Sabtu, 11 April 2015

Gloomy Gift



“Someone you love has at least one secret that would break your heart.” (Hal. 185)

Penulis: Rhein Fathia
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang Sampul: Wahyudi
Pemeriksa aksara: Septi Ws
Penata Aksara: gabriel_sih
Foto sampul: iStock
Penerbit: Bentang
Cetakan: Pertama, Maret 2015
Jumlah hal.: iv + 284 halaman
ISBN: 978-602-291-089-3
Kupandangi kamu dengan wajah memelas. Berharap kamu mau menyingkap apa yang sedang kita alami sekarang. Kamu tetap pada pendirianmu, bungkam. Pura-pura tak ada hal besar yang baru saja terjadi.

Bagaimana mungkin semua baik-baik saja? Di hari pertunangan kita, segerombolan orang menyerbu rumah. Tembakkan diletuskan. Peluru. Jeritan orang-orang. Dan, kamu membawaku kabur masih dengan kebaya impian yang kini terasa menyiksa dipakai di saat yang tak sepantasnya.
Hari yang seharusnya bahagia, menjelma tegang dan penuh tanya. Kenapa kita harus lari? Belum cukupkah aku mengenalmu sejauh ini?

Aku tak siap menyambut kenyataan. Tak siap jika harus kehilangan. Tak kuat menahan rasa takut yang berkepanjangan.

***

“... Kebanyakan pria menganggap wanita hanya sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk ditaklukkan, bukan untuk dilindungi. Materi sebanyak apa pun tidak akan memenuhi ‘rasa terlindungi’ yang wanita butuhkan.” (Hal. 133)

Cerita dibuka dengan prolog yang cukup menegangkan. Dengan setting tempat adalah di kedalama laut. sepuluh meter di bawah permukaan laut. Setelah itu cerita berlanjut ke Chapter pertama dengan setting suasana adalah perasaan tegang tokoh perempuan di tengah berlangsungnya proses lamaran.

Ini jelas membuat pembaca bertanya-tanya, apa hubungannya kedua adegan ini. Tidak lama, adegan lamaran yang manis dan membahagiakan segera berganti dengan ketegangan. Ada penyerangan di rumah Kara, tokoh perempuan dalam novel ini. Seketika seluruh tamu serta keluarga Kara dan Zeno pun panik.

Zeno sendiri dengan sigap melindungi Kara. Memaksa Kara berganti pakaian kemudian membawa Kara pergi bersamanya. Setelah itu adegan pelarian Kara dan Zeno dari kelompok yang menyerang acara lamaran mereka pun berlanjut.

Pada moment ini Kara menyadari bahwa ia ternyata tidak mengenal dengan baik laki-laki yang sudah masuk di kehidupannya 1,5 tahun yang lalu itu. Laki-laki yang akan segera menjadi suaminya itu ternyata menyimpan sebuah rahasia. Rahasia yang bertentangan dengan satu prinsip besar dalam hidup Kara. Ia tidak ingin menjalin hubungan apalagi menikah dengan pria yang memiliki pekerjaan mengancam nyawa setiap saat.
Kara memiliki trauma masa lalu yang membuatnya memutuskan hal itu. Trauma ini kemudian muncul kembali setelah apa yang terjadi di rumahnya saat lamaran serta semua kejadian yang terjadi setelahnya.

Selain itu, siapa sebenarnya yang mengejar-ngejar mereka? Benarkah ini karena Zeno telah membunuh seseorang? Masih bisakah Kara mempercayai Zeno? Setelah mengetahui apa yang disembunyikan Zeno, masih bisakah Kara mempercayai Zeno lagi?

Setelah itu, tidak hanya nyawa Kara dan Zeno yang terancam. Hubungan mereka pun ada di ujung tanduk. Sanggupkah Kara melepaskan prinsipnya itu demi perasaan cintanya pada Zeno?

“Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, tapi syukuri apa yang pernah kita alami.” (Hal. 243)


***

“Cinta. Satu hal yang masih sulit Garin mengerti mengapa satu kata itu bisa menjungkirbalikkan kehidupan seseorang.” (Hal. 138)

Saat melihat sampul buku Gloomy Gift saya merasa tipe sampul ini mengikuti sampul yang biasa digunakan oleh novel dewasa. Tapi ternyata tidak mengandung konten dewasa sedikit pun. Selain itu, saat melihat sampulnya saya yakin menemukan adegan laga. Ya dan  memang ada adegan laga di beberapa bagiannya. Scene ala detektif dan penyelidik pun ada.

Tapi ada ide nih, bagaimana kalau sampul bukunya dibuat dalam bentuk ilustrasi aja. Adegan saat Kara dan Zeno lari dari kejaran para penjahat itu menarik deh kalau dijadikan sampul. Kan seru tuh, dan sudah pasti menjanjikan bahwa kisah romance akan mendominasi.

“Sometimes, someday means “I know it will never happen”. (Hal. 139)

Saya suka dengan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Rhein. Terutama Furky. Semua tim SYL karakternya menarik. Begitupun karakter ibu Kara. Saya suka sosok Zeno yang diciptakan Rhein Fathia. He..he.. Zeno ini tipe cowok yang bikin perempuan menoleh dua kali. Apalagi Zeno tipe laki-laki yang perhatian dan manis dalam bertutur. Kan jadinya iri. Mau donk (calon) suami kayak gitu juga.

Selain itu, cerita kejar-kejaran yang dilakukan juga seru. Twist cerita juga menarik. Ada salah seorang anggota SYL yang jadi pengkhianat? Ini tidak terduga.

Tapi secara keseluruhan saya suka dengan romansa yang ditampilkan. Penokohan penjahatnya pun dijelaskan secara psikologi. Jadi motifnya clear. Sayangnya, trauma yang diceritakan dimiliki oleh Kara ternyata tidak sejelas itu. Saat mengetahui trauma tersebut, saya tetap berpikir itu kurang kuat. Saya pikir Kara meyaksikan hal yang lebih parah ternyata tidak. Ini membuat alasan trauma yang sering-sering disebut sejak awal jadi melemah.

Selain, di bagian awal, pagi hari setelah Zeno dan Kara melarikan diri setelah penyerangan di acara lamaran mereka, ada bagian yang cukup mengganggu. Yaitu repetisi yang dilakukan dengan alasan Kara berusaha mereka ulang apa yang terjadi. Ini tidak perlu. Sebab pembaca sudah membaca keseluruhan cerita sebelumnya. Selain itu, penggunaan sudut pandang orang ketiga membuat hal ini tidak begitu perlu dilakukan.
Terakhir, ending cerita yang manis, entah kenapa masih kurang mampu membuat pembaca terharu. Seharusnya setelah semua yang mereka alami, keputusan yang sempat Kara ambil bisa membuat keadaan terasa lebih menyedihkan. Tapi rasanya eksplorasi emosinya masih kurang mampu menghanyutkan pembaca.
Tapi, diluar kekurangan itu, cerita ini tetap menarik untuk dibaca. Cara Rhein Fathia bercerita sangat mengalir. Membuat pembaca bisa menikmati setiap bagian cerita.

“Ada ungkapan yang menyatakan, Bandung is not a place, it’s a feeling.” (Hal.157)

Pssst..ungkapan di atas ngena banget bagi mereka yang tinggal atau pernah tinggal di Bandung. Untuk yang satu ini, saya menjadi pendukung utamamu, Mbak (^_^)

“Menikah sekaligus menghabiskan seluruh hidupmu bersama sosok yang kamu cintai dan balas mencintaimu sama besarnya. Apa yang lebih indah dari itu?”(Hal 41)

***
Puisi yang terinpirasi Novel Gloomy Gift
https://igcdn-photos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/11098495_1428392144138307_1001672022_n.jpg
posted on my instagram

Ah, cinta
Sudah berapa logika yang dibelokkannya?
Ah, logika
Seberapa seringkah ia berseteru dengan rasa?
Dan, rasa
Berapa banyak tangis yang telah kau tumpahkan?
Kadang, perang yang paling sulit didamaikan adalah perang dalam diri sendiri
Saat otak harus berseteru dengan hati

 ***

 “..., kendali pria atas wanita bukan terletak pada jabatan atau uang yang lebih besar. Tapi, pada bagaimana si pria agar si wanita tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.” (Hal. 253)

4 komentar:

  1. Nah, saya punya pendapat yang sama kayak Kak Atria, pertama lihat cover Gloomy Gift ini, saya kira ini adalah novel yang emmm 'Dewasa' dan saat saya memperlihatkan foto cover novel ini kepada teman saya, coba tebak apa yang teman saya katakan? teman saya bilang bahwa cover novel ini mengingatkan dia dengan cover 'Fifty Shades of Grey' hoho syok! itu yang saya rasakan >,< btw, saya baru kelas 2 SMP, teman saya ini umurnya 14 tahun dan saya baru 13 tahun ._. Setelah baca beberapa review dari teman-teman BBI, saya baru ngeh kalau ceritanya nggak seperti yang saya pikirkan >,< dan malahan saya jadi tertarik sama novel ini kyaaa >,< Dear kak Atria, menurut kakak sendiri, apakah buku ini sudah cocok dibaca anak seusia saya? Hoho soalnya penasaran banget habis baca review-reviewnya >,< Ah iya, reviewnya keren kak :) cara pembahasannya bagus, cukup rinci tapi nggak spoiler juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo menurut aku sih aman-aman aja. Ini kayak novel romance biasa aja. Tapi emang tokoh-tokohnya udah dewasa dan ada konten berantem2nya.

      Nggak ada yang berbahaya kecuali karena ada konten kekerasan sih di dalamnya. Tapi aku rasa ini beda dengan nonton film action. Lebih beradab karena nggak akan lihat darah-darahan. He..he..

      Hapus
    2. Ah gitu ya kak? Hihi makasih udah mau jawab ^^

      Hapus
  2. Baca review sista, jadi ngebet pengen beli ini novel. Dan puisi yg sista ciptakan juga MANTEB !!!! keren :))

    BalasHapus