Sabtu, 07 Februari 2015

Interval: Time and Space to Talk

24462921




“Pria yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi selalu terlihat berkilauan dibanding jenis pria manapun.” (Hal. 90)
Penulis: Nay Sharaya & Dion Sagirang
Editor: Anin Patrajuangga
Desain Cover: Dyndha Hanjani P
Ilustrator: Lisa Fajar Riana
Penata Isi: Lisa Fajar Riana
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Januari 2015
Jumlah hal.: 280 halaman
ISBN: 978-602-251-868-6
Anna
Kupikir aku akan selalu baik-baik saja dalam keluarga yang kacau ini. Hingga kemudian, beberapa kesialan datang tiba-tiba dan mengejutkanku.
Kakakku, pemuda asing yang genius itu selalu mendapatkan apa saja dengan mudah,lalu menyia-nyiakannya. Seorang gadis Jepang yang perlahan-lahan merebut tempatku yang nyaman. Dan terakhir, seorang pria, guru misterius yang penuh rahasia dan akhirnya melibatkanku dalam kekacauan yang tak pernah kualami sebelumnya.
Semuanya muncul bersamaan dan membuatku sadar bahwa bertahan sendiri tidak lagi semudah dulu.
***
Erash
Dulu aku pernah berbagi tawa bersama gadis itu. Pada sore yang cerah, kami menaiki sepeda yang sama, melewati hari-hari dengan bahagia. Seperti kisah-kisah dalam dongeng.
Lalu, mari kita tengok sekarang. Dia, gadis yang pernah berbagi tawa bersamaku telah menjelma sosok yang tidak kukenali. Ada sorot benci yang sulit kuejawantahkan saat dia menatapku, dan tatapan itu seperti cara seseorang menatap musuh.
Padahal, gadis itu adalah adikku. Sekarang, saat hidupnya didera banyak masalah, apa aku masih punya alasan untuk tetap peduli?
***
Interval menghadirkan kisah tentang dua orang saudara yang mengambil sikap yang berbeda dalam masalah keluarga yang mereka hadapi.  Adalah Zivanna Emilya Sadjana, akrab disapa Anna, yang masih duduk di kelas X. Mencintai olahraga dan karena suatu hal ingin meningkatkan kemampuannya dalam ilmu eksakta.

Tekad ini membuat Anna mendekati Pak Dante, guru matematika yang masih muda dan misterius. Namun ternyata ini membawa dampak buruk bagi Anna. Di lain pihak, Anna tidak mau berhenti mendekati Pak Dante yang membuatnya tertarik. Anna berpikir, toh keluarganya tidak cukup peduli pada dirinya. Memiliki rumah besar yang sunyi, dengan ibu-bapak yang sibuk dan kakak yang bersikap dingin membuat Anna mencari kenyamanan di luar rumah. Ini ditemukannya dalam diri Pak Dante.

Namun amankah pilihannya itu? Pak Dante banyak menjadi bahan gunjingan. Ada yang menyebutnya hacker, ada yang menyebutnya mahasiswa yang dropout karena terlibat kasus, ada yang menggosipinya sebagai guru yang senang memanfaatkan murid. Jadi, benarkah pilihan Anna ini?

Di lain pihak, kehadiran Naomi, anak baru di kelas Anna, membuat Anna menaruh rasa cemburu. Bagaimana mungkin Erash yang cuek bisa peduli pada Naomi? Padahal ke Anna yang adiknya sendiri dia tidak pernah mau tahu.

Setelah itu, cerita beralih tentang kehidupan dari sudut pandang Pramuerash Sadjana atau Erash, kakak Anna. Ia yang memilih bersikap tidak peduli pada keretakan yang terjadi di tengah keluarganya. Ibu-bapak yang lebih sibuk dengan pekerjaan dan pencitraan. Orang tua yang tidak benar-benar peduli pada kondisi dua orang anaknya. Akhirnya, Erash memutuskan untuk menarik perhatian orang tuanya melalu cara yang diyakini yakni membuat catatan buruk pada prestasinya di sekolah. 

Sayangnya karena terlalu sibuk melindungi hatinya sendiri dari sakit hati dan kekecewaan, ia melupakan adiknya. Ikut bersikap abai pada adik semata wayang yang dimilikinya. Hingga hadirlah Rifat, sahabat Erash yang menaruh hati pada Anna. Lelaki ini yang mendorong kembali kepedulian Erash pada Anna. Tapi sayangnya saat itu Erash merasa bahwa semuanya sudah terlambat. Bisakah ia meraih kembali adiknya? Bisakah ia merekatkan kembali keluarganya yang pecah? Ataukah ia kembali ke kebiasaannya selama ini demi melindungi hatinya?

***

Tampilan covernya cukup menggugah. Memberi sedikit bocoran pada pembaca bahwa kisah ini akan menggunakan dua sudut pandang yang berbeda. Menariknya cara novel ini disajikan agak berbeda dengan jenis buku duet lain. Jika di buku lain, kisah yang sama disuguhkan memang sama, rentang waktunya sama, namun dari sudut pandang yang berbeda. Namun kali ini dalam Interval sajiannya sedikit berbeda.

Saya harus memberitahu pembaca bahwa lebih baik memulai membaca dari sudut pandang Anna jika tidak ingin mendapati alur mundur. Ini karena rentang waktu dari kedua cerita ini berbeda. Cerita dari sisi Erash dimulai sebagai kelanjutan dari akhir kisah dari sisi Anna. Yup, konflik dari sisi Anna menggantung (>_<). Tapi membaca cerita dari sisi Anna membuat pembaca bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam keluarga Anna dan Erash.

Sayangnya saat membaca bagian Erash, jawaban tentang kondisi keluarga tidak terjawab dengan lengkap. Namun tentang hubungan Anna dan Pak Dante berhasil dijadikan benang merah yang baik dari dua sisi cerita ini. Selain itu, di sudut pandang Erash, emosi tokoh cukup banyak ditampilkan. Sikap dia dalam menghadapi retaknya hubungan kedua orang tuanya jauh lebih banyak dideskripsikan. 

Penggunaan sudut pandang orang ketiga, membuat pembaca jadi berjarak dengan emosi tokohnya. Pergulatan batin tokoh terutama dari sisi Anna kurang banyak disampaikan. 

Oiya, tokoh Rifat, sahabat Erash yang menyukai Anna, menjadi salah satu tokoh yang punya peran yang cukup kuat. Sayangnya, untuk tokoh Naomi tidak diberi perlakuan yang sama. Naomi memang mendorong munculnya rasa cemburu dari Anna, tapi tidak menjadi bagian penting dari konflik utama dalam kehidupan Ersha. Posisi Naomi masih “nge-gantung” (>_<)

Selama membaca novel ini saya merasa gaya bahasanya kurang casual untuk remaja. Selain itu, ada percakapan yang bagi saya tidak seharusnya dianggap percakapan. Di halaman 30 ada percakapan yang pakai tanda kurung “()”. Ini menurut saya bukan hal yang benar dalam penulisan percakapan.

Sebaiknya kalau ingin membuat percakapan ini menjadi jelas, maka sebaiknya kata otaku ditulis miring kemudian diberi catatan kaki dengan menyampaikan bahwa definisi istilah itu berasal dari wikipedia.

Selain itu, satu lagi pendapat saya tentang buku ini yaitu konfliknya kurang tajam. Puncak konfliknya kurang jelas. Dititik mana konflik utama disajikan. Konflik keluarga Anna dan Erash alasannya kurang kuat. Tapi closing konfliknya sudah bagus menurut saya.

Tapi secara keseluruhan, isu di buku ini menarik karena mengangkat hubungan persaudaraan bukan percintaan.(^_^)
***

 Puisi yang terinspirasi oleh novel Interval

http://photos-f.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10948636_1607746346115125_43026439_n.jpg
Sumber foto: Instagram atriasartika

Adakah cinta yang menjaga dalam diam?
Bisakah kepedulian diredam?
Aku dan kau sudah terlalu lama bungkam
Tanpa pernah mencoba melihat yang telah karam

Mungkin sudah waktunya melantangkan geram
Mengurai luka yang terekam
Menyelamatkan semua hati agar cinta kembali merekah

25 komentar:

  1. Ooh jadi ini lebih banyak sisi keluarga ya. Kirain romens aja. Btw, cewe di covernya kok punya leher panjang bener.. x)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. teliti banget sampai sadar ukuran leher kurang proporsional. (^_^)

      Iya, ini novel tentang keluarga. Tapi ada sisi romance-nya juga kok

      Hapus
  2. Nah, kan kalau udah baca reviewnya gini jadi geregetan sama sikap Erash ya, kok ga perhatian sih sama adiknya :( *padahal aku aja pengen punya kakak cowo* wkwk :D
    jadi penasaran sama yang dibilang kak atria tentang konfliknya kurang tajam. kayaknya harus baca sendiri nih >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. gregetan kan sama Erash?? Aku juga kok. Syukur kakak aku baik semua :D

      Hapus
  3. Adakah cinta yang menjaga dalam diam?
    jawabnya *adaaaa hihihi
    kenapakah erash ini? bikin penasaran..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cie..yang jawab "ada"
      Iya tuh, aku juga pas baca part Anna bertanya-tanya, ini Erash kenapa sih? ternyata eh ternyata :D

      Hapus
  4. Novel tentang keluraga yah, jadi pengen baca ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini novel yang bertema keluarga (^_^)

      Hapus
  5. Hem, aku sam mbakku dulu gak deket. Bkn masalah keluarga sih, komunikasi aja yg krg. Baca reviewnya jd kaya ngaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang awalnya masalah komunikasi. Dan ketika sudah berjarak suka jadi segan untuk mulai mendekati duluan. (>_<)

      Hapus
  6. Aku suka covenyaa :D Penasaran juga kalo tentang keluarga, tapi gregetan sama Erish... Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Covernya sebenarnya dua side lho. :D

      Hapus
  7. Baca sinopsisnya belum terlalu mudeng, mungkin harus baca bukunya, eer bagian Anna menggantung ya? Ending novel ini gimana ya, penasaran juga. Katanya sih punya kakak cowok itu asyik weheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dari sisi Anna cerita dibuat menggantung, tapi bakalan diselesaikan di cerita dari sisi Erash kok. (^_^)
      Yup, punya kakak cowok itu seru (seharusnya!!! ha..ha..)

      Hapus
  8. Aku ketipu sama judulnya. Kirain interval kayak di pelajaran,gitu. Beda toh, ya?
    Penasaran, ih. Pengin baca versi lengkap. Belum begitu ngerti, soalnya. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. Sama aku juga awalnya bingung. Tapi pasa baca sub judul novelnya "Time and space to talk" jadi menduga-duga deh :D

      Hapus
  9. aaaa, kak reviewnya keren kak , pertama lihat Judul nya "Interval" aku kira isinya cuma cinta2an doank , ternyata juga mengambil cerita dari masalah keluarga di kehidupan sehari hari . reviewnya keren kak . Pengen bgt punya novelnya kakak XD

    BalasHapus
  10. Memakai sudut pandang yang berbeda ya ? Menarik. Apalagi sedikit dikasih bocoran bahwa lebih baik memulai membaca dari sudut pandang Anna jika tidak ingin mendapati alur mundur. Berasa diberi tantangan sama penulisnya kalau saja kita tidak memulai membaca dari sudut pandang Anna, kira-kira bakal mendapati alur mundur nggak ya ? Lebih banyak menghadirkan konflik keluarga juga ternyata. Well, pasti novel-nya bakal memberikan sensasi yang berbeda untuk para pembacanya.

    BalasHapus
  11. Halo, mbak... puisinya bagus, hehe.. #SalahFokus. Ciri khas review mbak Tria pasti diselipin puisi di bagian akhir. Sweet! Melihat sikap Erash yang sedikit cuek-cuek sayang, apa iya, ya, kebanyakan kakak cowok itu sering menahan gengsi? Oh ya, tentang dua sudut pandang itu, apakah pembagian ceritanya per bab atau per sudut pandang tokoh?

    BalasHapus
  12. Ceritanya menarik nih, dengan dua sudut pandang kakak-adik pula. Jarang-jarang nemu kayaknya.
    Btw, nama kedua tokoh utamanya unik... suka ^^

    Ini bacanya lebih seru ngacak berarti ya mbak? Baca dari sudut pandang Ana dulu?

    BalasHapus
  13. tentang persaudaraan. aku jadi inget sama kakakku. kayaknya si Erash kurang pinter mengekspresikan perasaannya sama adiknya sendiri deh. tapi bagus nih kayaknya, tentang saudara yang saling diam-diam menyayangi. aku jadi bener-bener inget sama kakakku.

    BalasHapus
  14. Aku selalu haus dengan novel remaja yang mau menyentuh tema keluargaa. Buku cinta cintaan dah banyak, kisah dua saudara rasanya jarang ada. Meskipun reviewnya Kak Atria lengkap dan detail tapi aku ttp terpikat dengan temanya yang tak biasaaa.

    Hmm jadi inget adek adekku nun jauh disanooo...
    Sukses selalu Kak Atriaa
    Resensinya selalu keren.

    BalasHapus
  15. menarik krn ceritanya ttg keluarga :) cocok untuk yg lagi bosen dgn cinta-cintaan :D

    BalasHapus
  16. Pas lihat cover nya, yg bikin aku tertarik adalah tagline novelnya, "Time and Space to Talk,".

    Emang bener, rasa sayang akan terasa setelah kehilangan. Atau jarak yang memisahkan.

    Novel romance bercampur keluarga sudah biasa, tapi interval, punya sesuatu yg beda. Yang bikin keluarga dan cinta bersatu menjadi kasih sayang yg sebenarnya ^^

    BalasHapus
  17. kunci kehangatan sebuah keluarga adalah komunikasi, kalau antar anggota keluarga sudah saling menjauh, maka masing-masing akan mencari rasa nyaman dari non-anggota keluarga, pacar misalnya, atau obsesi pribadi. tapi bisa juga mereka melakukan hal itu untuk menarik perhatian keluarga. masih sering saya temui, keluarga yang seperti itu, anak tidak tahu cara berkomunikasi yang baik karena orangtuanya tidak mengajari dengan benar, malahan mencontohkan yang keliru.

    BalasHapus