Jumat, 24 April 2015

Kata Kota Kita

“Masa lalu bisa berdampak buruk bagi dua orang yang menyimpan cinta dengan ragu.” (Hal. 54)
http://d.gr-assets.com/books/1426961081l/25189240.jpg 

Penulis: 17 Penulis Gramedia Writing Project Batch 1
Editor: Nina Andiana, Anastasia Aemilia, Hetih Rusli
Ilustrator: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pusaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 272 halaman
ISBN: 978-602-03-1510-2

Dalam Kata Kota Kita, kita dibawa singgah dari Central Park di New York, purnama di Ankara, kemacetan di Jakarta hingga indahnya Pantai Ora di Ambon. Dan seusai penjelajahan, kita dibuat tersenyum dan menyadari betapa kayanya kita sebagai manusia.

Kota-kota dalam kumpulan cerpen ini memberikan suaranya, menguarkan aroma, dan menunjukkan pemandangan yang ditulis dengan beragam tema, ditulis dengan beraneka gaya, mulai dari yang lincah ala MetroPop hingga mencekam ala novel horor.

Tujuh belas cerpen mengenai kota-kota yang berbeda ini menyajikan senyap dan riuh, tawa dan tangis, cinta dan kehilangan... Dan pada akhirnya membawa kita menuju kota yang menjadi tujuan pulang.

Para penulis adalah penulis yang terpilih dari Gramedia Writing Project batch 1.
***

Mendapatkan buku ini dari buntelan Blogger Buku Indonesia (BBI) bikin saya girang. Beberapa waktu sebelumnya saya sempat tergoda untuk membelinya di toko buku. Sayangnya isi dompet kurang memadai, jadiah saya hanya menelan ludah. Alhamdulillah ternyata memang berjodoh.

Tapi mau sungkem dulu nih ke Om Dion dan Om Raafi untuk keterlambatan review ini. Semoga tetap bisa ketiban rezeki dapat buntelan BBI (lagi!).

Ok, langsung aja nih ngobrolin buku dengan sampul yang manis. Saya suka dengan desian sampulnya yang manis. Berupa denah jalan sebuah kota. Warna yang digunakan pun warna-warna yang manis. Sampulnya memang bikin naksir.

Kemudian saat memperhatikan lebih jauh, saya sadar ternyata ada 17 cerpen dalam buku ini. Saya kemudian bertanya-tanya akan sebagus apa? Apa akan membosankan? 17 cerita itu cukup banyak untuk sebuah kumpulan cerita. Tapi ternyata pemikiran saya salah.

17 cerita dengan 17 penulis berbeda ternyata membuat buku ini jadi kaya warna. Sebab ada 17 jenis gaya penulisan yang bisa dinikmati pembaca. Beragam genre dan tema cerita. Dengan satu tema umum yang sama yakni mengambil setting sebuah kota.

Ok, kalau biasanya saya mereview semua cerita satu persatu, kali ini cukup beberapa saja ya.  Check it out!

Cerpen pertama yang ingin saya ulas yakni Berlari ke Pulau Dewata karya Cindy Pricilla. Mengambil setting Bali, kisah cinta Thira yang diceritakan sepenggal. Tentang patah hatinya yang mendorongnya menginjakkan kaki ke Bali untuk menemukan ketenangan. Konfliknya sudah menarik. Patah hati pada Evan, memiliki Diana sebagai sahabat dan kemunculan Made yang menyukai Thiara. Sayangnya alurnya terlalu cepat. Sehingga kesannya emosi Thiara berganti terlalu cepat. Terutama dibagian yang mengisahkan pertemuannya dengan Made. Bisa jadi karena ini adalah sebuah cerpen. Tapi saya suka dengan caranya menutup cerita.

Cerpen berikutnya yang menarik adalah Let The Good Times Roll! Mengambil kisah di New Orleans dan setting suasana saat Mardi Gras (pesta karnaval sebelum masa prapaskah dimulai) tema cerita yang diusung juga menarik yakni tentang perasaan seorang remaja pada kekasih ayahnya. Ketidaksukaan ini berujung pada kebodohan yang berujung petaka hanya demi menarik perhatian ayahnya. Lucunya, remaja cewek ini, Maddie, senang menghubungkan segala hal dengan tokoh-tokoh dalam film The Avengers.

Cerita lainnya yang menarik adalah Frau Troffea karya Lily Marlina. Cerita ini menggunakan tema yang menarik yaitu tentang kemampuan Clairvoyant. Mengambil setting di kota Strasbourg, kemampuan yang unik tersebut menjadi kunci seluruh cerita. Petualangan Elisa untuk menghilangkan  kutukan sebuah lukisan bergambar perempuan yang menari di atas lautan darahnya sendiri menjadi awal mulanya. Ia pun terbang ke kota Starsbourg dan terlempar kembali ke masa 1518 saat epidemi menari menyebar di kota tersebut. Kutukan lukisan tersebut membuat Elisa mengalami hal yang sama. Ia menjadi aneh. Ia jadi menari tanpa henti persis dengan epidemi di masa tersebut.

Dan tahukah, Readers? Saat saya mencoba menggoogling tentang hal ini, ternyata kedua fakta unik itu benar-benar ada. Keren ya? Ide dasar ceritanya benar-benar menarik.
***
 
Ok, selain ketiga cerita di atas ada 14 lagi cerita lainnya. Semua dengan setting kota yang berbeda kecuali Jakarta yang menjadi setting bagi 3  cerita. Pilihan kotanya pun bermacam-macam ada dalam negeri dan luar negeri.

Untuk tema? Sangat beragam. Ada cerita cinta, detektif, parapsikologi, psikologi, drama keuarga, hingga yang terkait dengan masalah sosial di masyarakat. Sudut pandang yang digunakan beragam dan semuanya pas. 

Hm, buku ini seperti menu makanan di sebuah restoran. Benar-benar beragam. Ini membuat pembaca bisa mencicipi berbagai jenis cerita dalam satu buku.

“Akar segala kejahatan adalah cinta akan uang.” (Hal. 105)
***
Puisi yang terinspirasi oleh Kata Kota Kita
https://igcdn-photos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/11093113_434313783403570_1690397071_n.jpg
posted on Instagram

Menjejak,
Menghidu udaranya
Merekam tiap sudutnya
Adalah godaan dalam setiap kisah di sebuah sudut kota

Tidak melulu tentang hati yang luka
Bisa jadi ia tentang amarah yang memerah
Atau kisah tentang petaka di masa lalu

Dan sungguh,
Jika setiap kerikil mampu bercerita
Awan yang berarak mampu bertutur
Maka lautan harus kau jadikan tinta
Agar semua kisah bisa kau buat menjelma kata
Pamboang, 24April 2015
***
“Cinta itu kayak tanaman, Re, semakin kamu pupuk akan makin subur. Tapi coba bayangin kalau tanaman yang kamu itu tanaman yang salah. Dia memang akan tetap tumbuh, tapi akan jadi pohon yang nggak kamu harapkan.” (Hal. 182)


1 komentar:

  1. Saya juga pengen banget baca kumcer ini mbaa... sayang kemaren gagal dapet buntelan :((

    BalasHapus