Senin, 24 Agustus 2015

Brink of Senses



“Ini bukan cinta. Cinta tidak menunggu. Cinta tidak menyiksa dirinya sendiri dan menunggu selama hampir setahun, dan tidak mendapat kabar apa – apa!” (Hal. 188)



Penulis: Mertha Sanjaya
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Perancang sampul: Deborah Amadis Mawa
Penata Letak: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: Ice Cube
Cetakan: Pertama, Agustus 2015
Jumlah hal.: vi + 254 halaman
ISBN: 978-979-91-0906-4

“Mengapa kau menari di sini?” tanya Kevin lantang. “Bukankah kau bisa menari di panggung dan dapat uang lebih banyak?”
“Aku tidak butuh uang. Aku hanya suka menari. Menari, menari, dan menunggu.”


Keputusan sang ayah untuk pindah ke New York membawa angin segar dalam kehidupan Kevin Huston. Di kota yang sibuk itu, dia bisa melupakan kenangan buruk akan ibunya dan bisa memulai hidup baru tanpa ada yang tahu riwayatnya sebagai mantan pasien di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine (“Senyum, senyum, senyum karena kau ada di Golden Sunshine!”). 

Kevin berhasil menarik perhatian Carla Friday, gadis paling populer di sekolah dan dia bisa berteman dengan siapa pun yang dia mau. Siapa pun kecuali Scarlett Mendelshon, gadis penari yang ia temui di Battery Park. Berulang kali Kevin mencoba mendekati Scarlett, tapi gadis itu tidak menggubrisnya, seolah pikirannya berada di tempat lain. Tapi Kevin tidak mau menyerah. Karena ada sesuatu dari gadis itu yang mengingatkannya pada kondisinya dahulu.

***

Kehidupan Kevin berubah menjadi tragedi pada suatu malam. Ia pun harus melewatkan waktunya menjadi pasien di sebuah panti rehabilitasi mental. Setelah itu hidupnya tidak pernah sama lagi.

Hingga akhirnya ayahnya, Joseph Huston, memutuskan untuk memulai hidup baru di sebuah kota baru. Mereka pun pindah ke New York, meninggalkan Newport.

Kemudian dimulailah sebuah kisah baru dalam hidup Kevin saat tanpa sengaja ia melihat Scarlett yang sedang menari di Battery Park. Gadis itu menari dengan kostum yang sama setiap hari. Gaun merah. Ditemani sebuah radio hitam kecil yang mengalunkan musik klasik.

Tarian baletnya memukau banyak penonton. Tarian Sang Penanti.


Sayangnya, Scarlett tidak mudah didekati. Ada yang berbeda dalam diri gadis itu. Hingga kemudian tanpa Kevin sadari, ia pun jatuh cinta pada Scarlett. Sayangnya Scarlett terus berkata bahwa ia menunggu Henry. Scarlett sangat mencintai Henry. Dan ia menari untuk menunggu Henry pulang.

Di waktu yang sama Kevin tidak menyadari bahwa gadis paling populer di sekolahnya, Carla, terlihat tertarik padanya. Namun ternyata ada sesuatu yang dirahasiakan Carla dari Kevin dan ini ada hubungannya dengan Scarlett.
 
Bagaimana akhir kisah Kevin?

***

Saya cukup bersemangat mereview buku ini. Kenapa? Karena sekali lagi saya menemukan seorang penulis yang karyanya sangat enak dinikmati.

Novel ini adalah karya pertama Mertha Sanjaya, namun tulisannya tidak terasa sebagai penulis pemula. Tulisannya sangat mengalir dan enak dibaca. Dan jika saya disuguhkan novel ini tanpa informasi apapun tentang penulisnya, maka sejujurnya saya akan berpikir ini adalah sebuah karya terjemahan.

Namun jelas tidak ada karya yang sempurna. Dan ini sedikit pendapat saya. Di akhir cerita, recovery Scarlett terlalu cepat. Ini membuat saya sebagai pembaca merasa bahwa ini tidak sinkron dengan lamanya penantian Scarlett. Tapi saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Nanti spoiler :D

Selain itu penggunaan nama “Joseph Huston” dan “ayah Kevin” yang berganti, agak mengganggu. Ini karena saat membaca nama “Joseph”, pembaca harus kembali mencerna untuk kemudian berpikir, “Oh, ini ayah Kevin.”

Ok, secara keseluruhan novel ini sudah bagus. Deskripsi tempat tidak berlebihan tapi juga tidak minim. Sampulnya pun mencerminkan isi cerita, meski kalau belum baca hanya bisa menebak – nebak, “Ini maksudnya apa ya?”. :D

Good job, Mertha Sanjaya. Saya tunggu karya berikutnya ya :D
“Cinta tahu siapa yang sedang menderita. Biarkan hatimu yang memberitahumu apa yang harus kau lakukan. Jika kamu memang menyukainya, cobalah rajut persahabatan yang erat dengannya dulu, sebelum melangkah kejauhan. Intinya, cobalah bicara lagi padanya.” (Hal. 195)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar