Rabu, 19 Agustus 2015

[Opini Bareng] Amanat Cerita? Penting Banget!!



sumber gambar: di sini
“Apa amanat cerita tersebut?” Hm..sudah lama tidak membaca pertanyaan seperti ini. Terakhir kayaknya saat duduk di bangku SMA.

Pertanyaan ini secara eksplisit disampaikan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Kemudian saat jawabannya pilihan ganda, maka mumet-lah saya. Karena diminta memilih yang paling tepat padalah 2 dari 4 opsi jawaban saya nilai tepat. Ha..ha.. sila abaikan curhatan yang terlambat ini.

Jika ada yang bertanya tentang nilai amanat dalam sebuah cerita, maka saya ingat, saya sering berkata bahwa saya adalah pembaca moralis. Ya..ya.. sok punya moral baik. Ya kalaupun gak punya paling nggak saya berusaha. He..he..

Ini karena nilai moral dari sebuah cerita sangat penting. Rasanya nilai sebuah buku itu menjadi flat jika hanya berkisah tentang percintaan kemudian tokohnya yang notabene masih remaja digambarkan sangat mellow. Bagi saya, itulah akan memberi impact buruk untuk pembacanya.


Novel remaja yang baik adalah novel yang menampilkan tokoh remaja yang tangguh. Berani mengejar mimpi, mampu bangkit dari kegagalan dan bisa jadi tauladan yang baik. Ini karena novel dengan tokoh yang cengeng dengan kehidupan yang berputar di kisah percintaan seolah lupa atau bahkan merasa tidak memiliki orang tua bisa memberi pengaruh buruk.

Membaca novel percintaan di mana tokohnya mengancam akan bunuh diri jika ditinggalkan bisa saja mendorong seorang remaja yang sedang kalut saat membaca novel tersebut mencontoh tindakan tersebut.

Pemikiran tersebut yang membuat saya merasa bahwa nilai moral ataupun amanat dalam sebuah cerita menjadi penting. Meskipun cara bercerita penulis dalam menulis novel tersebut kurang smooth namun jika novelnya memberi rasa hangat dan semangat positif dan berbagi sebuah amanat yang baik, maka nilainya akan meningkat di mata saya.

Hm.. kalau ditanya apa buku yang membuat saya memetik hikmah kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari, maka saya bingung menjawabnya. Saya suka membaca kumpulan kisah yang merangkum kehidupan para Sahabat Rasulullah atau orang – orang saleh. Ini karena hidup mereka sangat produktif dan bermanfaat. Dan membuat saya malu sehingga termotivasi untuk mengikuti jejaknya. Meskipun sampai sekarang belum berhasil :D

Dan satu novel yang rasa hangat di dada saat membacanya masih membekas sampai sekarang adalah “Anne of Green Gables”. Membaca kepolosan Anne dalam memandang semua hal sangat menarik dan positif. Semua hal buruk yang dialaminya mampu ia lihat dengan sudut pandang positif.
edisi yang saya baca
Novel ini mengingatkan saya untuk tidak sepenuhnya meninggalkan kesenangan masa kecil. Serta menjadi pengingat agar saya tidak merenggut kesenangan masa kecil anak-anak saya kelak.

Oiya, sedikit tambahan. Pertimbangan di atas tentang amanat dan nilai moral membuat saya tidak nyaman membaca novel lokal yang ditulis penulis Indonesia dengan setting tempat di Indonesia mengangkat cerita yang menggambarkan freesex seolah itu sudah mejadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Apalagi jika aktivitas hubungan badan tersebut diceritakan secara mendetail. Itu mengganggu!!!

Beda halnya jika buku tersebut adalah buku terjemahan dengan penulis dan setting negara di luar Indonesia. Maka saya tidak mau ambil pusing. Toh saya tinggal memilih unuk tidak memasukkannya di keranjang belanja saya.

Hm..baiklah, itu sedikit cuap - cuap saya dalam Opini Bareng yang diadakan oleh BBI.

Salam Buku,
Atria 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar