Jumat, 28 Agustus 2015

Time for Love


“Rasanya sangat sakit, ketika setiap detak jantung kita masih mendenyutkan namanya. Ketika semua telah berubah kecuali kenangan yang kita punya, ketika satu – satunya yang kita miliki hanyalah kenangan.” (Hal. 81)

Penulis: Irin Sintriana
Penyunting: Fatimah Azzahrah
Desain sampul: Destyan
Penata Letak: Puput Novitasari
Pemeriksa Aksara: Tika Yuitaningrum
Penerbit: Media Pressindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 216 halaman
ISBN: 978-979-911-497-6
“Mengapa kamu ada di sini?”
ulang Kay ketika Bella tak juga menjawab. Kay melihat Bella tersenyum, sesaat sebelum akhirnya ia mendengar gadis itu menjawab, “Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan...”

***

Dia tidak mencintaimu. Itulah satu – satunya alasan sampai kamu bisa merasa kehilangan. Bukankah kamu sendiri yang bilang, selalu ada alasan di balik setiap kehilangan? Lalu kamu menertawakan kepahitanmu, seolah – olah yang kamu rasakan sulit terlipur.

Pernahkah membayangkan, orang yang mengaku mencintaimu, memintamu untuk jatuh cinta lagi? Asal kamu tahu, itu adalah hal tersulit, bahkan untuk sekedar dibayangkan. Padahal, aku tidak ingin jatuh cinta lagi dan aku tidak ingin kehilangan lagi.
Kehilangan, kemudian kembali menemukan. Kita berdua boleh
menyebutnya perjalanan....
***
“Semanis apa pun masa lalu, dia nggak punya tempat untukmu tinggal. Satu – satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus melangkah maju. ...” (Hal. 82)
Pertemuan Bella dan Kay terjadi tanpa sengaja, saat Kay yang baru saja bekerja sebagai fotografer majalah Life and Art, salah satu majalah terkemuka di Sydney. Kay datang meliput pementasan balet dan Bella adalah pemeran utama pementasan tersebut.

Mereka sama – sama berasal dari Indonesia dan bahkan tinggal di apartemen yang sama akhirnya menjadi dekat. Apalagi saat Kay harus berpisah dengan tunangannya, sedangkan Bella harus belajar hidup tanpa Faldian. Faldian meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dan ini membuat Bella merasakan kekosongan dalam hidupnya.

Kay dan Bella akhirnya jadi sahabat. Kehilangan yang  mereka alami membuat mereka merasa senasib. Hingga tanpa sadar hubungan mereka tidak lagi seperti hubungan persahabatan. Namun benarkah Bella sudah melupakan Faldian? Apakah Kay memang mencintai Bella? Apakah  mereka memang ditakdirkan untuk bersama sedang mereka belum dapat melupakan kehilangan mereka.


“Mengapa kamu begitu mencintai langit? ... “Karena langit selalu menjagamu untukku.” (Hal. 63)
***
Novel romance. Ya, sejak awal ini adalah cerita pure romance. Namun yang menarik adalah profesi mereka. Kay seorang fotografer dan Bella adalah seorang balerina. Sayangnya, profesi mereka kurang dieksplorasi. Memang beberapa istilah terkait dunia balet sempat disebutkan, dan pun istilah dalam fotografi. Namun keseharian mereka berdasarkan kurang terwarnai oleh profesi ini terutama profesi Kay sebagai fotografer. Padahal pekerjaan seperti milik Kay itu cukup menyita banyak waktu. Biar bagaimanapun profesi sebagai jurnalis itu adalah profesi yang sering mendapat tugas mendadak.
Namun untuk konfliknya? Dieksekusi dengan cukup baik. Terutama dari sisi Bella. Bagaimana Bella harus menghadapi rasa kehilangannya dan ketakutannya untuk melupakan Faldian. Ia takut bahagia karena ia merasa seperti telah mengkhianati Faldian. Mengkhianati kenangan mereka.
Ide tersebut memang sudah banyak diangkat. Tapi bukankah memang tidak ada ide yang benar – benar original? Cara mengeksekusi ide inilah yang harus berbeda yang membuatnya layak untuk dipilih.
Bagaimana dengan setting tempat? Bagus banget. Setting ini berhasil menjadi bagian yang melebur dengan cerita. Tidak terasa sebagai tempelan.

Cerita cinta yang dituturkan dengan POV 3 dan alur maju ini enak untuk dibaca. Dan covernya? Bikin orang tertarik meliriknya. Sangat manis. Suka deh.

Ini memang novel pertama mbak Irin Sintriana yang saya cicipi.

Sukses terus ya, mbak. Semoga nanti bisa mencicipi karya lainnya :)
“Foto adalah pengabadi kenangan. Dan dengan melihatnya lagi, kita akan menyadari betapa pentingnya kenangan itu saat ini.” (Hal. 183)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar