Jumat, 05 Juni 2015

[Liputan Acara] Makassar International Writers Festival 2015



Ini adalah kedua kalinya saya datang ke dalam perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF). Ini adalah tahun kelimanya. Dan semakin lama semakin banyak dan beragam sajiannya.

Pertama kali saya hadir dalam MIWF adalah saat datang melihat Pembukaan MIWF 2013 lalu. Saat itu, pertama kalinya saya melihat kegiatan ini. Sebuah film dokumenter tentang AM Dg Myala membuat saya jatuh cinta. Menyadari bahwa dunia literas Indonesia adalah sebuah lautan yang luas dan dalam. Ada segudang karya serta banyak penulis yang telah menjadi bagiannya. Informasi lebih lengkap bisa dibaca di tulisan singkat saya di Makassar International Writers Festival 2013

Kali ini, MIWF mengangkat tokoh Karaeng Pattingalloang. Sosok yang hidup di masa kerajaan Makassar. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan menjadi sebuah legenda yang tidak selayaknya dilupakan. Talentanya yang mengusai bahasa negara – negara Eropa tentu bukan hal umum. Di masa itu, Indonesia belumlah ada. Yang ada adalah kerajaan – kerajaan yang harus mampu memainkan taktik demi mempertahankan eksistensinya.

Sekali lagi, saya dibuat jatuh cinta dengan film dokumenter yang dibuat untuk MIWF. Narasi dengan diksi yang manis. Reka adegan yang antik. Serta spirit yang berusaha disebarkan. Kecintaan pada ilmu pengetahuan serta kesadaran kosmik. Bahwa manusia hanyalah bagian yang sangat kecil dari alam semesta ini.

Jika tahun 2013 saya hanya bisa menghadiri pembukaannya, maka kali ini saya berusaha menyempatkan diri menghadiri peluncuran buku terbaru karya Aan Mansyur yang berjudul Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi. Peluncuran buku ini berlangsung lancar. Meski cukup datar. Namun banyak hal menarik yang disampaikan oleh Aan Mansyur.

Ia menyampaikan bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Ia malah penderitaan bagi Aan. Namun ia harus melewati penderitaan itu demi meraih kebahagiaannya. Ia bahagia jika bisa melihat orang – orang yang membaca karyanya.

Sebenarnya saya pun ingin melihat Perahu Pustaka yang digagas oleh Ridwan Alimuddin. Namun sepertinya saya belum berjodoh dengannya. Jadilah rencana ini belum terealisasi.

Sukses terus untuk para penggagas dan volunteer MIWF. Kehadiran MIWF menjadi salah satu framing baru bagi orang – orang yang ingin mengenal Makassar.

2 komentar:

  1. 2013 pertama kali saya menjadi volunteer MIWF setelah 2 tahun sebelumnya menjadi peserta dan penikmat. Tahun 2014 saya tak sempat hadir, tahun ini saya menjadi volunteer lagi. Hihihihi

    Tidak menghadiri workshop lainnya?

    BalasHapus
  2. hanya sempat hadiri MIWF 2014 lalu ama bokap selama 3 hari dan borong buku hehe. tahun ini gak sempat. moga tahun berikutnya bisa join lagi. amin :=(D

    BalasHapus