Selasa, 07 Juli 2015

[Giveaway] Review + Giveaway Take Off My Red Shoes



Penulis:  Nay Sharaya
Editor: Anin Patrajuangga
Desain kover & ilustrasi: Dyndha & Lisa FR
Penata Isi: Lisa Fajar Riana
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Juni 2015
Jumlah hal.:vi +234 halaman
ISBN: 978-602-375-0580
Atha
Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu lama memendam kesunyian. Hanya dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Mendapat tempat yang sama seperti Alia, saudara kembarku. Dan mendapat perhatian dari Ares, kakakku yang sempurna. Aku tak pernah ingin menyingkirkan siapa pun.

Alia
Aku memiliki semuanya. Memiliki semua yang tak dimiliki Atha. Mama dan Ares menyayangiku lebih dari segalanya. Tapi, ada seseorang. Dia satu – satunya yang selalu berada di samping Atha. Apakah salah jika aku ingin memilikinya juga?

Ares
Aku menyayangi kedua adikku dengan caraku sendiri. Dengan cara yang salah. Saat aku menyadarinya, semua sudah terlambat. Salah satu dari mereka menempuh jalannya sendiri dan akhirnya tersesat

Kegan
Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu, sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus adalah sahabatku sendiri.

***

Novel Take Off My Red Shoes ini terinspirasi oleh dongeng Sepatu Merah karya Hans Christian Andersen. Cerita kemudian bertutur tentang seorang gadis kecil yang sangat terobsesi pada sepatu merah. 

Kisah ini tentang dua orang gadis yang bersaudara. Kembar. Tapi berbeda. Alia dan Atha. Alia lebih populer, lebih cantik, dan lebih disukai. Alia mendapatkan perhatian keluarga angkat mereka.

Ya, Alia dan Atha adalah dua gadis kecil yang hidup di panti asuhan. Awalnya keluarga itu memang hanya ingin mengadopsi Alia, namun pada akhirnya mereka pun mengadopsi Atha. Namun perhatian yang mereka terima sangat berbeda. Alia jauh lebih dicintai. Sedangkan Atha? Ia harus terus menelan kekecewaannya sendiri.


Ares pun hanya peduli pada Alia meski ia pun cukup berusaha menjaga perasaan Atha. Namun tetap saja Atha merasakan tikaman rasa sakit di hatinya saat ia menyadari bahwa ia tidak dicintai seperti Alia dicintai.

Kehadiran Kegan memperumit semuanya. Atha yang selalu bertengkar jika bertemu Kegan tidak menyadari bahwa laki – laki itu menyimpan perasaan lebih padanya. Sayangnya, Alia ternyata tertarik pada Kegan. Lantas bagaimana hubungan mereka?

Oiya, masalah di novel ini tidak hanya itu saja. Di dalam novel ini juga ada sebuah misteri yang berkaitan dengan obsesi Atha pada sepatu merah. Dan hingga akhir misteri inilah yang menjadi konflik klimaks di dalam novel ini.

***
Membaca novel ini rasanya menarik dan membuat penasaran. Dan sebenarnya punya muatan emosi yang cukup mendalam.

Penulis berhasil membuat saya sebagai pembaca bersimpati pada Atha. Pada kehidupan Atha yang tidak dicintai. Sedang ia terus menerus harus melihat Alia, saudari kembarnya sendiri dilimpahi cinta dan perhatian dari sang ibu dan kakak. Ini terjadi terus menerus. Dan Atha hanya bisa diam dan terus berharap dan tentu saja berkali – kali kecewa. Namun tetap saja rasanya secara emosi masih kurang mendalam. Ini bisa jadi disebabkan penggunaan sudut pandang orang ketiga dalam menuturkan cerita di dalam novel ini.

Namun, yang jadi kekuatan cerita adalah kehadiran misteri terkait obsesi Atha pada sepatu merah. Ya, Atha melakukan berbagai tindakan yang salah. Namun informasi yang penting disimpan hingga akhir oleh penulis. Inilah yang mendorong pembaca mengikuti cerita hingga akhir.

Namun ini juga menjadi kelemahan buku ini. cerita terkesan berputar – putar. Ini karena keanehan demi keanehan Atha disebutkan. Kemudian diungkit kembali namun tetap dengan informasi yang sepotong – sepotong.

Oiya, dan satu lagi. Jika nanti buku ini cetak ulang, warna tulisan blurb sebaiknya diganti karena kurang kontras dengan warna covernya.

Hm..secara keseluruhan saya suka dengan buku ini. Saya suka cara penulis mengakhiri cerita. Logis dan manusiawi. Manis tapi gak berlebihan.

***
 Sesuai janji, akan ada Giveaway berhadiah novel Take Off My Red Shoes. Kali ini Giveawaynya spesial karena akan ada 2 orang pemenang yang beruntung mendapatkan hadiah novel langsung dari penulisnya.
Dua pemenang ini terbagi menjadi Pemenang Pertama dan Pemenang Kedua.
Untuk Pemenang Pertama: berhak mendapatkan novel Take Off My Red Shoes dan novel Interval karya Nay Sharaya
Untuk pemenang kedua mendapatkan sebuah novel Take Off My Red Shoes.
Nah, mau menjadi yang beruntung mendapatkannya? Yuk simak syaratnya:
1. Follow akun twitter @inayahsyar dan @atriasartika
2. Share link Giveaway ini di twitter kamu dengan mention @inayahsyar @atriasartika dan @grasindo_id
3. Jawab pertanyaan ini:
“Kamu punya obsesi apa sih? Ceritakan sedikit tentang obsesimu itu?”
Contoh: saya ini terobsesi dengan buku. Kalau sudah naksir banget sama satu buku bisa kepikiran dan bisa ngotot nyari buku itu. Pernah aku naksir satu buku dan akhirnya baru dua tahun kemudian berhasil memiliki buku itu. Itu rasanya jadi kepuasan tersendiri :D
Di bawah jawaban kamu tulis data diri berupa nama, akun twitter, dan email.
4. Pemenang ditentukan berdasarkan jawaban yang kami rasa paling menarik. Jadi jawab sekreatif mungkin ya ;)
5. Giveaway ini berlangsung 7 – 13 Juli 2015
6. Khusus untuk yang berdomisili di Indonesia yaaaa
Nah, semoga beruntung Readers, dan terus kunjungi My Little Library dan sapa pustakawannya di @atriasartika biar makin banyak hadiah buku yang terus dibagikan di sini.


36 komentar:

  1. Aku terobesi untuk menjadi yang terbaik dan mendapat perhatian semua orang. Tadinya aku pikir obsesi aku hanya ada pada bidang pendidikan. Contohnya untuk mendapat nilai terbaik aku begadang lebih lama, menulis lebih panjang, mencari refrensi dari buku yang pastinya lebih dari dua buku, mengolah otak untuk mengetahui kemauan guru, dan menulis lebih cepat. Aku kira awalnya ini hanya semangat anak kecil yang masih SD ditekan orang tuanya untuk selalu terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu saat orang tua sudah tidak terlalu protektif. Rasa itu masih ada malah berkali lipat. Dan merambah ke kehidupan sosialku. Tidak hanya terbaik di kelas aku berusaha untuk menjadi inti OSIS, ketua eskul, dan dikehidupan pertemanan aku ingin dipandang selalu benar, dipuja dan diperhatikan karena dengan itu semua aku merasa bahagia. Aku selalu tidak mau dipandang rendah dan diabaikan karena itu akan membuatku merasa kesal. Namun, aku tidak menyadari dengan obsesi itu banyak teman yang tidak menyukaiku. Mereka bilang aku terkesan egois dan sombong tapi aku tidak memperdulikan mereka. Sampai akhirnya aku bertemu teman laki-laki yang selalu menjadi sainganku, yang tidak mau mengalah, dan dia membeberkan kekuranganku dengan caranya sampai aku sadar terhadap obsesiku. Sekarang aku menjadi remaja SMA yang biasa walau obsesiku masih ada namun tak sekuat dulu. Aku senang aku tak terobsesi seperti dulu, karena dulu aku tak memperhatikan kesehatan fisikku, dan memiliki banyak orang yang tak menyukaiku. Karena sekarang aku memiliki sahabat suka dukaku.

    Nama : Rissya Mutya Prima
    Twitter : @RMP2982
    Email : rissyamutyaprima@gmail.com
    Link Share : https://twitter.com/RMP2982/status/618309707011244032

    BalasHapus
  2. Nama: Siti Nuryanti
    Email : sitinuryanti@yahoo.com
    twitter: https://twitter.com/NelyRyanti

    Kalau ditanya obsesi saya saat ini, mungkin tidak terlalu menggebu-gebu seperti halnya dulu saat muda. Sekarang saya seorang ibu dengan 2 anak lho...tetapi saya tetap punya obsesi. Saya pengin sekali kedua anak saya yang masih SD ini dapat menghafal Al-Qur'an minimal 1 juz. Saya tidak akan mengurangi waktu bermain mereka, tetapi prioritas utama adalah mengaji, sebelum bermain. Untuk itu saya masukan ke sekolah islam, semoga anak-anak saya dapat membantu saya mewujudkan obsesiku ini.
    Ada satu obsesiku saat sekolah dulu....dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi yang masih membekas. saya selalu terobsesi untuk menjadi yang terbaik di kelas dalam hal akademik. Sehingga dengan kemampuanku yang sebenarnya pas-pas dan tidak tergolong cerdas, tetapi karena obsesiku besar, saya selalu belajar, hampir setiap hari belajar dan tidak terlalu perduli dengan lingkungan sekitar, sehingga saya bisa dikatakan kurang gaul, tidak banyak teman, tidak pandai bergaul. Meskipun obsesiku terwujud, karena saya hampir selalu menjadi yang terbaik di kelas, tetapi membuatku unhappy di akhir, karena banyak hal yang kulewati masa remaja dulu.

    BalasHapus
  3. Jiah @jiahjava Jepara jiahaljafara32@gmail.com

    beberapa bln lalu, saat saya baru bangun dr hiatus, saya semangat lg ikut kuis2 san, GA macam2. Sampai suatu titik, saya yg beberapa kali bisa menang merasa bs memenangkan sebuah kuis. Ternyata saya tdk menang dan cerita yg menang menurut versi saya sama sekali tdk layak utk menang.

    Sehari kemudian, saya ikut lg kuis dg syarat yg bs saya penuhi. Saya sgt yakin bs menang karena vote yg saya peroleh jauh lbh byk dibanding peserta lain. Wkt itu vote terbanyak yg menang, katanya. Sampai hari pengumuman saya tdk menang lg. Saya ingin marah, menuntut, kenapa saya tdk menang? Pdhal vote itu kuncinya.

    Dalam diam saya berpikir, saya kenapa? Kenapa jd terobsesi menjadi pemenang?

    Saya istigfar byk2. Hrsnya saya tdk boleh sombong, over pede. Hrsnya saya sadar, bahwa kemenangan bukan segalanya. Kemenangan itu dr usaha, doa dan juga faktor x.

    Saya tdk bs menentukan layak atau tdk sebagi pemenang krn saya seorg peserta. Smua hak itu milik pembuat kuis tentunya. Bs jd sebenarnya yg saya anggap tdk layak itu sangat layak di mata juri.

    Sama halnya spt firman Allah yg mengatakan bahwa, kadang kita membenci sesuatu, pdhal sesuatu yg kita benci itu baik menurut-Nya.

    Saya bersyukur, waktu itu tdk sampai marah2 betulan, hanya marah dlm hati saja. Saya sadar seperti niat saya yg lalu2, ikut kuis ya untuk bersenang2. Kalau menang ya bonus, kalau tdk ya cari kuis lagi. Namanya bersenang2 kan bebas.

    Akhirnya ya saya tetap ke sana sini ikut kuis. Semoga nanti ada rejeki jd bs bikin kuis sendiri biar saya merasakan bahwa memilih seorang pemenang itu tidak mudah hehe

    BalasHapus
  4. Obsesi, aku pernah terobsesi sama satu novel. Nah, waktu itu, kan, aku kliatan di toko buku. Terus, aku pengen banget sama novel itu. Nah, berhubung waktu itu, uangku gak cukup, jadinya, bsoknya aku balik lagi ke toko buku itu. Eh, ternyata, novelnya gak ada. Udah ditanya'in ke pegawainya, udah dicariin, tp ttep gak ada x_X gara-gara itu, sampe kebawa mimpi. Kira2 sebulan kemudian, ke gramedia, eh, pas balik badan, langsung kliatan tuh novel. Langsung aja dibeli :D

    Nama : Lois Ninawati
    Email : ninawatilois@gmail.com
    Twitter : @_loisninawati

    BalasHapus
  5. Nama : Veny
    Twitter : @yutakaNoYuki
    Email : himurasora@yahoo.co.id

    Kalau aku terobsesi dengan karakter anime yang namanya Kenshin Himura, dari anime Rurouni Kenshin (kalau di Indonesia judulnya jadi Samurai X :D)
    Itu obsesi ku dari kelas 1 SMP, sejak pertama kali liat animenya di salah satu tivi swasta aku langsung "falling in love" sama karakter ini. Bahkan sampai koleksi komiknya, pakai id medsos dan email yang berbau nama Kenshin Himura, tanda tangan ku pun sampai sekarang berkarakter nama Kenshin Himura.
    Dulu, waktu jaman SMP itu kan masih ada yang namanya kaset (duh, ketauan tuanya :P), ada seorang temen yang mengkoleksi OST anime Samurai X dan aku rela-relain beli seharga 5000-10,000 gitu (untuk ukuranku dulu itu duit yang lumayan), padahal kalau dipikir sekarang pun bisa koleksi OST via download ya, hehehe. Dan anime itu juga sempet diualang beberapa kali baik di tivi swasta maupun tivi kabel, ya tetep aku tonton lagi, gak peduli berapa kali diulang ataupun jam tayangnya ditengah malem, pokoknya kalau sudah berhubungan dengan anime ini selalu on fire lah, sampai sekarang pu tetap begitu, bahkan pernah punya impian kelak kalau punya pacar atau pasangan maunya seperti karakter Kenshin Himura :D

    BalasHapus
  6. nama : Alvina Ayuningtyas
    twitter : @alvina13
    email : orybun@yahoo.com
    share : https://twitter.com/alvina13/status/618628526258827264

    Kalau ditanya saya terobsesi dengan apa.. hmm.. saya terobsesi dengan warna biru sejak SMA. Selalu suka mengumpulkan pernak-pernik berwarna biru, atau kalau lagi butuh suatu barang, saya akan mencari yang warnanya biru. sewaktu akan menikah, saya juga berpesan sama calon suami, untuk mencari mahar yang warnanya biru. waktu melengkapi isi rumah, lagi-lagi saya mencari yang warnanya biru.. mulai dari mug, seprei, kelambu, kulkas, bantal, motor sampai tudung saji juga warnanya biru XD
    waktu anak pertama lahir juga nyarinya lagi-lagi yang berwarna biru, padahal biasanya kalau anak perempuan kan nyariinnya yang warna pink ya? yah, untungnya suami ngga protes sih, mungkin karena biru juga ngga girly banget ya.. jadi dia nyante aja..
    satu satunya ambisi saya yang belum kesampean adalah.. ngecat tembok rumah jadi warna biru. yang ini masih belum di acc sama dia XD

    BalasHapus
  7. Nama: Agnes Budianto
    Twitter: @agnesb0702
    Email: prettyrhythm86@yahoo.com

    Saya memiliki obsesi sama buku. Saya menyukai buku sejak saya duduk di kelas 1 SD. Saya ingat sekali buku yang pertama kali saya dapatkan bukanlah buku fiksi atau pun komik, melainkan buku non-fiksi. Tepatnya, buku "Cara Praktis Menguasai 16 Tenses". Saya yang tidak mengerti apa-apa hanya berterima kasih dan melihat-lihat buku itu. Mungkin, karena buku itu saya bisa dalam berbahasa Inggris. Saya mulai mengoleksi novel-novel fiksi sejak saya meminjam buku Teenlit di perpustakaan sekolah saya pada Januari 2015. Sejak saat itu saya mulai menyisihkan uang jajan saya untuk membeli novel, dan mengekspansikan kerajaan novel saya. Sebelum saya menyukai novel, saya sangat menyukai komik. Tetapi, saya lebih menyukai novel sekarang. Karena menggunakan uang jajan saya, mama saya memarahi saya karena saya membeli buku online selama tiga kali. Sejak saat itu saya diam-diam kalau ke toko buku. Saya juga banyak mengikuti giveaway karena kadang-kadang uang jajan saya tidak cukup. Begitulah cerita obsesi saya terhadap buku.

    BalasHapus
  8. Nama: Gestha Reffy
    Twitte: @AltGST
    Email: gesthareffy@gmail.com

    Saya amat terobsesi dengan headphone. Ini sudah terjadi ketika saya duduk di kelas 5 SD. Entah kenapa setiap melihat headphone model apapun yang dijual selalu membuat saya tertarik dan ngebet ingin memiliknya.Apalagi kalau model headphone nya lucu warna nya kece, uuuhhhhhh ngebetttt bangeetttttt.... Langsung deh ntar saya borong.. Rasanya pengen dibeliii semuaaaa><
    Pernah suatu hari saya ngeliat temen abang saya make headphone keluaran baru yang dia beli di luar negeri. kecee abissssss.. Saya nawarin buat beli tapi dia nggak mau, mau beli yg kayak dia katanya nggak available di Indonesia. Tapi saya maksa gitu buat beli headphone itu. Sampe nangis-nangis dan ngacak2 rambut didepan dia :3 akhirnya diiyain aja sama dia karna dia kasian kali tapi katanya diganti sama 2 headphone saya biar setara harganya. Akhirnya saya ngedapetin headphone keluaran terbaru yang oke punya itu, meski harus ngerelain dua headphone saya yg lain. Trus besok paginya saya jalan2 dan nemu headphone unyu lagi, beli deh... <3
    Kadang saya mikir kenapa saya bisa jadi kecanduan tingkat dewa sama headphone, beli headphone banyak-banyak nggak kepakai, yang dipakai cuma satu itu-itu aja, yang lain buat memenuhi koleksi. Udah dinasehatin keluarga juga jangan boros cuma buat beli headphone segitu2nya.
    Saya udah pernah mencoba menghentikan ini tappi sulit untuk menghentikannya. mungkin Saya emang udah ditakdirin utk jadi headphone addict kayaknya.
    Tapi jujur aja, kalo ngeliat koleksi headphone saya yang tersususun rapi rasanya bahagia banget... apalagi kalo ada yang sampe perjuangan ngedapetinnya. Rasanyaa gimana gituuuu....... kepuasaan laaahhhh :D

    BalasHapus
  9. nama : siti zulaikhah
    email : zulaikhah0796@gmail.com
    twitter : @kimzujonghee

    Aku sangat pengen jadi seorang penulis.
    Belajar menulis itu tak segampang membalikkan sebuah telapak tangan. Aku akui itu susah.
    Harus memiliki imajinasi tinggi, pengalaman banyak untuk memiliki sebuah ide, banyak membaca, tapi itu semua belum cukup kan?
    bagiku yang paling susah dan sampai saat ini masih butuh perjuangan adalah menulis alur ceritanya. Banyak ide bermunculan dikepala, tapi di saat menulis pasti di tengah jalan akan berhenti.
    Ini masih terus mencoba dan mencoba, dan memperbanyak membaca cerita berbagai genre.

    BalasHapus
  10. Nama: Nur Ramadhani Anwar
    Twitter: @DhaniRamadhani
    Email: dhanianwar.ramadhani2@gmail.com

    Obsesi yah? Sama kayak kak Atria, buku. Kalau sudah senang sama buku yah, berusaha sampai bisa punya buku itu. Malah pernah ngerepotin teman di luar kota untuk cariin edisi tertentu. Untunglah temannya juga senang hati membantu. Biasa sampai cari yang benar-benar cuma pasang nomor hape. bukan jualan disitus terkenal, alhamdulillah gak ketipu. Bahkan, sampai pernak-pernik tentang buku, misal baju, bookmark, totebag, bahkan sampai sarung bantal di beli semua. Hehehe. Ada juga yang punya dua buku dengan judul yang sama cuma karena senang sama sampulnya. Tapi apapun itu kalau membuat senang dan tidak merugikan kenapa tidak? Ah, yang satu ini, pecita buku juga pengen semua, punya perpustakaan sendiri. hehehe.

    BalasHapus
  11. Saya punya obsesi sama kuis. Ya, siapa sih yang gak suka gratisan? Saya suka ikut kuis karena rasanya asik aja. Tentu ngarepin menang sih, cuma yang penting bukan itu. Rasa bisa jawab atau menyelesaikan tantangnya yang saya suka. Nah, namanya obsesi nih kalau berlebih kan bahaya ya. Dulu saya ikut kuis bahkan gak inget waktu. Besoknya ada try out UN Biologi, eh malemnya malah bikin puisi buat kuisnya itu. Alhamdulillah menang sih tapi. Hehehe. Atau pas tahun lalu ada kuis tebak judul buku gitu banyak, saya kan nebakin terus sampai buku catatan penuh. Pas diliat temen saya di sekolah, komentar dia gini, "Yaa ampun, kamu mau UN juga masih aja mikirin ginian." Pas itu saya mikir, iya juga ya. Kok jadi anak saya gak fokus gini. Tapi ya gimana sih, sukaaaa.
    Tentu dari obsesi ikut kuis ini, ada hal positifnya juga. Selain kalau menang dapat hadiah. Positifnya itu saya jadi belajar banyak. Yang tadinya gak nulis cerpen, jadi nulis untuk kuis. Puisi juga. Atau dari kuis jadi bisa cerita banyak dan punya temen baru banyak.

    Yaa, gitu deh. Sekarang udah gak seobsesi dulu. Sekarang udah bisa memilah dan sesuai waktu. Tapi masih ada obsesinya dikit-dikit. Buktinya ini saya ikut kuis di sini. Hahahaha. Semoga menang deh.

    Deasy Dirgantari S
    @deasyds
    ddirgantaris(at)gmail(dot)com

    BalasHapus
  12. Nama: Nadia Puspaningtyas Ashari
    Alamat E-mail: nadia.puspaningtyas@yahoo.com
    Akun Twitter: @nadia48nafla

    Jawaban:
    Bicara soal obsesi, aku terobsesi banget dengan dunia komik. Sudah suka komik mungkin waktu SMA, karena teman juga suka. Kalau udah ada komik baru terbit, langsung deh ke toko buku, lihat-lihat, dipilih-pilih sampai berjam-jam. Di toko buku itu, mungkin kalau menurut orang aku ini mencurigakan, jalan kesana-kesini di rak-rak komik selama berjam-jam dan itu nggak tahu mau jadi beli apa nggak.
    Pernah nggak dibolehin beli komik dulu sm mama, soalnya sdh banyak ;p.

    Selain komik, juga terobsesi banget pengen bisa jd komikus, pernah liburan sekolah 2 minggu, aku isi full tiap hari browsing cari dasar-dasar menggambar komik smpai akhirnya bisa nggambar karakter walupun cm karakter cewek dan rasanya itu seneng banget ^^
    Sekarang mau cb koleksi novel dgn ikut Giveaway di berbagai blog. Termasuk disini, hehehe
    Untuk yg satu ini, semua orang pasti juga mau, pengen punya perpustakaan sendiri di rumah. Kan keren tu isinya koleksi komik jepang, komik Indonesia sm novel-novel berbagai genre. ;D

    BalasHapus
  13. Wahyu Triyani
    @witri_nduz
    witinduz2@gmail.com

    Obesesi, pengen jadi penulis. Merasakan kebanggaan tersendiri ketika karya kita dibaca oleh semua orang. Aku suka menulis. Dengan menulis, aku menceritakan mimpi.

    BalasHapus
  14. Obsesi saya dari dulu : KRI Dewaruci.
    Gagah tapi juga cantik. Pengeeeeen banget bisa masuk ke dalamnya. Ngiri sama bule-bule yang sudah berkesempatan masuk dan menikmati suasana di dalam KRI penjelajah samudera kita yang hebat itu.
    Saking sukanya, saya sempat cekoki putra pertama saya tentang KRI Dewaruci. Waktu dia umur 2 tahun dia fasih menjawab pertanyaan orang2 soal cita-citanya. "Pengen jadi angkatan laut. Bisa naik kapal gedhe. Kapal Dewaruci." Haha.
    Tapi sekarang dia sudah ganti cita-cita jadi pemadam kebakaran :p
    Ya nggak apa-apa sih, kan masih ada anak kedua. Wkwkkk~
    Semoga salah satu dari mereka bisa mewujudkan mimpi simbok'e sebelum Dewaruci pensiun ^^

    Nurina Widiani
    @KendengPanali
    nurinawidiani84@gmail.com

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. Sejak SMP obsesi terbesarku adalah menjadi seorang penulis. Pernah suatu ketika guru bahasa indonesia memberi tugas membuat cerpen. Banyak diantara temanku yang lebih memilih copas dari internet. Sedangkan aku lebih memilih mencoba membuat sendiri. Itulah tulisan yang pertamakali aku tulis. Waktu SMP aku banyak menghasilkan banyak cerpen yang menurutku tulisanku itu tidak terlalu bagus. Cerpen tersebut aku kumpulkan dalam satu buku. Namun, buku itu telah hilang. Walau begitu, semangatku tidaklah sirna. Aku terus belajar menulis sampai sekarang. Sampai-sampai aku diam-diam mencuri waktu didalam kelas pada saat dosen menerangkan mata kuliah. Ide itu muncul tiba-tiba tidak mengenal waktu dan tempat. Dan akhir-akhir ini aku sedang berusaha menyelesaikan naskahku yang tak kunjung rampung. Ku akui ini lebih sulit ketimbang membuat cerpen. Kebanyakan aku dibuat stuck. Tapi aku harus terus berusaha menyelesaikannya dan mengirimkannya ke penerbit. Siapa tau nantinya naskahku dilirik. Amin
    Semoga obsesi sekaligus cita-citaku ini mungkin, dapat segera tercapai. Amin

    Lalu obsesi yang lainnya adalah membaca novel. Mengingat harga novel yang cukup wow dan kantongku belum mencukupi untuk membeli novel yang aku inginkan, aku lebih rela meminjam kesana kemari pada temanku. Ya walaupun bukan novel yang aku inginkan setidaknya ada yang bisa dibaca. Dalam sehari aku bisa menghabiskan 2 sampai 3 novel. Dan itu membuatku ketagihan. Ingin lagi, lagi dan lagi membaca novel yang berbeda. Semacam kecanduan. " pokonya harus bisa dapetin novelnya " hatiku terus berteriak seperti itu. Tapi sedikit-demi sedikit aku mulai sibuk. Sampai-sampai tidak ada waktu untuk membaca.

    Nama : Afika Yulia Sari
    Twitter : @afikayulia
    Email : afikayuliaakb@gmail.com

    BalasHapus
  17. Saya terobsesi dengan dunia sastra khususnya sastra Indonesia. Ya, dunia dimana kita bisa menuangkan semua inspirasi, marah, keluh, kesah, sedih bahkan senang. Keseharian pun juga bisa dituangkan, jika kta pandai dan lihai merangkai kata demi kata maka akan terlihat indah dan menarik untuk dibaca. Mungkin saya tidak begitu banyak pengalaman mengenai syarat- syarat penulisan yang benar. Sedikit otodidak pun itu bisa membuat saya terus tidak berhenti menulis apapun yang ingin saya curahkan dalam tulisan tersebut. Walau terkadang hal ini kurang didukung oleh orang tua saya, tapi mau bagaimana saya sudah sangat cinta dan inilah bidang saya. banyak juga untuk mencoba mencari referensi dengan mengikuti beberapa kompetisi menulis, ya walau hasilnya kurang memuaskan, atau terkadang sekedar membaca beberapa novel atau fanfiction. Tapi hal itu tidak sama sekali membuat saya mundur begitu saja dengan dunia penulisan. Saya berharap semoga kedepannya saya bisa meramaikan dan bergelut dibidang sastra Indonesia dan juga dapat mengangkat selera baca masyarakat Indonesia khususnya remaja.

    Nama: Arini Angger
    Twitter: @ariniangger
    Email: ariniangger@gmail.com

    BalasHapus
  18. Sejak SMP saya terobsesi sekali ingin menjadi penyanyi. Padahal saya kalau nyanyi juga nggak bisa dibilang bagus. Awal obsesi saya sebenarnya bermula dari teman saya. Dia sangat pintar menyanyi sampai berbagai lomba dia menang. Sejak saat itu saya ingin sekali menjadi penyanyi. Sampai2 saya cari tips gimana caranya melatih vokal, belajar apa saja tentang menyanyi sampai makanan dan minuman untuk menjaga suara tetap bagus juga saya cari. Saya nggak bosen-bosen cari di youtube. Walaupun harus sering pergi ke warnet sepulang sekolah karena warnetnya jauh dari rumah (waktu itu ke sekolah bawa sepeda). Nggak cuman itu, saya juga sangat antusias kalau di TV ada acara ajang lomba menyanyi. Saya pasti nonton dan niruin gimana caranya membawakan lagu-lagu tadi. Ada lagi, biasanya saya suka ngrekam suara saya waktu nyanyi-nyanyi pakai HP seadanya. Terus aku edit sendiri biar kayak beneran rekaman (seperti artis penyanyi di TV). Sampai sekarang keinginan itu masih ada, walaupun tidak terobsesi seperti dulu.

    Nama : Evi Hikmawati
    Twitter : @evi_hikma
    Email : evihikmawati662@gmail.com

    BalasHapus
  19. Nama: Anis Antika
    Twitter: @AntikaAnis
    Email: anis_antika@yahoo.com

    Aku terobsesi banget sama yang namanya kebersihan, ketertiban, dan kedisiplinan. Iya, OCD gitu. Jadi, buku aku yang di rak itu aku susun berdasarkan penerbit, tinggi buku, tahun terbit, dan pengarang. Kalau aku mau jemur baju, warna baju sama warna hanger aku sesuaikan juga. Baju kuning, hanger warna kuning. Aku juga terobsesi banget sama kebersihan. Setiap kali habis pegang benda yang menurutku kotor, aku harus cuci tangan dan harus pakek sabun. Ya itulah obsesiku.

    BalasHapus
  20. Nama : Lidya Marselina
    Twitter : @LidyaMarselina
    Email: lee_dya_mars@yahoo.com

    Menurut saya, obsesi itu bukan sesuatu yang buruk. Terobsesi terhadap sesuatu bukan berarti mengejar matimatian hal itu, tapi lebih pada usaha yang sepenuh hati. Jd, obsesi bisa dibilang adalah keinginan dr dalam hati yang dilakukan dengan usaha yang tulus-bukan menggebu gebu.
    Kalau ditanya obsesi apa yang saya miliki, tanpa perlu berpikir panjang saya pasti akan menjawab: membahagiakan dan dibahagiakan.
    Sesimpel itu.
    Saya tidak minta harus jadi pengusaha seperti cita-cita saya, tidak juga minta uang banyak seperti yang diingini kebanyakan orang, tidak juga minta menjadi yang terbaik diantara semua orang.
    Cukup membahagiakan-dan dibahagiakan. Bahagia yang tak perlu direncanakan; bahagia karna apa saja tanpa perlu dikotak-kotakkan.
    Saya mengusahakan keduanya dengan usaha setulus mungkin. Menurut saya, semakin kita matimatian dan memaksa obsesi itu untuk ada pada diri kita, yang ada bukannya bahagia, tapi tertekan - syukur syukur kalau yang diobsesikan jadi kenyataan, kalau tidak? Tidak sedikit orang yang bisa gila karna obsesi berlebihannya itu tidak terpenuhi .
    Jadi lebih baik memiliki obsesi yang simpel simpel saja [jika kita membahagiakan orang lain, maka percaya lah kalau kita juga akan dibahagiakan oleh yang lain].

    Obsesi setiap manusia( tanpa terkecuali ): BAHAGIA.

    BalasHapus
  21. Sejak kecil saya terbiasa nonton film-film Amerika, dengar lagu-lagu Amerika & Membaca novel dengan latar Amerika. Saya tumbuh jadi remaja yang mengidolakan artis- artis dan penyanyi-penyanyi dari negeri Paman Sam itu. Nah, hingga sekarang New York selalu menjadi impianku. Saya makin gencar belajar Bahasa Inggris dan membaca segala esuatu tentang New York. Karena saya yakin akan ada jalan menuju sana suatu hari nanti. Entah itu untuk bersekolah atau bekerja di sana. Aamiin.

    Nama: Dian Maya
    Twitter: @dianbookshelf
    Link share: https://twitter.com/dianbookshelf/status/618604352211566592

    BalasHapus
  22. Nama : Amilatun Sakinah
    Twitter : @amilatunS
    Email: amilatunsakinah@gmail.com
    Link Share : https://twitter.com/amilatunS/status/619149073698783232

    saya terobsesi sama buku dan soundtrack film2 yg sudah saya tonton. buku sih, kayaknya semua pecinta buku tahu gimana rasanya ketika buku yg diincar terbit, gimana rasanya dengar ada obral buku, gimana bisa ikut nimbrung sama pecinta buku dan dapat tanda tangan penulis. apalagi jalan ke sana ke mari di toko buku. belum lagi kalau nekad buka tobuk online. beuh, serasa dunia cuma ada buku. nah, soundtrack film, suka nggak sabar untuk nunggu kuota internet malam berlaku. soalnya, lagu yg diputar di film2, saya rasa pasti selalu bagus dan berkesan. oh, iya, satu lagi, nonton booktube. awal bulan suka banyak book haul sama wrap up. senang nontonnya. hehe.

    BalasHapus
  23. Obsesiku untuk saat ini memahami, menyeleksi dan bagaimana cara menulis review yang baik serta jujur menurut penilaianku pada sebuah karya sastra terutama novel. Selama ini, aku kalau baca novel langsung ditaruh gitu aja paling yang membekas hanya kesan dari kehidupan para tokoh dalam novel tersebut. Untuk saat ini, setelah mengikuti beberapa giveaway ternyata membuat suatu review itu penting bagi penulis karena review adalah suatu bentuk apresiasi pada penulis. Jadi, penulis mengetahui kelebihan dan kekurangan pada novel yang telah mereka terbitkan. Nah, obsesiku sekarang bagaimana untuk menyelesaikan membaca sebuah novel tanpa melewatkan kelebihan dan kekurangan dari novel tersebut, karakteristik dari setiap tokoh, alur cerita, sudut pandang yang dipakai oleh penulils serta amanat / pesan apa yang ingin disampaikan oleh penulis pada pembaca. Siapa tahu review yang aku tulis dapat dijadikan resensi oleh teman-teman sehingga tertarik untuk membeli novel yang telah aku review. Meskipun baru 2 novel yang aku review. Tapi, aku yakin secara perlahan dan bertahap aku pasti bisa mereview seluruh novel yang aku punya. Aku juga dapat membagi waktu dengan baik. Selalu semangat! Yakin! Aku pasti bisa seperti Kak Atria dan juga para reviewer lainnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Atria maaf terlewat ...

      Nama : Agatha Vonilia
      Akun twitter : @Agatha_AVM
      Email : agathavonilia@gmail.com

      Hapus
  24. Nama : Rany Dwi Tanti
    Twitter : @Rany_Dwi004
    Email : ranydwi11@yahoo.co.id

    Kamu punya obsesi apa sih? Ceritakan sedikit tentang obsesimu itu?

    Berkenalan dengan banyak orang. Saya bukan pribadi yang bisa memulai sebuah pembicaraan. Namun memang kata sesimpel “halo” bisa menjadikan kita bagian dari kehidupan seseorang. Kegiatan tersebut menjadi obsesi saya karena bertemu, berkenalan, dan membicarakan sesuatu dengan orang baru merupakan hal yang “indah” untuk dilakukan. Berkenalan dengan mereka tentu saja membuat saya lebih banyak memiliki cerita yang bisa kita ceritakan untuk anak cucu kelak. Berkenalan dengan mereka membuat saya menemukan keluarga baru yang takkan bisa terlupakan. Berkenalan dengan mereka membuat saya menemukan berbagai sifat / jenis orang yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Akan ada banyak pengalaman unik tentang kegiatan itu. Terlebih saya juga akan memperluas tali persaudaraan saya dengan mereka. Seperti pepatah “tak kenal maka tak sayang” setelah mengenal mereka, ada sepercik rasa sayang yang saya temukan dalam diri saya, yang membuat saya ingin terus membuat mereka tersenyum atau sekedar nyaman berada di dekat saya. Saya akui hal itu tidak mudah, namun bukankah sebuah tantangan itu diciptakan dengan kadar yang sulit ditaklukkan? Maka dari itu, mulai hari ini saya yang cenderung pendiam dan sulit bergaul ini ingin menaklukkan obsesi tersebut. Dengan bertemu banyak orang, menjalin persahabatan dengan mereka dan membuka diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

    Ada banyak hal yang membuat saya terobsesi untuk melakukan hal tersebut. Terlebih karena kita termasuk makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Saya termasuk makhluk sosial yang membutuhkan yang lain untuk menjalani hidup saya. Hidup saya takkan berwarna tanpa mereka. Alasan lain kenapa saya ingin mewujudkannya adalah karena saya suka traveling, yang mau tidak mau akan bertemu dengan satu atau dua orang di tempat baru yang saya kunjungi, berinteraksi dengan mereka lalu menjalin sebuah persahabatan. Untuk mewujudkan obsesi tersebut saya bahkan mengikrarkan diri untuk setidaknya berkenalan dengan satu orang dalam satu hari.

    BalasHapus
  25. Obsesi ingin punya hidung mancung, semancung paruh burung betet kayak punya Shaheer Syeikh yang keturunan India atau mancung lancip seperti pemeran Putri Hurrem yang keturunan Timur Tengah. Nggak usah yang kayak bule, akika masih cinta sama produk Asia. :))

    Punya hidung yang cuma segini ukurannya sering disebut pesek dari para tetangga. Padahal menurutku yang penting aku masih punya hidung, batangnya masih kelihatan kok. Nah, pasalnya saudara-saudaraku yang di atasku itu pada mancung banget ngikutin hidung Papa. Terkadang ngerasa kalo ini nggak adil dan lama-lama malah bikin jengkel, bahkan sejak kecil dulu mereka memanggilku dengan sebutan "si pesek". Sakitnya tuh di sini... *tunjuk hidung yang dipencet ke atas*

    When I tried to encourage myself dengan bilang, "aku mancung kok, mancung nih!" Selalu dibantah dengan, "iya, mancungnya rada ke dalem." Malah kakakku nyeletuk, "makanya kalo ngupil tuh pake kelingking aja, jangan pake jempol apalagi jempol kaki." Eh, siapa juga yang ngupil pake jempol? Diledekin gitu mulu malah tambah bikin dongkol. -_-

    Sejak itu aku jadi suka ngerasa ringam--semacam risih atau sebel gitu, entahlah bingung bedainnya--kalo ngelihat ada temenku yang punya hidung mancung lebih daripada aku. Kalau lagi nggak ada kerjaan, di sekolah dan di rumah, aku suka tarik-tarik sendiri hidungku. Pernah juga nyobain dijepit pake jepitan jemuran, sampai warna hidungku memerah kayak orang kena flu di kutub utara. Tapi yah nggak ada hasil, hidungku masih segini aja. Udah gennya kalik ya.

    Saat kepikiran soal gen, aku sadar aku nggak boleh terobsesi dengan hidung mancung untuk diriku sendiri. Sama aja aku nyalahin seseorang yang nurunin gen ini dong. Nggak mau kalo nantinya malah nekat oplas atau suntik apalah itu namanya. Aku takutnya ini semacam nggak mensyukuri apa yang sudah Tuhan beri dan ciptakan untukku. Lagipula dengan menyadari kalo ini gen, aku jadi nggak merasa pesek sendiri dong di keluargaku. :p

    Kalo sekarang sih obsesi hidung mancung itu sudah memudar menjadi kekaguman dengan orang-orang berhidung mancung. Kalo ketemu yang mancung, aku bergumam di dalam hati, "beruntungnya orang ini punya hidung bagus begitu" tapi aku juga tak lupa bersyukur atas diriku sendiri. Aku pasti punya kelebihan lain meski bukan di hidung. Trus kalau lihat cowok mancung itu aku bawaannya jadi gemes deh, jadi pengin nyubit dan gigit hidungnya. #eh

    ***

    Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya
    Email: ayamurning@gmail.com

    BalasHapus
  26. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  27. Hobi aku yg suka baca novel bikin aku suka hunting novel2 keren & menarik, sampe kadang bela-belain untuk beli.
    Tapi ketika kerja di depan komputer yg ada internetnya, aku jadi sering browsing novel, dan ternyata banyak banget novel yg bisa dibaca online, kaya di wattpad, widbook sampe blog penulis keren. Dan aku baru tau ternyata banyak penulis muda yg keren-keren.

    Melihat mereka ada yg sampai bisa mencetak hasil karya mereka jadi novel dan bisa nangkring di toko buku,
    jadi deh aku punya Obsesi jadi penulis juga!

    Tapi.....ternyata melihat banyak novel-novel online yg bagus-bagus bikin aku lebih sibuk baca dari pada fokus untuk nulis heheee
    alhasil keinginan buat cerita sendiri selalu kepending... :(
    Dan aku sekarang malah sering ngumpulin novel-novel karya teman-teman buat bahan bacaan, karena ya ampuuuunnn banyak banget yang masih harus dibaca!!

    Jadi obsesinya apa???
    Mungkin saat ini obsesiku ngoleksi novel-novel menarik & keren kali yaaa, apalagi kalau bisa dapet gratisan heheheeee
    Dan mungkin saat nanti punya waktu luang yg banyak, bisa mulai menulis karya sendiri, amiiiinn
    ^_^

    Nama: Auliyati
    Twitter: @nunaalia
    Email: auliyati.online@gmail.com

    BalasHapus
  28. Nama : Rima Dwi Andina
    Twitter : @andinarima
    Email : andinarima94@yahoo.co.id
    Link share : https://twitter.com/andinarima/status/619139587286302720

    Aku punya obsesi terhadap warna pink! Iya, warna merah muda yang unyu-unyu itu. Setiap kali aku mau beli barang, kalau ada warna pink nya kenapa harus warna lain? Bahkan warna dinding kamarku pun warna pink. Seprei kasur juga warna pink. Pernak-pernik sekolahku warna pink. Bahkan sudah beberapa tahun ini baju baju lebaranku bernuansa pink. Yah, walau sudah kelas tiga SMA, tapi bagiku warna pink tetep warna yang imut. Tapi, bagi sebagian orang, warna pink itu diidentikkan dengan anak kecil. Sumpah, itu bikin sebel banget! Apalagi, Mama-Papa terkadang suka ngomong kayak gitu! Emang harus banget ya, warna pink diidentikkan dengan anak kecil, enggak, kan?

    BalasHapus
  29. Aku terobsesi banget sama novel.
    Mulai kecil emang suka banget baca, ada tulisan gitu langsung aku baca waktu aku kecil sekalian belajar membaca saat dulu.
    Dan mulai beberapa tahun terakhir ini I got a long novel's wishlist-.- entah itu dari penerbit kesayangan aku atau dari cerita yang bikin aku tertarik. Yang jelas banyak banget judul novel di daftar itu. Dan aku sebagai pelajar yang hanya dapat uang saku dari orangtua hanya bisa ngumpulin sedikit2, pernah akhir taun kemarin berniat buat jajan cuma 2ribu disekolah dan sisa uang bakal ditabung, tapi yaa namanya anak sekolah yang dapat waktu istirahat dua kali, gak bakal bisa yang namanya jajan cuma 2ribu-_- akhirnya sekarang belum bisa ngurangin sedikit aja judul novel di daftar itu *sighs*
    Karena frustasi ngeliat wishlist itu, akhirnya aku ikutan kuis2 yng berhadiah novel2 yang aku mau, dan berulang kali ikutan, aku gak pernah menang, sekalipun belumT_T
    Daan karena gak punya novel yang baru, akhirnya aku coba2 buat fanfiction dan cerpen2 di blog, hitung2 ngisi waktu luang.
    Setelah beberapa tahun berkutat di fanfiction dan cerpen, sekarang aku lagi berniat buat membuat sebuah novel hehe.
    Maklum anak remaja yang punya banyak imajinasi :D
    Dan intinya karena obsesiku terhadap membaca dan novel, aku jadi orang yang punya niat besar, jadi penulis fanfic dan cerpen blog, dan bercita2 jadi novelis aamiin..
    Dan karena novel, aku jadi punya banyak cerita2, imajinasiku semakin besar, dan aku jadi orang yang sensitif haha

    Nama: Dhen Sarinda Elita
    Twitter: @dhen_yoiyoi
    Email: dhensarinda@yahoo.com

    BalasHapus
  30. Obsesiku adalah membuat dia sadar, bahwa menyukai seseorang itu memang hak kita, tapi kita juga harus bisa menerima klw orang tersebut tidak membalas perasaan kita. karna setiap orang berhak menentukan perasaannya masing2, dan juga jangan melakukan kecurangan karna itu akan merugikan dirimu sendiri akhirnya. percayalah, sesuatu yang dipaksakan itu ujungnya pasti tidak baik.

    Nama: Khusnul
    Twitter: @imahreana
    Email: khusnulalsyafia@gmail.com

    BalasHapus
  31. OBSESI !!

    Kalau menyangkut kata yg satu ini aku suka plinplan dan kebingungan. Karena apa, obsesi ku banyak. Pertama, aku pengen banget punya mobil pribadi dg nomor polisi N 1 A ^^ huhhh... kapan ya... knp aku pilih plat nomor spt itu, krn itu sama dg nama adek kesayangnaku :)) *pukpukpuk*

    Kedua, gara2 hobi stalking di sosmed para seleb, aku jadi ikutan narsis spt mereka, ootd-an lah, selfie-selfian lah, dan untung jg, hoby ngikutin seleb2 itu bisa bikin aku punya banyak inspirasi dlm mix and match busana yg mau aku pake. Entah itu baju lama yg ada di lemari atau baju baru yg dr toko :)

    Oh ya, bakat fashion ku jg terasah berkat online shop ku. Berawal dr terobsesi punya toko sendiri, akhirnya aku ngalor ngidul cari temen yang bersedia kenalin aku dg suplier baju. Paling enggak mau deh ngajakin aku jd reseller di grup BBM nya :) hiksss.... *pertemanan yg modus ya* ^^

    Alhamdulillah, berkat terobsesi pengen punya online shop sendiri, q jd punya banyak temen di bbm, meski sebagian ada yg g aku kenal sih. Bersykurnya lg, q gak begitu frustasi jd pengangguran. Maklum, blog ku yg udah lama malang melintang di dunia maya, g prnh berhasil daftar adsense :(

    Setelah punya online shop. q msh terobsesi banget punya toko baju sendiri. biar bisa ngembangin bisnis dan bantu keluarga gitu, tp sayang, terkendala modal :(

    Oh iya, satu obsesi ku yg dr tadi blm aku bahas sedikutpun adalahhh...... *husttt tp janji ya, jgn diketawain* !!

    OKE... obsesi ku adalah jd penulis novel terkenal. Spt mimpi sih, dan mngkn cuma akan jd khayalan, krn apa???

    aku susah banget dpt feel yg bagus ktk semangat nulis menggebu2. Pas dpt mood booster yg oke, ehhh... malah buntu idenya. Sekalinya nulis panajng2, malah bingung mau ngelanjutin ceritanya. Begitu semngat udah ready, mood oke, dan ide cemerlang datang. masihhh ada aja yg gangguin -_- ibuk nyuruh kesana lah, di gangguin adek lah... ada tamu lah... Huhhhh... kapaaaaaannnn bisa jd penulis kalo gini mak :|

    Tulisan yg sjk thn 2012 (kalo g salah) q proses, spe lebaran 3 kali pun tetap di folder. ga lanjut??? dirombak bolak-balik iya :( duhhh.... gmn sih caranya bisa menghasilkan tulisan yg bagus. Satu novel aja :) pliisssss ajari aku :|

    OBSESI ku itu kadang tercapai kadang jg .... yahh kayak obsesi yg pengen jd penulis novel :o diam di tempat :(

    bai the we on the way.. mf loh udah curhat habis2an di kolom komentar ini. smg obsesiku selanjutnya bisa sukses dan berjalan baik. g seperti yg terakhir. Bagai Pungguk Merindukan Bulan :( gatot !!

    eh iya, kan mau lebaran nih. Sekalian deh ucapin Minal Aidzin Wal Faidzin buat Grasindo (@grasindo-id), buat neng geulis Atria Sartika (@atriasartika) dan pemilik novel #TakeOffMyRedShoes tentunya ^^ Mohon maaf lahir batin ya :) jadikan aku pemenangnya *modus* wkwkwkwkwk :))

    Nama : Elok Faiqotul
    Twitter : @_elokfa
    Email : elokfa@gmail.com

    BalasHapus
  32. Obsesi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan. Berdasarkan definisi ini, maka sulit bagiku untuk menentukan obsesiku pribadi sebab akhir-akhir ini terlalu banyak yang mengganggui pikiran dan hampir gangguan jiwa karenanya (semoga tidak :D). Namun, bila harus memilih, obsesi untuk keliling Indonesia adalah obsesi terbesarku dari dulu hingga sekarang. Jumlah pulau Indonesia yang mencapai 17508 pulau dan bila diandaikan dalam satu hari kita mengunjungi satu pulau, maka butuh 17508 hari atau hampir 50 tahun untuk menjejakkan kaki di semua pulau Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote. Mengenali, melihat langsung, memotret serta merasakan sendiri keanekaragaman suku, bahasa, budaya, dan pemandangan alam Indonesia adalah faktor paling dominan mengapa keliling Indonesia adalah obsesi yang keren bagiku. Dunia begitu kecil bila aku hanya memandangnya dalam kotak televisi atau deretan foto di majalah. Indonesia menungguku dan menunggumu. Salam Nusantara! :)

    Nama : Muhammad Arsyad Yahya
    Twitter : @arsyad_yahya
    Email : muhammad.arsyad.yahya@gmail.com
    Link tweet : https://twitter.com/arsyad_yahya/status/620492693425164289

    BalasHapus
  33. nama : yeni lestari
    twitter: @yenil199
    email : yenilestari434@yahoo.co.id

    hm obsesi ya, aku terobsesi bgt buat masuk?terjun dalam dunia jurnalistik. sedikit cerita ajadehh, aku mulai suka dgn jurnalistik sejak aku nonton film 'radio galau fm' disitu ada scene jd penyiar radio dan menurut aku itu keren abiss!!!! lgi pula sejauh pemikiran aku pasti kalau aku jd reporter, aku akan lbh banyak /sering ketemu sm orang2, lbh bnyk pengetahuan lagi, dan tentunya bisa keliling indonesia gratissss karna sekalian liputan mwehehee. ya walaupun aku tahu, tanggung jawabnya pasti besar banget dan disini aku yakin aku akan tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab. yipppi:) dan untuk mewujudkan itu semua, aku mulai langkah awalku dengan kuliah di jurusan ilmu komunikasi, yang tentunya berhubungan erat dengan jurnalistik. aku berharap ini langkah awal yang baik untuk perjalanan hidup aku agar aku bisa jadi lebih pd kalo ketemu sama orang orang heeee.

    BalasHapus
  34. “Kamu punya obsesi apa sih? Ceritakan sedikit tentang obsesimu itu?”
    3 tahun ini aku terobsesi berburu Mizan book fair entah itu online
    atau bukan, kalau online setiap tahun pasti diadakan biasanya selama
    dua bulan, aku terobsesi banget, sampai aku punya listnya, trus
    aku searching satu-satu mana-mana buku yang mau aku beli, belum lagi
    kalo lagi di toko buku, sampai gelap mata, hampir setiap hari aku
    mampir, selain beli juga untuk melihat apa ada stok buku yang baru.
    Baru kemarin buku yang aku beli online sekitar 20 buku aku terima.
    Rasanya puas banget! Aku foto dan aku simpan di hp, hanya melihat
    tumpukan bukunya saja bikin hati mak ceees... adeeeem :D Itu obsesiku :)

    nama : Ria
    akun twitter : @goodenoughoks
    email : mawarhs12@gmail.com

    BalasHapus
  35. Nama: Thia Amelia
    Twitter: @Thia1498
    Link share: https://twitter.com/Thia1498/status/620592090892795904?s=01
    E-mail: thia.amelia18@yahoo.co.id

    “Kamu punya obsesi apa sih? Ceritakan sedikit tentang
    obsesimu itu?”

    Obsesi saya? Setiap mendengar kata obsesi yang terlintas dipikiran saya adalah orang2 yang melakukan apa saja dengan berbagai cara untuk mendapatkan sesuatu, bahkan tidak jarang melukai orang lain bahkan melukai dirinya sendiri, pemikiran itu saya dapatkan dari berbagai film tentang obsesi. Tapi, setelah dipikirkan lagi, ternyata obsesi itu tidak terlau jelek juga, bahkan saya pun memiliki obsesi, saya ingin menjadi diplomat. Ketika melihat pertanyaan ini, saya langsung berfikir apa sih yang paling saya inginkan dihidup ini? Lalu pemikiran tentang menjadi diplomat langsung terlintas. Saya sangat terobsesi untuk menjadi Mentri Luar Negeri,  sedari dulu, sedari SMP. Pernah redup juga saat pertama masuk SMA, karena guru saya bilang bahwa untuk perempuan sangat sulit untuk menjadi diplomat, tapi semangat itu bangkit lagi ketika melihat Mentri Luar Negeri sekarang adalah perempuan, Retno Marsudi, perempuan pertama yang menjadi Mentri luar Negeri, melihat itu, saya ingin menjadi apapun yang bersangkutan dengan masalah luar negeri. Dengan obsesi saya itu, saya sangat berterimakasih karena membuat saya jadi tambah semangat belajar dan meraih mimpi yang sudah lama ada dikepala saya, menjadikan Retno Marsudi sebagai panutan dan ingin membuktikan kepada semua orang bahwa perempuan bisa menjadi diplomat/Mentri luar negeri.

    Obsesi tidak hanya memberi pengaruh yang jelek, dengan pengendalian diri yang baik, obsesi bisa membawa kebahagiaan dan hal positif bagi kita. Dan obsesi seperti itu yang saya terapkan pada diri saya, menjadikan obsesi sebagai sebuah panutan untuk mendapat masa depan yang cerah. Sampai saat ini saya masih sedang berusaha untuk bisa masuk ke jurusan Hubungan Internasional, semoga saja bisa masuk Aamiin. Karena menjadi Diplomat adalah sesuatu hal yang WAJIB saya raih, menjadi sebuah Obsesi yang jika tidak bisa didapatkan akan membuat saya sangat terpuruk, karena bagaimana pun itu kan obsesi, jika ada hal baik maka didekat nya pu ada hal buruk nya 'Allah menciptakan semua nya berpasang-pasangan'. Saya tau kinsekuensi buruk dalam obsesi, karena sebisa mungkin saya akan mewujudkan obsesi saya itu.

    BalasHapus