Jumat, 31 Juli 2015

Sabtu Bersama Bapak




Penulis: Adhitya Mulya
Penyunting: Resita Wahyu Febriatri
Proofreader: Yuke Ratna P & Mita M. Supardi
Desainer Sampul: Jeffri Fernando
Penata Letak: Landi A. Handwiko
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Keempat, 2014
Jumlah hal.: x + 278 halaman
ISBN: 979-780-721-5
“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok. Ini Bapak.
Bapak Cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah,
berkat doa Satya dan Cakra.
...
Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away form us.
I don’t give death, a chance.
Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.
***
]
Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan..., tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

***

Novel ini berkisah tentang Gunawan, seorang ayah yang mempersiapkan agar kematian tidak membuat kedua putranya, Satya & Cakra, kehilangan sosok Bapak sepeninggalnya. Ia ingin tetap membantu Itje, istriya, membesarkan kedua anak laki – laki mereka. Maka ide membuat video – video dengan nasihat sang Bapak di dalamnya menjadi pilihan Gunawan. Ia merasa bahwa teknologi memang seharusnya bisa membantu manusia mengisi beberapa kekosongan. Ia pun ingin menunjukkan kepada sang anak tentang apa yang ia sebut “punya rencana; punya persiapan”. Maka selain mempersiapkan kebutuhan ekonomi yang cukup untuk istri dan anaknya sebelum ia berpulang karena kanker, ia pun mempersiapkan video – video yang bisa mengisi perannya. Tidak sama, tapi paling tidak bisa mengisi kekosongan.

Setelah itu, diceritakanlah kehidupan Satya dan Cakra (atau akrab disapa Saka) saat dewasa. Bagaimana Satya yang tengah mengalami polemik dalam rumah tangganya. Kesadaran bahwa istri dan anaknya ternyata kurang nyaman dengan kehadirannya. Ini membuat ia kembali menonton semua video yang dibuat oleh sang Bapak.

Pun dengan Cakra. Ia yang masih terus hidup sendiri saat semua orang menyuruhnya untuk segera memiliki pendamping hidup, terus berusaha hidup dengan cara yang diajarkan sang Bapak. Ia kini telah siap dengan rumah dan kemapanan ekonomi untuk istrinya, siapapun wanita yang ditetapkan Tuhan sebagai jodohnya.


Dan di lain pihak, Itje, ibunda Satya dan Cakra pun terus berusaha hidup dengan cara yang diajarkan suaminya. Yakni agar tidak membebani orang lain termasuk anaknya sendiri. Ia belajar ini langsung dari suaminya yang sebelum meninggal berusaha untuk menyiapkan kebutuhan ekonomi untuk keluarganya agar tidak perlu menyusahkan kerabat. 

Novel Sabtu Bersama Bapak ini menyajikan sebuah drama keluarga dan pesan – pesan moral yang luas dan dalam. Pak Gunawan tidak hanya meninggalkan sebuah pesan untuk kedua anaknya. Ia telah meninggalkan sebuah pesan untuk seluruh keturunannya. Sebab kelak Satya dan Cakra tentu saja akan “memperkenalkan” Bapak pada istri dan anak mereka.

***

Tidak banyak komentar yang bisa saya berikan tentang novel “Sabtu Bersama Bapak” selain kalimat bahwa buku ini layak dibaca oleh semua orang. Tapi untuk seorang anak-anak atau remaja, buku ini masih kurang sesuai dengan konflik yang muncul dalam kehidupan mereka. Buku ini bisa dibaca oleh mereka dengan usia 17 tahun ke atas. Karena mereka akan lebih mudah menyerap semua pesan yang tersurat dan tersirat dalam novel ini.

Untuk mereka yang sering galau jodoh, baca deh buku ini. Pesan Bapak yang saya tampilkan di scene favorit saya di akhir review ini mungkin bisa membantu memperbaiki kegalauan hati. Dan lihat bagaimana Cakra menghadapi masalahnya dan juga hati yang patah.

Dan untuk setiap laki – laki yang kelak menjadi ayah atau bahkan sudah jadi ayah, baca deh buku ini. Banyak tips parenting yang ditampilkan dalam novel ini. Terutama di bagian cerita yang membahas kehidupan rumah tangga Satya.

Ah, dan untuk perempuan, buku ini pun memberi banyak pelajaran tentang menjadi pribadi terutama istri yang baik. Ini terlihat dari contoh yang diberikan oleh ibu Itje dan Rissa, istri Satya.

Dalam penulisan pun ceritanya mengalir. Tidak banyak yang bisa saya komentari tentang buku ini selain ia memang layak masuk kategori buku favorit saya tahun ini. Buku yang akan terus saya sodorkan pada suami untuk ia baca dan tuntaskan hingga akhir. Jika tidak biar saya yang bacakan setiap malam sebelum kami beranjak tidur. :D
***
Di bawah ini saya mengutip salah satu scene favorit saya. Video yang diperlihatkan pada Saka saat berusia 18 tahun. Saya hanya mengutip sebagian isinya ya.
....
Bapak akan menikahi seseorang. Yang artinya, Bapak meminta perempuan itu untuk percaya sama Bapak.
Untuk memindahkan bakti dia, yang tadinya ke orang tua, menjadi kepada Bapak.
Ironisnya, Bapak gak punya apa – apa untuk mencukup dia. Apalagi mencukupi kalian.
Suami macam apa Bapak ini, jika Bapak meminta itu semua dari dia, tapi gak bisa memberikan apa yang wajib seorang suami berikan?
Apakah terdengar materialistis? Iya. Tapi sebenarnya tidak.”
Pak Gunawan terdiam lama. Seakan perkataan berikutnya akan sama berat dengan perkataan sebelumnya.
“Kewajiban suami adalah siap lahir dan batin. Ketika Bapak menikah tanpa persiapan lahir yang matang, itu artinya batin Bapak juga belum matang. Belum siap mentalnya. Karena Bapak gak cukup dewasa untuk mikir apa arti dari ‘siap melindungi’.
Jika batin Bapak ‘siap melindungi’, maka wujud kesiapannya adalah, punya atap yang dapat melindungi Ibu kamu dari panas, hujan, dan bahaya. Gak perlu megah. Gak perlu kaya. Ngontrak pun jadi. Yang jelas, ada atap untuk melindunginya dan Bapak bayar dari kantong sendiri. Itu, wujud dari melindungi.
Jika batin Bapak ‘siap menafkahi’ maka wujudnya adalah punya penghasilan yang mencukupkan istri dengan wajar. Gak perlu mewah. Gak perlu memanjakan, tapi cukup dan wajar. Itu, wujud dari siap batin.”
Pak Gunawan kembali terdiam – seakan tahu untuk memberi waktu pada audience, yaitu kedua anaknya, untuk meresapi apa yang dia baru jelaskan.
“Bapak ngomong siap batin, siap melindungi. Tapi setelah nikah, boro – boro kasih yang mewah, kasih yang sederhana saja tidak bisa. Bapak minta jadi pemimpin dia. Tapi boro – boro melihat dua langkah ke depan, Bapak sendiri masih dua langkah ketinggalan.”
....
Itu adalah salah satu potongan nasihat dari video – video yang ditonton oleh Satya dan Cakra saat menghabiskan waktu “Sabtu Bersama Bapak”. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada buku ini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar