Senin, 09 Februari 2015

(Me)Mories




“Kamu cukup melakukan satu hal, Ries. Cukup merindukanku sekali saja, karena dengan begitu aku akan punya alasan untuk datang dan mencintaimu sebanyak yang aku mau.” (Hal. 277)

19546574
Penulis: Nay Sharaya
Editor: Anin Patrajuangga
Desain Kover: Lisa Fajar Riana
Penata Isi: Ana
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: vi + 280 halaman
ISBN: 978-602-251-329-2

Kau menganggapku seorang puteri, bukan? Lalu, apa jadinya jika kau tahu, sosok puteri yang diam-diam menyergap hatimu ini hanya seorang makhluk aneh kesepian, yang kehilangan jati dirinya. Apakah cinta akan tetap sama? 

Ternyata, ini hanyalah tentang sepenggal kisah-kisah di ujung hari yang menunggu akhir. Tapi, saat ia ingin menyerah, seseorang tiba-tiba membuat janji.

“Membuat kamu aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku lindungi, oke?”
Hanya karena sebuah janji, sesuatu berubah. Sebuah janji yang membuatnya mulai percaya dan berharap. Namun kemudian, ia sadar bahwa sebuah janji tak akan pernah bertahan lama. Karena itu, ia memutuskan untuk menjauh dan bertahan dengan caranya sendiri. 

“Pernah suatu saat aku mencoba membayangkan masa depanku. Kau tahu? Membayangkan masa depanku tanpa ada kau di dalamnya, rasanya sangat aneh.”

***

Cerita dibuka dengan sebuah insiden yang terjadi di laboratorium yang melibatkan tokoh utama, Mories. Ia menjadi salah satu orang yang terjebak di dalam ruang laboratorium yang terbakar. Anehnya, percakapan para tokohnya malah menunjukkan bahwa Mories adalah dalang dari kejadian itu.

Setelah itu cerita maju ke kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang diikuti oleh Mories. Kesialan Mories yang terpaksa menjadi teman Tiyanna, siswi kelas X seperti Mories yang sangat senang melawan senior. Sejak itu, takdir seolah mengikat Mories dengan Tiyanna. Kehadiran Alan, Ketua Osis, yang selalu mengajak Tiyanna perang tapi bersikap baik pada Mories menjadikan cerita kian kompleks. Ada pula Chandra, Ketua Panitia MOS yang selalu baik pada Tiyanna namun selalu bersikap kasar pada Mories.

Cerita pun berlanjut ke hari-hari berikutnya. Kehidupan Mories sebagai siswa kelas X pun sangat berwarna. Sayangnya, karena Tiyanna, Mories pun menjadi sasaran tindakan senioritas. Ditambah lagi karena Alan yang cukup populer di sekolah kini mendekati Mories. Membuat Mories menjadi target gencetan para senior perempuan yang menyukai Alan.


Kemudian, satu persatu orang yang melukai Mories terluka. Kemudian masa lalu Mories pun terungkap. Mories ternyata memiliki kepribadian yang berbeda. Ia manusia yang berbeda. Secara emosi dia “lumpuh”.

***

Sejak awal membaca novel, aku segera menangkap bahwa ada yang salah dengan karakter Mories. Dengan pengulangan pada penggambaran Mories dengan menampilkan bahwa Mories lebih terkesan sebagai sosok yang tidak punya emosi. Mata yang kosong. Sikap diam yang tidak terlihat ketakutan saat diancam atau dimarahi. Penggambaran yang berulang-ulang tersebut sangat jelas.

Jawaban tentang hal ini akhirnya muncul setelah beberapa konflik. Yakni sikap Alan dan Chandra yang membingungkan Mories. Tuduhan Mories kepada ayahnya yang telah memerintah seseorang untuk menjaganya di sekolah. Mories menduga orang tersebut adalah Alan. Tapi benarkah?

Penulis kemudian mempertajam konflik dalam novel ini dengan membuat Mories dan Tiyanna jatuh cinta pada orang yang sama. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis jadi lebih bebas menampilkan pergulatan setiap tokoh pada perasaan dan pikirannya.

Konflik di dalam novel ini membuat saya cukup penasaran. Saya bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Mories? Dan ini terjawab di halaman 152. Mories menderita Urbach-Wiethe disease. Kerusakan pada bagian tertentu dari otak yang membuat seseorang tidak mengenal rasa takut dan empati.

Mengangkat penyakit ini dalam novel ini adalah ide yang menarik. Sayangnya, eksekusinya kurang total. Penggambaran Mories sebagai penderita gangguan genetik ini kurang banyak. Hanya digambarkan saat menghadapi senior atau sikap kasar orang, serta saat ditakut-takuti dengan tikus. Pada hal-hal kecil kurang digambarkan. Selain itu, perasaan Mories terhadap Alan entah kenapa terasa kurang pas. Bagaimana mungkin rasa suka Mories bisa tumbuh dan itu seolah menyembuhkan Mories secara mendadak.

Selain itu, dalam novel ini kalimat “seperti di drama-drama Korea” terlalu sering muncul. Rasanya lucu saja sih membaca sebuah adegan yang terkesan “Korea banget” harus mendapat penjelasan semacam itu. Saya pikir jika benar adegan digambarkan dengan baik dan dibuat mirip dengan film-film Korea, pembaca akan segera menangkap hal itu.

Oiya, sedikit komentar tentang sampulnya. Manis banget. Sayangnya terasa kurang sesuai dengan ceritanya.

Tapi secara keseluruhan, saya suka dengan konflik-konflik yang dibangun. Tentang sikap Alan, Chandra, dan Tiyanna. Terutama ide unik yang menjadikan Urbach-Wiethe disease sebagai kunci cerita. (^_^)
"Ada wanita-wanita tertentu yang hanya ditakdirkan menjadi kekasih sesaat. Namun ada pula wanita-wanita tertentu yang jauh lebih beruntung, yang hanya layak dijadikan kekasih selamanya. Kau tahu? Kau selalu berada di posisi yang kedua. Aku meyakini itu.” (Hal. 278)
***
http://photos-f.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10948702_637969456332109_1776661973_n.jpg
sumber foto: Instagram @atriasartika

Menjagamu adalah inginku
Enyahkan gundahmu jadi wajibku
Menjadikanmu milikku jadi mimpiku
Orang boleh meragukannya
Ribut mendebatnya
Itu tidak akan melemahkanku
Esok akan datang tuk buktikan
Sejatinya kau memang untukku
 

27 komentar:

  1. Tak bisa merasakan empati tapi bisa jatuh cinta? Sampulnya keren, tapi kenapa kurang pas, kak? Apa karena tokohnya tidak ada yang pakai pakaian seperti yang di sampul?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu sedikit logika cerita yang sempat saya pertanyakan :D

      Hm..sampulnya dirasa kurang pas karena gak ada cerita semanis itu dengan gaun-gaun cantik yang cukup membekas. Yang membekas malah keanehan Mories :D

      Hapus
  2. covernya bagus ya. saya juga baru tau ada yang namanya Urbach-Wiethe disease. tapi asik juga sih nggak punya rasa takut. eh tapi nggak punya empati itu yang nyebelin .__.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ide ceritanya bagus, kan??
      Hm..kalo aku sih mending normal aja. Soalnya kalo gak punya rasa takut, kita bakalan sering membahayakan diri sendiri. (>_<)
      Lagian kan nanti gak bisa jatuh cinta.. he..he..

      Hapus
  3. wih ngangkat tentang penyakit langka ya.. keren keren! :D
    ternyata Mories itu cewek ya, awalnya aku kira cowo :D *sungkem*
    Tp kok hebat ya efek penyakit itu bisa tetap bikin penderitanya bisa merasakan jatuh cinta :/ hahah
    tapi aku belum baca sih, jadi aku penasaran tentang penyakit itu :D keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku juga suka dengan ide ceritanya (^_^)
      Baca novel ini tuh jadi dapat informasi baru yang gak umum tapi menarik

      Hapus
  4. daan aku jatuh cinta pada covernya *gagalfokus*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. aku juga suka sama covernya (^_^)
      *tos*

      Hapus
  5. covernya unyu, nama tokohnya juga Mories jadi inget salah satu produk selai hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. ingat aja sama selai itu :D

      Hapus
  6. Baru tau ada penyakit macam tu, kaya poker face dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. tapi ini beneran gak bisa ngerasain emosi (>_<)

      Hapus
  7. Penyakit langka, tidak mengenal rasa takut dan empati ya? Rasa takut sih oke, cuma masa gak bisa rasain empati? Tapi bisa rasain jatuh cinta? Bukti bahwa cinta tidak hanya bisa mendatangkan sakit, bisa juga menyembuhkan(?) hihi :D
    Tapi menarik nih ide ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini logika cerita yang sempat bikin aku bingung juga..he..he..
      Yups, ide ceritanya bikin novel ini menarik.
      Awalnya aku mikir Mories itu psikopat lho..he..he..

      Hapus
  8. Iya covernya unyu-unyu gitu, pertama baca ada kata laboratorium kayanya asyik bener dan ditambah Urbach-Wiethe disease baru pernah denger, temanya juga masih area sekolah jadi mingkin bisa dimengerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya gampang dimengerti kok karena memang ditujukan untuk remaja (^_^)

      Hapus
  9. Covernya unyu, ih. Suka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, covernya manis banget. Kayak aku #eh
      (^_^)v

      Hapus
  10. Reviewnya kayak cerita di drama korea :D
    aku suka deh kalo adegan yg digambarkan dalam novel ini seperti di drama koreaa ^^

    BalasHapus
  11. Wahh..idenya unik juga ya. Terbukti dengan adanya Urbach-Wiethe disease sebagai kunci dari ceritanya. Ini akan menjadi pengetahuan tersendiri bagi para pembacanya termasuk saya. Saya juga penasaran nih sama pendapat kak Atria bahwa ada yang salah dengan karakter Mories. Mungkin kalau saya sudah baca bukunya, saya juga bisa menemukan kesalahan dari karakter Mories.

    BalasHapus
  12. Kalau ditanya soal kover, saya orang yang paling antusias (melihat buku dari sampulnya). Berarti gak dibaca, dong? Ah, nggak, maksudnya sama isinya juga :D Oke, dari novel ini saya mungkin tertarik sama idenya, juga nama tokohnya yang klop banget sama judulnya Me(Mories). Untuk cerita saya juga masih belum tahu. Masih bertanya-tanya.

    BalasHapus
  13. Wah, Urbach-Wiethe disease. Saya baru dengar malahan.

    Idenya menarik sekali ya. Saya jadi pengen lebih tau tentang Mories dan dunianya deh. ^^

    BalasHapus
  14. Lumpuh secara emosi tapi punya perasaan buat suka sama orang, lucu ya. cover nya aku rasa emang beda deh sama isinya, jadi berasa aneh. kalo sering muncul kalimat “seperti di drama-drama Korea” berarti banyak adegan yang kaya drama-drama korea dong.

    BalasHapus
  15. “Membuat kamu aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku lindungi, oke?”

    Quotenya manissss

    Urbach-Wiete Deasease hmmm orang yang kehilangan rasa takut dan empathy ...
    Jadi makin penasaran

    BalasHapus
  16. keren :)... nggak nyangka bakalan dapet ide ttg penyakit itu :) smpet penasaran pas ada kata2 secara emosi dia lumpuh eh trnyata krn itu :)

    BalasHapus
  17. dilihat dari judulnya, pasti tentang sebuah masa lalu. dimana masa yang indah ataupun buruk yang perlahan sirna menjadi sebuah memori dalam kehidupan seseorang. seperti judulnya, (me)mories

    BalasHapus
  18. apa arti 'me' dalam kurung? apa hubungannya dengan Mories? apa pertimbangannya memakai judul (Me)mories? apakah artinya (Saya)Mories? :)

    BalasHapus