Senin, 16 Maret 2015

Urban Farming ala Indonesia Berkebun




Penulis: Indonesia Berkebun
Penyunting: Nofiandi Opi & Tinton DP
Penyelaras akhir: Purwadaksi Rahmat
Desain: Teguh Widyanto
Foto: Dok. Penulis
Penerbit: PT AgroMedia Pustaka
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: x + 94 halaman
ISBN: 979-006-536-1

Komunitas Indonesia Berkebun adalah komunitas yang sudah cukup dikenal dalam skala nasional. Kejelian dalam melihat fenomena di kehidupan perkotaan menjadi nilai lebih bagi komunitas ini. Selain itu peran Indonesia Berkebun dalam menghijaukan ruang-ruang yang tidak terpakai juga menambah simpati masyarakat pada komunitas ini. Ditambah lagi dengan semakin booming-nya metode hidroponik yang banyak digunakan oleh komunitas ini semakin memperbesar ketertarikan masyarakat pada Indonesia Berkebun dan kegiatan-kegiatannya.

Ridwan Kamil sebagai inisiator komunitas ini pun menyampaikan bahwa peran yang diambil oleh Indonesia Berkebun menjadi jalan untuk membuktikan bahwa manusia perkotaan bisa menjadi produsen, tidak hanya konsumen. Masyarakat perkotaan dengan urban farming bisa menghasilkan sendiri kebutuhan mereka atas sayuran dan buah-buahan. Ini jelas menjadi hal yang baik sebab memberi keuntungan secara ekologi dan ekonomi.

Saat mendapat buku ini, saya bertanya-tanya apa yang akan disuguhkan oleh buku yang ditulis oleh sebuah komunitas. Apakah hanya sekedar informasi tentang komunitas itu sendiri? Seperti siapa saja pengurusnya, penggiatnya dan kegiatannya.

Tapi ternyata buku ini bukanlah ajang narsis. Setiap part cerita kental dengan pembahasan urban farming. Berbagai tips dan motivasi untuk melakukan urban farming bertebaran di manapun.

***

Di usianya yang hampir menginjak 5 tahun, Komunitas Indonesia Berkebun telah berkembang di 33 kota dan 9 kampus di Indonesia. Kegiatannya pun beragam dan fun. *Melirik foto-foto di dalam buku*


Setiap komunitas melakukan berbagi kegiatan dan inovasi untuk membuat masyarakat di kota mereka tertarik untuk melakukan urban farming. Mulai dengan membuat akademi berkebun; membuat kebun kota dengan memanfaatkan lahan tidur atau lahan yang tidak terpakai; membuat Sunday Market yang menjual benih serta membuat pelatihan mini; dan masih banyak lagi.

Di dalam buku ini juga banyak cerita dari para penggiat Indonesia Berkebun di berbagai kota. Mulai dari kisah pertama kalinya Indonesia Berkebun cabang kota mereka dibentuk, perasaan senang mereka saat berkegiatan bersama sampai cerita tentang pasangan Kangkung IDBerkebun. Ha..ha.. ini jadi bagian favorit saya karena diceritakan tentang penggiat Indonesia Berkebun yang berhasil menemukan jodohnya di komunitas ini. (^_^)v

Di buku ini juga banyak tips menarik yang membuat berkebun itu tidak lagi jadi sesuatu yang sulit atau ribet. Ada tips menanam kangkung, menanam bayam, menanam pot, bawang merah bawang daun, seledri, dan lain-lain. Errr..itu semua kan sering sekali kita temukan di dapur sendiri. Kalau bisa kita hasilkan sendiri pasti banyak keuntungannya. Selain keuntungan secara ekonomi (baca: hemat) juga keuntungan dari segi kesehatan karena kita bisa memastikan sendiri bahwa sayur yang kita tanam memang tidak memakai pestisida yang berbahaya untuk kesehatan.


Ternyata buku ini menyenangkan untuk dibaca. Sayangnya, sedikit masukan untuk layout buku. Tulisannya masih terlalu rapat. Selain itu di beberapa bagian tulisannya terlalu kecil seperti di halaman 23 dan 25. Tulisan di dalam box menyulitkan orang yang berkacamata seperti saya (>_<).

Tapi secara keseluruhan isi bukunya menarik dan bermanfaat. Selain itu kertasnya yang lux membuat buku ini tidak cepat rusak atau robek (^_^)v

7 komentar:

  1. kegiatannya pasti menarik sekali.. tapi emang bener, berkebun sendiri gak hanya memberikan keuntungan ekologi tapi ekonomis juga..
    sampe sekarang, kalo dah masuk akhir bulan dan dompet dah menipis buat ke pasar, keluargaku gak merasa susah.. toh, tinggal petik kangkung samping rumah, petik daun ubi, petik daun kelor, ato ambil jantung pisang juga.. :) ekonoms sekali :D

    BalasHapus
  2. "Ada tips menanam kangkung, menanam bayam, menanam pot, bawang merah bawang daun, seledri, dan lain-lain. Errr..itu semua kan sering sekali kita temukan di dapur sendiri."

    Wah, aku tertarik tuh ama tipsnya yang nanem bawang merah. Pernah nyoba tapi gagal... :D #PLAAKKK

    Bener banget, kalo kita dibiasain nanem bumbu dapur, pas abis gampang, langsung ngambil aja di kebun, tanpa perlu ke warung :)) #pengalaman

    Kalo bumbu dapur yang aku tanam; cabe, daun salam, daun pandan, kemangi, seledri, laos, lengkuas ama jahe.

    Nah, kalo nyoba nerapin tips nanem sendiri; selain sehat, hemat juga menghasilkan nilai ekonomis ;)

    Penasaran ama isi bukunya, ama foto-foto hasil berkebun yang didokumentasiin di buku ini ;)

    BalasHapus
  3. udah lama follow twitternya IDberkebun ini, biasanya suka geleng - geleng kepala, kok bisa ya seger - seger gitu nanam sayuran, padahal lahannya sempit, apalagi kalau ada yang mengenalkan varietas baru, pengin banget jadi urban farming ^_^

    BalasHapus
  4. saya pengen banget nanam sayur atau bumbu2 dapur, soalnya suka kelupaan beli sesuatu.. kan malas bolak-balik ke tukang sayur.. klo sudah ada dirumah kan tinggal petik :-D
    sayangnya gak ada lahan berkebun.. masih ngontrak.. :-( #eh #malahcurcol

    BalasHapus
  5. Di desa saya byk sekali daerah persawahan n kebun, isinya macem2. Kalo dikasih buku ini tambah oke kali ya

    BalasHapus
  6. berkebun banyak mamfaatnya dan mamfaat utama menghemat uang belanja. Berkebun di kota bukanlah hal yang tak mungkin asalkan semua warga kota mau repot, repot berkumpul untuk rembukkan tanamannya dan repot menjaga tanamannya.
    Semoga kehadiran buku ini bisa menginspirasi kita semua

    BalasHapus
  7. Urban farming, ya? Menarik! Terlebih sekarang ini urban farming telah menjadi gaya hidup. Inspiratif bagi pemula seperti saya. Tentu banyak ilmu yang bisa didapat dan disebarluaskan. Siapa tahu dengan buku ini bisa menginisiasi terbentuknya @IDBerkebun_Lombok. :)

    BalasHapus