyelamatkan Hye Mi. Namun siapa yang ingin membalas dendam pada Hye Mi? Siapa yang ingin menghancurkan hidup Hye Mi dalam 30 hari? Benarkah sosok masa lalu itu ingin menghancurkan Hye Mi? Atau jangan – jangan...

***
Kehidupan Cho Hye Mi yang tenang dan aman karena begitu dicintai oleh Seong So Hyun menjadi kacau balau. Sosok dari masa lalunya datang. Shin Yong Jae, laki – laki yang hampir menjadi suaminya itu kini datang kembali. Membuat Hye Mi semakin menyadari bahwa ia masih mencintai Yong Jae. Itulah yang membuatnya belum kunjung jatuh cinta pada So Hyun.

Namun kedatangan Yong Jae tentu bukanlah dengan maksud baik. Ia ingin membalas dendam pada Hye Mi. Kemudian kebenaran yang terjadi empat tahun lalu yang menyebabkan mereka berpisah tanpa saling mencari pun terkuak. Membuat rasa bersalah Hye Mi membesar. Namun di lain pihak ia pun tidak sanggup melepaskan posisinya sebagai manager Shilla’s Residencea dan mematahkan hati So Hyun.

Hye Mi pun berada di posisi yang sulit. Kemudian sebuah tragedi terjadi. Pembalasan dendam Yong Jae menemukan akhir cerita. Meninggalkan semua yang terlibat dalam permainan itu sakit hati.


***

Cerita dibuka dengan adegan kaburnya Hye Mi dari pesta pernikahannya. Namun sayangnya hal itu tidak cukup clear dijelaska. Cerita tentang ketakutan Hye Mi belum mampu menjadi alasan yang cukup kuat untuk keputusannya. Keraguan akan kondisi ekonomi ataupun atas cinta Yong Jae seolah tumpang tindih tapi tidak mampu terjabarkan dengan baik dalam seluruh cerita.

Penuturan dalam novel ini masih terkesan kaku dan agak berputar – putar. Jumlah halaman 234 dengan tulisan yang cukup kecil – kecil agak membuat bosan.

Namun sesungguhnya keseluruhan konflik cerita menarik. Apa yang terjadi antara Hye Mi dan Yong Jae di masa lalu serta kehadiran So Hyun menjadi drama yang menarik. Kemudian ending cerita diakhiri dengan sedikit tidak terduga.

Sayangnya, karakter Hye Mi dan Yong Jae sedikit kurang konsisten. Sikap Yong Jae yang cenderung rasional dan arogan kemudian menjadi sosok yang mudah emosi bahkan menangis terasa kurang konsisten meski punya alasan atas perubahan perilaku ini. Begitupun dengan Hye Mi. Sosok yang digambarkan penyendiri, mandiri, dan kuat ini kok bisa ya merasa sangat takut kehilangan posisinya sebagai manager hingga secara impulsif mengirim pesan ke So Hyun.  Kesannya karakter yang berusaha ditampilkan sejak awal cerita mendadak menguap begitu saja.

Tapi karena ide cerita cukup menarik dan cerita ditutup dengan tidak terduga, maka membaca novel ini hingga akhir pun tidak akan membuahkan penyesalan


 “Sebagai manusia, kita tidak dapat mengendalikan arah angin. Kita tidak punya kuasa dan kekuatan untuk melakukan hal itu. Tapi kita dianugerahi kemampuan dan otak agar bisa mengatur layar kapal yang kita naiki sehingga kita tetap bisa sampai di tujuan kita meski angin dan badai menerjang kita” (Hal. 120)

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar