Minggu, 24 Mei 2015

[Wedding Giveaway] Pre Wedding in Chaos



Penulis: Elsa Puspita
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang Sampul: Wirastuti
Pemeriksa Aksara: Septi Ws, Intan Sis
Peneta Aksara: Endah Aditya
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Jumlah hal.: vi + 286 halaman
ISBN: 978-602-291-056-5
“Ayo kita menikah.”
What? Apa sih yang barusan kuucapkan? Mengajak Raga menikah? Padahal menikah bukan prioritasku. Tapi, rasanya jahat sekali kalau aku menarik ucapanku. Jelas – jelas aku melihat binar bahagia dari wajahnya, setelah seribu kali kutolak lamarannya.

Damn! But life must go on, Aria. Ketimbang kuping panas mendengarkan  sindiran Mami dan ocehan Citra yang sudah kebelet nikah, tapi tidak dibolehkan Mami karena kakak perempuannya ini belum menikah. Mari, akhiri saja drama – desakan – menikah itu dengan menuruti keinginan mereka.

Namun, kekacauan itu terjadilah. Konsep acara, undangan pakaian, catering. Ditambah lagi perbedaan prinsip antara aku dan Raga. OMG, kemana saja aku selama ini? Sudah pacaran sembilan tahun tapi belum mengenalnya luar – dalam.

Belum menikah saja sudah begini, bagaimana besok setelah menikah dan serumah seumur hidup?

***

Keputusan menikah memang tidaklah mudah. Terutama bagi perempuan mandiri seperti Aria. Ia merasa bahwa kehidupan pernikahan sebagia kehidupan yang tidak bisa ia bayangkan. Bahkan ketika ia sudah memiliki laki – laki yang baik di sisinya. Adalah Raga, pria yang sudah sembilan tahun menjadi kekasih Aria. Pria yang membuat Aria nyaman ini ternyata belum benar – benar membuat Aria merasa yakin untuk membangun rumah tangga.

Namun entah konspirasi dunia membuat kata pernikahan berputar di sekitar Aria. Mulai dari Citra, adik Aria yang sudah kebelet pengen nikah namun dilarang karena sang ibu menolak Aria dilangkahi adiknya. Juga pernikahan Dina, adik Raga. Padahal Raga adalah anak tertua. Dan ia dilangkahi oleh dua adik perempuannya.

Belum lagi sikap Raga yang seolah ikut mendorong Aria ke pelaminan meski tidak dilakukan secara frontal. Ada pula dua sahabatnya yang terus mempertanyakan kelanjutan hubungan Aria dan Raga. Hubungan mereka sudah mentok. Pacaran sembilan tahun maka pilihannya hanya maju ke jenjang yang lebih serius atau mundur dan berpisah.

Akhirnya Aria pun membuat keputusan itu. Namun ternyata, setelah lamaran, hal – hal yang harus disiapkan untuk pernikahan mereka membuat ia dan Raga jadi sering bertengkar. Kemana mereka selama ini? Ternyata ada sebuah prinsip yang sangat bertolak belakang antara Aria dan Raga.

Lantas bagaimanakah kelanjutan hubungan mereka? Bisakah mereka menyelesaikan perbedaan itu?

***

Cerita yang ditulis oleh Mbak Elsa merupakan salah satu hal yang memang cukup mengganggu bagi sejumlah orang saat memutuskan ingin menikah. Bagi banyak perempuan, terutama bagi mereka yang sangat mandiri, menikah kadang terlihat sebagai sebuah ikatan yang membelenggu. 

Selain itu, cerita ini juga mengangkat realitas yang menampilkan bahwa pacaran selama apapun tidak menjamin kita benar – benar mengenal pasangan kita.

Yang paling menarik dari kisah ini adalah karakter Aria. Karakter ini sangat menyebalkan namun juga tidak menutup kemungkinan benar – benar hidup di dunia nyata. Meskipun saya benar – benar dibuat greget dengan karakternya yang cenderung seperti tidak berperasaan. Bagaimana bisa ada perempuan yang sikap antipatinya pada anak – anak? *ups..nyaris spoiler* 

Intinya, Mbak Elsa berhasil menciptakan tokoh yang menyentak pembaca. Karakternya keras dan sedingin karang. Kira – kira jika sosok ini nyata dia akan memaknai cinta seperti apa ya?

Untuk setting dan alur sudah mengalir. Enak dibaca. Percakapan dan deskripsinya enak dibaca. Pilihan bacaan yang menarik namun cukup menghentak karena kekuatan karakter tokoh Aria.

Namun, feelnya terasa kurang. Mungkin karena saya terlalu kesal dengan tokoh Aria ini. Prinsip dan pemikiran tentang pernikahan berbeda jauh dengan saya pribadi. Tapi, ini menjadi kekuatan tersendiri bagi buku ini. Tokoh Aria menjadi titik fokus dalam seluruh novel ini.

Sudut pandang orang ketiga, membuat novel ini dieksekusi dengan menarik. Sebab penulis dan pembaca jadi berjarak dengan tokoh Aria. Ini membuat pembaca bebas berpendapat tentang pilihan – pilihan Aria.

***

Dan, Wedding Giveaway datang lagi. Ini menjadi akhir rangkaian Wedding Giveaway di bulan Mei ini. Mohon do’a – do’a baik dari Readers untuk pernikahan saya yang resepsinya telah dilaksanakan kemarin.

Oiya, Mbak Elsa Puspita sudah menyiapkan satu eksemplar Pre Wedding in Chaos untuk 1 orang Reader yang beruntung. Mau jadi yang beruntung bisa memiliki novel penuh gereget ini? Yuk ikuti langkah langkahnya.

1)      Follow akun twitter @atriasartika, @elpuspita
2)      Share giveaway ini di akun twitter kamu dengan mention @atriasartika @elpuspita @bentangpustaka dengan hashtag #PreWeddingInChaos
3)      Jawab pertanyaan ini di kolom komentar:
“Apa ketakutan terbesarmu saat mendengar kata ‘pernikahan’?”
 sertakan juga data dirimu: nama, akun twitter, dan email
4)      Giveaway ini berlangsung dari tanggal 24 sampai 30 Mei 2015. Pengumuman akan dilakukan paling lambat 1 minggu setelah Giveaway berakhir.

Mudah kan? Jadi jangan lewatkan Readers. Oiya, selain bagi-bagi buku di My Little Library, pustakawan kita juga akan bagi-bagi buku di akun twitternya @atriasartika. Khusus di tanggal 29 Mei 2015 jam 8 malam akan ada sesi #LiveInterview bersama Elsa Puspita dan akan ada satu novel Pre Wedding in Chaos yang juga akan dibagikan di #LiveInterview tersebut.

Yuk ikut merayakan bulan Mei ini dengan mengikuti Wedding Giveway di My Little Library \(^_^)/

20 komentar:

  1. Nama: Thia Amelia
    Akun twitter: @thia1498
    Link: https://twitter.com/Thia1498/status/602370526078574592
    “Apa ketakutan terbesarmu saat mendengar kata ‘pernikahan’?”

    Mendengar kata pernikahan, yang paling saya takutkan adalah, bagaimana kehidupan saya setelah menikah nanti. Bagaimana cara saya untuk merawat keluarga saya nanti, yang biasanya saya menggantungkan diri ke orangtua sekarang saya harus bisa merawat diri saya sendiri. Pernikahan itu, adalah sebuah awal dimana kehidupan kita benar-benar berjalan menurutku. Dari sebuah novel, saya mendapat kutipan bahwa “Pernikahan adalah sebuah komitmen, yang akad nya saja menggetarkan Arsy Allaj karena saking beratnya amanah yang hendak dipikul” (Rajang Yang Ternoda). Karena itu, yang saya khawatirkan ketika mendengar kata pernikahan adalah, yah itu adi kehidupan saya ketika setelah menikah itu. Bagaimana cara saya menjaga suami dan anak-anak saya nanti, bagaimana cara saya menjadi seorang istri yang solehah, bagaimana membuat keluarga saya menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah, dan juga bagaiamana saya bisa berbakti dengan keluarga baru saya dari pihak lelaki dan meneruskan bakti saya kepada kedua orang tua kandung saya.

    BalasHapus
  2. nama : eny
    twitter : @enythxz
    email : enytok03@gmail.com

    “Apa ketakutan terbesarmu saat mendengar kata ‘pernikahan’?”

    Yang paling takut ketika harus pisah sama orangtua apabila saya ikut suami saya kelak. Terlebih bila saya tidak tau sifat mertua saya,kalo cocok sih gak masalah nah yang jadi permasalahan jika tidak ada kecocokan antara saya dan mertua saya. Dulu pernah mempunyai penyakit kista endrometriosis, saya takut apabila suatu saat nanti kistanya kambuh dan mempengaruhi hubungan saya dan suamiku kelak. Takut bila pasangan saya tidak menerima kekurangan ku,dan perpaling dari orang lain. Pernikahan untuk saat ini belum siap dari mental, pernikahan itu komitmen untuk mengabdikan seumur hdup kita untuk pasangan. Semua itu butuh persiapan matang dari segi mental,keuangan dll.

    BalasHapus
  3. Dias Shinta Devi
    @diasshinta
    https://twitter.com/DiasShinta/status/602378158034268160

    nah! yang aku takutkan adalah kebebasanku. sekarang aku masih lajang dan aku memiliki kebebasanku sendiri. sedangkan jika aku sudah menikah nanti, apa aku bisa sebebas ini? apa nanti suamiku akan memberikan kebebasan dalam mengekspresikan diri lewat hobi dan kegiatan-kegiatanku?
    itu pertanyaan yang sering menghantuiku kalau mendengar kata pernikahan. apalagi jika sudah berpikir lebih jauh, apa nanti suamiku mampu menerimaku sebagai wanita yang ingin berkarier? apa takkan terjadi masalah jika ada dua pendapatan di satu rumah?
    huaaa masih galau kalau denger ituuu :(

    BalasHapus
  4. Nama : Ratna
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    ALamat : Jepara

    Jawab : Ketakutan terbesar ketika mendengar kata pernikahan. Tentu saja kebebasan, sudah dipastikan ruang gerak kita harus dikurangi seiring berjalan waktu. Lalu, Apakah dia bisa menerimaku apa adanya, Ditambah tentang rumor camer yang katanya ya ... gitu, deh. apa bisa cocok atau tidak. Rasanya semua ketakutan itu seolah menari-nari di kepala. Dan aku pun selalu bertanya sudah sanggupkan aku melangkah ke sana? mengemban amanah menjadi seorang istri dan calon ibu. bisakah membagi waktu untuk tugas yang harus dilakukan dengan kesenanganku sendiri.

    BalasHapus
  5. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    rinspiration95@gmail.com

    Ketakutan terbesar ketika mendengar kata pernikahan adalah tanggung jawab. Mau tidak mau, jika sudah memiliki keluarga, hari-hari tidak akan melulu soal aku dan kehidupan pribadiku. Aku juga secara tidak langsung akan dituntut untuk menjalani berbagai peran dalam sekali waktu. Menjadi wanita, istri bagi suamiku, ibu bagi anak-anakku, anak bagi kedua orang tua dan mertuaku, kakak dan adik bagi saudara-saudaraku. Tidak hanya dirumah, tapi juga menjadi mahluk sosial di lingkungan. Tantangannya adalah bagaimana bisa memaksimalkan diriku dalam menjalani segala peran itu. Sementara saat ini, aku kadang masih introvert, cuek, seenaknya sendiri, malas keluar dari zona nyaman.
    Kadang aku juga memikirkan tentang softskill-ku. Pengetahuan di bangku sekolah/kuliah memang perlu, tapi diperlukan juga pengetahuan lain yang tidak diajarkan di pendidikan formal. Misalnya : Bagaimana cara menghidangkan makanan sehat yang bervariasi setiap harinya dengan rasa yang diterima oleh lidah? Bagaimana jika salah satu kancing kemeja suamiku lepas? Apakah aku harus membawanya ke tukang jahit? Bagaimana caranya jika nanti anakku memintaku mengajarkan membuat kerajinan tangan?
    Intinya, masih banyak hal yang perlu dipelajari, perlu mengoleksi pengalaman sebanyak-banyaknya sebelum melangkah menapaki kehidupan yang baru bernama pernikahan :)

    Btw, Happy Wedding kak Atria. Semoga kehidupan barunya membuat hari-hari kakak menjadi lebih berwarna. Selamat berbahagia

    BalasHapus
  6. Nama: Biondy
    twitter: @biondyalfian
    link share: https://twitter.com/biondyalfian/status/602487861489704961

    “Apa ketakutan terbesarmu saat mendengar kata ‘pernikahan’?”

    Ada banyak hal sebenarnya, tapi saya simpulkan sebagai: kalau ada suatu hal yang datang dan mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki dallam pernikahan itu. Misalkan masalah kesetiaan, tanggung jawab, keuangan, dll.

    BalasHapus
  7. Nama : Veny Prasetyowati
    Twitter : @yutakaNoYuki
    Email : himurasora@yahoo.co.id

    "Apa ketakutan terbesarmu saat mendengar kata 'pernikahan' ?"

    Perubahan. Status, rutinitas, cara berpikir, semua itu pasti berubah ketika sudah menikah, karena harus adaptasi juga dengan kehidupan pasangan kita. Diblend, dicampur dan diramu semua yang menjadi kebiasaan kita dan pasangan sehingga menjadi kebiasaan baru yang kita dan pasangan sama-sama nyaman untuk menjalaninya. Tapi justru disitulah mulai banyak masalah yang muncul, ada ego pribadi masing-masing yang mungkin belum siap mengalah, belum lagi harus adaptasi juga dengan kebiasaan keluarga satu sama lain. Ribet kan ?
    Banyak yang bilang kalau semua itu akan terlewati, ada prosesnya sehingga kelak pernikahan itu akan jadi sebuah keluarga yang sempurna, Tapi justru sakit-sakitnya ya pas di proses itu, karena ada yang bisa melewati prosesnya dengan smooth dan lancar jaya, tapi ada juga yang masih kesulitan dan mengeluh walaupun sudah bertahun-tahun menikah.
    Itu loh yang membuat jadi berpikir ulang untuk menikah. Kira-kira mampu tidak melalui proses perubahan itu, dari yang zona 'single' aman ke zona 'double' penuh kejutan yang akan selamanya kita jalani ?

    BalasHapus
  8. Nama khairiah
    Fb:Harie Khairiah
    Twitter: Harie Khairiah
    Ketakutan terbesarku ketika mendengar kata pernikahan adalah apakah itu bisa last forever hingga maut memisahkan. Atau hanya sekejab saja seperti pernikahan para artis di televisi.
    Tapi akhirnya saya menyadari kita tidak akan pernah tahu bagaimana akhir perjalanan pernikahan kita jika tidak pernah berani mencoba menjalaninya. Dan inilah saya di enam tahun pernikahan kami saling beradaptasi, sifat, ego, hoby dan masih banyak lagi.
    Masa transisi di lima tahun pertama kami itu masa tersulit, perubahan dari seorang yang single,wanita karir, menjadi seorang istri dan kemudian menjadi ibu rumah tangga sejati juga menimbulkan konflik diantara kami,
    Belum lagi masalah lain yang menghampiri dan membuat riak-riak kecil diantara kami. Kami tetap bertahan karena kami sadar butuh dua orang agar pernikahan ini terus berjalan yaitu kami sendiri.

    BalasHapus
  9. Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya
    Email: ayamurning@gmail.com

    Ketakutan terbesarku ketika mendengar kata 'pernikahan' ada 3 poin:
    1. Apabila kedua orangtuaku tidak sempat menyaksikan dan menemani di hari pernikahanku
    2. Pernikahan adalah sinyal untuk berpisah dengan orangtua dan harus ikut suami kemana pun dia tinggal
    3. Becus atau tidaknya aku menjalani peran sebagai istri dan ibu yang baik nantinya. Dua peran itu dulu yang utama.

    Ya, concern utamaku adalah pada orangtua dan perananku setelah menikah. Selama ini aku tidak pernah hidup berpisah dengan orangtua, maka aku sangat bisa merasakan sepi dan rindu yang mendalam ketika aku sedang berpergian jauh atau mereka yang keluar kota. Mampukah nanti aku hidup tanpa harus merasa sedih setelah berpisah dengan mereka?
    Kemudian tentang perananku nantinya sebagai istri yang melayani suami dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak. Sudah cukupkah pengetahuan dan skill-ku untuk itu semua? Sudah matangkah aku untuk menjalaninya? Mertua sudah mempercayakan anaknya untuk aku urus dan temani hidupnya, aku akan sangat malu jika sampai gagal.
    Tapi pada akhirnya aku berpikir lagi, tak ada rasa takut apabila kita memang sudah siap dalam segala hal. Maka dari itu sebelum menikah haruslah bisa mengerti penuh akan makna mariage dan tanggung jawabnya serta membekali diri agar nantinya dapat melakukan yang terbaik.

    BalasHapus
  10. Nama : Fita
    Twitter :@fitania09
    Email : fitania90@gmail.com

    Ketakutan terbesarku yaitu apakah aku bisa menjadi istri yang ideal untuk keluarga calon suami ku. Mempelajari teori menjadi istri ideal itu sangat amat mudah namun trkadang teori dan kenyataan amat jauh berbeda. Adat, kebiasaan sampai cara berpikir dari satu keluarga dg keluarga lain pasti berbeda. Inilah yg aku pikirkan setiap mendengar kata pernikahan. Bisakah aku menyesuaikan diri dg semua kehidupan baruku? Tapi aku mendamaikan pikiranku dg banyak2 berdoa semoga kelak aku bisa menjadi istri yg ideal bg suami & keluarga suamiku.

    BalasHapus
  11. Nama: Amanda Vivi Imawati
    Akun twitter: @amandainstan
    Email: akudinata@gmail.com

    Ketakutan terbesarku saat mendengar kata "pernikahan" adalah takut suamiku nggak seperti apa yang kutahu ketika belum menikah. Takut dia sebenernya pemarah. Takut dia sebenernya cuek. Takut dia sebenernya egois banget. Takut dia sebenernya nggak romantis seperti saat pacaran. Setiap memikirkan pernikahan, aku kembali ke keyakinan... Apa aku benar-benar sudah mengenal dia? XD Ah, jadi kepikiran lagi nih mbak gara-gara curhat di sini :))))))

    BalasHapus
  12. Nama: Dy
    Akun twitter: @dylunaly
    Email: dylunaly@yahoo.com

    Ketakutan terbesar ketika mendengar kata pernikahan?
    Well, takut pada keharusan dan kewajiban membagi segalanya dengan suami termasuk pikiran, ketakutan dan mimpi. Maklum sejak kecil terbiasa menyimpan semuanya sendiri.

    Untuk Atria,
    selamat menikmati babak baru dalam kehidupan. Selamat berproses bersama si kakak yang udah kamu pilih untuk menjadi "penyeimbang"mu.

    BalasHapus
  13. Nama: Ananda Nur Fitriani
    Twitter: @anandanf07
    Email: Anandanftrn@gmail.com

    Ketakutan terbesarku saat mendengar kata 'pernikahan' adalah siap atau tidaknya aku menjalani pernikahan nanti. Menurutku, kesiapan mental dalam pernikahan merupakan unsur yang paling penting. Apakah aku siap untuk berpisah dengan orangtuaku? Apakah aku siap untuk merasakan perubahan yang sangat drastis dari status 'lajang' menjadi 'sudah kawin'? Apakah aku siap untuk menjadi istri yang sholehah untuk suamiku? Apakah aku siap untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warrohmah? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menyiratkan keraguan untuk melaksanakan pernikahan. Memang saat ini masih terlalu jauh untuk memikirkan hal tersebut, namun InsyaAllah seiring berjalannya waktu aku dapat membangun kepribadian yang lebih baik supaya dapat terbentuk keyakinan dalam diriku untuk menjalani pernikahan :) Do'akan saja ya, mbak Atria ^o^

    BalasHapus
  14. Nama: Anis Antika
    Twitter: @AntikaAnis
    Email: anis_antika@yahoo.com
    Jawaban:
    Ketakutan terbesar saat mendengar kata pernikahan adalah, akankah aku bahagia hidup dengannya? Akankah kami bersama sampai akhir hayat? Akankah dia bisa menerima aku apa adanya? Akankah dia tidak berpaling dan tetap setia padaku apapun yang terjadi? Akankah aku bisa menjadi istri dan Ibu yang baik?
    Sebenarnya ketakutan akan hal-hal yang seharusnya nggak usah aku pikirkan sebelum aku menjalaninya, sih. Aku ini orangnya parno-an. Karena seringnya melihat pernikahan yang nggak sehat disekitarku, jadi takut sendiri untuk memutuskan menikah. Bahkan aku sering uring-uringan tiap kali orang nanya 'kapan nikah'? Kayak merasa terintimidasi gitu.

    BalasHapus
  15. nama : Yulyanti Septi
    akun twitter : @ZULYA_KU
    email : Yulyanti_Septi@yahoo.com
    Link Share on twitter : https://twitter.com/ZULYA_KU/status/604081981073162240


    “Apa ketakutan terbesar saat mendengar kata ‘pernikahan’?”

    Kalau saya dikasi pertanyaan seperti itu, sepertinya bakal bingung nih jawabnya.
    Gimana yah? kalau sudah memutuskan untuk menikah ada baiknya persiapkan mental matang matang. Jangan sampai ada ketakutan. Kalau mendengar kata pernikahan aja sudah takut bagaimana menjalaninya, kalau masih takut artinya kita belum siap dan jangan pernah coba coba buat menikah untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan seperti perceraian (karena kurangnya kesiapan mental dalam berumah tangga tadi)
    Buat saya pribadi yang masih pengantin baru, 15 maret 1015 tadi menikah (duh , masih terbilang pengantin baru gak ya ?heheh) gak terlalu takut mendengar kata "pernikahan"
    kana yang saya tanamkan di pikiran saya pernikahan itu menyenangkan sehingga menjalaninya pun saya bisa enjoy, gak terbebani. :))
    walaupun tidak menutup kemungkinan suatu saat kaki kamu bakal tersandung kerikil kerikil kecil, tapi dengan kesiapan mental tadi dan CINTA tentunya insyaalah semua masalah baik kecil maupun besar dapat kita atasi bersama. insyaalloh, amin.

    Karena saya sangat mencintainya maka Ketakutan terbesar ku adalah tidak bisa membahagiakannya. Tapi saya optimis sekali dan yakin dengan kita berusaha bersama kita pasti bisa saling melengkapi dan membahagiakan ^^

    BalasHapus
  16. Nama : Sofhy Haisyah
    Twitter : @Sofhy_Haisyah
    Email : sofhyhaisyah28@gmail.com

    Membaca pertanyaannya, aku malah mikir "pernikahan" yang dimaksudkan kak Atria sebelum atau sesudah ?

    Jika sebelum "pernikahan", ketakutanku adalah takut bahwa pasangan yang bakal menjadi suamiku merupakan pilihan yang salah. Aku takut pas hari H terjadi insiden yang buruk yang tidak terduga. Lalu, aku juga takut jika pernikahanku tidak ada orangtua yang mendampingi.

    Sedangkan untuk setelah "pernikahan". Hmmm, bukan ketakutan yaa kayaknya, lebih tepatnya konsekuensi. Karena setiap sesuatu itu kan punya konsekuensi, tak terkecuali dengan pernikahan. Nah, konsekuensi itulah yang terkadang disalahartikan menjadi ketakutan yang tidak berdasar. Contohnya, setelah nikah pergaulan hura-hura bareng teman sedikit terbatasi oleh larangan suami. Hal ini harusnya bukan menjadi sebuah ketakutan, melainkan memang karena konsekuensi kita sebagai istri yang sudah punya kewajiban melayani suami dan patuh terhadap suami. Belum lagi fenomena memiliki anak pasca nikah padahal merupakan seorang wanita karir. Hal itu juga harusnya tidak dibuat menjadi sebuah ketakutan akan hancurnya karir yang dijalani. Toh, mendapatkan anak adalah rezeki dari Allah yang tentunya akan membantu terbukanya pintu rezeki lainnya.

    ^^maaf agak sedikit sotoy, tapi menurut aku gitu sih :)

    Buat Kak Atria, selamat menempuh hidup baru :) Semoga menjadi keluarga SAMAWA bersama suami~~

    BalasHapus
  17. Question:
    “Apa ketakutan terbesarmu saat mendengar kata ‘pernikahan’?”

    Answer:
    KEGAGALAN.
    My one and only fear about marriage.
    Ketika sudah berani memutuskan untuk menikah artinya kamu harus siap dengan semua hak & kewajiban dalam pernikahan. Siap dengan semua konsekuensinya. Siap dengan semua cobaannya. Nah, sampai saat ini saya masih takut dengan semua hal-hal itu. Saya takut saya & pasangan saya tidak mampu mengalahkan ego masing-masing. Saya takut saya & pasangan saya berpaling satu sama lain. Saya takut saya & pasangan saya tidak mampu menepati janji setia penikahan. Saya takut pernikahan tersebut tidak sesuai dalam ekspektasi saya & pasangan saya. Saya takut finansial saya & pasangan saya yang tidak mencukupi rumah tangga kelak.Dengan kondisi itu, komitmen sangat berperan penting. Once you can't hold your commitment, you will break every single thing. Itulah yang saya takutkan. That's why, marriage is the last thing I want in this life.

    Nama: Dian Maya
    Domisili: Makassar
    Twitter: @dianbookshelf
    Link share: https://twitter.com/dianbookshelf/status/604213274435928064

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. “Apa ketakutan terbesarmu saat mendengar kata ‘pernikahan’?”

    Takut pernikahanku tidak bertahan lama, mungkin ini karena faktor sekelilingku yang "tidak sedikit" dari mereka yang berumah tangga akhirnya memutuskan berpisah, bahkan ada yang masih terbilang perkawinan seumur toge. :3

    Tapi karena sekarang aku sudah menikah (1th), aku hanya berusaha menjaga agar pernikahanku awet terus, yaah meski terkadang banyak "angin" yang mencoba menggoyahkan aku.

    Memang berat bagiku untuk mempertahankan pernikahan yang menurut orang-orang hanya pernikahan sepihak, tapi aku akan mencoba melawan ketakutanku dan membuktikan kalau pernikahanku memang pernikahan yang sebenarnya bukan sepihak seperti yang mereka katakan.

    Nama: Ani Purditasari
    Twitter: @Anny_Tears
    Email: AnnyTears.AT@gmail.com
    Links share: https://mobile.twitter.com/Anny_Tears/status/604312542253551616?p=v

    BalasHapus
  20. nama: Ria
    akun twitter: @goodenoughoks
    email: mawarhs12@gmail.com

    “Apa ketakutan terbesarmu saat mendengar kata ‘pernikahan’?”
    Merenggut kebebasan sebagai seorang wanita yang bebas dan mandiri,
    tidak siap, apakah benar calon suami sudah merupakan pilihan yang
    tepat?
    Takut pernikahan gagal atau hanya merepotkan saja

    https://twitter.com/goodenoughoks/status/604630709190328320
    https://twitter.com/goodenoughoks/status/604631084018458624

    BalasHapus