Jumat, 31 Juli 2015

To All The Boys I’ve Loved Before



Penulis: Jenny Han
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Yuli Yono
Ilustrasi isi: @teguhra
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, April 2015
Jumlah hal.: 380 halaman
ISBN:978-602-71505-1-5
Lara Jean
Menyimpan surat – surat cintanya di sebuah kota topi pemberian ibunya.
Surat – surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai – totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah – oleh mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.
Sampai suatu hari, semua surat – surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan – entah oleh siapa.
Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa – biasa saja menjadi tal terkendali. Kekacauan itu melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya – termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya dan cowok terkeren di sekolah.
***
Membayangkan jadi Lara Jean pasti cukup memusingkan. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dan kisah yang sangat mungkin terjadi di dunia nyata, masalah Lara Jean serasa menjadi masalah pribadi. Masalah saya sendiri.
Penuturan Lara Jean tentang kehidupannya sungguh sangat membuat kisah ini dekat dengan pembaca. Lara Jean bisa saja tetangga perempuan saya. Lara Jean bisa saja gadis berkacamata dan selalu memaki cardigan biru di pojok perpustakaan kampus. Lara Jean bisa siapa saja.

Ini karena deskripsi keseharian Lara Jean sangat membumi. Kisah kedekatannya dengan kakak dan adiknya. Pertengkaran mereka. Kekaguman diam – diamnya pada Josh, kekasih kakaknya.
Cerita hidup Lara Jean yang tadinya konstan sebagai seorang gadis rumahan mendadak berubah karena surat – surat cintanya terkirimkan. Kini ia harus memutar otak agar Josh tidak menganggap serius suratnya. Margot, kakakanya, tidak mengetahui hal tersebut.
Ini membuat ia terjebak dalam sandiwara yang dia buat bersama Peter Kavinsky, cowok yang juga pernah ia sukai dan tentu saja mendapatkan surat cinta darinya juga. Ia dan Peter bagaikan langit dan bumi. Peter salah seorang siswa yang jadi idola di sekolahnya. Berkumpul dengan orang – orang populer lainnya. Sedangkan Lara Jean? Ia gadis rumahan. Lebih suka berdiam diri di rumah.
Demi menghindari Josh dan meyakinkannya bahwa Lara sudah tidak memiliki perasaan apapun, gadis itu akhirnya mau menjalani sandiwara sebagai kekasih Peter. Keuntungan bagi Peter adalah dia bisa membuat cemburu Genevieve, perempuan yang sudah bertahun – tahun menjadi kekasihnya namun baru – baru ini mencampakkannya karena sudah memiliki kekasih baru yang lebih dewasa.
Namun ternyata sandiwara ini merembet ke berbagai hal. Lara masuk ke kehidupan Peter dan semakin mengenal laki – laki tersebut. Semakin menyadari kebaikannya dan bisa menikmati waktu saat bersama dengan Peter. Begitu pun sebaliknya. Peter masuk ke kehidupan Lara. Berkenalan dengan keluarganya dan akrab dengan Kitty, adik Lara.
Lantas bagaimana hasil dari sandiwara mereka? Bagaimana hubungan Lara dan Margot setelah kepindahan Margot demi melanjutkan kuliah?
***
Yang membuat novel To All the Boys I’ve Loved Before menarik adalah karena tokohnya sangat realistis. Bukan gadis populer. Punya kehidupan keluarga yang biasa saja. 
Ini membuat tokoh ini terasa dekat dengan pembaca. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa Lara Jean bisa saja jadi gadis yang dikenal oleh pembaca.
Selain itu, cara penulis bertuturpun sangat ringan namun mengalir. Konflik yang dihadirkan tidak sederhana tapi juga tidak membingungkan. Dan tidak ada tokoh yang hadir dengan mendadak. Semua terencana. Cara mereka masuk ke dalam cerita pun sangat halus.
Selain itu, ide cerita tentang surat cinta ini pun menarik dan masih tergolong segar. Meski tetap saja rasanya aneh jika memikirkan bahwa Lara Jean menulis surat dan membubuhi alamat lengkap di suratnya padahal tidak berpikir mengirimkannya.
Selain itu, pelaku utama pengiriman surat pun sudah tertebak sejak awal. :D
Ya, novel ini memang menarik karena kesederhanaannya. Namun untuk membuat pembaca semakin terkesan, konfliknya mungkin sebaiknya dipertajam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar