Selasa, 16 Juni 2015

Adonis





"...terkadang, yang tak kita miliki bukanlah keberanian untuk melanjutkan hidup, melainkan kekhawatiran melepas kenangan" (Hal. 21)


Penulis: Ambhita Dhyaningrum
Penyunting: Fitria Sis Nariswari
Perancang sampul: Bara Umar Birru
Pemeriksa aksara: Deni Ekawati & Andam Aulia
Penata aksara: Martin Buczer
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama,Maret 2015
Jumlah hal.: vi + 218 halaman
ISBN: 978-602-291-075-6
Biarkan waktu yang akan memperbaiki segalanya.

Oke, klise mungkin. Tapi itulah yang saat ini bisa kulakukan. Membiarkan hati ini terobati dengan sendirinya. Dan membuka hati ini untuk siapapun yang ingin singgah di dalamnya.

Jangan katakan aku single mother yang patah hati parah. Tapi kalau ditanya apakah aku merindukan sosok lelaki yang jujur dan tulus mencintaiku? Dengan berat hati kujawab, iya tepat sekali.

Lantas, saat sebuket bunga selalu rajin datang di cubicle-ku setiap pagi dan surel puisi cinta tidak pernah absen singgah di surel-ku. Apakah aku harus berbunga-bunga, karena sebentar lagi akan merasakan cinta?

Ya, mungkin seharusnya seperti itu, kalau si pengirim bunga dan puisi itu tidak menyembunyikan identitasnya.

***

Kalea, perempuan berusia 32 tahun yang sudah setahun menyandang status sebagai janda dengan seorang anak perempuan yang cantik. Kehidupan rumah tangganya porak poranda karena sikap play boy suaminya. Perselingkuhan. Penyebab utama perpisannya dengan Alfa, laki – laki yang menjadi pacarnya sejak masa kuliah namun kini berakhir sebagai “mantan suami”.

Hidup Kalea sebagai seoarang janda terasa tidak mudah. Dan kini kehadiran “Adonis” dalam hidupnya memberi warna baru. Adonis yang datang sebagai sosok tanpa wajah dengan puisi – puisi yang membuat hati Kalea menghangat. Sayangnya, Kalea tidak punya bayangan tentang siapa sosok di balik Adonis ini. Sosok yang puisi – puisinya datang melalui email dan membuat hidup Kalea jadi lebih berwarna.

Ia mulai menebak – nebak. Siapakah Adonis?

Apakah ia Mikel? Salah seorang manajer di kantornya? Atau kah dia .... Alfa?


Keduanya kini mendekati Kalea. Mikel mulai masuk ke kehidupan Kalea. Secara cepat menunjukkan ketertarikannya dan ingin menjalin hubuangan yang serius dengannya.

Di saat yang sama Alfa datang mengetuk maaf darinya. Liburan bersama mereka dan puteri kecil mereka yang tanpa rencana membuat Kalea mempertimbangkan untuk memaafkan pengkhianatan Alfa. 

Lalu siapa sesungguhnya Adonis?

***

Kisah dalam Adonis ini cukup menarik. Ketertarikan pembaca untuk ikut menguak identitas “Adonis” menjadi salah satu daya tariknya. Apalagi dengan memunculkan satu persatu calon tersangka beserta motifnya.

Tapi tenang saja, ini bukan novel detektif. Adonis hanya bumbu dari sekian banyak bumbu di dalam kisah ini.
Ada bumbu tentang cinta yang karam seorang Kalea pada suaminya Alfa. Ada pula harapan untuk rujuknya rumah tangga mereka. Bumbu tentang hubungan Kalea dengan Mikel serta Dante juga menarik.

Oiya, persahabatan Kalea dan Flo adalah salah satu bumbu paling manis dalam novel ini. Interaksi dan persahabatan mereka ini adalah sesuatu yang menghangatkan hati sambil sesekali mengundang senyuman. Sayangnya terkadang interaksi mereka tidak begitu menunjukkan usia meraka yang sudah kepala tiga.

Selain itu, penulis sempat menyenggol tentang masalah status “janda” dalam masyarakat. Sayangnya hal ini tidak dieksplorasi dengan baik. Cukup disayangkan. Pembahasan tentang hal ini hanya muncul dengan cara “telling”. Tidak ada konflik yang benar – benar menampilkannya.

Terakhir, meski memakai POV orang pertama, novel ini masih kurang mampu mempengaruhi emosi pembaca. Ini karena klimaks cerita masih kurang tajam.

Secara keseluruhan ide cerita sudah menarik. Eksekusinya saja yang masih sedikit kurang manis. (^_^)v

***


Puisi yang terinspirasi oleh novel Adonis karya Ambhita Dhyaningrum terbitan Bentang Pustaka

Aku adalah cinta yang kau tatap tanpa jemu
Diammu membuat tanya di benakku
Oh, kaukah cinta yang kutunggu?
Namun kenapa tak kunjung kau tampilkan dirimu?
Ingat, dukaku sudah penuh
Semangatku tak lagi menggebu

Adonis, kaukah pengobat hatiku?

Bandung, 16 Juni 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar