Selasa, 03 Februari 2015

The Silkworm



“Manusia membunuh demi keuntungan dan pertahanan diri, mendapati dalam diri mereka kemampuan untuk pertumpahan darah ketika tak satu pun alternatif tersedia; tetapi ada pula orang-orang yang di bawah tekanan paling intens pun tak mampu mendesak, menyambar peluang, membongkar tabu paling besar dan final” (hal. 329)
 http://photos-h.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10932385_757713174305887_1034206637_n.jpg



Penulis: Robert Galbraith
Alih bahasa: Siska Yuanita
Alih bahasa kutipan: M. Aan Mansyur
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: pertama, 2014
Jumlah hal.: 536 halaman
ISBN: 978-602-03-0981-1
Seorang novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi tanpa pamit selama beberapa hari—seperti yang sering dia lakukan sebelumnya— lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.

Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak—yang berarti ada banyak orang yang ingin Quine dilenyapkan.

Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak terkira.

***

“Kita tidak saling mencintai; kita mencintai gagasan yang kita miliki tentang yang lain. Hanya sedikit manusia yang memahaminya atau sanggup merenungkannya. Mereka buta terhadap kemampuan imajinasi mereka sendiri. Semua bentuk cinta, pada akhirnya adalah cinta kepada diri sendiri.” (Hal. 348)

The Silkworm  menceritakan tentang kasus yang ditangani oleh Cormoran Strike, detektif partikelir, yang kehidupannya punya cukup banyak sensasi. Ia adalah anak haram dari seorang artis rock yang terkenal. Ia memilih untuk hidup jauh dari bantuan ayahnya. Memilih menjadi tentara namun terpaksa meninggalkan pekerjaan yang disukainya karena kecelakaan yang dialaminya saat bertugas. Cormoron Strike cacat. Kaki kanannya harus diamputasi hingga lutut. Setelah itu publisitas yang diterimanya karena berhasil mengungkap kematian Lula Landry (kasus yang dipecahkannya dalam buku The Cuckoo’s Calling) menambah daftar hal sensasional dalam kehidupan Strike.

Dalam buku ini, Strike menangani kasus hilangnya Owen Quina. Leonara, istri  Owen, merasa cemas karena suaminya sudah menghilang selama sepuluh hari. Leonara bercerita bahwa Owen pergi dengan perasaan marah pada Elizabeth Tassel, agennya.

Ternyata kasus ini akhirnya berbuntut panjang. Butuh beberapa hari bagi Strike untuk menemukan Owen. Sayangnya saat berhasil menemukannya, Owen sudah tidak bernyawa. Menariknya kondisi Owen saat ditemukan benar-benar ganjil. Di dekatnya ada 7 buah piring persembahan. Pria itu dibedah dan ususnya hilang. Usus tersebut tidak ditemukan di TKP. Benar-benar ganjil dan brutal.
Kematian Owen kemudian dihubungkan dengan naskah terkahir yang ditulisnya yang berjudul Bombyx Mori yang isi di dalam naskahnya menyinggung kehidupan sejumlah orang yang belakangan menjadi tersangka. Mereka adalah: 1) Elizabeth Tassel. Agen Owen. Diketahui sebagai orang terakhir yang berbicara dengannya di depan umum. Wanita ini sudah mengenal Owen cukup lama dan sudah bertahun-tahun membiayai kehidupan Owen. 2.) Leonara Quine. Istri Owen dengan motif bahwa ia sudah tidak tahan menjalani kehidupan pernikahan dengan orang sejahat Owen. 3) Daniel Chard, CEO Roper Chard, yang digambarkan dengan cukup buruk oleh Owen dalam naskahnya. 4.) Jerry Waldegrave, editor Owen di Roper Chard. Laki-laki ini pun diolok-olok oleh Owen dalam buku terakhirnya. 5) Michael Fancourt. Penulis yang sempat menjadi teman baik Owen namun karena sebuah tragedi, mereka berdua pun jadi bermusuhan.

Kasus ini semakin dibuat rumit oleh karakter Owen sendiri yang memang senang bertindak seenaknya. Maka tidak heran jika setiap orang dalam daftar tersebut memiliki motif untuk melakukannya. Semakin banyak data terungkap, semakin sedikit simpati yang dilayangkan kepada Owen sebagai korban. Kisahi ini jadi benar-benar terfokus untuk menemukan pembunuh Owen tanpa sedikit pun bersimpati pada sosok Owen Quine ini.

Pengejaran Strike atas pembunuh Owen Quine semakin dipersulit karena sikap bermusuhan yang diperlihatkan oleh pihak kepolisian. Ini karena mereka menganggap bahwa dalam kasus Lula Landry, Strike telah mempermalukan pihak kepolisian. Ini membuat mereka berusaha menjauhkan Strike dari kasus tersebut.

Pada akhirnya, Strike memang berhasil mengalahkan kepolisian (lagi) (^_^)v

“..., wanita sering kali berharap kaum pria mengerti bahwa upaya sekuat tenaga untuk mengubah pria merupakan ukuran besarnya cinta mereka.” (Hal. 57)

***

“Tiap kelahiran, bila dipikirkan dengan saksama, hanyalah suatu kebetulan. Dengan ratusan juta sperma yang berenang dengan buta dalam kegelapan, sungguh amat kecil probabilitas seseorang bisa menjadi apa adanya kini. Dari semua yang berjejalan di kereta ini, berapa banyak yang memang direncanakan?” (hal.16)

Saat membaca The Silkworm ini, saya bahkan belum membaca The Cuckoo’s Calling. Namun jadinya, saya bisa memberi kesaksian bahwa buku ini meskipun tidak membaca buku pertama,pembaca tetap bisa mengikuti cerita. Dan meskipun membaca The Silkworm, saya tetap saja tidak mendapatkan bocoran buku The Cuckoo’s Calling selain yang membuat pembaca semakin penasaran untuk baca buku The Cuckoo’s Calling. Ha..ha.. sekalian promosi ya?? (^_^)v

Buku ini memang genrenya misteri atau lebih tepatnya lagi buku detektif. Namun jangan samakan pengalaman membaca buku ini dengan membaca buku Sherlock Holmes atau Poirot. Di dalam buku ini Cormoran Strike memang detektif namun gaya penceritaan Robert Galbraith berbeda dengan penulis kisah dua detektif terkenal tersebut.

Ini karena novel The Silkworm bukan mengajak pembaca menjadi detektif dengan ikut menebak-nebak siapa pembunuhnya, melainkan menyajikan kehidupan Strike dengan dibumbui oleh misteri yang dipadu dengan apik. Ini karena berbagai hal personal seperti hubungan Strike dengan mantan tunangannya, Charlotte disuguhkan dengan cukup banyak emosi. Selain itu kehidupan Robin, asisten Strike pun disuguhkan cukup lengkap meskipun tidak memiliki relevansi yang kuat dengan isi cerita.

Perbedaan paling terasa adalah karena Strike lebih suka menyimpan sendiri pemikiran-pemikiran paling penting dan bukti-bukti dari pembaca. Berbeda dengan Agatha Christie atau Conan Doyle yang menyuguhkan keseluruhan bukti namun menjadi sebuah puzzle acak sehingga pembaca bisa ikut memutar otak dan menghubungkan keseluruhan bukti tersebut.

Itu kenapa saya lebih suka menyebut karya ini sebagai novel yang mengetengahkan kehidupan seorang detektif. Bukan novel misteri atau detektif yang pure. (^_^)

Oiya, tentang sosok Owen Quine, penulis yang menjadi pusaran utama misteri ini, saya hanya bisa dibuat geleng-geleng kepala saat membaca tentang karakternya dan karyanya. Apa iya, ada penulis segila itu pada ketenaran? Itulah yang membuatnya mudah diperdaya oleh pelaku hingga memudahkan pelaku mensetting panggung kematian Owen. *Ups.. bukan spoiler kok (^_^)*


“Ingatan adalah hal yang pelik, ...” (hal. 245)

“Intuisi, kata orang, tapi Strike tahu itu adalah hasil dari membaca tanda-tanda yang halus, alam bawah sadar yang menghubungkan titik-titik.” (Hal. 477)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar