Sabtu, 16 Mei 2015

The Book Club



“Suatu hari, mendadak kisahku berubah. Latar belakangnya bergeser. Tokoh – tokohnya terguncang. Seandainya kisahku digambarkan dengan diagram jalan cerita, tukikan tajamnya pasti melebihi batas kertas. Satu–satunya yang stabil hanyalah sudut pandangnya: orang pertama, diriku, memandang ke luar dan ke dalam, dan melihat kehampaan.” (Hal. 3)


Penulis: Mary Alice Monroe
Alih Bahasa: Deasy Ekawati
Editor: Fanti Gemala
Penata Isi: Novita Putri
Penerbit: VioletBooks (Imprint Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: vii + 454 halaman
ISBN: 978-602-251-716-0

Mary Alice Monroe mengundang Anda untuk bertemu dengan lima karakter yang luar biasa selagi dia menjelajahi kekuatan persahabatan dalam kelembutan, kejujuran, dan pengertian.
Dari luar kelompok itu hanyalah sebuah klub membaca biasa. Tapi bagi lima orang wanita, klub itu adalah sesuatu yang jauh lebih bermakna. Bagi Eve Porter, yang segala keamanan hidup yang telah direncanakannya direnggut karena suaminya mendadak meninggal, klub itu adalah tempat perlindungan.

Bagi Annie Blake, seorang pengacara hebat yang berniat memiliki keluarga meski sudah terlambat, klub itu adalah kesempatan untuk menurunkan pertahanan dirinya dan memimpikan banyak kemungkinan lain.

Bagi Doris Bridges, klub itu adalah pendukungnya saat dia mengakui bahwa pernikahannya sekarat dan memperoleh kebebasan yang sesungguhnya dalam pengkhianatan suaminya.

Bagi Gabriella Rivera, sang istri, ibu, dan sahabat ‘sempurna’ yang menawarkan dukungan bagi semua orang tapi enggan meminta dukungan bagi dirinya sendiri, klub itu memberinya suasana kekerabatan.

Dan bagi Midge Kirsch, seorang seniman yang selalu menjalani hidup melawan arus, klub itu bagai surga yang menerimanya.

Merekalah lima wanita dengan jalan kehidupannya yang berbeda, yang menerima tantangan dalam perubahan hidup mereka. Dan saat mereka berbagi harapan, ketakutan, dan kemenangan, mereka akan berpegang erat pada keajaiban sejati sebuah klub membaca – yaitu persahabatan.

***

Kali ini saya merasa tidak perlu menuliskan sinopsis dari sudut pandang saya pribadi. Blurb di atas berhasil menggambarkan semua cerita secara ringkas.

Di dalam buku ini memang akan ada lima karakter perempuan yang berbeda dengan prinsip yang berbeda pula. Cara mereka memandang pernikahan pun tidak benar – benar sama. Cara mereka menghadapi masalah pun berbeda. Namun kelima perempuan ini saling mendukung.

Klub Membaca yang mereka bentuk tidak semata – mata untuk membahas cerita dalam sebuah buku melainkan cerita hidup mereka sendiri. Klub Membaca menjadi sebuah jeda agar mereka bisa menghirup sebentar kenyamanan yang mulai sulit mereka dapatkan.


Awalnya semua konflik seolah berpusat di kehidupan Eve Porter dengan kematian Tom, suaminya, sebagai konflik awal. Namun perlahan fokus ini mulai bergeser. Bergeser ke pergulatan Doris dalam kehidupan perkawinannya. Kemudia bergeser ke dalam kemelut hidup Annie yang menginginkan seorang bayi di usianya yang telah menginjak kepala empat. Kemudian bergeser ke kehidupan Midge dengan ketakutan dan kekakuaannya dalam menghadapi Edith, ibunya. Kemudian ke kehidupan Gabriella yang perlahan tapi pasti merasa lelah dengan semua tanggung jawab sebagai istri yang sekaligus tulang punggung keluarga akibat suami yang di–PHK.

Tapi semua kisah – kisah ini diceritakan dalam penuturan yang mengalir lembut dan mendalam. Pergulatan batin semua tokohnya tergambar melalui kontemplasi yang digambarkan dan dalam tindakan yang mereka lakukan. Selain itu cara Alice Monroe menggambarkan setiap tokohnya benar – benar hidup. Manusiawi dengan kelemahan dan kekuatannya.

Selain itu semua pencerahan yang mereka temukan dari masalah yang datang dalam hidup mereka pun tergambarkan halus tanpa kesan menggurui. Informatif sekaligus inspiratif.

***

Membaca buku ini, maka banyak dilema perempuan usia 40 tahun terpaparkan dengan gamblang. Ketakutan mereka akan masa menopause, kehidupan rumah tangga yang mulai terasa kosong, cinta yang mulai meredup, hingga perkara tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dengan segala bebannya.

Ah, buku ini cocok dibaca oleh para perempuan usia dewasa. Semacam mengenal ‘masa depan’ lebih awal. Dan untuk perempuan usia 40 tahun ke atas, bacaan ini bisa menjadi sebuah kawan dalam perenungan – perenungan yang mulai mengganggu pikiran.

Dan untuk laki – laki, bacalah. Kau akan memahami bahwa pilihan menjadi ibu rumah tangga tidak berarti tidak bekerja apapun. Dan pilihan menjadi istri yang bekerja bukan berarti seorang perempuan menjadi terlalu perkasa.

***

Buku ini mengetengahkan banyak hal menarik tentang kehidupan rumah tangga dan kehidupan perempaun. Mungkin tidak semua mengalaminya, tapi ia umum terjadi.

Kekalutan perempuan tentang menopause dan juga sikap ‘tutup mata’ yang kadang dipilih oleh para istri demi ketenangan rumah tangganya. Ini kadang adalah hal yang diajarkan oleh seorang ibu pada anak perempuannya. Kadang keamanan finansial datang bersama konsekuensi semacam itu. Di halaman 331, digambarkan dengan jelas hal tersebut melalui sikap ibu Doris saat berkata bahwa,

”Para pria yang sukses memang punya ... kebutuhan khusus. Itu ada kaitannya dengan ego mereka, tekanan pekerjaan. Oh siapa yang tahu ... Dan siapa yang peduli? Kau punya kehidupan yang menyenangkan. Rumah yang indah, mobil, anak – anakmu, dan uang belanja yang lumayan. ...Terkadang seorang istir lebih baik pura – pura tidak tahu.”

Bagaimana menurutmu, Readers?

Selain hal di atas buku ini juga menampilkan cerita  Eve Porter yang memulai kembali kehidupannya. Setelah dua puluh tahun menjadi ibu rumah tangga, mendadak kematian suaminya membuat dia harus menjadi tulang punggung keluarga. Keluar dari kenyamanan yang lama dinikmatinya.

Ah, buku ini membuat saya jatuh cinta dengan telak. Saya menikmati setiap kisah dan tokoh yang diciptakan oleh penulisnya. Mereka terasa hidup sebab konfliknya sangat dekat dengan keseharian. Dan jauh di dalam diri saya muncul perasaan, “Mungkin kelak dilema ini akan saya alami juga.”

Ah, maaf jika saya tidak bisa menyampaikan satu pun kekurangan buku ini. Saya sudah jatuh hati. Saya menyukai cerita yang disampaikan oleh Alice Monroe ini. Dan dengan ini saya sampaikan bahwa buku ini menjadi salah satu buku yang akan saya rekomendasikan ke semua orang yang bertanya, “Apa buku favoritmu?”
***

“All life is a story, and daily each of us collect stories” Rache Jacobsohn, The Raeading Group Handbook (Hal. 4)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar