Rabu, 08 April 2015

Perfect Mistakes



“ Di sisi lain dari cinta ada benci. Di sisi lain dari kepercayaan ada pengkhianatan. Itulah mengapa pengkhianatan sering kali dilakukan oleh orang-orang terdekatmu karena kepercayaanmu hanya milik mereka.” (Hal. 82)

Penulis: Rons Imawan, dkk
Penyunting: Starin Sani, Ikhdah Henny, Pratiwi Utami, Dila Maretihaqsari
Perancang Sampul: Bara Umar Birru
Pemeriksa Aksara: Tiasty, Pritameani, Mia
Penata aksara: gabriel_sih
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Jumlah hal.: xiv + 306 halaman
ISBN: 978-602-1383-43-8
“Kematian hanya menghentikan hidup, bukan cinta.”
Di ambang kepayahan, seseorang hadir menyelamatkanku melalui transplantasi hati. Namun, keajaiban itu rupanya ilusi. Aku harus melanjutkan mimpi burukku sejak terjaga dari meja operasi.
Lebih panjang. Lebih kejam.
Nyatanya, dia tak hanya mewariskan seonggok hepar, tetapi juga seluruh kenangan dan kisah cintanya yang tak kelar, yaitu kamu. Jiwa ragaku dikendalikan. Aku bukan diriku lagi.
Hidupku terperangkap dalam avatar. Ini lebih parah dari kematian.
-          After Heart –
***
Buku Perfect Mistakes ini adalah sebuah kumpulan cerita. Tepatnya, sembilan kumpulan cerita tentang dosa dan penebusannya. Cerita – cerita ini ditulis oleh 8 penulis. Yup, ada satu penulis yang menulis lebih dari satu cerita. Ia adalah Rons Imawan, penulis utama di buku ini.

Kisah After Heart yang ditulisnya menjadi kisah utama di dalam buku Perfect Mistakes. Kisah yang ditulisnya mengambil porsi 103 halaman dari 306 halaman yang ada. Dan harus saya akui bahwa cerita ini memang menarik.

Ok, karena ini adalah kumpulan cerita, maka izinkan saya mereview satu persatu cerita di dalam buku ini, Readers. Saya review sesuai urutan ceritanya saja ya, seperti biasanya (^_^)v

Dimulai dengan cerita pertama berjudul Untuk Indira karya Haruka, saya dibuat jatuh cinta dengan buku ini. Opening cerita cukup menyita perhatian. Membuat penasaran. Ada apa? Kemudian setelah cerita dituturkan tentang kesalahan Redi, tokoh utamanya, dan penebusannya saya pun mulai memahami keseluruhan cerita. Di pertengahan cerita pembaca sebenarnya sudah menebak kesalahan Redi pada Indira. Tapi orang terus bertanya, selanjutnya bagaimana? Apa reaksi Bu Rima? Dan ending cerita pun tetap menarik. Oiya, sayangnya tokoh Kelly kurang dieksplorasi. Hanya di beberapa bagian dan kesannya jadi semacam tempelan. Tapi secara keseluruhan, saya suka sama cerita ini (^_^)


Berikutnya adalah cerita kedua berjudul Lamunan Jendela karya Kwartika Ade Arimbi. Ide ceritanya menarik. Tentang perempuan yang punya cinta terpendam dan berakhir dengan buruk. Dan saya pun suka dengan twist di endingnya yang menunjukkan seberapa kuat tokoh Vaya dalam menghadapi kenyataan. Sudut pandang orang pertama yang dipakai menguatkan cerita. Serta twist yang mengingatkan pembaca betapa keberanian bisa mengubah banyak hal. Satu keberanian saja. Oiya, yang kurang hanyalah hubungan lomba menulis cerita yang dijadikan opening cerita. Kalis, teman Vaya yang memaksa Vaya mengikuti lomba menulis, seolah tahu kisah Vaya padahal tidak. Kan ini jadi aneh. Tapi hanya itu kok yang terasa mengganggu.

“Saya ingin buku ini  bisa kami isi bersama, bukan hanya tentang cinta yang diam-diam. Bukan tentang dia yang diam-diam memandangi saya melalui jendela. Tapi, tentang kami yang saling memandang satu sama lain, sembari tertawa.” (hal. 43)

 Cerita ketiga adalah Crown for a Brave Girl karya Nday. Saya suka pesan moral yang ditampilkan cerita ini. I love it. Yup, mengangkat cerita korban perkosaan tapi dari sisi lain. Sudut pandang orang ketiga yang dipakai melalui tokoh Marin ini menarik. Ini menjadi twist cerita yang memegang peranan penting untuk keseluruhan cerita.


“Hidup kamu masih berharga dan akan terus berharga selamanya. Nggak peduli siapa pun yang coba menghancurkan kamu, kita harus berani melanjutkan hidup. Karena hidup kita berharga. ...” (Hal. 61)

Sedikit yang kurang adalah penuturan yang kurang mengalir. Alur campuran yang dipakai kurang mampu menyiasati kebosanan pembaca. Cara bercerita yang perlu dibuat lebih menarik lagi.

Berikutnya adalah cerita keempat sekaligus cerita utama di buku ini. After Heart karya Rons Imawan. Pertama membacanya, saya dibuat suka dengan diksi yang dipakai oleh penulis. Mengetengahkan cerita tentang transplantasi hati yang menyebabkan penerima hati bisa merasakan masa lalu dan bahkan perasaan pendonor hati. Kisah semacam ini sudah ditulis oleh beberapa penulis. Cecilia Ahern pernah menjadikan ide bahwa sekedar donor darah pun punya kemungkinan untuk mentransfer ingatan seseorang.

“Ada yang bilang, tragedi paling menyedihkan dalam hidup adalah kematian seseorang yang sesungguhnya masih hidup. Kematian memang tragedi, tetapi membiarkan sebagian dari kita tak bernyawa adalah tragedi hidup sesungguhnya” (Hal. 66)

Bedanya, Rons Imawan menampilkan kisah ala Romeo & Juliet yang dikaitkan dengan cerita di dunia medis ini. Bahwa penerima donor bisa merasakan perasaan pendonornya. Secara khusus penulis menceritakan tentang hati dan hubungannya dengan rasa cinta. Cinta yang menggebu yang bisa ditransfer ke kehidupan berikutnya, kehidupan penerima organ tubuhnya.

“Jatuh cinta itu untuk dirasakan, bukan diceritakan. Medefinisikan keangkuhan cinta yang dicerabut dari dadamu oleh seseorang adalah rasa yang paling sulit diungkapkan.” (Hal. 77)

Ide ceritanya menarik. Twistnya juga manis. Sayangnya, diksinya di sepanjang cerita terlalu “berbunga”. Ini mengganggu kenyamanan saya membaca. Diksi yang manis dan cerdas sebaiknya tidak ditempatkan di keseluruhan cerita. Letakkan di saat emosi pembaca bisa ikut terbawa. Selain itu, saya sedikit kebingungan dengan alur waktu cerita yang campuran. Bolak-balik. Dan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Sembilan tahun.
Tapi secara keseluruhan. Cerita ini manis.

Cerita berikutnya berjudul Alibi karya M.H Mubarok. Opening cerita yang ala detektif membuat saya cukup penasaran. Kasus apakah gerangan? Kemudian scene cerita pindah ke kehidupan gadis kecil bernama Mia. Ia dan ayahnya serta Dea, pengasuhnya menjadi sorotan cerita. Mengeksplorasi cacat fisik Mia, penulis menggiring pembaca ke cerita inti. Twistnya terbaca namun kelanjutan ceritanya masih menarik untuk diikuti. Hm, kisah yang manis.

Cerita keenam berjudul Realitas Palsu karya Dita Indira. Mengambil genre scifi, kisah ini menarik. Mengangkat tentang pengorbanan seorang ayah demi putrinya. Tony, laki-laki tanpa lengan kanan. Kecelakaan merenggut lengannya dan juga merenggut istrinya. Hanya menyisakan Sara, putrinya. Sayangnya, Tony merasa bahwa putrinya merasa malu karena memiliki ayah yang cacat. Maka Tony pun memanfaatkan teknologi kloning yang sedang dikembangkan oleh Sam, sahabatnya. Twist cerita ini bagus, tidak terduga. Sayang emosinya kurang terbangun.

Cerita ketujuh berjudul Sumpah Konyol karya Afgian Muntaha. Ceritanya tidak sekonyol atau selucu yang dijanjikan oleh judulnya. Dengan mengambil sudut pandang orang ketiga, penulis menceritakan sepenggal kisah Cahyo, seorang anak yang berusia 10 tahun. Cerita yang ditulis Afgian Muntaha sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentang kebohongan. Menariknya penokohan Cahyo yang ditampilkan oleh penulis ini tergolong unik. Ia menebuh kesalahannya dengan sebuah janji yang teguh ia genggam. Janji yang cukup serius bagi seorang bocah 10 tahun. Ceritanya amat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, sayangnya masih terkesan datar.

Cerita kedelapan berjudul Bulan Belum Datang karya Dadan Erlangga. Cerita yang ditulis mewakili problema masa kini. Tentang remaja yang berusaha membuat dirinya diterima oleh lingkungannya namun sebenarnya secara ekonomi kurang bisa mengikuti pergaulan teman-temannya. Menarik. tapi sayangnya terlalu banyak tokoh yang dimasukkan dan kurang dieksplor lagi. Tapi cara penulis menyelesaikan cerita juga bagus meskipun Bulan tetap saja belum ditemukan.

Cerita terakhir ditulis oleh Rons Imawan. Cerita ini berjudul Perfect Mother. Cerita yang cerdas menurutku. Karena menampilkan Jonah yang mencoba menanyakan sesuatu kepada ibunya dengan terselubung. Sayangnya itu menjadi salah paham yang berbuntut panjang. Tapi kenapa penggambaran tokoh Jonah membuat saya teringat Forest Gump ya? Oiya, akhir ceritanya bagus. Saya pikir ibunya meninggal bunuh diri. He..he.. ternyata saya terkecoh.
***
Ok, itu dia review saya untuk masing-masing cerita dalam buku ini. Kalau untuk secara keseluruhan, buku ini menarik karena keberagaman tema yang muncul. Bukan kisah romantis pasangan muda-mudi saja. Tapi ada tentang keluarga dan bahkan ada juga tentang korban perkosaan.

Untuk sampul, kurang eye-catching. Warna hitamnya sudah memikat ornamennya yang kurang sesuai. Nama penulinya pun sebaiknya pakai huruf timbul berwarna putih. Kalau ingin menonjolkan penulis dan cerita utama, bisa dengan membuat fontnya sedikit lebih besar.
***
Ok, sekian review kali ini. Saya sedang tidak sanggup membuat puisi mini karena kondisi kesehatan yang memburuk. Semoga reviewnya bisa memuaskan penasaranmu ya, Readers. (^_^)
 
saya & Perfect Misakes


Tidak ada komentar:

Posting Komentar