Rabu, 15 April 2015

Misteri Patung Garam



“Pembunuh sadis suka menyisipkan ejekan kepada penontonnya. Kitalah penontonnya.” (Hal 34)

25082874
Penulis: Ruwi Meita
Editor: Sulung S. Hanum & Jia Effendie
Penyelaras akhir: Yuke Ratna P & Idha Umamah
Penata Letak: Wahyu Suwarni
Penyelaras akhir tata letak: Fajar Utami
Desainer Sampul: Amanta Nathania
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: vi + 278 halaman
ISBN: 978-979-780-786-3
Dia sangat sadis. Dan, dia masih berkeliaran.

Seorang pianis ditemukan mati,
terduduk di depan pianonya, dengan bibir terjahit.
Bola matanya dirusak, meninggalkan lubang hitam yang amat mengerikan.
Rambut palsu merah panjang menutupi kepalanya.
Sementara, otak dan organ-organ tubuhnya telah dikeluarkan secara paksa.

Kulitnya memucat seputih garam.
Bukan, bukan seputih garam.
Tapi, seluruh tubuh sang pianis itu benar-benar dilumuri adonan garam.

Kiri Lamari, penyidik kasus ini,
terus-menerus dihantui lubang hitam mata sang pianis.
Mata yang seakan meminta pertolongan sambil terus bertanya,
kenapa aku mati?
Mata yang mengingatkan Kiri Lamari akan mata ibunya.
Yang juga ia temukan tak bernyawa puluhan tahun lalu.

Garam? Kenapa garam?

Kiri Lamari belum menemukan jawabannya.
Sementara mayat tanpa organ yang dilumuri garam telah ditemukan kembali….

Dia sangat sadis. Dan, dia masih berkeliaran.
***

“Takkan habis cinta selama ada perempuan di dunia ini. Takkan habis juga perkara karenanya.” (Hal. 112)

Cerita dibuka dengan sebuah prolog yang menggambarkan karakter awal pelaku yang memiliki “kegilaan” serta menggambarkan ketakutan korbannya. Setelah itu cerita berlanjut ke kronologi kejadian penemuan mayat seorang pianis. Dari sanalah teror itu dimulai.

Kiri Lamari baru saja mendapat mutasi dari kantornya. Dari Bojonegoro ke Surabaya. Kini ia berpangkat sebagai inspektur polisi dua. Kedatangannya ke kota Surabaya segera disambut oleh kasus kematian seorang pianis perempuan. Kematian pianis ini cukup sadis sebab mayatnya dibungkus dengan adonan garam dan organ tubuhnya dikeluarkan agar tidak segera membusuk. Bahkan pelaku kemungkina besar sudah memperkirakan waktu penemuan mayat tersebut. Dan untuk melengkapi kengerian pembunuh tersebut juga meninggalkan sebuah simbol.

Sayangnya kematian pianis itu hanyalah awal. Masih ada kematian lain yang sudah mendekat. Korban berikutnya adalah seorang pelukis. Korbannya pun tetap saja perempuan. Dan kondisi mayatnya persis sama dengan mayat pianis tersebut. Sayangnya, waktu penemuan mayat tidak sesuai dengan keinginan pelaku. Panggung artistik yang digelarnya rusak karena mayat pelukis tersebut terlambat ditemukan.

Kemudian korban ketiga muncul. Kali ini seorang juru masak. Ia ditemukan dalam keadaan telanjang. Dengan tubuh yang dilumuri adonan garam. Hanya saja kali ini ada perbedaan. Perbedaan pertama adalah kejadiannya buka di Surabaya melainkan di Yogya dan organ dalam juru masak tersebut tidak sempat dikeluarkan.

Jadi, sebenarnya ada apa? Kenapa modusnya berubah? Ada apa dengan profesi-profesi ini? Ada apa dengan garam? Kenapa garam? Dan apa makna simbol yang ditinggalkan pelaku.

“..., bukankah sebenarnya setiap manusia memiliki kadar kegilaan dalam dirinya? Entah kecil atau besar. Waras adalah saat semua kegilaan itu bisa dikontrol dan semua itu memerlukan pegangan hidup. Bagaimanapun, iman dan moral sangat membantu dalam hal ini.” (Hal. 148)

***

“Seorang monster memang lebih berumur panjang dari malaikat. Monster lebih tahu cara mempertahankan hidup, meski dibinaskan berkali-kali.” (Hal. 260)

Sejujurnya saat selesai membaca novel detektif ini, ada rasa bangga yang menyelusup di dada saya. Pikir saya, “Akhirnya, ada juga novel detektif dalam negeri yang asyik dan menarik untuk diikuti.” Tanpa sengaja otak saya memutar ingatan tentang buku detektif terakhir yang saya baca yaitu “Silkworm”. Dan saya merasa, saya lebih menyukai Misteri Patung Garam. Lebih terasa nuansa detektifnya.

Namun, membaca ini, jangan mengharapkan penuturan ala Sherlock Holmes atau Poirot. Ini karena cerita ini bukan untuk menggiring pembaca menemukan pembunuhnya sebab di pertengahan cerita kecurigaan sudah mengerucut. Yang menarik diikuti adalah proses hingga Kiri Lamari berhasil membuktikan pelaku tersebut.

Selain itu, Kiri Lamari digambarkan sangat manusiawi oleh penulisnya. Kiri Lamari yang ditampilkannya adalah sosok laki-laki cerdas yang cenderung cool. Ia pun punya masa lalu dan ternyata dihantui oleh bayangan masa lalu tersebut.
Sayangnya, saya merasa ada sedikit ketidak konsistenan dalam penggambaran karakter Kiri Lamari. Ini karena Kiri sejak awal digambarkan berpembawaan tenang dan cenderung menyimpan emosinya. Tapi di halaman 64, penulis menggambarkan Kiri terkikik. Ini seolah menyamarkan citra cool  yang saya bangun di kepala untuk Kiri. Selain itu saat digambarkan bahwa pipi Kiri memerah karena rayuan manis Kenes, kekasihnya, saya semakin merasa bahwa sosok Kiri ini jadi kurang konsisten. Tapi di luar itu semua, saya suka dengan penggambaran Ruwi Meita atas tokoh Kiri maupun tokoh lainnya.

Untuk kehadiran sosok Ireng. Kehadiran sosok ini ternyata sejak awal memang untuk mewarnai keseluruhan cerita. Sosok Ireng bukan hanya sekedar pelengkap. Ia adalah penghidup cerita. Seandainya Ruwi Meita tidak menciptakan Ireng, maka mungkin kesuluruh cerita akan selalu tegang dan jadi terkesan flat.

Dan untuk kasusnya, ini adalah penggambaran yang cerdas. Ide tentang patung garam ini pun menarik dan saya yakin tidak dilakukan dengan riset seadanya. Dan ini membuat saya senang membacanya. Sebab saya jadi tahu sebuah informasi baru dan menarik. Bukankah itu salah satu hal yang menyenangkan yang ditawarkan oleh kegiatan membaca?

Saya dibuat ikut berpikir tentang pelakunya. Selain itu cara penulis menuturkan penyelidikan yang dilakukan Kiri membuat pembaca merasa sebagai partner Kiri sebab ikut mengetahui fakta yang didapatakn Kiri. Tidak ada yang disembunyikan. Ini yang membuat kesan detektif dari novel ini jadi sangat terasa.

Ah, ini benar-benar sebuah novel yang bagus. Saya suka dengan ceritanya. Saya suka dengan penutup kasusnya. Dan juga suka dengan ending cerita yang dipilih Ruwi Meita. Ini membuat saya jadi tidak sabar untuk menjadi partner Kiri Lamari lagi (^_^)

“Kata orang, karya anak kecil dan karya seniman terkenal kadang tidak bisa dibedakan. Hanya saja, seorang seniman punya konsep, sementara anak kecil punya kebahagiaan.” (Hal. 88)

***

“Kadang, apa yang kamu kenakan menujukkan siapa dirimu.” (Hal. 211)

Psst..ada pengumuman tambahan. Nantikan Blogtour Misteri Patung Garam yang akan berlangsung di My Little Library pada 20 April mendatang. Ikuti juga Blogtour yang sedang berlangsung di bloghost lainnya.
https://igcdn-photos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10956786_1429439034022716_484203643_n.jpg
ikuti blogtournya


“..., marahlah, jangan tunda marahmu. Tak selamanya diam itu emas. Ada kalanya, diam itu berarti sebuah pelarian dan kekalahan. Sebab kamu tak mau tahu atau memperbaiki.” (Hal. 177)

***


“Apakah benar jika penampilan tak selalu sama dengan watak sejatinya?” (Hal. 48)

29 komentar:

  1. So do I. Aku lebih prefer buku ini drpd the silkworm. Bukan karena dr segi cerita (sedikit la ya) tp karena silkworm tebelbbangett(agak ilfeel sm buku tebel) btw aku lg currently reading buku ini sih. Sejauh ni sih suka ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semoga suka sampai akhir ya (^_^)

      Hapus
  2. ditunggu giveaway-nya.... kirain udah mulai. *terus liat kalendar, takut salah tanggal*

    BalasHapus
  3. menarik nih, penasaran kenapa pembunuhnya memilih garam ya? tapi ini gak serem-serem amat kan ya mbak? soalnya suka takut klo baca cerita pembunuhan yang penggambarannya terlalu explisit, bikin gak bisa tidur hehehehe

    BalasHapus
  4. “..., marahlah, jangan tunda marahmu. Tak selamanya diam itu emas. Ada kalanya, diam itu berarti sebuah pelarian dan kekalahan. Sebab kamu tak mau tahu atau memperbaiki.” (Hal. 177)

    Aku suka sama kalimat ini, mencerminkan diriku banget. Novelnya bakalan menguras otak kita juga untuk berpikir seperti yang dikatakan Kak Atria. Reviewnya juga bagus Kak Atria. Covernya suka bangett dan misterinya lebih tereksplor. :)

    BalasHapus
  5. Punya tema yang anti-mainstream

    BalasHapus
  6. Kayaknya novel Mbak Ruwi yang satu ini bakalan seru deh! Pasti bikin deg-degan. Aku masih penasaran sama Kiri. Lihat ilustrasi di Fanspagenya kayaknya sosok Kiri ini anti mainstream.

    BalasHapus
  7. Aku senang ada novel dengan judul berbahasa Indonesia, soalnya semakin lama aku merasa semakin banyak buku/novel Indonesia yang menggunakan bahasa asing sebagai judulnya... Agak ngenes juga gituh...

    Ahh, jadi penasaran... aku selalu tertantang untuk membaca novel-novel misteri dan berbau slasher gini...

    BalasHapus
  8. Saya sudah baca free sample-nya buku ini di Google Play. Trus jadi makin penasaran deh...

    BalasHapus
  9. Untungnya cuma 278 halaman. Tidak ketebalan dan tidak ketipisan. Supaya nggak bikin pembaca merasa buku ini malah membosankan karena ceritanya kepanjangan atau kurang ulasan. Dibanding buku terjemahan kan pada tebal-tebal gitu ya. Apalagi ceritanya pake kasus-kasus beginian. Kadang suka bikin lupa hal ini itu berhubungan sama yang mana di part sebelumnya, saking banyaknya kasus. Hehe.

    Jadi penasaran deh sama sekuelnya nanti. Katanya mau dibikin lebih oke. Lah, kalo yang ini aja udah dinilai oke banget, gimana sekuelnya nanti ya? Bombastis kah? Aamiin~

    Novel genre horror/thriller/suspense dan sci-fi/fantasi memang lagi menarik perhatianku belakangan ini. Yang ini juga jadi salah satunya. :D

    BalasHapus
  10. Satu kata untuk novel ini.
    P.E.N.A.S.A.R.A.N.

    Belum pernah baca novel dengan genre seperti ini karya penulis lokal. Jadi bertanya-tanya, dengan metode yang bagaimana Kiri Lamari mengungkap kasusnya, apakah ala-ala Poirot dgn 'sel-sel otak kelabu' nya atau metodenya Miss Marple yang sering mencari petunjuk dari pengalaman dan cerita-cerita dalam hidupnya atau layaknya Holmes ? Beneran deh yaa, penasaran saya. Hehehe :)

    btw, sepertinya saya punya 'crush' baru nih, Kiri Lamari (karakternya cool kan? - gampang lemah sama pemuda cool) trus curcol #abaikan :P

    BalasHapus
  11. Wah, pembunuhan berantai ya ^_^ aku suka baca novel mystery kaya gini, apalagi kata kak atria berbeda dari sherlock holmes, mungkin ini versi ringan nya ya ^_^ karena menurut aku perkataan di novel sherlock holmes itu terlalu berat, mungkin karena terjemahan kali ya. Dan yang bikin aku bangga itu karena ini novel indonesia, yeeey ^^ jarang banget novel indonesia bergenre thriller yang bagus gini, tanpa ada unsur hantu hantuannya pula (ga ada hantunya kan ya/?)

    Penasaraaaan sama novel ini, semoga aja menang giveaway nya hihi, amiiin :D

    BalasHapus
  12. Pas pertama kali baca review di blog Kak Luckty, saya tidak pernah tahu ada karakter Ireng. Dari review inilah saya tahu ada Ireng. Sayangnya, Kak Atria pelit informasi soal Ireng. Ireng cuma dikatakan "penghidup cerita", lha terus dia sebenarnya statusnya apa dalam novel ini? Rekan kerja Kiri? Atau sahabat? Atau orang ketiga dalam hubungan Kiri-Kenes (tapi ga mungkin sih kayaknya)? :|

    Nah, kan, jadi penasarannya nambah dari cerita misterinya malah ke tokoh-tokohnya.....

    BalasHapus
  13. Langsung penasaran tingkat dewa sama novel mbak Ruwi. Secara memang penggemar kisah Horor dan Thriller sama berbau misteri. Sebagaimana digambarkan dalam review ini. Bahwa dalam novel ini akan selalu ada kejutan membuat deg-degan, Pasti bisa membuat m pembaca merasakan misteri seolah mengalami sendiri.

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf tadi salah komen yang di blogtour hehe
      Seorang monster memang lebih berumur panjang dari malaikat. Monster lebih tahu cara mempertahankan hidup, meski dibinasakan berkali-kali, wah harus nyonto monster saya, kan nggak pantang nyerah :D
      Kaya dibikin ikan asin aja pake garam, tapi versi manusia, ada review ini bukan cuma penasaran sama Misteri Patung Garam, tapi semua novel yang pernah dibuat mbak Ruwi yang namanya baru aku kenal :)

      Hapus
    2. hoo iya mb itu dibinasakan atau dibinaskan ya? #cmiiw hehe

      Hapus
  15. nikmatus s
    @nikmatusai
    nikmatusai@gmail.com

    kalau misteri patung garam akan difilmkan di indonesia, siapa yang cocok mendapat peran Kiri lamari?

    BalasHapus
  16. Covernya hitam legam dengan sesosok perempuan berambut merah cukup bikin aku penasaran ending kisahnya. Selain itu dari sesi wawancara juga dikatakan, bahwa mbak ruwi hanya sehari membuat outlinenya dan langsung ACC..well pasti novel ini memang bagus :)

    BalasHapus
  17. review buku itu bagaikan gerbang istana yg megah.. gerbangny aj udh kerenn.. apalagi istananya?
    Sm sprti buku Misteri Patung Garam ini, dliht dr reviewny aj udh bagus, apalagi isinya coba? pasti akan jauh lbh bagus.. so excited

    BalasHapus
  18. pertama melihat covernya di sebuah blog buku, saya langsung jatuh cinta dan penasaran dengan bukunya. membaca sinopsis disini bikin saya tambah mupeng, pengen punya bukunya.. ceritanya menarik.. dan ini novel detektif pertama buatan penulis dalam negeri yg saya ketahui.

    BalasHapus
  19. Meskipun belum baca novelnya udah bisa merasakan ketegangan dari review Mbak Atria. Bikin makin pengen baca, apalagi ada penyelidikan kasusnya yang mengingatkan sama Sherlock Holmes. :D Penasaran sama misteri di buku ini dan cara penyampaian Mbak Ruwi sampai Mbak Atria punya pendapat kalau nuansa detektifnya terasa banget.

    BalasHapus
  20. Aku tahunya garam buat masak dan biasa aku buat percobaan di lab ternyata garam bisa menyeramkan juga..... Novel yang wajib dibaca ^^ Thanks reviewnya kak ^^

    BalasHapus
  21. OMG.. Abis baca reviewnya jadi makin penasaran. Keren bangeeet.. Mau dong mbak gift nyaa *kodekeras

    BalasHapus
  22. OMG.. Abis baca reviewnya jadi makin penasaran. Keren bangeeet.. Mau dong mbak gift nyaa *kodekeras

    BalasHapus
  23. Barusan baca review novelnya agak shock juga terkagum-kagum. Novelnya keren banget! Aku baru baca kali ini (Baru reviewnya sih...) novel indo tentang detektif, ternyata ada juga ya? Selama ini cuma tau novel detektif dari luar hehe...

    BalasHapus
  24. Selama ini tau novel detektif itu tuh dari luar, jarang gitu nemu yang karya Indo. apalagi ceritanya bener-bener 'berani', bikin jiwa ke-penasaran aku bangkit seketika ke ubun-ubun hoho..

    BalasHapus
  25. Ga tau kenapa. Suka ser-seran kalau baca novel detektif. Nah, kali ini dari tangan kreatif Indonesia. Huh, penasaran. Kudu nyingkirin WishList lain nih. Hihi. Pantesan banget Penerbit Malaysia pada ikut ngelirik. Top deh. Sukses #MPGgoestoMalaysia

    BalasHapus