Minggu, 22 Maret 2015

28 Detik



“That’s why gue nggak percaya bakat. My talent is the passion. Bakat itu kita yang ciptakan, bukan anugerah semerta-merta dari langit” ( Hal. 33)



Penulis: Ifa Inziati
Penyunting: Dila Maretihaqsari
Perancang sampul: Belinda C.H
Pemeriksa Aksara: Nunung Wiyati & Sheraynardia
Penata aksara: Gabriel
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: vi + 230 halaman
ISBN: 978-602-1383-03-2
Kamu itu cewek paling aneh yang pernah kutemui.

Nyebelin, tapi bikin penasaran.
Cantik, tapi belagu.
Ngeselin, tapi pengin dijadiin pacar.

Sebenarnya, kamu ini terbuat dari apa, sih?

Kamu membuatku membangun harapan sekaligus meruntuhkannya. Seluruh impian yang sudah kubangun seumur hidup buyar seketika.

Hanya butuh waktu 28 detik untuk secangkir kopi yang nikmat. Tapi, untuk meraih hatimu? Berapa lama lagi harus kukorbankan egoku?
***

“.... Kita memang semestinya melewati beberapa tahap dulu sebelum menjadi diri kita yang sekarang” (hal. 90)


Mengambil setting cerita di sebuah kedai kopi di kota kembang.  Kopi Kasep nama tempat itu. Menggunaka kata “Kasep” dari bahasa Sunda yang berarti “Tampan”. Di dalam tempat inilah si pencerita menuturkan kisahnya. Dengan berfokus pada tokoh Candu, barista Kopi Kasep.

Dengan menggunakan sudut pandang Simoncelli, mesin espresso yang ada di Kopi Kasep kisah tentang pershabatan, cinta dan cita-cita pun dituturkan. Dinamika dalam hubungan staf Kopi Kasep ditampilkan menarik. Simoncelli sebagai pengamat menceritakan cukup detail interaksi di antara mereka. Ada Candu, sang Barista. Ada Satrya si ahli latte art. Ada Nino, kasir pendiam nan serius. Dan Winona, waitress yang ceria dan penuh semangat. 

Diceritakan bagaimana mereka saling mendukung. Dan bagaimana perasaan mereka satu sama lain. Ada cinta, ada perhatian, ada rasa iri yang terselip dan tentu saja ada kepedulian.

 “Dalam setiap nama besar, selalu ada beberapa orang di belakang yang membangunnya.” (Hal. 89)

Kemudian muncul tokoh baru bernama Rohan. Gadis SMA yang punya “bakat menarik” yang disebut Sinestesia. Saat mendengar sebuah kata dia akan menerjemahkannya menjadi warna. Bakat yang unik dan menarik. Sayangnya ia belum menemukan hal yang ia cintai. Belum menemukan passionnya. Ia pun menantang Candu dengan berkata bahwa ia ingin menukar bakatnya dengan semangat yang Candu miliki.

“Saya lebih baik punya semangat daripada bakat.” (Hal. 27)

Ini kemudian mengganggu Candu. Ia yang selalu bersemangat mengejar sesuatu dan melakukan hal yang ia cintai tidak bisa memahami pemikiran Rohan. Candu pun semakin memperhatikan Rohan. Di waktu yang sama Candu dan seluruh staf Kopi Kasep sibuk mempersiapkan diri untuk Nusantara Barista Tournament (NBT).

Hingga setelah NBT muncul sebuah kenyataan pahit. Seseorang dari mereka ada yang berkhianat. Membuat seluruh persiapan untuk mengikuti NBT jadi sia-sia. Siapakah dia? Bagimana Kopi Kasep setelah itu?

“Kamu nggak mungkin tahu apa itu lenyap kalau kau tidak pernah menemukannya sejak awal. Kamu boleh sadar kalau kamu cinta saat itu ada, tapi kesadaran saat tiada itu ... .... seperti panah yang melesat dari jauh dan menusuk kepala. Tak terdengar, hanya langsung sakit.” (hal. 188)

***

“As long as there was coffee in the world, how bad things could be?” – Cassandra Clare (Hal. 124)

Novel ini adalah pemenang pertama dalam kompetisi menulis “Passion Show” yang dibuat oleh Bentang Pustaka. Buku ini bercerita tentang kehidupan di sebuah kedai kopi beserta seluruh dinamikanya. Sayangnya tidak banyak filosofi terkait kopi yang dituturkan. Bahkan esensi judulnya “28 detik” masih kurang diketengahkan.

Selain itu kisah tentang keunikan Sinestesi kurang dieksplorasi. Ini jadi terasa seperti tempelan. Saya bahkan mencoba menggoogling lebih jauh tentang Sinestesia ini. Tidak ditegaskan bahwa Sinestesia adalah gangguan genetika. Padahal ada Tante Sheryl yang masih keluarga Rohan tapi tidak mengalami hal ini.

Tapi saya suka dengan sudut pandang yang dipilih oleh penulis. Bercerita dari sudut pandang seorang..eh..sebuah mesin espresso. Membayangkan benda-benda punya jiwa dan bisa bercerita itu rasanya lucu tapi menyeramkan sih (^_^)

Di halaman 66, penulis menyampaikan dengan  menarik tentang potensi kopi di Indonesia.

“ ..., sebetulnya Indonesia punya potensi yang besar banget buat jadi Negara Kopi”

Tapi saya mau memprotes sebuah pendapat yang dikemukakan Candu di halaman 151. Ia berkata,

“For me, coffee is not just a drink – it’s a class, a personality. Kopi bisa mengatakan tentang diri peminumnya, sampai ada studi yang benar-benar membahas tentang ini. Jadi jangan salahin gue kalau keliru, ya.”

Bagi saya pribadi ini perlu diperdebatkan *walaupun Candu sudah menyampaikan bahwa bisa saja dia keliru*. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda saat mencoba kopi pertama kalinya. Ini biasanya akan mempengaruhi seleranya terhadap kopi. Orang yang suka kopi hitam bukan berarti dia nggak feminim. Atau kalau laki-laki  menyukai hazelnut latte maka kesannya jadi aneh. Nah, ini menurut saya masih bisa diperdebatkan dan kadang rasanya menyebalkan. Karena kesannya orang yang tidak menyukai kopi hitam dianggap tidak benar-benar suka dengan kopi.

Hm..secara keseluruhan saya suka dengan novel ini. Cara Mbak Ifa Inziati bercerita manis. Pas. Tidak terlalu berbunga-bunga tapi juga tidak terlalu serius. 

Sayang deskripsi tokohnya belum begitu lengkap. Bayangan tentang tokoh Candu dan seluruh crew Kopi Kasep masih kurang bisa membantu saya menciptakan bayangan tentang tokoh-tokoh ini. Lucunya sahabat Rohan, deskripsi fisiknya cukup jelas dan berkesan karena unik. (^_^)v
Terakhir, satu hal lagi. Saya suka banget dengan sampul novel ini. Manis.


 “.... Nih, nggak ada rasa yang cuma satu. Di balik benci pasti ada cinta, di balik cuek pasti ada sayang, masa di balik pahit aja nggak bisa ada rasa manis? Makanya, kamu harus tahu cara menikmatinya dulu. Hidup juga sama kayak kopi, kerasa pahit kalau nggak tahu cara menikmatinya.” (hal. 118)

***
 
Dipost di instagram @atriasartika

Wangi apa itu yang menguar?
Ah, semerbak khas kopi datang
Bersama cerita tentang cinta
Serta kisah perjuangan meraih cita

Ah, kisah tentang cinta
Tidak akan pernah cukup dirangkai
Hanya dalam satu rasa

Sebab cinta selalu penuh warna
Kaya rasa & jadi pusat cerita

Bahkan kisah tentang sebauh mesin espresso sekalipun akan selalu menyebut kata itu

***


Quote

"Bisa hidup dan berjuang sendiri bukan berarti lo nggak butuh dukungan luar. Lo nggak bisa sukses sendirian terus, Can.” (Hal. 207)

“Nggak pernah ada akhir buat kebahagiaan” (Hal. 221)


“.... Itulah bedanya perasaan senang dan sedih. Senang yang diulang-ulang akan terus menghasilkan kesenangan yang baru, sedangkan sedih akan selamanya sedih. Makanya lebih banyak orang yang tidak tahan dengan kesedihan karena pada dasarnya kita semua anti-kebosanan” (Hal. 184)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar